"Kematian adalah kepastian. Kabar baiknya, kau bisa menentukan bagaimana cara kau akan mati. Apakah dengan cara terhormat, ataukah terlaknat."
#Arsyelin
Arsyelin Wangsaguna adalah sorang detektif muda berbakat. Lulusan akademi detektif ternama dengan reputasi yang diakui seluruh dunia. Dalam petualangannya mengasah kemampuan, ia bertemu dengan sosok jin yang menyeretnya paksa untuk menemukan pembunuh teman manusianya. Sialnya, sosok jin dengan paras rupawan itu tak mau pergi meninggalkannya meskipun kasus kematian temannya telah berhasil ia ungkap.
Dan sungguh diluar dugaan, ternyata kasus kematian dengan organ yang hilang itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es di lautan dalam. Yang mana kasus-kasus itu membawanya bertemu dengan sosok pangeran terbuang yang pernah dilelang di perdagangan budak.
Petualangan seperti apa yang akan dilakukan oleh gadis yang merupakan turunan dari bangsawan Jawa itu?
Ikuti kisah mereka hanya di The Death Blossom.
Nb: source materials cover from Pinterest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richa Susilo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14. Black Marlin
Tanpa menunggu lawan bicaranya membalas perkataannya, Arsyelin langsung menutup sambungan telepon dan memasukkan ponsel anti air itu ke dalam saku celana tidur panjang berwarna abu yang memiliki resleting. Lantas menggulung rambut panjangnya secara asal dan mengikatnya dengan ikat rambut cukup kuat.
Setelah memastikan segala peralatan yang ia butuhkan tidak ada yang tertinggal, gadis itu melakukan pemanasan singkat, lantas berjalan ke tengah danau dengan kaki telanjang.
Membiarkan dinginnya air danau merasuk ke dalam sel pori-porinya, memberikan sensasi dingin yang menusuk.
Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung menyungsupkan kepalanya ke dalam air, diiringi dengan gerakan tangan dan kakinya yang mengayuh
cepat dengan begitu lincah dan terlatih.
Jika ia tidak ingin membeku kedinginan, maka ia harus terus bergerak agar tubuhnya membakar kalori dan menjaga suhu tubuhnya tetap hangat. Selain karena memang diburu waktu tentu saja.
Di sisi lain, seorang pria yang tengah duduk dengan
sebelah kaki disilangkan dengan rambut panjang yang tergerai dan tertutup hoodie serta berpakaian serba hitam tampak begitu terkejut dengan apa yang baru
saja terjadi. Mulutnya sedikit terbuka dengan kedua mata melebar menatap layar ponsel di tangannya yang telah padam.
Selama karirnya dalam menyelami dunia bayangan,
sungguh, ini adalah kali pertama sambungan teleponnya diputus begitu saja oleh lawan bicaranya dengan begitu kasar. Membuat pria yang kini tengah berada di kamar mewah di dalam kapal itu tertawa tak percaya.
Bagaimana mungkin seorang gadis yang telah mengetahui siapa dirinya, dengan begitu berani memutus panggilan teleponnya begitu saja? Di saat semua anak buahnya bahkan tak berani berkedip ketika ia berbicara.
“Benar-benar gadis yang bernyali besar,” gumam pria
itu seraya menyeringai penuh gairah. Seolah tengah menemukan tangkapan yang membangkitkan semangatnya. “Mari kita lihat, sejauh mana kau bisa melawanku, gadis kecil.”
Pria itu lantas menyambar mantel hitam selutut yang
tersampir di lengan kursinya dan mengenakannya sambil lalu. Ia juga tak lupa mengambil teropong yang terletak di meja kerjanya dan beranjak menaiki sebuah tangga yang mengarah ke buritan kapal. Tempat di mana ia bisa melihat sang gadis bernyali
besar yang tengah berenang untuk menghampirinya.
Begitu tiba di buritan kapal, pria itu langsung berjalan ke tepi sampai batas pagar besi. Sedikit menyipit ketika hambusan angin menghempas wajahnya.
