Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.
Namun hidup punya selera humor yang aneh.
Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.
Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bento Box 2.0
Mila melirik ke ruangan Arya melalui dinding kaca saat ia tiba pagi ini. Dan ternyata ruangan itu kosong. Lampu di sana mati, kursi masih rapi, laptop-pun tidak ada.
Mila mengerutkan kening.
Biasanya kalau Arya ada meeting pagi, dia akan memberi tau Mila sehari sebelumnya. Atau setidaknya kirim email atau WA.
Ia meletakkan tas di meja, lalu matanya tertuju pada selembar sticky note kuning yang menempel di monitor komputer.
Tulisan tangan Arya yang rapi dan sedikit miring ke kanan itu berbunyi :
Saya meeting sama komisaris sampai siang. -A
Mila menatap note itu beberapa detik, lalu entah kenapa ia merasakan dorongan untuk segera melepaskan kertas tipis itu dari monitor dan menyelipkannya di bawah keyboard.
Biar tidak terlalu terlihat.
Biar tidak terlalu mengganggu.
Mila tidak suka perasaan aneh yang muncul setiap kali ia melihat tulisan tangan itu. Terlalu familiar. Terlalu personal untuk sesuatu yang sebenarnya bisa saja dikirim lewat email atau pesan singkat seperti biasa.
Dan untungnya, pagi itu kantor cukup sibuk untuk mengalihkan perhatiannya.
Sampai akhirnya jam 11 lebih sedikit, notifikasi dari akun bank masuk ke email. Gaji sudah keluar, rasanya beban di pundak hilang setengah.
Ia langsung mentransfer uang kos ke rekening Bu Dena, juga mengirim uang bulanan untuk Mama dan Bimo. Dan seperti biasa, uang di rekeningnya hanya tersisa remah-remah.
Saat ia hendak berjalan ke pantry untuk membuat mie instan, suara familiar itu terdengar dari belakang.
"Mila."
Ia menoleh.
Arya berdiri di dekat lift, masih memakai jas lengkap dengan dasi yang rapi. Di tangannya, tersampir sebuah paper bag premium berwarna coklat dengan logo restoran Jepang yang mereka pesan saat lembur kemarin.
"Pak? Udah selesai meeting?" tanya Mila sambil berjalan mendekat.
"Baru aja." Arya mengangkat paper bag di tangannya. "Ini... kelebihan beli. Kamu belum makan siang kan?"
Mila melirik paper bag, lalu ke wajah Arya. "Kelebihan beli?"
"Iya. Tadi meeting sambil makan. Saya kelebihan order, kepencet kayaknya." jawab Arya datar.
"Daripada dibuang, mending kamu yang makan." Lanjutnya.
"Beneran buat saya, Pak? Kemarin Bapak bilang ini terlalu mahal."
"Kemarin kamu bilang saya nggak boleh pelit soal makanan." Arya menyerahkan paper bag di tangannya kepada Mila.
Mila meraihnya. "Makasih, Pak," ucapnya pelan.
Arya mengangguk. "Sama-sama."
Hening sejenak, lalu Mila menggeser berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki lain, menimbang kata.
"Pak, maaf... saya mau izin pulang on time hari ini. Saya ada acara nanti malam."
Arya menatapnya sebentar, lalu mengangguk. "Oh. Oke."
"Kerjaan saya udah selesai semua kok, Pak. Nanti kalau ada yang urgent, saya bisa remote dari--"
"Nggak perlu," potong Arya. "Kerja ya di jam kerja aja. Pulang on time nggak masalah. Itu hak kamu."
"Baik, Pak. Makasih."
Arya mengangguk sekali lagi, lalu berbalik menuju ruangannya. Mila hanya berdiri di tempatnya, memegang paper bag di tangannya sambil menatap punggung Arya yang menjauh.
.
.
Mila duduk sendiri di meja sudut pantry, membuka bento box yang ternyata berisi unagi, varian yang ia bilang lebih enak tapi habis saat mau dipesan di malam mereka lembur.
Mila sempat tergoda untuk berpikir bahwa Arya sengaja membelikannya varian ini, tapi cepat-cepat ditepisnya pikiran itu.
