NovelToon NovelToon
ARSIP KISAH HOROR

ARSIP KISAH HOROR

Status: tamat
Genre:Horor / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: David Purnama

Apakah kalian yakin sudah mengetahui semuanya?

Perihal peristiwa-peristiwa gaib dan misteri yang selama ini membisu berkeliaran di celah-celah kehidupan. Kemari lah akan aku beritahu.

Ini adalah Arsip Kisah Horor.

Kisah-kisah horor yang tercatat rapi dan selama ini bungkam telah bangkit kembali untuk diceritakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga

Nyonya Halima baru saja pindah ke kota yang baru. Ia dan anak-anak mengikuti sang suami yang dipindah tugaskan dari tempat dinas sebelumnya. Ini bukan kali pertama bagi keluarga bahagia itu pindah dari satu kota ke kota yang lain. Mereka sudah terbiasa menjalaninya.

Sang suami dari pagi sampai sore sibuk bekerja. Anak-anak harus sekolah. Hanya Nyonya Halima sendiri yang di rumah. Di setiap kota yang pernah ia tinggali ibu dua anak itu selalu mencari kesibukan yang baru. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang menunggu anak-anak dan suaminya pulang ke rumah.

Seperti yang sudah-sudah ia akan terlebih dahulu berkeliling kota. Melihat-lihat hal menarik apa yang kira-kira bisa menyenangkan hatinya. Nyonya Halima meninggalkan rumah setelah mengurus keperluan rumah tangga.

Di hari pertama mengitari sebuah kota baru yang jauh berbeda dari kota-kota sebelumnya Nyonya Halima langsung merasa cocok. Ia senang dengan suasana yang tidak terlalu riuh. Ditambah udaranya yang masih bersih. Serta orang-orang yang bersikap santun.

Nyonya Halima memarkirkan mobilnya di depan sebuah kios bunga yang mengundang perhatiannya. Belum pernah ia melihat tempat berjualan bunga sebagus ini. Tapi sayang ia tidak bisa masuk di waktu pagi. Kios bunga itu baru buka di sore hari.

Dari jalan wanginya semerbak sudah tercium. Warna-warni eloknya dari kejauhan sudah menyihir mata. Besok hari Nyonya Halima ingin ke sana lagi.

*

Kios bunga itu buka dari 15:00 dan tutup di jam 21:00 malam. Memang begitulah konsep yang sengaja disuguhkan oleh sang pemilik kios tersebut, yaitu open garden. Sang owner berkeinginan agar orang-orang yang datang ke sana tidak hanya sekedar bisa melihat saja, tapi juga bisa terlibat langsung sekaligus belajar bagaimana cara menanam dan merawat bunga dengan benar. Jadi ketika para pengunjung datang mereka bisa berinteraksi langsung dengan para karyawan di sana yang sedang berkebun.

Nyonya Halima terkesan dengan konsep yang disajikan tempat itu. Ia pun berkeinginan untuk bertemu dengan sang pemilik tempat usaha. Tapi sayang sang owner biasanya hanya datang ke sana pada waktu malam hari itu pun juga tidak setiap hari.

Jatuh cinta dengan bunga-bunga yang indah. Nyonya Halima langsung memborong bunga-bunga tersebut untuk ditaruh sebagai hiasan di rumah dinas barunya. Merawat bunga-bunga itu setiap hari juga akan menjadi kegiatan yang baru baginya. Ia begitu bersemangat.

“Mbak, memangnya kalau malam masih ada orang yang datang?”, tanya Nyonya Halima kepada salah satu petugas di sana.

“Masih Bu, malahan kalau malam jauh hari lebih ramai”, jawabnya.

*

Dengan izin dari suami Nyonya Halima datang ke kios bunga itu di waktu malam hari. Sebenarnya ia sudah berusaha untuk mengajak anak-anak dan suaminya untuk ikut. Tapi semua laki-lakinya itu menolak. Tidak tertarik sama sekali dengan kembang.

Jam delapan malam Nyonya Halima sampai di sana. Ternyata benar di sana banyak pengunjung. Muda-mudi bersukaria berfoto-foto di sana. Taman bunga yang menyala. Keberagaman jenisnya memancar di bawah langit yang terang.

Wangi yang begitu menusuk. Harum dari bunga cempaka kuning. Tapi kenapa bisa sewangi ini? Di waktu sore kemarin Nyonya Halima mencium baunya tidak sekuat ini.

Nyonya Halima pun pergi ke tempat dimana cempaka-cempaka itu diletakkan. Di ujung memisah dengan bunga-bunga yang lain.

Ada satu orang yang terlihat sedang asyik di sana. Menikmati keindahan dan wanginya cempaka kuning.

“Permisi Bu, suka cempaka juga?”, tanya Halima mendekati perempuan itu.

“Saya sangat menyukainya”, jawab perempuan itu.

Nyonya Halima dibuat terkejut ketika perempuan itu memperlihatkan wajahnya. Sosoknya sama persis seperti yang terpajang di logo kios bunga tersebut. Kios Bunga Fatima.

“Ibu ini ownernya? Ibu Fatima?”, tanya Nyonya Halima.

“Bukan Bu. Saya ini adiknya. Nama saya Maria”,

“Kami memang begitu mirip”, jawab perempuan itu.

