Hai All, ini adalah karya keduaku.
Sesuai sama judul di atas kali ini aku akan membuat karya tentang dunia permantanan.
Willo, gadis pendiam dan terkesan cuek dan aromantis terkejut saat dia tau ternyata bos di tempatnya bekerja adalah Mantan "Pacarnya" yang super ngeselin.
Willo ingin menghindar dan resign dari tempatnya bekerja namun dirinya tak bisa lepas dari jeratan mantan.
So this is it , Willo story : Hi, Ex - Boyfriend ! 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DAMN !!
Move on itu pilihan
Gagal move on itu cobaan.
Pura-pura move on itu pencitraan.
🍈Cewekgagalmoveon🍈
🍉🍉🍉🍉🍉
"Ceritain dong Wil, pengalaman lo selama kerja bareng Kai???" Si Nitha kepo. Dia merengek memintaku untuk menceritakan hari-hariku yang tiap hari bertemu Kai.
"Tau tuh tinggal cerita doang, apa susahnya sih???" Tambah lagi nih si Yessy keponya membuncah.
Aku sih pengen cerita tapi aku malas.
"Lo semua pengen tau doang apa pengen tau banget??"
Sengaja emang aku ngulur waktu entah kenapa nih mulut males buka suara.
"Willoooo !!!" Mereka berdua pun kompak berteriak memprotes ku yang ngeselin. Aku tertawa liat mereka keponya tak tertahankan.
"Ya gitu deh !!" Akhirnya kalimat ini saja yang lolos dari mulutku.
"Detail dong Willo. Lo gak yakin kalau kita bisa di percaya ???" Sergah Nietha cemberut.
Aku enggak yakin 100% Nietha itu orang bisa di percaya. Dulu gosipku putus Dengan Kai menyebar cepat gara-gara lambe Nitha yang nyablak.
"Kalau iya kenapa?? Lagian gue udah move on dari dia. Jadi enggak masalah biar tiap hari ketemu" Aku yakin omonganku ini ngaco 1000%. Sejak hari itu aku oleng dan lupa kalau aku harus move on.
"Lo jangan ngomong gitu Wil. Bisa aja kan lo enggak bisa move on." Ucap Yessy seraya mencomot sepotong lava cake.
"Iya Wil. Apalagi sekarang Kai beda. Aku kemarin liat dia di TV. Dia ganteng banget. Cool tajir lagi..." Nietha pun berkedip-kedip seolah Kai adalah pangeran impiannya.
"Gue belom mau pacaran dulu sekarang. Kakak gue aja belom nikah. Masa gue harus nglangkahin dia??"
Gimanapun juga kata Mama enggak boleh nglangkahin Sandra. Pamali kata orang tua.
"Payah banget Kakak lo tuh. Udah waktunya nikah dia. Masa belum punya pacar juga..." Nietha berujar sambil memakan kentang goreng.
"Wajah cantik, attitude bagus, body semampai, karir Melejit, dokter pula kan. Apa coba yang kurang???" Yessy menimpali mengabsen segala kelebihan Sandra yang menurut mereka nyrempet perfect !
Aku hanya diam dan memalingkan wajah ke arah lain.
"Gue heran sama kalian. Lo sama Kak Sandra kan saudara kandung, kalian beda banget. Seperti langit dan bumi"
JLEB !!
Bahkan temanku pun bisa berkata seperti Mama. Kami berdua beda jauh. Bagaikan Langit dan Bumi.
"Namanya siang juga ada malam. Ada gelap ada terang, nah.. lo bagian gelapnya Wil..." Nietha terbahak mengataiku.
Aku cuma mencibir. Gini banget punya sahabat kayak setan.
"Udah gue kasih makan enak tu mulut nyablak aja deh heran !" Akupun ikut terbahak pura-pura bahagia dengan banyolan mereka yang nyelekit di hati.
Bisa enggak lain kali jangan bahas hubungan darahku dengan Sandra yang terkesan mengada-ngada.
Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Mungkin Sandra enggak punya kelebihan yang Willo punya.
Ah, Sandra.......
Kamipun berpisah dan pulang masing-masing setelah ngobrol di cafe langganan.
Aku sudah berjanji pada 2 temanku itu setelah gajian aku akan menraktir mereka. Aku kira setelah aku traktir mereka akan sedikit manis padaku.
Nyatanya??
Embel-embel aku tak punya teman telah memaksaku untuk berteman dengan mereka.
Aku berjalan menyusuri jalanan di komplek perumahan menuju kosku. Hari masih sore, dan ini hari minggu.
Aku harus segera beristirahat di kosan agar senin aku tak kesiangan.
Tapi saat aku membelok ke arah kiri, aku melihat ada 2 pria yang sedang berkelahi. Aku tau yang satu itu preman, dan yang satu lagi sepertinya aku kenal.
Aku segera bersembunyi di balik batang pohon.
Aku bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain meskipun sosok yang berkelahi dengan preman itu aku kenal dengan baik.
Kai yang kini di gebuk preman itu terlihat lecek terkena serangan bogem mentah. Aku masih mengintip di balik pohon dan Kai yang di gebuk preman radius 7 meter dariku.