Ia menatap box di hadapannya lama sebelum akhirnya mengambil sumpit. Semuanya masih hangat. Masih sempurna.
Kemudian ponselnya bergetar. Video call dari Tyas masuk. Mila menggeser tombol hijau, dan wajah Tyas muncul di layar. Pria itu masih pakai scrub hijau di tangannya, kelihatannya sedang istirahat di ruang dokter.
"Halo sayang," sapa Tyas dengan senyum lelah. "Lagi makan siang ya?"
"Iya," jawab Mila sambil menyesuaikan posisi ponsel agar Tyas bisa melihatnya dengan jelas.
"Makan apa?" Tyas sedikit memiringkan kepalanya, mencoba melihat lebih jelas.
Mila refleks menggeser ponselnya sedikit, menjauhkan kamera dari bento box di hadapannya. "Bento."
"Bento?" Tyas tersenyum. "Baru gajian ya?"
Mila tertawa canggung, agak dipaksakan. "Hehe... iya."
"Nah gitu dong. Makannya yang sehat. Jangan mie instan terus."
Mila hanya mampu menelan ludah.
Ini adalah kebohongan pertama Mila pada Tyas sejak percakapan kemarin.
Seharusnya ia jujur saja. Bilang kalau makanan ini dari Arya. Tapi apa gunanya? Itu hanya akan memicu ketidaknyamanan baru. Setelah percakapan semalam yang sudah cukup berat, Mila tidak ingin menambah beban lagi.
"Oh iya, sayang." Tyas mengubah posisi duduknya, wajahnya terlihat lebih serius sekarang. "Nanti malam jadi kan?"
"Iya, aku udah izin pulang on time kok."
"Oke." Tyas tersenyum lega. "Mama tadi pagi nanya lagi. Kayaknya dia excited banget kamu dateng."
Excited?
Mila hampir tertawa mendengarnya. Senaif apa Tyas sampai mengira ibunya menyukai Mila? Setiap kali mereka bertemu, wanita itu selalu memandangnya dengan ekspresi yang sulit disembunyikan. Setengah menilai, setengah jijik bahkan.
"Aku juga pingin ketemu," jawab Mila, berusaha terdengar antusias.
"Nanti aku jemput jam setengah tujuh ya. Jangan telat."
"Siap, Dok." Mila menegakkan tubuhnya sambil menirukan gerakan hormat ala militer.
Tyas tertawa pelan. "Love you, sayang. Aku harus balik kerja. Pasien masih numpuk."
"Love you too."
Video call terputus.
Mila meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap bento box di hadapannya.
Unagi hangat yang tadinya terlihat menggugah selera sekarang tampak seperti gumpalan rasa bersalah.
Ia menarik napas panjang, lalu memaksa dirinya untuk terus makan.
Makanan ini mahal. Rasa bersalahnya tidak cukup besar untuk membuatnya tega membuang makanan berharga ini ke tong sampah.
Lalu ponselnya bergetar lagi. Kali ini notifikasi email. Mila membukanya.
📧 From : Aryasthana Pradipta
Subject : [Reminder] Monthly Report Deadline
Time: 13:32
[Mila, monthly report deadline hari Jumat. Tolong compile semua data dari divisi terkait dan kirim draft ke saya.
Also, have a good evening nanti. Enjoy your event.
Best, A.]
Oh ayolah. Bagaimana bisa Mila tetap berpikir rasional kalau Arya terus menerus bersikap manis seperti ini?
Pertengkaran mereka di mobil belum benar-benar selesai. Insiden hampir berciuman di ruangan Arya pun belum pernah mereka bahas lagi. Mereka belum punya batasan yang jelas.
Ini lagi dia memupuk rasa dengan perhatian yang membuat lututnya lemas.
Atau mungkin sebenarnya Mila yang terlalu membesar-besarkan semua tindakan Arya?
Atau… justru Arya memang sengaja membuatnya terus memikirkannya?
Kalau itu benar, maka pria itu berhasil.
...***...
Ga tau mau belain Mila atau Arya. Kalian berdua tuh ya sama2 punya masa lalu yg kelam. Dah cocok kalian jadi pasutri, persis lah jodoh itu cerminan diri
Habis berantem malah makin nagih ya mil?