Aretha memilih hidup menderita bersama suaminya. padahal Kemewahan disediakan oleh orangtuanya. Namun Suaminya berselingkuh karena tekanan dari mertuanya. Apakah Aretha bisa mempertahankan rumah tangganya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jihan Berani
"Hai, Thea."
Aretha hanya tersenyum. Langsung dia mengandeng suaminya.
"Ayo abang, kita ketemu dokter Hans, dia sudah menunggu kita."
"Ayo sayang."
Jihan yang melihat tingkah sepasang suami istri itu, langsung ngomel dan menyumpahi Aretha dalam hati.
"Dalam nama Yesus, darah Kristus berkuasa." Aretha menolak setiap kutukan, kata - kata kasar yang tertuju kepadanya.
"Sayang, kenapa??"
"Aku yakin, kekasih gelapmu itu sedang mengutuk diriku. Jadi harus aku tolak semuanya itu dalam nama Yesus."
Sampai di ruangan kerja Andreas, dia langsung berdoa ketika istrinya sudah dipersilahkan duduk. Dia memohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang dia perbuat dan memohon perlindungan Tuhan bagi keluarganya terlebih istri dan anak di dalam kandungan istrinya agar terhindar dari segala macam kutukan dan roh - roh jahat.
Sementara itu, Jihan sangat gelisah dengan munculnya Aretha pagi ini bersama Andreas. Ada niat jahat, untuk memberitahukan hubungannya dengan Andreas.
Dokter Lydia sebagai senior di rumah sakit daerah ini, sudah mengetahui masalahnya Andreas dari Siska, karena dia juga menyaksikan bagaimana Andreas menghindar dari Jihan. Maka tadi pagi, dia sudah membicarakan hal ini dengan suaminya, agar membuat surat mutasi bagi Jihan ke puskesmas. Karena secara jabatan profesi ada dua dokter spesialis di poli gigi. Maka siang jam sebelas siang, Surat Keputusan mutasi dokter gigi Jihan ke puskesmas di sebuah desa yang ada di Tanggerang pun terlaksana. Jihan sudah di panggil menghadap direktur rumah sakit.
Sedangkan Andreas sedang bersama Aretha istrinya sedang melihat perkembangan bayi delapan bulan yang ada di perut istrinya. Menurut dokter Hans bahwa, calon bayi mereka ada perempuan. Karena baru terlihat sekarang. Dari enam bulan dia tidak mau memperlihatkan jenis kelaminnya.
"Anak kita perempuan dek."
"Iya abang."
"Ini pengawalan terhadap papanya semakin ketat ni."
Andreas dan Aretha hanya tersenyum. Mereka sudah keluar dari ruangan praktek dokter kanduangan.
"Sayang temani abang dulu kerja ya??"
"Iya. Kan hari ini aku off."
"Oke sayang. Selesai urus pasien, kita klinik."
"Aku pengen makan di tempat Yuda."
"Iya kita akan kesana. Mau makan apa??? Biar abang telepon Yuda."
Sementara Jihan sedang sedih atas surat keputusan mutasinya. Ternyata bukan dia sendiri, ada beberapa staf di bagian kepegawaian dan salah satu bidan juga. Namun kepindahan mereka atas permintaan mereka sendiri. Semenjak Aretha sudah mengetahui tentang masalahnya, semalam nomor telepon Jihan sudah di blokir oleh Andreas.
Andreas mengunci pintu ruangan poli penyakit dalam karena Aretha sedang beristirahat diruangan itu. Sedangkan tenaga medis yang bertugas di ruangan ini akan melewati klinik dan akan melewati pintu penghubung antara kantor dan klinik. Karena takut Jihan akan menganggu istrinya. Jadi dokter Lydia dan dua dokter lainnya semua lewat pintu penghubung itu.
"Maaf dokter."
"Aku mengerti. Aretha aman ada aku di ruangan."
"Terima kasih dokter."
Aretha memang tertidur lelap. Di kasur suaminya pada ruangan poli penyakit dalam. Selang lima menit kemudian terdengar ada orang yang mengetuk pintu, waktu di bukakan pintu dokter Lydia tidak menyangka bahwa yang bertamu di poli mereka adalah Jihan.
"Dokter Jihan cari siapa??"
"Ada Aretha."
"Ada, tetapi dia ada tidur. Ngak mungkin aku bangunkan. Kasihan dia lagi berbadan dua."
"Iya dokter. Ngak usah. Saya permisi ya."
Jihan tidak tahu, bahwa semua masalah yang di timbulkan oleh dia diketahui oleh dokter Lydia. Dan atas saran beliaulah, Jihan juga di mutasikan ke puskesmas.
"Sudah bangun Thea."
"Mohon maaf ya dokter. Jadi ketiduran di ruangan ini.
"It's oke honey. Kita kan keluarga. Kamu baik - baik kan sayang??"
Aretha langsung memeluk dokter Lydia, yang dia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Jangan sedih, ada aku disini. Aku sudah tahu pergumulanmu akibat ulah Andreas."
"Aku sakit hati dok. Tetapi aku harus kuat buat calon anakku."