Perempuan itu adalah Maria saudara dari Fatima pemilik usaha kios bunga tersebut. Nyonya Halima dan Maria pun berbincang panjang lebar mengenai dunia bunga-bunga. Hingga tak sadar malam telah larut.

“Mohon maaf ya Bu Maria sudah jam sembilan lewat”,

“Saya pamit dulu. Besok saya pasti ke sini lagi”, kata Nyonya Halima.

“Terimakasih atas kedatangannya Bu Halima”, kata Maria.

“Bu Maria pulang kemana? Apa mau sekalian sama saya?”, kata Bu Halima.

“Tidak perlu Bu Halima. Saya tinggal di sini”, jawab Maria.

*

Minggu pagi di rumah dinas yang baru beberapa hari mereka tempati.

“Gimana Pah kerja di sini enak?”, tanya Nyonya Halima kepada suaminya.

“Sama saja Ma kerja dimana-mana. Yang enak itu pas hari libur”, jawab sang suami.

“Mama sendiri gimana? Papa lihat mama sudah betah di sini”, kata sang suami.

“Adem di sini. Enak”, jawab Nyonya Halima.

“Oya Ma, kios bunga yang Mama maksud itu kios bunga yang mana ya Ma?”, tanya sang suami penasaran.

“Kios Bunga Fatima yang di jalan Pahlawan”, jawab Nyonya Halima.

“Kios Bunga Fatima yang di jalan Pahlawan? Serius Ma?”, tanya sang suami.

“Kenapa Pah?”, Nyonya Halima bingung.

“Tempat itu kan mau dirubuhkan, mau dibangun buat tempat usaha yang baru”, jawab sang suami.

“Nggak lucu ah Pah. Pagi-pagi gini udah mau nakut-nakutin Mama”, kata Nyonya Halima.

“Siapa juga yang ngelucu. Orang Papa yang ngurus izinnya”, jawab sang suami.

“Males Pah ah. Apaan sih? Orang lagi sarapan juga”, kata Nyonya Halima.

Suami Nyonya Halima kemudian mengambil HP miliknya. Ia memperlihatkan kontak di handphonenya bahwa ada nama Fatima di sana. Fatima pemilik Kios Bunga Fatima yang sudah tiga tahun yang lalu tutup. Sang suami juga memperlihatkan isi percakapan yang membahas tentang persyaratan izin mendirikan bangunan baru.

Masih tak percaya dan tak mau kalah Nyonya Halima pun mengambil ponselnya. Ia berniat memperlihatkan foto-foto yang ia ambil di Kios Bunga Fatmawati kepada sang suami.

“Ini Pah”, kata Nyonya Halima.

“Ini Ma?”, sang suami pun berbalik memperlihatkan foto-foto itu kepada istrinya.

“Ya Allah”, Nyonya Halima kaget melihat foto-foto di galeri handphonenya sendiri.

Bangunan kosong yang terbengkalai. Pot-pot bunga dengan tanah gersang yang berserakan. Bangkai-bangkai bunga yang telah kering dan mati.

Begitu juga dengan bunga-bunga yang ia bawa ke rumah. Hanyalah sampah.

*

“Selamat siang Ibu Fatima”,

“Selamat siang. Mohon maaf Bu Halima saya baru bisa angkat telephone sekarang. Maklum kalau hari minggu anak cucu ngumpul di rumah,”

Siang itu Nyonya Halima langsung menghubungi Fatima yang merupakan owner dari kios bunga tersebut. Kepada Fatima ia menjelaskan apa yang dialaminya beberapa hari belakangan. Pemilik tempat itu pun menjelaskan kebenarannya memang Kios Bunga Fatima sudah ia tutup sejak tiga tahun yang lalu.

Kemudian tentang sosok Maria memanglah benar adik dari Fatima yang mempunyai wajah yang sangat mirip dengannya. Mereka berdua lah yang sama-sama menggagas kios bunga yang sempat menjadi primadona di kota itu. Tempat bunga itu dibuat karena memang Maria sangat suka dengan bunga. Khususnya cempaka kuning.

Dari pihak keluarga kios bunga itu sebenarnya dibuat khusus untuk Maria yang sedang berjuang melawan sakit kankernya. Maria merasakan kebahagian yang luar biasa ketika kios bunga yang dibangunnya ramai didatangi banyak orang.

Tempat itu mulai kurang peminat seiring dengan kepergian Maria yang meninggal karena sakit yang dideritanya. Setelahnya para karyawan yang bekerja di sana dan juga pengunjung yang datang kerap melihat sosok penampakan Maria. Perlahan Kios Bunga Fatima menjadi tempat yang menakutkan.

Karena itulah Fatima memutuskan untuk menutup tempat tersebut.

*

Nyonya Halima terdiam di dalam mobil. Ia berhenti. Di seberang jalan yang berlawanan adalah Kios Bunga Fatima. Ia melihat tempat itu masih hidup. Ia melihat sosok Maria yang melambaikan tangan kepadanya seolah memanggilnya untuk datang ke kios bunga tersebut. Seperti janji Nyonya Halima kepada Maria yang mengatakan ia akan kembali lagi untung berkunjung ke sana.

1
😱
serem
💞
baru bab 1 aja udah bikin merinding 😱😱😱
Mas Seiyo
manng eak
Kartini Kartini
waw serem
Romi Tama
menakutkan
Herlina Lina
serem
Herlina Lina
br bab awal aja udah serem
olenk3
oke lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!