Tangan kirinya yang memegang teropong terangkat,
mensejajarkan benda yang ia pegang pada kedua matanya, bergerak perlahan untuk menemukan objek yang tengah ia cari. Sementara tangan kanannya, ia masukkan ke dalam saku mantel ketika merasakan angin yang berembus cukup kencang, cukup kencang untuk menggerakkan mantelnya yang tidak bisa dikatakan ringan. Menyadari kencangnya angin dan dinginnya malam, entah kenapa membuat pria itu tiba-tiba merasa dibayangi kekhawatiran.
Namun, senyum pria itu segera terulas begitu
teropongnya menangkap gerakan yang tengah mengarah ke arahnya. Sebelah alisnya terangkat begitu melihat betapa gesit gerakan tubuh gadis yang bernyali besar itu. Gadis itu bahkan sama sekali tidak khawatir dengan kemungkinan adanya buaya atau binatang buas apa pun yang mungkin saja akan menyerangnya dari dalam air. Yang bersemayam di kedalaman 108 kaki atau sekitar 32,9 meter di bawah permukaan air danau. Membuat pria itu seketika ragu, apakah otak gadis itu masih berfungsi dengan baik, ataukah telah rusak dan kehilangan beberapa baut di dalamnya?
Namun demikian, tanpa sadar, pria itu mengurai senyum lebar. Merasa senang dengan kemunculan gadis gila ini dalam hari-hari gelapnya. Ia sungguh tak menyangka pelarian dirinya membawanya bertemu dengan gadis yang begitu menarik.
Mungkinkah gadis ini adalah orang yang ia tunggu kehadirannya selama ini? Sosok yang ia harapkan menjadi partner dalam menjalankan misi pribadinya? Sungguh, jauh di dasar hatinya, pria ini berharap demikianlah yang akan terjadi. Meskipun ia
sama sekali tak mengira bahwa sosok yang akan muncul adalah seorang gadis, tetapi, instingnya mengatakan bahwa gadis ini bukanlah gadis sembarangan. Dari berbagai aspek, gadis ini memenuhi standar yang telah ia tetapkan.
Meskipun demikian, masih ada beberapa hal yang harus ia pastikan sebelum dengan begitu gegabah menjalankan rencananya.
Ketika pria itu tengah sibuk dengan pikirannya, ponsel
di saku mantelnya berdering. Pria itu mengangat panggilan tanpa mengalihkan pandangannya dari sang gadis yang bergerak semakin mendekat ke arahnya.
“Tuan Muda, Tuan Besar ada di sambungan satu, beliau ingin berbicara dengan Anda,” kata si penelepon dengan nada rendah penuh kesopanan.
“Katakan, aku sedang di kamar mandi. Tidak bisa
menerima panggilan sekarang. Nanti aku akan menelepon balik,” sahut pria itu dengan nada rendah namun syarat akan ketegasan yang mengerikan. Membuat anak buahnya yang menyampaikan informasi itu segera mengangguk dan mengiyakan dengan begitu patuh.
Setelah pria itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong mantel, ia melirik jam tangan berbahan kulit berwarna hitam yang kini melingkari pergelangan tangannya yang seputih porselin itu dengan mata
menyipit. Seketika bibirnya menyunggingkan senyum lebar begitu waktu telah berlalu dua puluh menit sejak si gadis berenang ke arahnya. Dan semakin lebar
begitu menyadari jarak mereka kini tinggal bebera km saja.
Dengan kegesitan seperti itu, pria itu yakin sekali
gadis itu akan sampai di tempatnya bahkan kurang dari sepuluh menit.
Di saat dada pria itu dipenuhi oleh kelegaan,
tiba-tiba sudut matanya menangkap gerakan yang cukup cepat mengarah ke tempat si gadis berada. Tidak salah lagi, itu pasti ikan besar yang tengah berburu mangsa. Besarnya bahkan nyaris dua kali kapal nelayan. Pria itu memperkirakan panjangnya mencapai sepuluh meter.