"Iya sayang, kamu harus kuat. Andreas itu orang baik. Hanya hari itu dia apes aja."
Sekarang Andreas dan Aretha sudah berada di cafe and resto Yuda's. Aretha lagi pengen masakan dan minuman yang ada di cafe sahabatnya.
"Bagaimana kondisi calon keponakanku??"
"Baik."
Dan masakan terbaik yang disiapkan Yuda buat ibu hamil ini. Aretha sedang menikmati makan siangnya dengan lahap. Padahal Siska sedang menunggunya di kantor Labora's, untuk mengaudit keuangan dari usaha mereka ini.
Mereka bersyukur, bahwa baru beberapa bulan usaha mereka ini berkembang pesat.
"Sepertinya ini rejeki si dede bayi deh."
"Iya ya Ika, aku juga akui itu."
Sekarang Aretha dan Sisca sedang membahas pekerjaan mereka. Karena menurut Allo beberapa stok obat mereka sudah mulai menipis. Maka malam itu, Siska langsung mengorder barang - barang yang tadi sudah dibahas. Semua surat - suratnya diselesaikan malam ini, agar esok hari bisa langsung di kirim lewat email kepada perusahaan farmasi langganan mereka.
Andreas sedang melaksanakan praktek. Biasanya Aretha akan menunggu sampai selesai praktek baru dia dan suaminya pulang. Namun malam ini, Mama dan papanya mengajak dia makan di mall. Kata mereka kangen sama anak gadisnya.
"Mas, aku mau di jemput mama dan papa makan malam bersama."
"Sabar sayang tunggu mas ya."
"Mas mau ikut??? Pasien mas banyak loh."
"Mas mau antar."
"Oke."
Andreas pun istirahat sebentar, karena mertuanya sudah menjemput istrinya. Andreas mengantar Aretha istrinya ke mobil mertuanya.
"Nanti papa antar lagi di klinik."
"Iya pa." Andreas mencium istrinya sangat lembut di kening istrinya. "Have fun ya sayang."
"Iya mas. Mas mau nitip apa??"
"Ngak deh. Kamu bahagia saja mas senang."
Andreas sudah kembali bekerja, setelah mertua dan istrinya sudah keluar jalan ke mall. Mamanya terus memeluk anak satu - satunya.
"Kamu sehat sayang??"
"Iya ma, Janin dalam kandungan Thea juga sehat."
"Puji Tuhan. Mama kepikiran kamu beberapa hari ini. Mama takut kamu kenapa - napa."
"Thea baik - baik ma."
"Syukurlah papa senang lihat dan mendengar kamu baik - baik saja."
Seperti biasa, Aretha bersama kedua orangtuanya makan di restoran favorite mereka. Apa yang mereka makan juga di pesan buat Andreas menantu mereka. Selesai makan seperti biasa papa dan mama Aretha akan membelanjakan pakaian, tas dan sepatu buat Aretha. Dan kali ini semua kebutuhan si kecil dibelanjakan oleh mama dan papa alias oma dan opanya. Tetapi sebelumnya mama menelepon Andreas memohon ijin untuk menyiapkan semuanya.
Selesai mereka belanja di swalayan, baru mama dan papanya mengantar Aretha ke klinik dan apotik Labora's. Bertepatan dengan Andreas sudah selesai praktek. Belanjaan istri dan mertuanya di pindahkan kedalam mobil Andreas. Setelah mama dan papa pergi, Andreas dan Aretha masuk ke Klinik dan Apotik mereka.
Jihan sedang mengamati mereka. Waktu mereka mau pulang. Jihan dengan emosinya datang bertemu dengan mereka.
"Kamu tahu, bahwa Andreas perna tidur dengan saya di hotel. Kamu masih mau menerima suamimu??"
Aretha langsung melihat kearah Andreas. Yang sudah memerah mukanya.
"Saya memaafkan perbuatan suami saya. Meskipun itu berat. Namun yang saya tidak mengerti kenapa kamu sahabat saya bisa melakukan perbuatan itu kepada saya."
"Kamu mau tahu??? Saya tidak perna menganggap kamu sahabat saya. Karena kamu merebut hati orang yang saya suka dari sekolah."
"Kamu jangan bermimpi Jihan. Dari dulu Andreas itu tidak perna suka sama kamu. Fokusnya itu sekolah." Siska langsung membantah apa yang Jihan ungkapkan.
"Yang Andreas cintai itu hanya Aretha."
"Kalau dia mencintai Aretha, kenapa waktu itu dia mau tidur bersama saya. Kami melakukan hubungan suami istri."
"Karena kamu menaruh obat di dalam minuman saya. Bukti itu sudah saya peroleh." Andreas langsung menjawab pertanyaan Jihan.
"Bukan, Karena kamu mencintai sayakan Andre, benarkan Andre."
Jihan terus meyakinkan hatinya bahwa yang mereka lakukan itu karena cinta. Andreas sudah membawa Aretha pulang. Yuda dan Siska yang akan mengurus Jihan. karena marah Jihan pun pulang.