Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat di Balik Kabut
Suara desing mesin jet pribadi Dirgantara Group memotong keheningan di ketinggian tiga puluh ribu kaki. Di dalam kabin VIP yang mewah, Adrian duduk dengan kening berkerut, menatap lurus ke arah tumpukan dokumen logistik di atas meja lipatnya. Lengan kirinya kini hanya dibalut kain penahan tipis, namun rasa nyeri dari luka tembak beberapa hari lalu seolah tidak berarti dibanding tekanan yang sedang menghantam perusahaannya.
Di sampingnya, Rendra terus mengetik di atas keyboard laptop, sesekali memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Otoritas Pelabuhan Singapura (*PSA*) masih menolak meloloskan kargo kita, Adrian," ujar Rendra tanpa mengalihkan pandangan. "Tuan Chen benar-benar mengunci jalur birokrasi di sana. Jika kontainer bahan baku itu tidak keluar besok malam, lini perakitan di Jakarta akan berhenti total. Dampak sistemiknya bisa membuat saham kita terjun bebas lagi."
Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, pandangannya beralih menatap gumpalan awan di luar jendela. "Rendy tahu persis titik lemahku. Dia tidak berniat menghancurkan Dirgantara Group dalam satu hantaman, Rendra. Dia hanya ingin memancingku keluar dari Jakarta, menjauh dari Kirana."
Mendengar nama Kirana disebut, Rendra menghentikan ketikannya. "Bicara soal Kirana... apakah benar-benar aman meninggalkan dia di apartemen Menteng sendirian, Adrian? Walau penjagaan ketat, Rendy punya seribu cara kotor."
"Dia tidak sendirian," sahut Adrian dingin. "Aku sudah memindahkan Kirana ke rumah aman (*safe house*) milik keluarga ibuku di pinggiran Bogor sebelum kita berangkat subuh tadi. Bahkan tim pengawal di Menteng pun mengira Kirana masih ada di dalam *penthouse*. Rumah aman itu terisolasi, tanpa sinyal internet, dan dijaga oleh orang-orang lama yang setianya melebihi nyawa mereka sendiri. Rendy akan membuang waktu mencari di tempat yang salah."
Rendra menghela napas lega. "Langkah yang cerdas. Jadi, fokus kita sekarang adalah menyelesaikan tikus-tikus di Singapura ini."
"Ya," desis Adrian, matanya berkilat tajam. "Begitu kita mendarat di Changi, jadwalkan pertemuan rahasia dengan pihak internal kementerian transportasi Singapura yang pernah bekerja sama dengan kita. Aku tidak akan membuang waktu bernegosiasi dengan preman seperti Tuan Chen. Jika Rendy bermain dengan uang, kita akan membalasnya dengan hukum besi internasional."
---
Sementara itu, di sebuah restoran privat bergaya oriental klasik di kawasan Chinatown, Singapura, kepulan asap cerutu tebal memenuhi ruangan. Rendy Baskoro duduk di kursi utama, berhadapan dengan seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan tato naga yang mengintip di balik kemeja sutra hitamnya—Tuan Chen.
"Dua belas kapal kargo itu aman di bawah kuasaku, Tuan Baskoro," ucap Tuan Chen dalam bahasa Mandarin yang kental, disusul tawa renyah yang memperlihatkan deretan gigi emasnya. "Orang-orangku di kepabeanan sudah memastikan bahwa pemeriksaan dokumen akan dibuat serumit mungkin. Adrian Dirgantara tidak akan bisa menyentuh barang-barangnya sebelum dia berlutut di depanku."
Rendy tersenyum puas, mengetukkan jemarinya di atas meja kayu solid. "Kerja bagus, Tuan Chen. Uang sisa operasional sudah dikirim ke rekening Anda di HSBC pagi ini. Pastikan saja Adrian tetap sibuk di kantor cabang Singapura selama minimal empat puluh delapan jam ke depan."
Rendy menoleh ke arah Satria yang berdiri di dekat pintu. "Bagaimana dengan tim di Jakarta? Apakah mereka sudah bergerak ke apartemen Menteng?"
Satria melangkah maju dengan wajah yang sedikit tegang. "Tim pemantau kita di Jakarta melaporkan bahwa aktivitas di *penthouse* Menteng tampak normal, Pak Rendy. Pengawal bersenjata masih berjaga di lobi dan lantai teratas. Namun... ada yang aneh."
