Setelah putus dari Jevano Gautama Abraham, Alyssa Roseana Navier berusaha melupakan sang mantan dengan lari dari kota Bandung ke Surabaya.
Jevano memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin 4 tahun lamanya begitu saja karena bosan dan jujur tentang perselingkuhannya. Sampai akhirnya setelah 3 tahun berlalu mereka kembali bertemu.
Alyssa bekerja sebagai seorang sekretaris di perusahaan besar milik ayah Jevano yang baru saja bertemu dengan anaknya setelah sekian lama, hingga saat itu perusahaannya di percayakan kepada Jevano dan membuat Alyssa menjadi sekretaris pribadinya.
Akankah cinta mereka bersemi kembali? Atau Alyssa akan mengundurkan diri? Bisa kah Alyssa bertahan dengan rasa sakit hatinya menghadapi Jevano?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cxafixe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Biasa Saja
Hari ini Alyssa dan Jevano sudah mulai masuk kerja. Seperti biasa kalau di kantor Alyssa akan bersikap secukupnya, seperlunya, sepentingnya saja. Karena ya memang dia berusaha bersikap profesional saja, benar apa kata ibunya terlalu banyak yang Endru beri padanya. Dia harus bekerja dengan baik.
Apalagi setelah kejadian di balkon itu, Alyssa semakin menjadi pendiam meskipun dia tau kalau Jevano menyakiti dirinya sendiri malam itu. Alyssa tau? Tentu tau, meskipun Alyssa membenci pria yang sudah menyakitinya itu, tapi mereka pernah hidup bersama cukup lama, mereka tumbuh bersama selama bertahun-tahun, sudah pasti Alyssa tau.
Mata Alyssa sejak tadi tidak berpaling pada pekerjaannya, jari-jarinya menari dengan lincah sambil sesekali membenarkan rambutnya yang cukup membuat Alyssa gerah.
Alyssa terkesiap saat sebuah tangan di belakangnya mengurai rambutnya dan menjepitnya dengan jepitan yang ada di mejanya. "Gerah ya? Pantes AC-nya gak di nyalain."
Gery mengambil remote AC lalu mengubah suhu ruangan itu. Alyssa mengerjapkan matanya, tapi ini bukan pertama kali juga sih. Gery ini memang perhatian padanya karena mereka juga cukup dekat. "Makasih ya, Ger. Emang gerah banget."
"Sama-sama, masih sibuk ya, Sa?"
Suara sepatu terdengar mendekat ke arah mereka, suasana yang semula hangat mendadak menjadi dingin. Siapa lagi kalau bukan Jevano. "Jangan ganggu pekerjaan Alyssa, dia harus menyelesaikannya segera. Kembali ke ruangan!"
Gery yang mendengar itu pun menurut saja, meskipun dia juga kesal dan menggerutu dalam hati. Bos-nya ini mengganggu PDKT-nya saja.
"Galak banget," dengus Alyssa.
"Saya dengar, lanjutkan pekerjaan kamu!" Titah Jevano.
"Siap, Pak." Alyssa mengiyakan meskipun dengan nada ketus. Memangnya kenapa sih, lagi pula kalau dia mengobrol pun pekerjaannya akan selesai. Dia juga bukan tipe orang yang akan menunda pekerjaan.
Tipe-tipe bos otoriter yang membuat naik darah. Tapi Alyssa perlu tau sih kalau Jevano itu cemburu saja, bukan ingin mengekang Alyssa ini itu, tapi ya dia tidak suka apa yang menjadi miliknya harus dekat dengan orang lain. Meskipun bukan miliknya sih.
"Pulang sama saya, kita cari rumah." Setelah mengatakan itu Jevano kembali ke ruangan. Meskipun dengan suara gemuruh di dadanya karena emosi, bagaimana bisa dia melihat adegan romantis itu di depan matanya.
Setelah kepergian Jevano Alyssa menghela napasnya berkali-kali, meladeni Jevano hanya akan membuatnya badmood seharian. Lebih baik dia kembali bekerja.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Alyssa sedikit merenggangkan tubuhnya lalu berdiri membereskan meja kerjanya. Kepalanya cukup pusing sih karena memakai kacamata cukup lama. Belum lagi seharian ini dia hanya duduk di depan layar. Pekerjaan yang sangat membosankan tapi ya dia harus bersyukur.
Belum sempat dia menarik napas, tiba-tiba sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya. "Ayok."
Alyssa yang ditarik pun langsung mengambil tasnya dah berusaha menyamai langkahnya dengan Jevano. Kebiasaan, Jevano selaku seenaknya begini. Untuk kantor sudah sepi, bagaimana kalau banyak orang dan mereka menjadi bahan pembicaraan yang tidak-tidak? Memang menyebalkan sekali.
