Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
Ni Luh kembali mengangguk, lalu ibunya datang mengajak pulang, dan tidak mengetahui siapa yang sudah menolong anaknya malam tadi.
Ni Luh berpamitan, lalu mereka berpisah.
Tak berselang lama, Dwi datang dengan membawa berkas-berkas untuk memeriksakan kesehatannya pra nikah.
"Saras, ini berkas-berkas ku, tolong di urus ya," ucap gadis berwajah cantik tersebut, dan lebih mirip seorang artis Korea.
Saras mengingat jelas gadis tersebut, lalu mengambil berkas-berkasnya.
Ia bersikap biasa saja. "Aku urus administrasinya, nanti kamu akan di lakukan cek kesehatan sesuai prosedur," sahut Saras. "Selamat ya, semoga pernikahanmu langgeng,"
Belum sempat Dwi menjawab, tiba-tiba saja...
Wuuuussh!
Saras seolah tersedot ke alam lain. Ia melihat sosok Rangda alias Leak yang sedang menatap ke arah Dwi saat acara pernikahannya.
Wuuussh!
Saras kembali tersadar.
"Ras, kamu kenapa?" Dwi menepuk pundak sepupunya.
"Hah!" Saras tersentak kaget, lalu menatap wajah Dwi dengan cukup pucat.
"Dwi. Kamu sudah memesan Balian untuk jagain acara nikahan kamu, kan acaranya langsung sekalian metatah," tanya Saras dengan sangat hati-hati.
Dwi menatap sepupunya, sembari mengerutkan keningnya.
Ya ampun, Saras. Kamu ini sama persis seperti Uwa Arya. Terlalu percaya sama balian. Ini zaman modern, ngapain percaya dengan hal mitos," ucap Dwi sembari tersenyum geli.
"Tapi, Dwi. Menjaga itu lebih baik daripada mengobat," Saras mencoba mengingatkan.
"Kita punya Dewa, dan dia juga punya Dewa, gak takut," tegas Dwi, tanpa peduli dengan ucapan Saras.
Saras yang di tekan dalam hal begitu, langsung terdiam. Ia tak ingin ikut campur lagi jika sudah seperti itu.
Ia tersenyum datar, lalu membawa berkas milik Dwi, untuk di serahkan kepada admin.
Siang berganti malam. Komang Shinta datang ke rumah adik perempuannya bersama dengan Kadek Arya.
Mereka sedang rapat keluarga, dan untuk membahas masalah pernikahan Dwi yang mendapatkan seorang pemuda tampan dan juga baik.
Ditengah rapat tersebut, Kadek Arya bertanya pada Nyoman Sari. "Nyoman, apakah kamu tidak memakai Balian? Sebab ini acara nikahan sekaligus metatah. Kemarin acara metatah Saras, Mangku Gede yang jaga, dan semuanya aman,"
Mendadak Nyoman Sari menatap kakak iparnya tersebut.
"Gak perlu pakai balian. Lagian apa yang harus di takutkan dengan pengleakan? Zaman sudah bergeser, jangan terlalu di fikirkan," tegas Nyoman Sari.
Dwi tersenyum geli. Sebab baru saja siang tadi Saras yang mengingatkan, kini justru bapanya langsung yang bicara, dan ia merasa jika Kadek Arya dan juga Saras memiliki sikap yang sama, terlalu kuno.
Kadek Arya langsung terdiam, dan ia berjanji tak akan lagi ikut campur urusan keluarga dari istrinya.
Dan musyawarah tentang pengadaan pesta serta metatah tersebut berjalan tanpa masukan atau pendapat dari Kadek Arya.
Sementara itu, malam yang semakin larut, Wayan Ratri sedang duduk diatas batu, tepatnya di belakang Pura tua, yang bersebelahan dengan bibir pantai, dan juga hutan.
Di depannya, terlihat ombak bergulung dengan deburan yang tidak begitu tinggi.
Ia sedang mengamati tentang bayangan Putu Saraswati yang saat ini sudah kembali mengingat tentang keluarganya meskipun belum sempurna.
"Bagus... Artinya dia akan merasakan lebih sakit saat aku menghancurkannya.
Wayan Ratri melemparkan tiga helai rambut hitam ke atas tanah.
Perlahan asap hitam mengepul, lalu rambut itu bergerak sendiri, dan mengubahnya menjadi tiga ekor ular berukuran kecil.