“Sial. Akankah kau mati begitu saja?” gumam pria itu
dengan tangan kanan mengepal erat di dalam saku mantelnya tanpa sadar. Jantungnya turut berpacu semakin cepat seiring makhluk yang cukup besar
terlihat jelas tengah mengincar gadis yang kini justru berhenti dan meghadang binatang itu. “Oh, idiot! Apa yang kau lakukan? Apakah kau membiarkan dirimu
ditelan makhluk itu begitu saja?” geramnya seraya menggigit ujung bibirnya karena refleks ketegangan yang ia rasakan.
Di sisi lain, Arsyelin yang telah menyadari keberadaan
dirinya tengah menjadi incaran dari makhluk air tawar bergigi runcing yang terlihat buas dan kelaparan segera menghentikan gerakan tangan dan kakinya. Berbalik dengan cepat setelah mengambil sebuah benda sebesar ibu jari dari dalam sakunya. Benda itu ia pegang di sebelah kiri, sementara tangan kanannya
memegang pisau lipat yang ia tahu pasti siapa pemiliknya.
“Mari kita lihat, setajam apa pisau ini, makhluk
sialan,” gumam Arsyelin seraya menyeringai penuh perhitungan. Ia tahu, satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menghadapi makhluk bergigi tajam yang kini bergerak mendekat dengan cepat di hadapannya. Kerena ia tahu betul batas kemampuannya dalam berenang. Sepandai apa pun ia berenang, ia tetaplah manusia yang fitrahnya menjadi makhluk darat. Bukan seekor ikan yang memang ditakdirkan hidup di air.
Ia sungguh tidak menyangka danau ini dihuni oleh makhluk seperti ini. Makhluk mengerikan yang entah muncul dari mana. Menambah daftar kesialannya hari ini. Beruntungnya, ia sempat berpikir untuk membawa laser yang telah dimanipulasi menjadi cahaya membutakan sekaligus membawa pisau lipat dalam satu paket. Andai tidak, ia mungkin harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia malam ini.
“Tiga … dua …,” Arsyelin menghitung mundur, dan tepat
pada hitungan ke satu, makhluk air itu benar-benar nyaris menerkamnya andai saja jempol tangan kirinya tidak segera menekan tombol pada benda yang ada di
genggamannya itu. Dan begitu tombol ditekan, cahaya putih membutakan langsung menyorot telak ke mata si makhluk air, membuat makhluk itu seketika kehilangan kendali dan bergerak liar membabi buta seperti ikan yang tergelepar di atas tanah.
Kesempatan itu jelas tak disia-siakan oleh Arsyelin.
Gadis itu segera menekan moncong si makhluk air dan menggunakannya sebagai tumpuan untuk melentingkan tubuhnya ke atas si ikan, membuat ikan itu bergerak semakin liar. Namun perjuangan Arsyelin belumlah berakhir. Gadis itu dengan gerakan sangat cepat membuka lipatan pisau hanya dengan sentilan dari ibu jarinya. Lantas, dengan sekuat tenaga, melesatkan pisau itu tepat di leher si ikan, yang menyebabkan luka tusuk yang sangat dalam, bahkan tangan Arsyelin terperosok masuk hingga ke siku ke dalam robekan yang diciptakan pisau itu. Membuat
darah memuncrat dan menggenangi sekitarnya dengan warna hitam pekat.
Tidak ada waktu untuk terkejut atas ketajaman pisau
itu bagi Arsyelin. Ia harus segera pergi dan meninggalkan ikan yang sekarat itu dengan cepat sebelum seluruh permukaan danau dipenuhi warna merah yang menjijikkan.
Dengan gerakan yang begitu tangkas meski sedikit
terengah, Arsyelin memasukkan kembali dua benda yang membantunya tetap hidup ke dalam saku celana. Lantas, dengan gerakan meluncur yang cukup jauh, ia kembali menggerakkan tangan dan kakinya menuju yacht yang sudah tidak jauh lagi dari hadapannya.
Sementara itu, sosok yang tengah berdiri di buritan
kapal tampak tersenyum lebar, sebuah senyuman yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun selama ini. Lelaki itu menurunkan alat teropongnya, membiarkan tangan kirinya terkulai di samping tubuh. Karena kini ia sudah bisa melihat gadis penuh kejutan itu dengan sangat jelas meskipun tanpa bantuan alat pembesar.
