Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Damar
Damar dengan wajah tenangnya duduk di sofa dan mendengarkan pembicaraan Papi Mami dan keluarga Priyo.
Dari ruang keluarga datang kedua orang adik Damar bersama pasangannya masing-masing.
"Mas," sapa Dipta dan Frea ke kakak sulung mereka.
Damar hanya mengangguk. Di depannya Kayla tak pernah melepaskan tatapannya ke Damar. Tampak wajahnya begitu cerah dan merona.
Damar tau gadis di depannya ini menatapnya dengan rasa kagum. Damar sudah terbiasa melihat wajah gadis-gadis yang akan merona wajahnya jika berhadapan dengannya.
Dipta dan istrinya juga Frea dan suaminya duduk di sofa yang tidak jauh dari Damar.
"Baiklah karena semua sudah berkumpul di sini, kita mulai saja pembicaraan dengan keluarga Bapak Priyo," Papi Pram bicara dengan suara beratnya sambil tersenyum ke Priyo lelaki paruh baya yang masih tampak gagah mantan tetangganya sekaligus temannya Papi.
Suasana hening sejenak, Damar duduk dengan santai menunggu pembicaraan apa yang akan Papinya sampaikan.
"Damar, sebagai anak sulung, yang sudah dilangkahi oleh adik-adikmu menikah, malam ini Papi, Mami dan keluarga Bapak Priyo berencana menjodohkan Kamu dengan putri Pak Priyo, Kayla, bagaimana? Apa Kamu setuju?" ucap Papi Pramudya blak-blakan.
Suasana yang tadinya masih tampak santai sekarang berubah sedikit tegang. Semua mata tertuju ke arah Damar.
Damar memandangi Papi, Mami dan yang lainnya. Wajahnya tampak tenang tanpa ekspresi. Wajah yang sulit dibaca. Damar menarik napas dan menghembuskan dengan perlahan.
Untuk menjawab masalah yang menurut dirinya ini tidak penting hanya butuh ketegasan dari dirinya saja.
"Maaf sebelumnya Pi, Mi, Om, Tante sebagai lelaki matang yang sudah melewati kepala tiga memang seharusnya Damar sudah memiliki keluarga, tapi namanya jodoh itu sudah digariskan, untuk rencana perjodohan Damar, mohon maaf Damar tidak bisa menerimanya, saat ini Damar sudah memiliki kekasih," jelas Damar dengan suara tegasnya.
Semua orang yang berada di dalam ruang tamu tersebut kaget. Papi Mami membelalakkan matanya, Dipta dan Frea saling memandang.
Keluarga Priyo juga kaget, terutama Kayla yang langsung menundukkan kepalanya. Raut wajahnya berubah yang tadinya tampak merona dan cerah sekarang menunduk kedua jari-jari tangannya saling meremas kuat.
Sabagai anak tunggal semata wayang dari Priyo Samudro yang selalu terpenuhi keinginannya tentu saja dirinya kecewa dan sedih. Berpuluh tahun dirinya memendam perasaan ke Damar, lelaki tampan yang selalu ada di dalam hatinya.
Priyo dan Erika, suami istri tersebut juga kecewa, tetapi mereka tidak berhak memaksa Damar harus setuju dengan perjodohan ini.
Papi dan Mami juga tampak kecewa dengan putranya. Keduanya tidak mengetahui jika Damar sudah memiliki kekasih. Mami rasanya pingin menjewer telinga putra sulungnya ini. Punya kekasih kok diem-diem aja, batin Mami.
Kalau tau Damar sudah punya kekasih pasti tidak akan ada perjodohan malam ini, batin Mami lagi.
Suasana masih tampak tegang. Hening sejenak. Tidak ada yang membuka suara memecahkan suasana akward yang terjadi.
Tiba-tiba saja Damar berdiri, ia tidak mau berlama-lama di ruangan yang seakan menjadi kuburan sepi dan senyap ini.
Semua mata memandangnya. Damar mengerutkan keningnya.
"Damar izin pamit Pi, Mi, masih ada hal yang harus Damar urus di luar," ucap Damar tenang.
Papi dan Mami sudah tidak bisa berbicara lagi mereka kenal dengan Damar, putra sulungnya yang memang tidak bisa di dikte, di atur, perjodohan ini terjadi karena adanya permintaan dari keluarga Priyo.
"Mas Damar mau kemana?" tanya Frea.
"Mas ada urusan yang harus di selesaikan, Mas tinggal ya, Pi, Mi, Om, Tante Damar permisi," ucap Damar tanpa menyebut nama Kayla sambil mengatupkan sepuluh jarinya di dada. Lalu berjalan tenang ke arah pintu keluar rumah.
Kayla dengan wajah kecewanya hanya bisa menatap lelaki yang di cintainya dengan hati teriris. Cinta bertepuk sebelah tangan, batinnya.
Kedua orangtua Kayla, Priyo dan Erika melihat sekilas wajah sendu putri kesayangannya. Priyo tidak ingin melihat putrinya bersedih tetapi keputusan Damar yang menolak perjodohan ini juga harus di hormati.
Sabagai ayah yang sangat meyayangi putrinya tentu saja Priyo tidak ingin melihat putrinya terpuruk dalam kesedihan. Dirinya belum tau harus bagaimana menyikapi penolakan perjodohan ini. Sebagai keluarga yang terpandang dan terhormat tentu penolakan ini sebagai hal yang memalukan untuk keluarganya.