Aku enggak tega tapi aku juga takut sama preman.
"Jangan sembunyi dong !! Bantuin gue....."
Kok dia bisa tau sih aku sembunyi di sini???
Rasa kemanusiaan hinggap di otakku. Aku yang sebenarnya tak mau ikut campur masalah orang lain terpaksa menolongnya.
"Lo lepasin dia gak?? Atau gue panggil warga nih...!!"
Preman yang ku ancam itupun lari tunggang langgang tanpa menatap wajahku. Lagian kenapa sih Bang Kai berada di sini. Ini kan jalan perumahan yang sepi.
"Wah lo tega bener ma gue. Gue sekarat di hajar preman lo enggak bantuin" Kai memegang rahangnya yang terluka. Ada bercak darah di sudut bibir. Wajahnya merah bekas kena hantaman.
"Lagian kenapa sih lo bisa nyasar kesini terus ketemu preman itu??" Tanyaku cuek. Aku hanya ingin menghindari dia saat ini agar move on ku berjalan dengan lancar.
"Akh, bibir gue... sakiittt" Dia mengaduh kesakitan dan aku harus tega gak usah nolong dia.
"Perlu gue panggilin ambulan??" Tawarku hiperbola
Diapun melirikku dengan sorot mata tajam. Tak terima dengan kata-kataku yang menyinggung soal ambulan.
"Lo punya obat???" Tanya nya meringis kesakitan.
"Ada, bentar gue ambil..." Akupun merogoh tas ransel yang aku gamblok.
Aku mengangsurkan obat pada Kai dan dia langsung melotot.
"Lo enggak salah?? Ini komix syrup !"
Aku mengangguk seraya menahan tawa.
"Oh, bentar aku ada lagi..." Aku merogoh dalam tas.
"Nah, ini bisa buat luka-luka" Aku menyodorkan salep padanya.
"Ini daktarin dodol....!!" Dia menoyor dahiku kesal karena aku memberi obat yang enggak relate sama keadaan dia saat ini.
Aku terbahak.
"Gue pengen nguji, seberapa manjur daktarin buat luka..." Kataku tertawa.
Kai ingin tertawa juga namun langsung meringis menahan sakit saat bibirnya yang terluka di buat senyum.
"Kosan gue udah deket. Gue pulang ya Bang..." Aku pun pamit untuk balik ke kos.
"Tunggu !!" Kai berseru.
Aku berdecih. Apa lagi Bang Kai ?????
"Gue udah sekarat gini lo mau pulang???" Dia memprotes.
Sekarat?? Dia bisa teriak. Sekarat darimana woi !!!
"Terus?? Lo bisa teriak, lo bisa jalan. Untuk apa gue masih di sini??"
Mata Kai memicing sebelah, tak terima jika aku meninggalkan dia begitu saja dengan keadaan Sekarat !
"Anterin gue pulang. Tangan gue kram tadi enggak bisa nyetir.." Dia memelas. Aku memutar bola mata.
"Kalau gue nganterin lo?? Gue pulang naik apa?? Lo telpon Gio kek apa Satria apa Gading. Minta tolong."
"Gue gak mau minta tolong mereka..."
Aku tertawa keras.
"Makanya jadi orang jangan tengil. Mentang-mentang lo bos di kantor lo seenaknya aja. Sekarang lo sial mau minta tolong siapa??"
"Lo mau nolongin gue gak???"
🌲🌲🌲🌲
Entah kenapa ini hari apes banget. Di cafe ketemu temen mereka selalu ngomentarin aku. Dari penampilan, kerjaan sampai masalah keluarga.
Eh, di jalan aku ketemu Bang Kai. Dan sekarang aku di suruh nyetir nganterin dia pulang.
"Lo kok bisa sih Bang, ketemu preman sampe babak belur begitu??" Aku bertanya dengan pandangan fokus ke jalanan yang diliputi senja.
"Dia malak gue !" Jawabnya tegas.
Cukup itu saja jawaban yang ingin aku dengar dan aku tak ingin terlibat begitu jauh.
Mobile Kai yang aku kemudikan telah sampai di parkiran basement apartemen nya.
Dan apartemen tempat dia tinggal masih sama seperti yang dulu saat dia masih kuliah.
"Gue langsung pulang ya Bang. Gue mau istirahat. Kalau besok gue kesiangan lo mecat gue !"
Aku melepas safety belt dan keluar dari mobil.
Kai pun berlari mengejarku dan mencekal lenganku.
Please, jangan gini Bang Kai !!
"Apa lagi Bang??" Tatapku jengah.
Kapan sih bisa kabur dari jeratan mantan???
.
.
.
.
.
Tatapan mata Kai yang sayu berhasil meluluhkan hatiku dan ikut masuk ke apartemen dia. Setelah tadi aku juga mengancam, jika aku besok masuk terlambat dia enggak boleh marah seenaknya.
Bukan enggak mungkin kan dia berulah kalau aku telat??
"Lo masih tinggal di sini Bang?? Gue kira lo udah pindah..." Kataku berdecak saat masuk ke ruangan utama apartemennya.