"Tuan bisa tidak sih kalau apa-apa bilang dulu, Tuan lepasin dong saya bisa jalan sendiri. Tuan Jevano, lepasin!!" Pinta Alyssa saat karena Jevano tidak mendengarkannya sejak tadi.
Jevano memilih diam karena kalau tidak begini ya Alyssa tidak akan mau jadilah dia terus menarik Alyssa lalu memintanya masuk ke dalam mobil.
Alyssa menatap tajam ke arah Jevano. "Nyebelin banget sih?!"
"Memang, jadi sebelum saya jauh lebih menyebalkan daripada ini. Lebih baik kamu masuk dan kita pergi sekarang," tegasnya.
"Iya!" Alyssa menghentakkan kakinya lalu masuk ke dalam mobil. Memang harus ya seenaknya begitu?
Jevano terkekeh, Alyssa seperti gadisnya saja yang mudah mengambek. Tapi itu lucu sih, kalau bisa ingin sekarang juga Jevano mencium bibir Alyssa sampai tidak lepas-lepas.
Mobil mereka melaju, sama seperti biasa tidak ada percakapan di sana. Alyssa hanya fokus ke jalanan, begitu juga dengan Jevano. Namun Jevano tidak membiarkan itu begitu lama, dia mengambil sebuah bouquet kecil di belakang dan memberikannya pada Alyssa.
Sengaja memang, sejak tadi dia berkonsultasi dengan temannya di telpon untuk berdiskusi apa saja yang disukai wanita. Kebetulan Jevano masih sangat hafal dengan kesukaan gadisnya itu.
Alyssa kaget sih, apalagi itu bouquet coklat. Ahhh dia tidak bisa menahan kalau soal coklat. "Apa?" Tanyanya dengan masih sik cuek. Meskipun ya dia berbinar sih melihatnya. Jevano pun bisa melihat itu.
"Untuk kamu, lebih baik kamu makan coklat daripada diam saja begitu."
"Gak mau! Makasih!"
Jevano mengangguk-anggukan kepalanya, dasar ratu gengsi. "Baik, kalau begitu biar saya buang saja, saya tidak suka coklat."
"Jangan." Dengan cepat Alyssa mengambil bouquet itu dan langsung memalingkan wajahnya ke arah kaca. Aduh malu sekali lah, tadi dia menolaknya dan sekarang dia menerimanya begitu saja.
"Kamu mau saya tambah jatuh cinta ya?" Tanya Jevano sambil menarik pipi Alyssa gemas.
"Diem!" Kali ini dia tidak bisa jaga image lagi, dia kesal, senang, tapi benci. Bagaimana sih Alyssa harus menjelaskan perasaannya? Campur aduk sekali.
Jevano tersenyum melihat itu, ya dia tau kalau Alyssa menyukai hadiahnya. Dia memang sengaja membelikannya juga untuk Alyssa.
"Dulu kalau ke rumah saya cuma bisa bawa martabak," ucap Jevano.
"Dulu kalau mau beliin kamu apapun, harus kumpulin uang dulu. Baru bisa beliin kamu, apalagi boneka yang ada di capitan itu. Saya harus berusaha keras sih agar bisa dapat. Biar murah, tapi ada perjuangannya."
Alyssa terdiam, ya memang sih. Tapi ya menurut dia dulu itu hal yang spesial. Dia tidak meminta apapun kok, dulu dia senang menemani Jevano dalam hal apapun.
Jevano tersenyum sekilas lalu mengusap puncak kepala Alyssa. "Sekarang saya kalau bisa memberikan dunia ke kamu, akan saya lakukan."
Dulu selama mereka berpacaran, tidak banyak hal yang dia berikan pada Alyssa, jadi sepertinya ini waktu yang pas. Dia bahkan akan memberikan apapun yang Alyssa inginkan.
Alyssa masih tetap diam, tidak tau juga harus menanggapinya bagaimana, karena bingung juga. Jevano ini selalu bisa membuatnya luluh, tapi bedanya kali ini dia bertahan dengan pendiriannya untuk tetap diam.
Disaat-saat seperti ini yang membuat pikirannya bersautan. Apa dia memang harus berusaha biasa saja ya pada Jevano? Biasa saja bukan berarti harus balikan, kan? Tapi kenapa susah sekali rasanya?
Padahal dia tau kalau Jevano sebenarnya hanya ingin mencoba memperbaiki semuanya. Namun Alyssa menghela napas pelan. Semuanya masih sulit untuk dia lakukan. Logika dan hatinya tidak sejalan. Memang hati, pikiran, dan logika tidak bisa jalankan secara bersamaan. Dan pasti pemenangnya adalah ego diri sendiri.