NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi bisu

## BAB 21 - Saksi Bisu

Di sisi lain, pada waktu yang bersamaan di lantai bawah, Bi Sumi tengah sibuk memeras kain dan mengepel lantai keramik rumah mewah yang luas tersebut. Suasana rumah yang tadinya sepi senyap tiba-tiba pecah ketika daun telinganya menangkap suara teriakan lantang seorang laki-laki yang berasal dari arah lantai atas. Suara itu begitu menggelegar hingga sentak membuat Bi Sumi terlonjak kaget dan menghentikan aktivitas mengepelnya seketika.

"Lho... Suara apa di atas? Kok sepertinya seperti suara laki-laki yang sedang membentak keras? Tapi bukankah Pak Rahmat pagi-pagi subuh tadi sudah pergi ke kios? Apa beliau sudah pulang ya?" gumam Bi Sumi dengan raut muka penuh keheranan sembari mendongak menatap langit-langit rumah.

Mengingat tabiatnya yang enggan ikut campur urusan majikan demi mengamankan pundi-pundi gajinya, Bi Sumi awalnya mencoba mengabaikan teriakan ganjil tersebut. Ia mengembuskan napas panjang lalu kembali melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai. Namun, keputusannya untuk abai tidak bertahan lama. Teriakan kasar dari lantai atas itu justru terdengar makin kesini makin keras dan brutal, bahkan kini mulai dibarengi dengan suara rintihan pilu dari seorang wanita yang sedang menangis tersedu-sedu.

Mendengar rentetan kejadian ganjil dan mengerikan yang kian menjadi-jadi itu, nyali Bi Sumi seketika ciut total. Alih-alih berlari ke lantai atas untuk memeriksa keadaan majikan perempuannya, wanita paruh baya itu justru memilih untuk mengambil langkah seribu dan berlari menjauh. Ia bergegas tunggang-langgang masuk ke dalam kamarnya sendiri yang terletak di bagian belakang, tak jauh dari dapur tempat biasanya ia bekerja.

Dengan tubuh yang gemetar hebat dan napas memburu, Bi Sumi langsung mengunci rapat pintu kamarnya. Ia kemudian meringkuk di sudut kasur, merapatkan kedua tangan untuk menutup mata dan telinganya rapat-rapat.

"Ini bukan urusan saya... Ini bukan urusan saya... Ini bukan urusan saya..." gumam Bi Sumi berulang kali di dalam hati, mencoba menulikan pendengarannya dari suara rintihan pilu Ratna yang masih sayup-sayup terdengar.

"Saya tidak mendengar apa-apa, saya tidak tahu apa-apa," lanjutnya dalam hati dengan penuh ketakutan. Ia terus merapalkan kalimat itu bagai mantra pelindung, memilih untuk menjadi saksi bisu yang buta dan tuli demi keselamatan nyawanya sendiri di dalam rumah gedongan yang sarat akan hawa terkutuk tersebut.

Seketika suasana di rumah itu berubah menjadi semakin mencekam. Angin yang berembus melalui ventilasi udara membawa hawa dingin yang menusuk tulang, membuat bulu kuduk Bi Sumi spontan berdiri tegak. Kamar pembantu yang biasanya terasa hangat dan pengap, kini mendadak berubah sedingin es, seolah-olah seluruh kehangatan di dalam rumah gedongan itu telah disedot habis oleh aura kegelapan yang pekat.

Di balik selimut tipisnya, tubuh Bi Sumi kian menggigil hebat. Suara gigi yang beratukan beradu dengan degup jantungnya yang kian berpacu liar. Hawa dingin ini terasa tidak wajar—bukan seperti dinginnya angin malam atau hujan, melainkan hawa dingin yang membawa firasat buruk yang teramat sangat.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang mencekam. Tiba-tiba, keheningan di rumah itu pecah saat sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan memanggil nama Bi Sumi dari kejauhan.

"Bi.... Bi Sumi, Bi!"

Itu suara Ratna. Nada suaranya terdengar sangat berat dan serak, sisa dari tangisan hebat yang menguras habis tenaganya selama satu jam terakhir.

Panggilan itu sontak membuat Bi Sumi tersentak kaget dari persembunyiannya. Jantungnya kembali bertalu cepat, namun rasa iba dan kewajiban sebagai pelayan mengalahkan rasa takutnya.

"I... iya, Bu. Tunggu sebentar," sahut Bi Sumi terbata-bata dengan suara yang masih gemetar.

Ketika melangkah keluar dari lorong belakang menuju ruang keluarga, langkah kaki Bi Sumi sedikit sempoyongan karena terburu-buru. Bahkan, ia sempat tersandung oleh kakinya sendiri hingga hampir terjatuh ke lantai. Sambil memegangi dinding untuk menahan keseimbangan, Bi Sumi mencoba menata napas. Ia tahu, ia harus mempersiapkan hati—dan yang paling penting, mempersiapkan jawaban aman atas kejadian mengerikan yang sempat ia dengar tadi. Di dalam benaknya yang berkecamuk, hanya ada satu tekad: ia sama sekali tidak mau ikut terbawa-bawa ke dalam pusaran urusan rumah tangga mereka.

Dengan sisa keberanian yang dikumpulkan, Bi Sumi melangkah masuk ke ruang keluarga, di mana Ratna sudah menunggu di situ.

Betapa terkejutnya Bi Sumi saat melihat kondisi majikannya yang teramat memprihatinkan. Ratna terduduk lemas dengan wajah yang pucat pasi bak mayat, sementara kedua matanya tampak bengkak dan sembap karena terlalu lama menangis. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini tampak kusut masai, menambah kesan hancur pada penampilan wanita itu.

Bi Sumi menelan ludah, berusaha menyembunyikan kepanikan yang buncah di dalam dadanya. Ia meremas ujung bajunya sendiri sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara.

"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Bi Sumi dengan nada serendah mungkin, mencoba bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

"Bi... Bibi lihat Mas Rahmat tidak tadi ke mana?" tanya Ratna pelan, mencoba mencari kejelasan.

Mendengar pertanyaan itu, Bi Sumi seketika menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang, takut jika kebohongannya akan terbongkar.

"Ti... tidak, Bu. Bibi dari tadi di dalam kamar karena agak kurang enak badan. Tapi bukankah Pak Rahmat tadi subuh perginya ke kios ya, Bu?" tanya balik Bi Sumi, berpura-pura bodoh demi mengamankan posisinya.

"Iya, memang tadi subuh Mas Rahmat bilangnya mau ke kios. Tapi barusan Mas Rahmat sudah pulang. Tadi Mas Rahmat keluar dari kamar, tapi saya tidak tahu dia ke mana setelah itu. Makanya saya keluar dan tanya Bibi, barangkali Bibi tahu," jelas Ratna dengan raut muka yang dipenuhi kebingungan teramat sangat, meraba pakaian tidurnya yang berantakan dengan benak yang terus mempertanyakan sikap suaminya yang mendadak berubah menjadi sangat kasar di siang bolong tadi.

Bersambung

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!