Melihat gadis itu sudah begitu dekat, pria itu
membalik badan dan mengambil sebuah tangga tali yang ada di kotak penyimpanan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan gerakan elegan namun begitu tangkas, pria itu menjulurkan tangga tali ke permukaan danau yang dingin, di mana seorang gadis tengah mendelik galak ke arahnya.
“Naiklah sebelum kau membeku. Simpan saja tatapan
mengerikanmu itu untuk nanti,” seru pria itu seraya melongok ke bawah dengan seringai lebar yang begitu disengaja, tempat sang gadis berada.
Arsyelin mengumpat dalam hati begitu melihat seringai pria menjengkelkan yang tengah berdiri angkuh di tepian buritan kapal itu. Meskipun
demikian, entah kenapa, gadis itu sama sekali tidak merasakan ancaman bahaya yang menguar dari sosok yang tinggi menjulang itu. Bahkan tak ada satu orang
pun bawahannya di sana. Ini sungguh aneh. Apa yang direncanakan pria ini sebetulnya? Kenyataan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ia bayangkan, di mana ia akan disambut dengan wajah-wajah ganas yang menodongkan senjata di kepalanya layaknya ia seekor domba yang mendatangi sarang serigala.
“Apakah kau masih tidak mau naik? Atau kau ingin
kembali lagi ke daratan? Baiklah, aku akan menarik kembali tangga ini,” seloroh si pria begitu tak ada reaksi apa pun dari gadis di bawah sana yang justru
terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Namun, gadis itu segera menyambar ujung tangga tali
begitu ia berpura-pura menarik kembali tangga talinya. Membuat pria itu kembali menyeringai dari balik punggungnya yang membelakangi Arsyelin. Merasa puas karena umpannya langsung disambar.
Dan lagi-lagi, pria itu dibuat terpana dengan
kemampuan memanjat Arsyelin yang nyaris menyerupai tupai yang memanjat pohon kelapa. Begitu cepat dan gesit. Tanpa sadar, seringai misterius pun kembali menghiasi wajahnya yang tampak berkilau menawan diterpa cahaya keperakan
purnama yang telah menyibak awan.
“Aku sudah di sini, di mana Elan?” tanya Arsyelin
begitu berhasil melentingkan tubuhnya yang ramping dan berdiri tepat di hadapan si pria. Tatapan matanya menyipit tajam penuh kejengkelan.
Namun, hal yang sungguh tak pernah terpikirkan oleh
Arsyelinlah yang justru terjadi, pria itu dengan begitu tenang melepaskan mantel panjangnya dan menyelimutkan ke tubuh Arsyelin yang basah kuyup seraya tersenyum samar. “Kau benar-benar Black Marlin berkaki dua. Selama dua puluh tahun
hidupku, aku sungguh tak pernah melihat gadis yang begitu menipu sepertimu,” seloroh si pria seraya terkekeh pelan, seolah tak percaya dengan kemampuan yang dimiliki gadis ini jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Apa maksudmu?” tanya Arsyelin dengan kedua mata
menyipit tajam. Meskipun ia membiarkan saja mantel pria itu tersampir di pundaknya, bukan berarti ia mengendurkan kewaspadaannya. Melainkan karena semata-mata ia memang mulai merasa kedinginan. Dan keberadaan mantel itu sungguh membantunya memberi sedikit kehangatan. Yang sialnya, aroma mint vanilla yang menguar dari mantel itu sungguh membuat otaknya seolah berhenti bekerja. Aroma khas yang dikenali indera penciumnya ketika mereka pertama kali bertemu. Menurunkan kewaspadaannya nyaris pada titik nol.
Beruntungnya, gadis itu segera saja menyambar kesadarannya yang nyaris melayang entah ke mana. Melemparnya kembali pada kenyataan berbahaya yang ada di depan mata.
