NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota yang direnggut

Malam telah turun sepenuhnya. Di tengah ruangan yang gelap dan pengap, Tiara perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat dan berdenyut, seolah dihantam benda keras. Pandangannya berkunang-kunang, sementara tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.

"A... aku di mana?" bisiknya lirih.

Ia memaksa bangkit meski setiap gerakan membuat kepalanya semakin pening.

Sinar rembulan yang menyelinap melalui lubang-lubang di atap memperlihatkan sedikit keadaan di sekelilingnya. Dinding kusam yang retak, lantai berdebu, serta bau lembap yang menusuk membuat jantung Tiara berdegup semakin kencang. Ini jelas bukan rumahnya.

Saat menundukkan pandangan, napas Tiara seketika tercekat. Pakaiannya berserakan tak jauh darinya. Dengan tangan gemetar, ia segera meraih seragam sekolahnya dan memeluknya erat sebelum buru-buru menutupi tubuhnya. Air mata yang sejak tadi menggantung di pelupuk akhirnya luruh tanpa bisa dibendung.

Ketika mencoba berdiri, rasa nyeri yang menjalar di tubuhnya membuat langkahnya goyah. Seketika sebuah kenyataan pahit menghantam kesadarannya. Ia telah menjadi korban kejahatan yang begitu keji.

"Biadab..." desisnya di sela isak tangis yang pecah.

Kenangan siang tadi perlahan kembali memenuhi benaknya. Sepulang sekolah, saat berjalan menuju rumah, seorang pria bermotor menghampirinya. Pria itu mengaku diutus ayahnya untuk menjemputnya karena Keenan dan Yudha telah menunggu di sebuah restoran. Tanpa sedikit pun menaruh curiga, Tiara mempercayainya.

Di tengah perjalanan, pria itu berhenti dengan alasan hendak buang air kecil. Tak lama kemudian, seseorang muncul dari belakang dan membekap mulutnya menggunakan selembar kain berbau menyengat. Ia sempat meronta, tetapi tenaganya kalah. Kesadarannya pun perlahan menghilang, ditelan gelap.

Dan kini… Saat akhirnya membuka mata, keadaan dirinya sangat menyedihkan…

Tiara memeluk kedua lututnya erat-erat. Tangisnya menggema di dalam bangunan kosong itu, memecah kesunyian malam yang terasa begitu mencekam.

"Tolong...! Tolong...!" pekik Tiara dengan sisa tenaga yang dimilikinya setiap kali suara kendaraan terdengar melintas di jalan depan bangunan itu.

Namun suaranya terlalu lirih. Isak tangis dan tubuh yang melemah membuat teriakannya seolah lenyap ditelan pekatnya malam.

Beberapa saat kemudian, suara sebuah sepeda motor berhenti di depan bangunan tua itu. Dua pria yang berboncengan turun sambil saling berpandangan.

"Sepertinya ada suara orang minta tolong," ujar salah seorang di antara mereka.

Mereka melangkah beberapa meter mendekati bangunan yang gelap dan terbengkalai itu. Semakin dekat, suara Tiara kembali terdengar, tetapi begitu lemah hingga terdengar seperti rintihan yang bergema di dalam ruangan kosong. Kedua pria itu mendadak menghentikan langkah.

"Hantu...!" seru salah satunya dengan wajah pucat.

Tanpa berpikir panjang, mereka berbalik, menaiki sepeda motor, lalu memacu kendaraan mereka secepat mungkin meninggalkan tempat itu.

"Tolong... jangan pergi..." lirih Tiara, tetapi tak ada lagi yang mendengarnya. Harapan yang sempat tumbuh kembali runtuh dalam sekejap.

Tiara berusaha berteriak sekali lagi, tetapi suaranya nyaris tak keluar. Tubuhnya begitu lemah, sementara rasa sakit yang menjalar membuatnya sulit bergerak. Ia hanya mampu memeluk tubuhnya sendiri, menangis tanpa henti di tengah bangunan kosong yang dingin dan sunyi, berharap ada seseorang yang benar-benar datang untuk menyelamatkannya.

****

Saat fajar mulai menyingsing, Tiara perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa remuk. Ia mencoba bangkit, tetapi seluruh tenaganya seolah telah terkuras habis. Perutnya pun melilit karena sejak siang kemarin tak ada sedikit pun makanan yang masuk.

Dengan tangan gemetar, ia mengenakan kembali seragam sekolahnya yang telah kotor dan kusut. Setelah itu, ia hanya mampu duduk bersandar di dinding yang dingin dengan tatapan kosong.

"Ya Tuhan... apakah ini balasan karena selama ini aku sudah begitu jahat kepada Tante Kinanti?" gumamnya lirih. Air mata kembali mengalir tanpa mampu ia bendung.

Tak lama kemudian, suara deru sepeda motor terdengar dari depan bangunan. Jantung Tiara berdegup kencang. Harapan sempat menyala. Mungkin ada seseorang yang datang untuk menyelamatkannya.

