NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Aroma Pembuktian

...

Aroma minyak kelapa hangat dan pandan segar perlahan mulai memenuhi ruang dapur kedai "Selasih". Pamela berdiri di depan meja konter besi antikarat dengan celemek putih bersih yang dipinjamkan oleh Ibu Sarah. Rambut panjangnya yang terikat rapi bergoyang sedikit mengikuti gerakan tubuhnya yang cekatan. Di hadapannya, beberapa mangkuk keramik berisi tepung beras, santan kental, gula merah sisir, dan sedikit garam sudah tertata rapi.

Pamela memilih untuk membuat kue serabi kuah kencana sebuah camilan tradisional yang dulu sering dia buatkan untuk almarhumah ibunya, dan juga menu yang paling sering diminta oleh Papa mertuanya saat pria tua itu sedang bosan dengan makanan modern di kota.

Gerakan tangan Pamela begitu terlatih. Dia menuangkan santan sedikit demi sedikit ke dalam adonan tepung beras, mengaduknya dengan kelembutan yang konsisten agar tidak ada gumpalan yang tersisa. Wajah manisnya tampak sangat fokus, matanya memancarkan ketenangan yang dingin namun tajam. Dapur adalah dunianya. Di sinilah tempat dia menyembunyikan diri dari kerasnya perlakuan dunia luar selama tujuh tahun ini, dan di sini pula dia akan membuktikan bahwa kemampuannya bukanlah sesuatu yang murah.

Ibu Sarah berdiri bersandar di dekat pintu penghubung dapur, melipat kedua tangannya di dada. Wanita paruh baya itu memperhatikan setiap gerak-gerik Pamela tanpa suara. Matanya yang jeli langsung menangkap bagaimana Pamela menjaga kebersihan area kerjanya, setiap kali ada tetesan santan atau tepung yang tercecer, tangan kiri Pamela dengan cepat mengusapnya dengan kain lap bersih yang disampirkan di pundaknya.

"Kamu terlihat sangat tenang, Pamela. Biasanya orang yang saya tes di dapur ini akan sedikit gemetar atau terburu-buru," ucap Ibu Sarah memecah kesunyian, suaranya terdengar ramah namun penuh selidik.

Pamela tersenyum tipis, matanya tetap tertuju pada wajan tanah liat kecil yang mulai dipanaskan di atas kompor. "Bagi saya, dapur itu seperti ruang meditasi, Bu. Kalau hati kita terburu-buru atau penuh emosi kotor, masakan kita akan ikut rusak. Makanan itu bisa merasakan energi orang yang membuatnya."

Ibu Sarah menaikkan kedua alisnya, tampak terkesan dengan filosofi sederhana yang keluar dari mulut wanita muda di depannya. "Benar sekali. Jarang ada anak muda zaman sekarang yang paham soal itu."

Pamela mulai menuangkan satu sendok sayur adonan ke atas wajan tanah liat yang sudah diolesi sedikit minyak kelapa. Bunyi cesss yang halus terdengar, disusul dengan aroma gurih panggangan tepung yang langsung menyeruak ke udara. Dia menutup wajan tersebut dengan tutup tanah liat yang berat, membiarkan uap panas di dalamnya mematangkan bagian tengah serabi hingga berpori sempurna.

Sambil menunggu kue matang, tangan Pamela bergerak lincah mengolah kuah kencana di panci kecil sebelahnya. Gula merah pilihan direbus bersama santan encer, selembar daun pandan yang dimemarkan, dan sedikit parutan jahe emprit untuk memberikan sensasi hangat di tenggorokan setelah memakannya. Air rebusan itu meletup-letup kecil, mengeluarkan uap wangi yang sangat menggugah selera.