Di sisi lain, pertanyaan Arsyelin seketika membuat pria itu tergelak. “Apa kau sungguh tak menyadarinya? Kau ini memiliki paras yang sangat anggun, siapa sangka ternyata kau seperti serigala yang dengan mudahnya
menerkam ikan sebesar itu? Dan hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk berenang dengan jarak 17,5 km?” pria itu kembali tertawa dengan nada seolah
baru saja melihat suatu kejadian yang mustahil terjadi. “Kau benar-benar penuh kejutan,” lanjut pria itu dengan kilat ketakjuban yang tampak begitu alami.
Arsyelin seketika mendenguskan tawa mencemooh. “Apa kau sedang memujiku, Tuan? Jika iya, terima kasih banyak,” sahut gadis itu dengan nada pelan namun penuh kejengkelan. Lantas, mendongakkan dagunya dengan sangat berani. “Di mana Elan?” lanjutnya seraya menyipit tajam menuntut pemenuhan
janji dari pria itu.
Namun, pria itu justru menyeringai. “Kenapa buru-buru
sekali? Tidakkah kau ingin berbincang-bincang sebentar denganku? Jika kau tidak, maka aku mengehendakinya. Kau tahu? Aku tidak menerima ponolakan, jadi sebaiknya kau segera mengikutiku jika tidak ingin mati membeku di buritan kapal ini,” tutur pria itu santai seraya melangkahkan kakinya menuju tangga menurun yang mengarah ke kamarnya.
Arsyelin mengerutkan kening samar menatap punggung pria yang kini telah berjalan meninggalkannya. Tak ada pilihan baginya kecuali
mengikuti apa yang dikatakan pria itu. Namun demikian, Arsyelin sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaan. Tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celana di mana sebuah pisau lipat yang sangat tajam berada. Menggenggamnya erat.
Jika terjadi hal-hal yang tak ia inginkan, maka ia tak
akan segan-segan menggunakan pisau itu kedua kalinya untuk merobek daging lawan dengan brutal. Jika sampai pria ini berbuat macam-macam kepadanya, maka ia tak akan segan membuat pria ini bernasib sama dengan ikan besar yang baru saja menyerangnya.
Meskipun gadis itu telah mempersiapkan berbagai
kemungkinan penuh rencana, tak urung, jantungnya berdegup kencang begitu si pria membuka pintu dan menampilkan ranjang king zise di dalamnya. Pria ini
membawanya ke kamar?
Alarm tanda bahaya yang telah diatur di kepalanya seketika berbunyi nyaring. Membuat setiap langkahnya dilalui penuh perhitungan dan kewaspadaan.
“Kenapa kau membawaku ke tempat pribadi seperti ini? Jangan coba-coba berbuat yang tidak benar padaku atau aku akan membuat isi perutmu keluar berhamburan,” ucap gadis itu seraya menyipit tajam penuh peringatan dan enggan beranjak dari depan pintu. Membuat pria asing itu tergelak, seakan tengah menertawakan pikiran liar gadis di hadapannya. Apa yang coba gadis ini pikirkan?
Tak urung, pria itu pun menyeringai dengan sangat
misterius seraya berujar, “Memangnya apalagi yang akan dilakukan pria dan wanita ketika mereka hanya berdua di sebuah ruangan yang nyaman seperti ini?
Cepat masuk atau aku akan memaksamu!”
padahal ini cerita yang paling aku suka.
aku sampai membaca ulang beberapa kali sambil nunggu cerita ini di lanjutin, karna cerita ini memang seseru itu
selamat membaca 😊😊
good job outhor.. 👍👍
kapan-kapan
*SELESAIKAN APA YG SDH KAMU MULAI *
BIAR GK ADA HUTANG DIANTARA KITA ,
HABIS AQ CEK KARYA AUTHOR NGEGANTUNG SMUA ... ENK TU FINISH 1 BKIN LAGI IGAN LONCAT2 ,BIAR GK BERSA SAKIT DITINGGL PAS SYNG2NYA wkwkwkwk...😁
OVERALL NICE STORY , SO IM WAITING UR UPDTE OKAY ,,,,😊
THANKS BE4