NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:252.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Jam Tangan

Airin menuntun Kaivan kembali ke kamar, lalu mencari celana bersih di lemari. Ia menyerahkannya pada Kaivan. "Ini, pakai dulu celananya. Aku akan mengambil air untuk membersihkan tubuhmu," katanya seraya berlalu.

Kaivan hanya menanggapi dengan gumaman pelan, merasa sedikit bingung dengan sikap gugup Airin yang tadi ia tangkap. Setelah memastikan Kaivan sudah mulai memakai celananya, Airin pergi mengambil baskom berisi air hangat dan kain bersih.

"Kak, sudah selesai memakai celananya?" tanya Airin sambil mengetuk pintu pelan sebelum masuk.

"Sudah," jawab Kaivan dari dalam.

Airin masuk, meletakkan baskom di meja kecil dekat ranjang. "Baiklah, sekarang duduk tenang. Aku akan membersihkan luka-lukamu," ucapnya dengan nada lembut.

Kaivan menuruti, duduk dengan punggung tegap di tepi ranjang. Airin merendam kain ke dalam air hangat, memerasnya, lalu mulai menyeka wajah Kaivan dengan hati-hati. Ia mengusap pelipis, leher, hingga lengan Kaivan dengan gerakan lembut namun terampil, meskipun fokusnya agak terganggu melihat tubuh atletis Kaivan.

"Maaf kalau terasa sakit," kata Airin pelan saat ia menyeka luka kecil di bahu Kaivan.

"Tidak apa-apa. Kau melakukannya dengan sangat telaten," jawab Kaivan. Meski biasanya ia tidak nyaman diurus orang lain, namun perhatian Airin terasa berbeda.

Airin tersenyum kecil mendengar pujian itu, tetapi ia tetap berusaha fokus. Airin memandangi wajah Kaivan dengan ragu, jemarinya meremas kain basah yang baru saja ia gunakan untuk menyeka luka di wajah pria itu. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi bibirnya hanya bergerak tanpa suara.

"Emm... Kak," akhirnya Airin memberanikan diri, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Rambut dan brewokmu, apa perlu dicukur?"

Kaivan, yang awalnya sedang memikirkan sesuatu, langsung tersentak. Ia menoleh ke arah suara Airin, meski matanya masih sulit menangkap dengan jelas. Pertanyaan itu membuatnya terdiam sesaat.

Brewok dan rambutnya memang sengaja dibiarkan tumbuh lebat. Baginya, itu seperti tameng. Tameng untuk menutupi wajahnya yang selama ini menjadi daya tarik bagi banyak wanita. Ia benci saat orang mendekatinya hanya karena tampangnya dan statusnya sebagai anak konglomerat.

Airin menatapnya dengan bingung. "Kak? Kenapa diam? Maaf, kalau pertanyaanku..."

Kaivan menghela napas panjang, membuang pikirannya yang sempat melayang ke masa lalu. Ia menatap ke arah Airin, samar-samar menangkap gerakan gadis itu. "Kau merasa terganggu dengan rambut, brewok, dan kumisku?" tanyanya datar, suaranya terdengar serius.

Airin menggeleng cepat, refleks. "Tidak, tidak sama sekali! Aku hanya berpikir mungkin akan lebih nyaman kalau... maksudku, kalau dicukur sedikit, tapi aku benar-benar tidak masalah kalau Kakak tetap begini," jawabnya buru-buru.

Kaivan sedikit tersenyum mendengar nada panik Airin, meskipun senyumnya sangat tipis. "Aku tidak bisa melihatmu, tapi kau menggeleng, 'kan?"

Airin terkejut. "Eh? Kakak tahu?" tanyanya dengan nada heran.

"Samar. Aku bisa melihat sedikit bayanganmu bergerak," jawab Kaivan, nada suaranya berubah lebih lembut.

Airin menahan napas sejenak, lalu tersenyum lega. "Itu... bagus kalau Kakak bisa melihat bayangan. Mungkin penglihatan Kakak akan membaik."

Kaivan hanya mengangguk pelan. "Tentang rambut dan brewokku... kalau kau tak keberatan, biarkan saja seperti ini dulu."

Airin tersenyum lagi, meskipun Kaivan tidak bisa melihatnya dengan jelas. "Baik, Kak. Aku tak keberatan, sungguh."

Kaivan merasa ada kehangatan dalam nada bicara Airin. Tanpa sadar, perasaannya sedikit melunak. Di depan wanita ini, ia merasa tidak perlu menyembunyikan siapa dirinya, meskipun masa lalunya masih menjadi bayang-bayang.

Setelah selesai menyeka tubuh Kaivan, ia mengambil kotak P3K kecil dari sudut kamar dan mulai mengobati luka-luka Kaivan dengan perlahan.

"Apa semua ini hasil kecelakaan itu?" tanya Airin pelan, masih sibuk membersihkan luka di siku Kaivan.

Kaivan mengangguk, suaranya datar. "Kebanyakan, ya. Tapi mungkin juga dari hal-hal lain yang aku lupa."

Airin menatap wajah Kaivan yang terlihat lelah namun tetap tenang. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Airin merasa ingin terus merawat pria ini, meski ia sendiri tidak tahu kenapa.

