Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.
Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.
Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.
Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C014: Investasi Di Shine The Star 150 Members
...Selamat Baca...
Siang, pukul 14.20 WAZ
Lokasi: Gedung TV Nasional
Mobil mewah berwarna hitam pekat melaju meninggalkan area gedung Lucifer Entertainment.
Di dalamnya, duduk dua orang pemuda yang kini menjadi mitra bisnis sekaligus sahabat, Ethan Lucifer dan Arthur Lesson.
Suasana di dalam mobil cukup hening, namun terasa penuh dengan aura keseriusan.
Ethan menatap keluar jendela, memikirkan strategi ke depannya, sementara Arthur sibuk memainkan ponselnya, memastikan segala sesuatunya sudah siap.
"Kita akan bertemu dengan Tuan Gerald, pemilik sekaligus direktur utama dari acara Shine The Star," buka Arthur memecahkan keheningan.
"Dia orangnya tegas, tapi sangat menghargai orang yang punya visi jelas. Karena kamu mau masuk sebagai investor sekaligus mengirim trainee, posisimu jadi cukup kuat disana."
Ethan mengangguk pelan, tangannya terlipat di depan dada. "Aku mengerti. Uang 20 juta Aurelia sudah siap ditransfer begitu kontrak ditandatangani. Yang jadi pertanyaanku, bagaimana sistemnya nanti?"
"Sistemnya standar ajang pencarian bakat kelas dunia," jawab Arthur ringkas.
"Peserta akan tinggal di asrama, dilatih langsung oleh profesional, lalu dinilai setiap minggunya. Yang bertahan sampai akhir akan debut sebagai grup nasional."
"Tapi karena kamu investor, trainee yang kamu kirim akan mendapat perhatian lebih dari tim produksi, tentunya selama dia punya kemampuan yang sepadan."
Tak lama kemudian, mobil mereka pun sampai di gedung pencakar langit milik stasiun televisi terbesar di Negara Aurelia. Mereka langsung diantar menuju ruang pertemuan eksekutif yang sangat luas dan mewah.
Di sana, sudah menunggu seorang pria paruh baya dengan tampilan gagah dan berwibawa, Tuan Gerald.
"Selamat siang, Tuan Lesson. Senang sekali bisa bekerja sama lagi," sapa Tuan Gerald ramah, lalu pandangannya beralih ke sosok muda di samping Arthur.
"Dan ini pasti Tuan Ethan Lucifer dari Lucifer Entertainment. Saya sudah dengar banyak hal."
"Selamat siang, Tuan Gerald. Terima kasih telah meluangkan waktunya," balas Ethan dengan sopan namun tetap mempertahankan karisma dinginnya sebagai seorang CEO.
Mereka pun duduk berhadapan, memulai diskusi bisnis yang serius. Arthur bertindak sebagai perantara, sementara Ethan fokus pada detail keuntungan dan hak perusahaan.
Negosiasi berjalan lancar. Tanpa banyak basa-basi, Ethan langsung menandatangani dokumen investasi senilai 20 juta Aurelia. Transfer dilakukan seketika, membuat senyum puas terukir di wajah Tuan Gerald.
"Selamat, Tuan Ethan. Secara resmi Lucifer Entertainment kini menjadi salah satu sponsor dan mitra acara Shine The Star musim ini," ucap Tuan Gerald dengan formal.
"Nah, tentang trainee yang ingin Tuan Ethan kirimkan... bagaimana kualifikasinya? Acara ini menerima peserta usia 12 hingga 20 tahun, jadi rentangnya cukup luas."
Di saat itulah, Ethan membuka tablet yang ia bawa, menampilkan data diri dan foto dari sosok yang sudah ia pilih sejak tadi.
"Nama dia Alfian Vale," kata Ethan tenang.
Tuan Gerald dan Arthur menunduk melihat layar tersebut. Mata Tuan Gerald sedikit membelalak saat melihat data fisiknya.
"Umur... 13 tahun? Tapi tinggi badannya mencapai 178 cm?!" seru Tuan Gerald tak percaya, memastikan angka yang ia baca benar.
"Ini faktor genetik yang luar biasa. Di usia segitu, posturnya sudah menyamai model dewasa."
"Benar," sahut Ethan bangga menjelaskan aset perusahaannya.
"Meskipun usianya masih sangat muda, dia memiliki kemampuan vokal yang stabil dan visual yang sangat menarik. Dia juga sangat cepat menangani koreografi yang rumit."