"Pergilah, dan masuk ke dalam mimpinya. Buat ia melihat bagaimana kematian seseorang yang sangay dekat dengannya! Buat ia terus takut, buat ia ragu, dan ketika ia patah, maka desa ini akan menjadi milikku,"
Sosok ular berukuran kecil itu meliuk di atas tanah, lalu menghilang di balik kegelapan.
Ratri tertawa pelan "Kita lihat saja, apakah kau cukup kuat untuk mengingat, atau kau justru hancur karena terlalu banyak mengingat,
Senyumnya tampak licik, dan ia beranjak dari duduknya.
Sementara itu, suara lolongan anjing di luar sana terdengar bersahutan. Ayam di dalam kandang terdengar riuh tanpa alasan yang jelas.
Saat bersamaan, Saraswati sedang berlari dengan nafas yang tersengal. Ia melihat Dwi yang saat ini sedang berjalan menuju ke arah Pura Dalem (Pura tempat pemujaan Dewa Durga, yang bertugas melebur dosa manusia. Biasanya di gunakan untuj acara ngaben atau kremasi jasad,)
Dwi terlihat mengenakan pakaian pengantin Payas Agung. Pakaian adat khas Bali yang sangat mewah
Dimana menggunakan kemben yang terbuat dari songket khas Bali, di padu dengan stagen berbahan premium, serta rok dari kain songket yang mewah.
Dia atas sanggulnya, terdapat Gelung Agung yang mengerucut, dan rambutnya dihiasi bungan segar yang terdiri dari kembang cempaka putih dan juga kuning, serta kenanga.
Wajahnya yang sangat cantik, membuat siapa saja akan terpesona oleh penampilannya saat ini.
"Dwi... Berhenti! Dwi... Jangan!" pekik Saraswati saat melihat Dwi berjalan menuju ke arah Pura Dalem..
Akan tetapi, Dwi hanya menoleh ke arah Saraswati sekilas, senyumnya tampak manis, dan wajahnya sangat cantik sekali.
Sesaat ia berpaling, dan tak mengindahkan apa yang menjadi peringatan dari Saras.
Ia kembali melangkah, dan memasuki Pura Dalem, lalu suasana mendadak gelap, dan membuat Saras berteriak histeris.
"Tidak... Dwi... Jangan!" pekiknya dengan sangat kencang.
Braaak!
Pintu di dobrak. Dan Kadek Arya berdiri di ambang pintu.
"Saras! Kamu kenapa?" tanya Kadek Arya dengan rasa khawatir.
Komang Shinta juga berdiri di belakangnya, mereka terkejut saat mendengar suara teriakan puterinya.
Saraswati yang tersentak bangun, menatap ke arah dua orang yang sebenarnya sangat asing baginya.
Komang Shinta menghampirinya, lalu mengusap punggungnya.
"Kamu kenapa?"
Saraswati mengatur nafasnya. Ia kembali menoleh ke arah Komang Shinta. "B‐Bu..." lidahnya terasa cukup keluh.
"Iya, ada apa?"
"Aku melihat Dwi..."
"Ada apa dengan Dwi?" tanya Komang Shinta dengan cepat.
Saras terdiam. Ia mencoba menahan ucapannya, dan tak ingin membuat semua khawatir hanya karena mimpi yang belum tentu jadi nyata.
"Tidak, Bu. Tidak apa-apa," sahutnya dengan cepat.
"Oh, ya sudah... Kamu tidur saja lagi," ucap Komang Shinta.
Akan tetapi, Kadek Arya merasakan sesuatu yang janggal, suara lolongan anjing masih terus saja berbunyi, sedangkan ayam terdengar gaduh, di sertai dengan aroma anyir bercampur bau busuk yang menyengat.
Saras mengangguk, dan membuat Komang Shinta merasa lega, begitu juga dengan Kadek Arya, memilih keluar dari kamar sang gadis, meski hatinya cukup ragu.
Setelah keduanya pergi, desiran angin hadir di dalam kamar Saras, dan Kalandra langsung berada di sampingnya.
"Tenanglah, kamu harus dapat mengendalikan semuanya," ucap Kalandra mencoba membuat hati Saras tenang.
"Aku takut, jika mimpi itu menjadi nyata, dan perasaan aku mulai tak nyaman," ucapnya dengan nada bergetar, sembari menggenggam erat trisulanya.
Kalandra terdiam. Ia sedang terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Hanya saja, mereka tidak meminta bantuan, dan mereka merasa sanggup," sahut Kalandra.
"Aku tidak takut mimpinya, hanya saja... Aku takut mimpi itu jadi nyata," jawabnya dengan suara gemetar.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh