Adeline Zinnia Graham, memilih kuliah di Munich demi mengikuti kekasihnya. Namun, suatu peristiwa membuat Adeline memutuskan berpisah.
Hari hari Adeline kembali diisi dengan kehadiran seorang Reyn Elden Frederick yang merupakan dosen sekaligus anak sahabat ayahnya.
Perlahan tapi pasti, benih cinta itu muncul dan pernikahan keduanya pun terjadi. Kehidupan keduanya sangat bahagia hingga dikaruniai seorang anak. Namun, kehancuran dalam kehidupan Adeline dimulai dari sana, ketika ia harus kehilangan orang yang ia sayangi dan juga kehilangan kepercayaan dirinya.
Mampukah Reyn dan Adeline mempertahankan rumah tangga mereka? atau perpisahan adalah jalan yang terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELUM SADAR
Setelah mendapatkan pertolongan, Reyn mendapat beberapa jahitan di kepalanya dan kakinya juga mengalami patah sehingga harus di gips. Sementara itu, Adeline masih mengalami koma setelah operasi.
Luka dan goncangan pada bagian perut membuat rahim yang belum kembali seperti sedia kala mengalami masalah. Dokter mengatakan bahwa terjadi infeksi pada rahim Adeline sehingga mempengaruhi organ reproduksinya.
"Tapi putriku akan baik-baik saja kan?" tanya Anthony.
"Kita harus memeriksanya lebih lanjut setelah masa kritisnya berakhir dan ia tak lagi berada dalam keadaan koma," jawab sang dokter.
Anthony memejamkan matanya saat mengetahui kondisi putrinya itu. Kimberly tak henti hentinya menangis hingga kedua matanya bengkak dan sembab. Aiden yang mendengar kabar kecelakaan yang terjadi pada Adeline pun langsung kembali ke New York.
Ethan dan Queen juga tak bisa menyembunyikan rasa sedih mereka. Mereka berusaha terlihat kuat karena tak ingin putra dan putri mereka bersedih. Saat ini, mereka juga bingung bagaimana mengatakan pada Reyn dan Adeline nanti tentang putri mereka, Raline.
*****
Reyn memejamkan matanya dan menutup dengan kedua tangannya. Saat ini ia berada dalam ruang ICU di mana Adeline ditempatkan. Istrinya itu belum sadarkan diri sejak dioperasi beberapa hari lalu dan statusnya masih koma.
* Flashback On
Reyn mengerjapkan matanya dan sinar berwarna putih seakan mendominasi penglihatannya. Ia mencium bau obat obatan yang masuk ke dalam indera nya.
"Di mana aku?" gumam Reyn.
Ethan dan Queen yang memang menjaga Reyn pun bangkit berdiri saat melihat pergerakan dari putranya itu. Ethan menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Sayang," ucap Queen.
"Mom ...," ucap Reyn pelan.
Dokter masuk ke dalam ruang rawat VIP tersebut dan memeriksa keadaan Reyn.
"Keadaannya sudah lebih baik, hanya saja jangan terlalu banyak bergerak dulu," ucap sang dokter.
"Adeline ...," Reyn berusaha mencari istrinya.
Dokter belum mau mengatakan apapun karena saat jni kondisi Adeline masih koma. Selain itu, putri mereka tak bisa diselamatkan. Dokter sebelumnya sudah berbicara dengan keluarga dan berharap keluarga akan bisa mengatakannya ketika kondisi pasien sudah lebih tenang.
"Ia berada di kamar sebelah, tenang saja," sang dokter berusaha menenangkan Reyn karena dari gerak gerik Reyn, pria itu ingin segera bangun dan mencari istrinya.
"Kami akan berbicara dengannya, Dok," ucap Ethan.
"Sebaiknya jangan dipaksakan. Biarkan ia tenang dulu karena itu tak baik juga bagi kepalanya."
"Ada apa sebenarnya?" tanya Reyn.
Dokter menghela nafasnya pelan. Ia pun memutuskan akan menjelaskan pada Reyn dengan keluarga di samping pasien.
"Tuan Reyn, saya berharap anda bisa tenang saat mendengar penjelasan saya. Jika anda tak bisa tenang, maka saya akan menghentikan semua penjelasan saya," ucap sang dokter.
"Saya mengerti," ucap Reyn.
"Sebelumnya, saya mengucapkan turut berduka cita. Kami mohon maaf karena tak bisa menyelamatkan putri anda."
"Raline? Dad, Mom, Raline ...!" Reyn seakan tak bisa membendung kesedihannya ketika mengetahui putrinya yang baru berusia tiga hari, harus pergi meninggalkan mereka.