Aku masih mengingat apartemen ini dengan baik. Saat aku dulu masuk ke apartemen Kai, dan untuk terakhir kalinya juga aku masuk kesini dan kita sepakat untuk putus. Kai lebih memilih mengejar cinta Kenzie.
Nyakitin bagi aku dan melegakan buat dia. Setidaknya begitu. Dia membuat ku nyaman dan aku bahagia sesaat.
Tapi, dia tak pernah mencintai ku dan aku sadar itu hanya tipuan.
Kenapa rasanya sesak sekali memgingat momen itu??
"Ngapain bengong di situ?? Duduk...." Bang Kai mengagetkanku yang berdiri terpaku di samping sofa.
Akupun duduk dan Bang Kai membawakan aku minuman bersoda.
"Ada susu UHT rasa coklat enggak??" Tanyaku tersenyum sok imut. Aku menghindari minuman bersoda karena tenggorokan ku bisa sakit setelah minum itu.
"Susu L-Men. Mau???" Tatapnya enggak selow.
"Air mineral aja." Kataku datar seraya meliriknya.
Bang Kai berjalan menuju dapur untuk membuka kulkas mengambilkan aku sebotol Aqua.
Setelah aqua di sodorkan padaku aku langsung meminumnya. Rasanya melegakan.
Aku berdiri karena ada satu foto yang dipajang menarik perhatianku.
Foto Bang Kai demgan background Menara Space Needle di Kota Seattle, Amerika Serikat. Di foto itu dia Sendirian dengan gaya elegan dan pakaian casual.
"Kesengsem sama orang ganteng??" Tegurnya saat aku memandangi foto itu.
Aku mengerucut kan bibir sambil menggeleng.
"Enggak, ini kota Seattle kan?" Tanyaku tertarik dengan latar foto itu.
"Iya, kenapa ? Lo pernah kesana??" Diapun duduk di sofa.
Aku memasukkan kedua tangan di saku jaket jeansku.
"Enggak, kalau liat menara ini aku jadi keinget sama judul film" Aku berbalik Menatap Bang Kai yang sedang duduk di sofa.
Akupun ikut duduk.
"Film apa?" Tanyanya.
"Filmnya Dakota Jhonson sama Jamie Dornan." Jawabku polos.
Kai tertawa. Apa coba yang lucu. Ini film romance yang ku ceritain. Bukan film Minion.
"Gue kira lo masih polos. Bahkan film itu enggak boleh tayang di Indonesia karena terlalu vulgar."
Asem !! Dia menangkap sinyal jika otakku sudah tak polos karena menonton film itu.
"Yaaaa, gue kan udah gede. Boleh nonton gituan." Jawabku berkilah.
Gara-gara aku suka soundtrack lagu di film itu aku jadi penasaran sama filmnya. Dan aku nonton lah,ternyata film itu banyak menampilakan adegan dewasa yang bikin keringat dingin penontonnya.
"Ok, gue punya film itu. Gimana kalau kita nonton??"
Kimak kali si Bang Kai ini. Mau coba-coba dengan aku rupanya !!!
"Enggak Bang, gue pulang aja. Tu film durasinya lama." Akupun siap siaga untuk kabur.
"Kita loncat-loncat aja. Part mana yang lo suka. Apa saat Ana sama Grey di lift?? Atau waktu adegan main billyard?? Adegan setelah main bilyard juga lebih oke!"
Kai menyeringai penuh maksud dan dia menyalakan televisi yang berukuran besar di tembok ruang tamu itu.
Mampos !! Kenapa sih jadi nonton film itu??
Film sudah di putar dan Kai langsung mempercepat waktu ke adegan saat Ana dan Grey main bilyard.
Dan tanpa aku sadari, Bang Kai kini sudah berada di dekatku. Memangkas jarak denganku.
Tak bisa ku kendalikan perasaan ini dan dengan adegan Ana dan Grey di layar besar itu, membuat kita terbawa suasana.
Kai mengalungakan kedua tangan di leherku dan menatapku lekat. Aku hanya bisa menelan ludah dan berpikir keras. Apa yang setelah ini akan terjadi??
"Makasih, dan bantuin gue saat di aula kementerian kemarin??"
Aku berhasil menyebut satu nama hewan dalam hati.
Oink oink!!! Telat banget makasihnya dah seminggu yang lalu juga.
Aku hanya mengangguk menatap matanya seperti kena hipnotis Uya Kuya.
Setelah itu dia buru-buru melepas pelukannya dan mengusir aku pulang.
Bagus banget dia. Udah di tolongin, bikin aku baper dan salah tingkah enggak karuan abis itu nyuruh aku pulang.
*Bang***keeeeeeeeeee !!!!!!!!!!!!
🍊🍊🍊🍊*
Hallo yorobun, baru update soalnya sibuk banget bantuin emak.
happy weekend ya semua .selamat malam minggu....
tadi diawal juga ada. situasinya lagi tegang/kaget tp tiba tiba ada kata tergelak.
sejauh ini sukaa😍 semangat kakk