Setelah beberapa menit, Pamela membuka tutup wajan tanah liat. Kue serabi itu telah matang dengan pinggiran yang kecokelatan renyah dan bagian tengah yang putih empuk, berlubang-lubang kecil tanda adonan mengembang dengan sempurna. Dengan menggunakan sodet kayu kecil, dia mengangkat kue itu dengan hati-hati dan menatanya di atas piring saji berbahan tanah liat yang dilapisi selembar daun pisang muda. Kuah kencana yang kental kemudian disiramkan di bagian samping, memberikan perpaduan warna cokelat keemasan dan hijau yang estetik.

"Silakan dicicipi, Bu Sarah. Ini serabi kuah kencana buatan saya," ucap Pamela sambil meletakkan piring saji tersebut di atas meja konter depan Ibu Sarah, lengkap dengan sebuah sendok kayu kecil.

Ibu Sarah tidak langsung memakannya. Dia memperhatikan penampilan visual kue tersebut terlebih dahulu. Penataannya sangat rapi, tidak ada kuah yang menetes kotor di pinggiran piring. Dia kemudian mengambil sendok, memotong sebagian kecil serabi yang empuk, lalu menyuapkannya ke dalam mulut bersama dengan sedikit kuahnya.

Dapur itu seketika menjadi sunyi selama beberapa saat. Pamela berdiri diam dengan posisi tegak, menunggu penilaian dengan wajah yang tenang, meskipun di dalam hatinya ada debaran kecil yang menanti jawaban.

Ibu Sarah memejamkan matanya sejenak, mengecap rasa yang tertinggal di lidahnya. Detik berikutnya, wanita paruh baya itu membuka mata dan menatap Pamela dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.

"Luar biasa," gumam Ibu Sarah lembut. Dia kembali menyendok potongan kedua. "Tekstur serabinya sangat lembut, pinggirannya renyah tanpa ada rasa gosong yang pahit. Dan yang paling mengesankan adalah kuahnya. Manisnya pas, tidak bikin enek di tenggorokan, dan ada sentuhan hangat jahe yang samar-samar. Ini benar-benar pas untuk menemani kopi hitam pekat kedai kita."

Ibu Sarah meletakkan sendok kayunya, lalu menatap Pamela dengan senyuman hangat yang tulus. "Mbak Pamela, tes kamu selesai. Dan saya rasa, pengumuman lowongan di depan pintu itu sudah bisa saya lepas sekarang. Kamu diterima kerja di sini."

Mendengar kata-kata itu, dinding es di dalam hati Pamela seolah mencair, digantikan oleh rasa hangat kelegaan yang luar biasa. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Terima kasih banyak, Bu Sarah. Terima kasih atas kesempatannya. Saya janji akan bekerja dengan sebaik mungkin."

"Kamu bisa mulai besok jam tujuh pagi ya. Untuk masalah gaji dan detail jam kerja, nanti sore kita bicarakan lagi setelah kedai agak sepi, kamu bisa kesini lagi. Nanti saya kabari." ucap Ibu Sarah sambil menepuk lengan Pamela lembut.

Langkah pertama itu akhirnya berhasil dia lalui. Pamela menatap tangannya sendiri yang masih sedikit berbau pandan. Tangan ini, yang biasanya hanya menerima caci maki setelah kelelahan bekerja di rumah mewah Zidan, kini telah berhasil memberikannya sebuah pekerjaan yang terhormat dan pengakuan yang jujur. Alur lambat kehidupannya yang merdeka kini telah resmi menemukan jalannya di tepi pantai yang damai ini.

...

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di pusat kota, suasana di dalam koridor rumah sakit swasta terasa semakin mencekam seiring berjalannya waktu. Zidan masih setia duduk di kursi besi di depan ruang ICU, mengabaikan beberapa panggilan telepon penting dari rekan bisnisnya yang masuk ke ponsel pintarnya.