Namun harapan itu lenyap seketika ketika dua pria memasuki bangunan sambil tertawa lepas. Wajah Tiara langsung menegang. Ia mengenali mereka. Pria yang berdiri paling depan adalah orang yang sempat dilihatnya berkeliaran di sekitar rumah sehari sebelumnya. Sementara pria satunya lagi adalah orang yang mengaku sebagai utusan Keenan dan membujuknya ikut pergi.

"Selamat pagi, Tiara sayang," sapa Ucok dengan senyum mengejek.

Tatapan Tiara dipenuhi kebencian.

"Kenapa nangis? Sakit ya…atau keenakan ?" ejek Ucok.

Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Tiara meludahi wajah kedua pria itu.

"Cuih! Bangsat! Kalian biadab!" pekiknya dengan suara serak.

Sikap itu langsung membakar emosi Ucok.

"Berani banget lo! Plak!"

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tiara hingga kepalanya terhuyung. Belum sempat ia memulihkan diri, Ucok mencengkeram rambutnya dan memaksa wajah gadis itu mendongak.

"Seumur hidup gue belum pernah ada yang berani ngeludahin gue! Plak!” Tamparan berikutnya kembali menghantam wajah Tiara. Gadis itu tak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya. Tubuhnya terjatuh lemas ke lantai.

"Udah, Bro," cegah Tyo.

Ucok mengembuskan napas kasar sebelum menyeringai.

"Aku sudah puas makai dia. Sekarang waktunya minta uang tebusan."

Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Mata Tiara langsung membelalak.

"Itu... handphone ku..."

"Iya. Terus kenapa?"

Dengan sisa tenaga yang ada, Tiara meraih kaki Ucok, berusaha menghentikannya. Ucok justru menepisnya dengan kasar hingga Tiara kembali terjatuh.

"Ikat dia, sumpal mulutnya," perintah Ucok kepada Tyo.

“Gue mau video call ayahnya terus minta uang tebusan.”

Tanpa banyak bicara, Tyo masuk ke bagian dalam bangunan. Beberapa saat kemudian ia kembali membawa seutas tali dan selembar kain.

Tiara berusaha melawan, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Dalam hitungan detik, kedua tangan dan kakinya telah terikat. Kain itu juga menutup mulutnya hingga setiap teriakan hanya berubah menjadi rintihan yang nyaris tak terdengar.

Ucok membuka ponsel milik Tiara yang sebelumnya ia rampas dari dalam tas sekolah. Tak butuh waktu lama baginya menemukan nomor Keenan. Kontak itu tersimpan dengan nama ‘Ayah’.

Seringai tipis terukir di sudut bibirnya.

Ia segera melakukan panggilan video.

Begitu sambungan tersambung, wajah Keenan langsung muncul di layar.

[[Siapa kamu?" tanya Keenan dengan nada waspada]]

Tanpa menjawab, Ucok membalikkan kamera ke arah Tiara. Gadis itu terduduk lemah di lantai bangunan kosong, kedua tangan dan kakinya terikat, sementara mulutnya disumpal selembar kain. Air matanya terus mengalir saat melihat wajah ayahnya di layar ponsel.

Wajah Keenan seketika berubah pucat.

[[Tiara!" serunya panik. "Jangan sakiti putri saya!]]

Ucok kembali mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri.

[[Kalau mau putri Anda pulang dengan selamat, siapkan uang tebusan lima ratus juta rupiah]]

[[Baik. Saya akan menyiapkan uangnya. Katakan,di mana kamu menyekap Tiara?]]

[[Rumah kosong dekat terminal]]

Ucok menatap tajam ke arah layar.

"Dan dengarkan baik-baik. Kalau Anda melibatkan polisi, jangan harap bisa melihat putri Anda dalam keadaan hidup."

Keenan menelan ludah.

"Saya mengerti. Saya akan datang sendiri."

"Bagus."

Tanpa memberi kesempatan Keenan berkata lagi, Ucok langsung memutuskan panggilan.

Pria itu tertawa puas, lalu duduk berjongkok di hadapan Tiara.

"Kalau saja kakak lo nggak ingkar janji dan ngasih upah yang udah dijanjiin, mungkin gue nggak bakal sampai menculik lo,"

ucapnya sambil menyentuhkan jari telunjuk ke pipi Tiara.

Tiara spontan memalingkan wajahnya dengan jijik.

"Gue udah coba baik-baik nagih hak gue. Tapi apa balasannya? Nomor gue malah diblokir." Ucok mendengus sinis. "Jadi kalau lo mau nyalahin seseorang, salahin aja kakak lo... si Yudha."

Ucapan itu menghantam benak Tiara yang saat itu sedang rapuh. Dalam kondisi fisik dan mental yang hancur, kata-kata Ucok perlahan meracuni pikirannya. Ia mulai percaya bahwa semua petaka yang menimpanya berawal dari perselisihan Yudha dengan pria itu.

"Mas Yudha... aku benci kamu!” batinnya, sementara air mata kembali mengalir membasahi pipinya.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!