"Karena usianya masih muda, dia punya waktu panjang untuk berkembang selama acara berlangsung. Dan postur tubuhnya yang tinggi akan membuatnya sangat menonjol di atas panggung, bahkan dari kejauhan."
Arthur yang mendengarkan hanya tersenyum dan menimpali, "Seperti yang kamu lihat sendiri Tuan Gerald, ini adalah hidden gem atau permata tersembunyi."
"Penonton pasti akan langsung penasaran dan menyukainya. Bocah ini punya star quality yang alami."
Tuan Gerald mengusap dagunya, tampak sangat tertarik. Ia memutar video latihan Alfian yang dikirimkan Ethan. Melihat bagaimana wajah imutnya namun bergerak dengan power dan ketinggian yang luar biasa, Tuan Gerald langsung mengangguk mantap.
"Bagus! Sangat bagus!" puji Tuan Gerald antusias.
"Konsep acara kita memang mencari bakat-bakat unik dan bersinar. Alfian Vale... nama yang mudah diingat dan visual yang eye-catching."
"Lucifer Entertainment, saya terima trainee kalian. Alfian Vale akan resmi menjadi salah satu kontestan dari jalur investor."
"Terima kasih, Tuan Gerald," ucap Ethan merasa lega sekaligus senang. Setidaknya satu pintu kesuksesan sudah terbuka lebar untuk anak buahnya.
Pertemuan pun ditutup dengan jabat tangan yang hangat. Kesepakatan sudah terjalin.
Investasi masuk, nama perusahaan terdaftar, dan satu kursi kontestan sudah terisi penuh oleh si jenius muda, Alfian Vale.
Saat kembali ke dalam mobil, Arthur menoleh ke arah Ethan dengan senyum jahil.
"Kau yakin cuma kirim Alfian saja? Atau mau masukin yang lain juga?" tanyanya.
Ethan menggeleng pelan, menatap ponselnya yang mulai ramai notifikasi dari pihak brand.
"Tidak, untuk awal cukup dia dulu. Biarkan dia membuktikan diri. Lagipula, aku masih punya urusan lain yang tak kalah penting..."
"Yaitu... mencari asisten baru dan mempersiapkan pertemuan dengan Luxuria Wear serta Gadget Hub besok."
Ethan menarik napas panjang. Tantangan demi tantangan mulai berdatangan, namun kali ini, ia tidak sendirian lagi.
***
Sore, pukul 16.25 WAZ
Lokasi: Kafe Ekslusif Amaria
Tak butuh waktu lama, mobil pun berhenti di sebuah kafe eksklusif yang cukup tenang di pusat kota. Tempat ini sering dijadikan tempat pertemuan bisnis informal namun tetap memancarkan kesan berkelas dan elegan.
"Kita sudah sampai. Dia sudah menunggu di dalam," kata Arthur sambil membuka sabuk pengamannya.
Ethan menatapnya dengan sedikit heran. "Kau benar-benar sudah mengatur segalanya? Bahkan sebelum aku sempat mencari kandidat sendiri?"
"Jangan banyak bertanya, ikuti saja. Orang ini adalah rekomendasi terbaikku, kualitasnya terjamin," jawab Arthur santai lalu turun lebih dulu.
Mereka berdua masuk ke dalam kafe dan berjalan menuju meja di sudut ruangan yang agak terpisah. Di sana, sudah duduk seorang pemuda dengan penampilan sangat rapi.
Kemeja disetrika licin tanpa satu kerutan pun, rambut disisir rapi, dan sedang menyeruput teh hijau dengan santai namun penuh wibawa.
Pemuda itu mengangkat wajahnya saat melihat kedatangan mereka. Matanya yang tajam menyapu penampilan Ethan dan Arthur, seolah sedang menilai sesuatu dengan standar yang sangat tinggi.
"Leonard," sapa Arthur.
Pemuda itu, Leonard Abigaille, hanya mengangguk singkat. "Arthur. Ethan."
Ethan sedikit terkejut. Wajah itu terasa sangat familiar. "Leonard... Leonard Abigaille? Bukankah kau teman sekelas yang terkenal sangat perfeksionis?"
"Bukan hanya teman sekelas, tapi juga ketua organisasi dan orang yang paling sulit dipuaskan di sekolah," sahut Leonard dengan nada datar namun sopan.