Pintu lift di ujung lorong terbuka dengan dentingan nyaring. Sosok Tulus, sekretaris pribadinya, berjalan terburu-buru mendekat sambil membawa sebuah map kulit berwarna hitam. Wajah sekretaris muda itu tampak tegang, menyadari bahwa informasi yang dia bawa mungkin tidak akan menyenangkan bagi bosnya yang temperamental.

"Pak Zidan," sapa Tulus dengan suara rendah, membungkukkan tubuhnya sedikit.

Zidan mendongak, matanya yang merah dan cekung menatap tajam ke arah sekretarisnya. "Bagaimana? Apa orang-orangmu sudah menemukan di mana Pamela sekarang?" tanya Zidan langsung, suaranya terdengar dingin dan penuh tuntutan egois.

Tulus menelan ludahnya dengan susah payah sebelum membuka map hitam di tangannya. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Zidan. Tim pelacak yang kita sewa sudah memeriksa seluruh stasiun kereta, terminal bus utama, hingga manifest penerbangan domestik atas nama Nyonya Pamela sejak dua hari lalu. Namun... nama beliau tidak terdaftar di mana pun."

Brak!

Zidan bangkit berdiri seketika, menghentakkan kakinya ke lantai hingga menimbulkan gema yang mengejutkan beberapa perawat yang lewat di lorong. "Maksudmu dia lenyap begitu saja?! Dia tidak punya uang banyak, dia tidak punya kerabat kaya! Bagaimana bisa seorang perempuan seperti dia hilang tanpa jejak di kota ini?!" bentak Zidan dengan emosi yang meluap-luap.

"Ka-kami menduga Nyonya Pamela pergi menggunakan kendaraan travel gelap atau bus antar-kota kelas ekonomi yang tidak memerlukan verifikasi identitas ketat, Pak," jelas Tulus dengan tubuh yang agak bergetar menahan amukan verbal bosnya. "Namun, kuasa hukum beliau tadi siang kembali mengirimkan surat teguran resmi ke kantor. Mereka menyatakan bahwa jika Bapak terus mencoba mencari keberadaan Nyonya Pamela di luar jalur hukum, mereka tidak akan ragu untuk melaporkan hal ini sebagai tindakan pelecehan dan intimidasi pasca-perceraian."

Zidan mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh hingga kuku-kukunya memutih. Rasa frustrasi yang pekat berbaur dengan amarah narsisistiknya membuat dadanya naik turun tidak beraturan. Dia merasa seperti seorang penguasa yang baru saja kehilangan kendali atas salah satu asetnya yang paling berharga, dan yang paling menyiksanya adalah kenyataan bahwa aset itu pergi atas kemauannya sendiri karena sudah terlanjur muak.

"Dia benar-benar berniat membuangku," desis Zidan dengan suara yang teramat dingin, seolah bicara pada dirinya sendiri. Tatapan matanya kosong menatap lantai marmer rumah sakit.

Dari arah belakang, Mama berjalan keluar dari dalam ruang tunggu ICU dengan langkah goyah, wajahnya yang penuh kerutan tampak semakin tua tanpa riasan tebal yang biasa dia pakai. "Zidan... Papa kamu sudah sadar. Tapi... tapi dia gak mau bicara sama Mama atau Keysha. Dia cuma nyariin si Pamela dari tadi, Zid..." adu ibunya dengan suara lemah bercampur penyesalan yang samar.

Zidan memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap kata yang diucapkan ibunya terasa seperti tetesan asam yang membakar luka batinnya yang kian menganga. Ayah kandungnya yang sedang sekarat menolak kehadiran istri dan anak perempuannya yang manja juga dirinya, dan justru merindukan pelayanan dari menantu yang telah mereka usir dengan kejam.

Badai penyesalan yang lambat namun mematikan kini telah benar-benar mengunci seluruh isi rumah tangga keluarga besar Zidan, membiarkan mereka tersiksa dalam kehampaan yang mereka ciptakan sendiri dari atas takhta kesombongan mereka yang kini mulai runtuh perlahan demi perlahan.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!