"Kak Ivan, mulai sekarang, apa pun yang terjadi, kau bisa mengandalkanku. Aku akan selalu ada," katanya spontan, tanpa berpikir panjang.

Kaivan terdiam sejenak, hatinya terasa hangat mendengar janji itu. Meskipun ia belum sepenuhnya percaya pada orang lain, ia bisa merasakan ketulusan Airin. "Terima kasih, Airin. Aku menghargai itu."

Setelah selesai, Airin merapikan baskom dan kain. Ia melirik Kaivan yang kini tampak lebih segar meski belum terlalu sehat. Dalam hati, ia berdoa agar kebersamaan mereka membawa kebaikan, meski jalan hidup mereka baru saja dimulai.

Setelah selesai menyuapi Kaivan, Airin menyodorkan segelas air dan obat kepada Kaivan sambil berkata lembut, "Minum obatnya dulu, Kak."

Kaivan mengangguk pelan, menerima segelas air dan obat dari Airin. "Terima kasih," ucapnya singkat sebelum menelan obatnya.

Airin tersenyum kecil. "Kak Ivan, aku pikir nanti aku akan membelikan baju baru untukmu. Baju mendiang ayahku ternyata kekecilan di tubuhmu. Kakak pasti nggak nyaman."

Kaivan terkejut mendengar itu, tetapi tetap menjaga nada suaranya. "Tidak perlu repot, Airin. Aku baik-baik saja dengan baju ini."

"Tidak apa-apa, Kak. Aku ingin kau merasa nyaman," jawab Airin tulus.

Kaivan tersenyum samar. Namun tiba-tiba, pikirannya teringat pada sesuatu. "Airin, ngomong-ngomong, jam tanganku kemarin... Apa kau melihatnya?"

Airin teringat bahwa ia melepas jam tangan Kaivan saat membersihkan tangan pria itu kemarin. "Oh, jam tangan itu. Aku melepasnya waktu membersihkan tangan Kakak. Tunggu sebentar, aku ambilkan," katanya sebelum berjalan ke lemari kecil di sudut kamar.

Ia kembali beberapa saat kemudian sambil menyerahkan jam tangan itu kepada Kaivan. "Ini, Kak. Maaf aku lupa mengembalikannya."

Kaivan meraba jam tangannya, memegangnya dengan hati-hati seolah itu barang yang sangat berarti. Kemudian ia bertanya ragu, "Airin, di sini... ada toko yang menjual jam tangan, tidak?"

Airin terlihat berpikir sejenak. "Ada, tapi tokonya di kota. Tempatnya lumayan jauh dari sini."

Kaivan mengangguk pelan, menyembunyikan kegelisahannya. "Kalau begitu, apa kau bisa mengantarku ke sana nanti?"

Airin menatapnya, sedikit terkejut. "Ke kota? Apa kau butuh sesuatu, Kak?"

Kaivan mengusap jam tangannya dengan ekspresi yang sulit diterka. Ia menghela napas pelan sebelum berkata, "Airin, aku ingin menjual jam tangan ini."

Airin terkejut mendengar itu. "Menjualnya? Tapi kenapa, Kak?"

Kaivan tersenyum tipis, meskipun ada rasa berat di hatinya. "Aku tidak ingin terlalu banyak menghabiskan uangmu untuk kebutuhanku. Kau sudah cukup berkorban, Airin."

Airin segera menggeleng, mencoba membantah. "Kak, kau tidak perlu melakukan itu. Aku ikhlas membantu. Lagipula, ini kewajibanku sebagai istri."

Kaivan menundukkan kepala sejenak, lalu menatap ke arah Airin meskipun samar. Suaranya terdengar tegas, namun lembut. "Airin, aku ini suamimu. Seharusnya akulah yang menafkahimu, bukan sebaliknya. Jangan membuatku merasa tak berarti."

Kata-kata itu membuat Airin terdiam. Ia menatap Kaivan yang wajahnya tampak penuh keyakinan. Dalam hatinya, ia tahu Kaivan hanya ingin menjaga harga dirinya sebagai seorang pria dan suami.

Akhirnya, Airin menghela napas panjang, menyerah pada keinginan Kaivan. "Baiklah, Kak. Kalau itu yang kau inginkan, nanti kalau Kakak sudah merasa lebih baik, kita bisa pergi ke sana."

Kaivan tersenyum kecil, merasa lega. "Terima kasih, Airin."

Airin mengangguk pelan. Meskipun hatinya khawatir, ia memilih untuk mendukung keputusan Kaivan. Baginya, menjaga perasaan suaminya lebih penting daripada memaksakan kehendaknya sendiri.

Dalam hati, Kaivan berharap rencananya untuk menjual jam tangan itu berjalan lancar. Ia ingin menggunakan uang hasil penjualan itu untuk membeli pakaian baru dan, yang lebih penting, membayar biaya berobat ke dokter mata. "Aku tak boleh mengabaikan pengobatan mataku, aku tak ingin buta selamanya." batinnya. Namun, ia memutuskan untuk merahasiakan tujuannya agar tidak membuat Airin khawatir.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!