"Aku baru saja lulus, dan Arthur menawariku posisi ini. Katanya kau membutuhkan tangan kanan yang bisa diandalkan."
"Hei, kita semua sama sama baru lulus, tapi sudah mendapatkan pekerjaan." Kata Arthur tersenyum jahil, Ethan hanya terdiam saja, dan Leonard mengangguk saja.
Mereka bertiga pun duduk berhadapan. Suasana sedikit tegang karena aura Leonard yang sangat kritis dan teliti.
"Jadi," Leonard meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap Ethan lekat-lekat.
"Kau ingin aku menjadi asisten pribadimu sekaligus manajer administrasi di Lucifer Entertainment?"
"Benar," jawab Ethan tegas.
"Pekerjaannya akan sangat banyak. Mulai dari mengatur jadwal pertemuan, mengecek keuangan, mengawasi renovasi, hingga memastikan semua kebutuhan trainee dan staf terpenuhi. Kau harus siap bekerja keras."
Leonard mendengarkan dengan seksama, alisnya sedikit terangkat setiap kali Ethan menyebutkan satu tugas.
"Hmm... cukup banyak juga tugasnya. Dan aku dengar kondisi perusahaanmu sedang berantakan, baru saja bangkit dari keterpurukan?" tanyanya dengan blak-blakan.
Arthur langsung menyenggol lengan Leonard pelan. "Hei, ini sahabatku, jangan menilai seperti itu."
"Bukan menilai, tapi bersikap realistis," sanggah Leonard. Ia kembali menatap Ethan.
"Aku orangnya sangat pemilih, Ethan. Aku tidak suka pekerjaan yang dilakukan secara asal-asalan."
"Laporan harus rapi, jadwal tidak boleh ada yang bentrok, dan segala sesuatu harus terorganisir dengan sempurna."
"Jika kau tipe bos yang suka berantakan dan tidak mau mendengar saran, lebih baik kita batalkan saja sekarang."
Ethan justru tersenyum tipis mendengarnya. Justru karakter seperti inilah yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Justru karena aku membutuhkan orang seperti itu, aku ingin menerimamu," balas Ethan.
"Aku tidak butuh asisten yang hanya setuju saja. Aku butuh orang yang bisa mengatur segalanya lebih rapi daripada aku sendiri. Jika ada yang salah, kau berhak mengingatkanku."
Mendengar jawaban itu, tatapan Leonard sedikit melunak. Ia terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan penawaran ini dengan sangat serius.
"Gaji yang ditawarkan Arthur cukup tinggi, dan tantangannya juga besar... Baiklah," Leonard mengulurkan tangannya ke arah Ethan.
"Aku terima. Tapi ingat, mulai detik ini, hidupmu akan menjadi jauh lebih teratur. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja sembarangan atau melewatkan satu jadwal penting pun."
Ethan menyambut uluran tangan itu dengan erat. "Sepakat. Selamat bergabung, Leonard Abigaille."
"Bagus! Akhirnya!" Arthur tertawa puas.
"Dengan Leonard menjadi asisten, kau bisa fokus mengurus bisnis dan trainee, Ethan. Soal administrasi dan kerapian, serahkan semua padanya. Dia memang pemilih dan sangat teliti, tapi dia adalah orang yang paling bisa dipercaya."
Leonard mengambil tas kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan tebal dan pulpen dengan gerakan cepat.
"Baik, karena sekarang aku sudah resmi bekerja, tolong berikan semua data yang ada. Besok pagi kita ada jadwal dengan Luxuria Wear dan Gadget Hub kan? Aku akan menyiapkan semua berkasnya malam ini juga."
"Dan soal renovasi gedung, aku akan mengecek langsung ke lokasi besok pagi sebelum pertemuan dimulai."
Ethan terlihat sangat lega. Rasanya beban di pundaknya langsung berkurang separuh.
Memiliki sahabat seperti Arthur yang memberinya modal, dan asisten jenius seperti Leonard yang mengatur segalanya, membuat langkah Lucifer Entertainment ke depan terasa semakin pasti dan kokoh.
"Lakukan yang terbaik, Leonard," kata Ethan.
"Tentu saja, Bos. Karena aku tidak akan pernah puas dengan hasil yang kurang dari sempurna," jawab Leonard dengan senyum tipis yang penuh percaya diri.