HIATUS
"Kamu siapa? Mengapa kamu tiba-tiba ada di kamarku?"
"Ssstttt ... Jangan keras-keras. Nanti akan aku beritahu siapa aku asalkan kamu mengizinkanku untuk tinggal di sini untuk sementara waktu."
***
Hari-hari Lea berubah drastis setelah kedatangan seorang lelaki yang tiba-tiba ada di dalam kamarnya. Lelaki asing yang sama sekali tidak ia kenal yang ternyata ikut menyeretnya ke dalam pusaran cerita hidup yang tersimpan.
Siapakah sosok lelaki asing itu? Bagaimanakah Lea menjalani hari-harinya bersama si lelaki asing hingga membuatnya terpikat pada ketampanan yang dimilikinya? Dan apa yang akan dilakukan oleh Lea saat menerima kenyataan bahwa lelaki yang ia sembunyikan di dalam loteng kamar merupakan seorang buronan polisi yang sudah lama dicari?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fumiko Sora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buronan 14. Barang Bukti dari Kamar
Lima orang berseragam cokelat tiba di kediaman Anton. Dengan mengendarai dua mobil polisi, seakan membuat bertanya-tanya para tetangga yang kebetulan tengah melintas di depan rumah Anton. Alhasil, mereka menghentikan kakinya di depan pagar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Anton dan Aster yang baru saja tiba di depan teras, sedikit terkejut dengan kedatangan petugas kepolisian ini. Hati keduanya seakan berdegup kencang sebagai firasat jika ada hal buruk yang terjadi.
"Selamat pagi Pak. Benar, ini kediaman Sean Breadly Arion?" tanya salah seorang polisi yang bernama Marcel.
Anton mengangguk gugup. "B-Benar Pak, ini kediaman putra saya, Sean. Kalau boleh tahu, Bapak-Bapak ini ada keperluan apa ya datang kemari?"
"Astaga Pa, apalagi yang diperbuat oleh anak itu? Sampai membuat petugas kepolisian mencarinya?" ucap Aster dengan berbisik ke arah sang suami.
"Psssttt..., diam dulu Ma. Ini Papa juga lagi tanya!" ucap Anton dengan lirih.
"Anak Bapak, Sean Breadly Arion diduga sebagai pelaku pembunuhan dan mut*ilasi atas korban bernama Andrew Hehanusa di hotel Petir Menggelegar sepuluh hari yang lalu Pak..."
"Apa? Menjadi tersangka pembunuhan dan mutilasi?!!" pekik Anton dengan suara melengking, memangkas penjelasan Marcel. "Tidak mungkin Pak, tidak mungkin putra saya terlibat dalam peristiwa keji seperti itu!"
"Tolong diam dan tenang Pak. Biarkan kami jelaskan terlebih dahulu!" timpal Marcel yang nampak gemas karena ucapannya dipotong oleh Anton.
Nyali Anton menciut. Lelaki paruh baya itupun mencoba untuk tenang.
"Jadi begini, setelah kami analisa lebih lanjut melalui rekaman CCTV hotel, kami mendapati saudara Sean yang terakhir kali memasuki kamar korban sebelum pada akhirnya korban ditemukan dalam keadaan tewas dengan jasad yang dipotong-potong menjadi sebelas bagian. Dari rekaman itu pulalah bisa kami simpulkan bahwa saudara Sean sebagai tersangka kasus ini."
"Tidak, itu tidak mungkin Pak. Anak saya tidak mungkin melalukan hal seperti itu!" ucap Anton membela Sean.
"Meskipun bagi Bapak hal itu mustahil, namun rekaman CCTV yang berbicara Pak. Anak Bapak sebagai tersangka dan saat ini sebagai buronan pihak kepolisian," terang Marcel. "Apakah selama sepuluh hari terakhir ini saudara Sean pernah pulang ke rumah?"
Anton menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak pernah pulang Pak. Bahkan baru saja, saya dan istri saya sedang membahas perihal Sean yang sudah tidak pulang selama sepuluh hari terakhir."