Rendy menyipitkan matanya, senyumnya langsung lenyap. "Apa yang aneh?"
"Dokter Elena, psikolog yang biasa memeriksa Kirana, tidak terlihat datang hari ini. Dan tirai unit *penthouse* sama sekali tidak dibuka sejak pagi," jawab Satria ragu.
Rendy bangkit berdiri dengan sentakan kasar, membuat cangkir teh di depannya sedikit terguncang. Insting manipulatif dan sensitivitasnya terhadap kebohongan langsung bergejolak. Sebagai seorang psikopat, ia tahu betul bagaimana musuhnya berpikir.
"Adrian tidak sebodoh itu untuk meninggalkan Kirana di tempat yang sudah pernah diserang," desis Rendy, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat dan berbahaya. "Itu umpan! Pria keparat itu sengaja membiarkan pengawalnya tetap di sana untuk menipuku! Kirana sudah tidak ada di Menteng!"
Tuan Chen terhenti dari mengisap cerutunya, menatap Rendy dengan bingung.
"Satria! Hubungi informan kita di kepolisian Jakarta sekarang juga!" bentak Rendy, topeng ketenangannya pecah. "Periksa semua manifes perjalanan kendaraan pribadi Adrian atau rekaman CCTV jalan tol keluar Jakarta dalam waktu dua belas jam terakhir! Cari tahu di mana bajingan itu menyembunyikan istriku!"
Rendy mencengkeram tepi meja hingga kuku-kukunya memutih. "Adrian mengira dia bisa mengecohku dengan terbang ke Singapura. Dia sengaja datang ke sini untuk mengalihkan perhatianku sementara dia menyembunyikan Kirana di tempat lain. Sialan!"
---
Di saat yang sama, jauh dari kebisingan kota, sebuah rumah bergaya kolonial yang dikelilingi oleh perkebunan teh yang asri di kawasan puncak Bogor tampak begitu damai. Udara dingin pegunungan perlahan turun bersama kabut tipis sore itu.
Kirana duduk di kursi rotan di teras belakang rumah aman tersebut. Ia mengenakan sweater rajut tebal berwarna krem hangat. Di tangannya, sehangat cangkir teh jahe yang baru saja dibuatkan oleh pelayan tua di rumah itu.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, tidak ada kamera pengawas yang menatapnya dengan dingin. Tidak ada suara langkah kaki Rendy yang selalu membuatnya menahan napas ketakutan. Di sini, hanya ada suara gemerisik daun teh yang tertiup angin dan kicauan burung liar.
Namun, pikiran Kirana tidak bisa benar-benar tenang. Matanya menatap ke arah hamparan hijau di depannya, namun hatinya berada di Singapura, bersama pria yang kini tengah bertaruh dengan bahaya demi membersihkan sisa-sisa badai dalam hidupnya.
Kirana menyentuh dadanya yang berdegup pelan. *Mas Adrian... tolong kembali dengan selamat,* bisiknya dalam hati. Ia menyadari satu hal yang pasti: kebebasan yang ia rasakan sekarang tidak akan pernah sempurna jika pria yang mengembalikan jiwanya itu harus terluka lagi di luar sana.
Tanpa diketahui oleh Kirana, di batas pagar perkebunan teh yang berjarak sekitar lima ratus meter dari rumah aman tersebut, sebuah mobil jip tua berwarna hijau lumut terparkir di bawah pohon rindang. Di dalamnya, seorang pria dengan teropong militer sedang mengunci fokus lensanya tepat pada sosok Kirana yang sedang duduk di teras.
Pria itu menurunkan teropongnya, lalu mengambil sebuah walkie-talkie. "Target terkonfirmasi. Berada di rumah aman keluarga Dirgantara di Bogor. Kondisi pengamanan internal longgar, hanya ada empat penjaga tua. Kirim koordinat ini ke Satria sekarang juga."
Jebakan yang disusun Adrian di Singapura ternyata mulai retak dari belakang, dan badai yang sesungguhnya kini tengah bergerak cepat menuju sangkar rahasia Kirana di Bogor.
---
Bersambung ke Episode 15