Suasana di ruang tamu keluarga Pramudya masih hening.
Setelah menarik napas panjang, Papi Pramudya berdehem.
"Ehem,"
Semua pasang mata beralih ke Papi Pramudya.
"Pri, Erika, Kayla, maafkan jika Damar membuat keputusan yang membuat kita terkejut, seharusnya memang hal ini kami tanyakan terlebih dahulu ke Damar, Nak Kayla maafkan putra Om ya, semoga Kayla akan mendapatkan lelaki yang baik tidak seperti putra Om yang dingin," Papi Pramudya bicara dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan keluarga Priyo.
Kayla hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Pram, belum jodohnya Kayla berarti menikah dengan Damar, Kami paham lelaki tampan seperti Damar pasti sudah ada wanita cantik di sampingnya," Priyo berusaha untuk tetap tenang suaranya tanpa tekanan.
Erika tidak mengeluarkan suaranya. Sebagai seorang Ibu yang hanya memiliki putri satu-satunya tentu saja penolakan perjodohan ini memukul hatinya. Melihat putri cantiknya nampak kecewa dan bersedih.
Dipta dan Frea juga langsung berpamitan tidak ikut bergabung lagi dengan papi, mami dan keluarga Priyo.
Mereka kembali ke ruang keluarga di mana anak-anaknya sudah tertidur.
Papi Pramudya dan tamunya keluarga Priyo masih melanjutkan obrolan mereka. Kayla sebenarnya sudah tidak betah berada di ruang tamu tersebut. Hatinya sangat sedih tetapi dirinya harus menahan agar air mata tidak jatuh di pipinya. Rasanya Kayla ingin berteriak sekuat-kuatnya melepaskan perasaan sesak di dadanya akibat penolakan Damar.
***
Sementara di perjalanan pulang dari rumah orang tuanya Damar tidak langsung ke rumahnya tetapi ia melajukan mobilnya ke arah apartemen wanita yang sudah mencuri perhatiannya.
Damar ingin bertemu dan mengajak wanita cantik itu makan malam menemaninya menghabiskan malam di tempat yang tenang tidak berisik.
Mobil Damar sudah sampai di apartemen mewah wanita pujaannya.
Damar memarkirkan mobilnya di basement, dirinya sebenarnya tidak tau di unit mana wanita tersebut berada sebelumnya. Tetapi Damar sudah meminta Vano asistennya untuk mencari tau dimana unit Diandra berada.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 menit. Damar melihat arloji di pergelangan tangan kanannya. Ternyata sudah malam juga, batin Damar.
Damar ragu-ragu akan memencet bel unit apartemen Diandra dirinya sudah berada di depan pintu. Saat dirinya masih ragu untuk memencet bel, pintu apartemen Diandra terbuka.
Diandra yang melihat laki-laki yang baru di kenalnya di depan pintu kaget. Matanya membola.
"Kamu?" pekik Diandra.
Damar tersenyum tipis. Dilihatnya wanita cantik di depannya ini tanpa make up dengan rambut panjangnya terurai. Wajahnya nampak polos dan natural dengan outfit rumahan yang santai. Damar terkesima untuk sesaat. Wanita ini sangat cantik, batin Damar.
"Hai Cantik," ucap Damar tanpa mengedipkan matanya.
Diandra memanyunkan bibirnya.
"Mau ngapain, tau dari mana unit apartemen Saya?" ketus Diandra dengan menyipitkan sebelah matanya.
"Apa gak di suruh masuk dulu tamu yang datang?"
"Nggak, Saya tidak terima tamu laki-laki di apartemen Saya, maaf Saya mau keluar," ucap Diandra sambil menutup pintu apartemennya.
"Aku antarin, jangan menolak, kebetulan Aku mau ajak Kamu makan malam temani Aku,"
"Apa! Tidak-tidak, Saya tidak mau, Saya mau keluar ada urusan," Diandra tetap berjalan menuju lift Damar mengikuti Diandra berjalan di sampingnya.
"Sudah malam Kamu mau kemana? Aku akan temani," Damar tak patah arang tetap saja kekeuh mengikuti wanita cantik ini yang hanya memakai kaos peach dengan jaket ditubuhnya dan celana jeans pensil dan sendal rumahan.
"Jangan ikuti Saya, Pak Damar yang terhormat, kenapa sih Bapak ikuti Saya terus," kesal Diandra.
"Jangan panggil Aku Pak atau Bapak Aku belum jadi Bapak Nona Diandra, panggil saja Damar atau Sayang juga boleh," ucap Damar usil.
Diandra tidak menggubris kata-kata Damar. Diandra sudah di dalam lift bersama Damar.
Diandra sebenarnya keluar ingin mencari makan di area sekitar apartemennya. Perutnya sedang keroncongan dan menginginkan makan tom yam pedas yang segar.
"Aku akan tetap mengikuti Kamu, Cantik, jangan menolakku, temani Aku makan malam," ucap Damar santai.
Diandra tetap saja bungkam. Dirinya membiarkan saja sahabat kembarannya itu bersamanya, dirinya tidak bisa menolak lelaki tampan yang entah darimana tiba-tiba saja muncul di depan pintu apartemennya.
Meski hatinya kesal tapi entah mengapa dirinya merasa aman berada di dekat laki-laki yang baru di kenalnya ini.
semangat onell /Determined//Determined/
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