"Tepat sekali. Hal itu semakin menguatkan dugaan pihak kepolisian bahwa putra Anda yang terlibat dalam kasus pembunuhan dan mutilasi di hotel Petir Menggelegar," terang Marcel. "Jadi kami harap kerja samanya. Mohon Bapak juga terbuka kepada kami jika ada informasi mengenai keberadaan Sean. Jangan sekali-kali melindungi tersangka karena pastinya hal itu justru akan merugikan Bapak sendiri. Paham Pak?"
Anton menganggukkan kepala. "Paham Pak. Tapi saat ini saya benar-benar tidak tahu di mana keberadaan Sean."
"Kami percaya Pak. Hanya saja kami minta kerja samanya. Kami juga akan menggeledah kamar milik Sean, barangkali ada petunjuk atau bukti-bukti yang bisa kami temukan." Marcel menautkan pandangannya ke arah para anggota polisi yang lain. "Ayo semua, kita bergerak cepat!"
"Siap Komandan!"
Anton tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya melihat lima orang anggota kepolisian ini merangsek masuk ke dalam rumah.
"Di mana kamar Sean, Bu?" tanya Marcel kepada Minah.
"D-Di sana Pak!" tunjuk Minah dengan gugup ke arah kamar Sean yang berada di lantai dua.
"Terima kasih!"
Tanpa membuang banyak waktu, Marcel dan yang lainnya bersegera naik ke lantai dua. Anton dan Aster mengekor di belakang para polisi dan berhenti di ambang pintu. Mereka pun hanya bisa menatap lekat apa yang dilakukan oleh para anggota kepolisian ini.
Lima belas menit berlalu....
"Bagaimana? Apa ada petunjuk yang ditemukan?" tanya Marcel kepada anggotanya.
"Siap Komandan. Kami hanya menemukan sebuah ponsel dalam keadaan retak yang mana SIM cardnya telah dilepas!" ucap salah seorang anggota kepolisian sembari menyerahkan ponsel yang diduga milik Sean kepada Marcel.
"Baik, amankan!"
"Siap Komandan!"
Marcel membuang napas sedikit kasar. Rasa-rasanya ponsel itu tidak terlalu bisa dijadikan petunjuk ataupun bukti karena keadaannya sudah hampir hancur.
Pandangan Marcel mengedar ke arah sekeliling. Polisi berparas tampan nan rupawan itu seakan belum puas jika belum sampai menemukan bukti yang jauh lebih besar daripada ponsel ataupun rekaman CCTV. Lelaki itu berupaya untuk menemukan sesuatu yang jauh lebih berguna.
Lama Marcel memandang ke arah sekeliling, hingga pada akhirnya, pandangan lelaki itu terhenti pada sebuah bantal yang berada di atas ranjang. Dia bergegas menuju ke arah sana.
Marcel mengangkat sebuah bantal yang berada di kamar Sean. Sebuah bantal yang disarungi oleh sarung bantal dengan motif flanel warna hitam. Namun ada sedikit keanehan dalam bantal ini. Ia merasa bentuk bantal ini sedikit berbeda.
Marcel mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celana. Komandan polisi itu mulai membuka sarung bantal dan ia ambil sesuatu yang ada di dalamnya.
"Hah! Itu......?" pekik Aster dengan nyaring ketika melihat Marcel mengeluarkan sebilah pi*sau dari dalam bantal. Ia dan sang suami bergegas mendekat ke arah Marcel.
"Pak Anton, ini merupakan salah satu bukti yang akan menguatkan bahwa anak Bapak terlibat dalam kasus pembunuhan dan mutilasi. Bapak bisa lihat sendiri bukan, di pisau ini ada bekas darah yang sudah mengering yang kami yakini pisau ini digunakan untuk menusuk korban sebelum akhirnya dipotong-potong."
Dengan bola mata yang terbelalak lebar, Anton menatap penuh keterkejutan akan wujud pisau yang ditunjukkan oleh Marcel. Ia yang berupaya membela sang anak di depan para anggota kepolisian nyatanya semua dipatahkan dengan penemuan pisau ini. Anton bungkam, tidak bisa berucap apapun.
"Baiklah, untuk saat ini pisau ini sudah cukup untuk kami tambahkan sebagai bukti. Untuk selanjutnya, kami harap Bapak rutin memberikan laporan akan info keberadaan Sean. Mohon kerja samanya."
Marcel dan anggota kepolisian lainnya mengayunkan tungkai kaki masing-masing untuk bersegera pergi dari kediaman Anton. Kendati sosok Sean tidak bisa ia temukan di sini, namun setidaknya sebilah pisau yang berhasil ia temukan sudah cukup memperkuat bukti keterlibatan Sean dalam kasus pembunuhan dan mutilasi itu.
Tubuh Anton terduduk lemas di atas ranjang milik sang anak. Napasnya terdengar memburu dan kepalanya terasa semakin pening akan apa yang menimpanya hari ini.
"Arrrrgghhhhhh .... Seaaaannnn. Benar-benar kurang ajar kamu! Bisa-bisanya kamu terlibat dalam kasus yang keji seperti itu. Sungguh anak tidak tahu diuntung. Semua fasilitas sudah aku berikan, tapi kelakuanmu malah seperti seorang bajingan."
Anton berkali-kali menjambak rambutnya. Pria paruh baya itu seakan begitu frustrasi dengan apa yang dilakukan oleh sang putra.
Minah yang menyaksikan dan mendengar Anton mencaci-maki Sean, merasa tidak terima jika sang tuan muda dianggap sebagai seorang bajingan. Di mata wanita itu Sean adalah seorang pemuda yang baik yang tidak akan pernah tega melakukan hal sekeji itu.
"Den Sean bukanlah lelaki seperti itu Tuan. Dia bukan seorang bajingan!"
Anton yang mendengar ucapan Minah seakan kian tersulut emosi. Lagi-lagi Minah membela anak yang baginya tidak tahu diri itu.
"Bik hentikan! Cukup Bik Minah membela anak berandalan itu lagi," ucap Anton dengan nada bicara sedikit tinggi.
"Iya bik Minah itu maunya apa sih? Sudah jelas-jelas polisi menemukan pisau berlumuran darah di kamar ini. Itu artinya Sean memang terlibat dalam pembunuhan itu Bik!"
"Tidak Tuan, Nyonya. Saya yakin den Sean bukanlah seorang pembunuh. Jika sampai den Sean terlibat dalam kejadian ini, saya yakin bukan den Sean yang membunuh dan memutilasi korban. Den Sean tidak mungkin melakukan hal itu," bela Minah.
"Bibik ini sok tau sekali. Memang bik Minah ini siapa? Seakan begitu paham dengan Sean. Padahal di sini aku adalah ibunya, yang sudah mengandung dan melahirkannya," cicit Aster dengan nada meremehkan.
"Den Sean memang tidak terlahir dari rahim saya Nyonya, namun saya lah yang sejak den Sean berusia tiga bulan mengurus semua keperluannya. Saya tahu persis karakter den Sean. Meskipun dia menjadi anggota geng motor, namun saya yakin den Sean tidak melakukan pembunuhan dan mutilasi itu," bela Minah.
"Arrrggghhh ... Sudahlah, bik Minah ini malah bikin tambah pusing saja!" teriak Anton. Ia bangkit dari posisi duduknya dan bersegera meninggalkan kamar Sean. Diikuti oleh Aster di belakangnya.
Minah hanya bisa menatap kepergian dua majikannya ini dengan tatapan yang sukar diartikan. Ia tidak menyangka jika keduanya langsung percaya begitu saja tanpa mencoba mencari tahu kebenarannya.
Pandangan Minah beralih ke bingkai lukisan di mana merupakan sketsa wajah Sean. Ia mendekat ke arah bingkai lukisan yang berada di sudut kamar dan menatapnya intens.
"Di saat seluruh dunia menganggapmu dan menghakimimu sebagai seorang pembunuh keji, namun Bibik tetap percaya bahwa kamu bukanlah pelakunya, Den. Bibik percaya itu," ucap Minah lirih.
.
.
.
LANJUTT SAMPEK HABIS YAA THORR
moga cepat terungkap kasusnya dan sean bisa bebas dan bersatu dengan lea..
dan buat lea jauh² deh sama kevin yg sok perfect itu