"Anda harus tenang, Tuan. Saya takut jahitan anda akan terbuka kembali," ucap sang dokter.
"Adeline ...," ucap Reyn lirih. Ia mulai membayangkan bagaimana perasaan Adeline saat mengetahui bahwa putri mereka sudah tak ada di dunia ini.
"Istri anda saat ini sedang mengalami koma setelah operasi yang kami lakukan. ia terluka di bagian perut yang menyebabkan infeksi pada rahimnya yang belum pulih sempurna setelah melahirkan. Selain itu, kepalanya juga terluka dan mendapat beberapa jahitan."
Reyn terdiam dan mulai meresapi setiap ucapan sang dokter. Ia menganggukkan kepala ya tanda bahwa ia mengerti akan semua penjelasan yang diberikan oleh dokter tersebut. Dokter itu pun keluar dari ruangan setelahnya, meninggalkan Reyn dengan kedua orang tuanya.
"Kamu harus kuat, sayang. Kalau kamu terpuruk, siapa nanti yang akan menguatkan Adeline," ucap Mom Queen.
Reyn terus diam kemudian menatap kedua orang tuanya, "Di mana Raline?"
"Kami sudah memakamkannya karena tak mungkin menunggumu dan Adeline sadar. Maafkan kami," ucap Dad Ethan.
"Dad, aku ingin melihat Adeline."
"Dad akan berbicara terlebih dahulu dengan dokter."
* Flashback Off
Reyn menggenggam tangan Adeline, "sayang, cepatlah sadar. Aku memerlukanmu di sampingku."
Reyn tak dapat membendung kesedihannya saat ini. Ia tak melepaskan genggamannya pada tangan Adeline sampai akhirnya seorang perawat meminta Reyn untuk keluar dari ruangan karena dokter akan melakukan pemeriksaan rutin pada Adeline.
*****
"Ha ... Ha ... Ha ... Ha!!!" terdengar tawa yang begitu kencang dari dalam sebuah kamar tidur.
Derby melihat portal berita yang membahas tentang kecelakaan yang terjadi kemarin. Ia sangat senang sekali karena preman yang ia bayar bisa melakukan tugasnya dengan sangat baik.
"Bukankah aku sudah bersumpah bahwa aku tak akan membiarkan kalian hidup dengan bahagia. Aku pastikan kalian akan menikmati kesedihan, kesakitan, dan kehancuran dalam pernikahan kalian!" sekali lagi Derby tertawa dengan sangat kencang.
Tanpa menggunakan tangannya sendiri, ia berhasil membuat keluarga kecil Adeline mengalami kecelakaan.
"Mereka bersenang senang di atas penderitaanku, kinj giliran diriku yang tertawa dan bersenang senang di atas penderitaan mereka," ucap Derby.
Berita mengenai meninggalnya Raline menjadi pemberitaan juga karena ia adalah satu satunya yang meninggal dan masih berusia tiga hari. Berita itu menimbulkan simpati masyarakat Kota New York.
"Mati lah! Kalau perlu kalian semua mati! Eh tidak ... Jangan. Kalian harus merasakan penderitaan yang lebih dari sekedar kematian. Aku sangat yakin, setelah ini, pernikahan kalian akan hancur dan perceraian akan menjadi tujuan akhir kalian. Hancur! Kalian akan hancur!" teriak Derby.
Kedua orang tua Derby sudah angkat tangan dengan kelakuan putra mereka yang tak pernah serius dalam menjalankan kuliahnya. Bahkan hingga saat ini, Derby belum bisa menyelesaikan kuliahnya. Universitas sudah memberikan peringatan beberapa kali karena Derby lebih sering tidak hadir dan nilai yang ia dapat bisa dikatakan sangat buruk.
*****
Di rumah sakit, Aiden mendatangi kedua orang tuanya. Ia belum lama tiba di New York setelah menyelesaikan urusannya di Washington.
Aiden harus memastikan putranya mendapatkan pengasuh yang telaten karena keberadaan Aiden yang tak selalu ada di Washington.
"Bagaimana keadaan Adeline, Dad, Mom?" tanya Aiden.
"Ia belum sadar. Dad dan Mom sangat berharap ia segera sadar."
"Lalu bagaimana dengan Reyn?" Aiden juga sudah mengetahui tentang kondisi Raline yang tak bisa diselamatkan. Hatinya langsung hancur ketika mendengar bahwa keponakannya meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.
"Reyn sedang berada di dalam menemani Adeline," jawab Mom Kimberly.
Awalnya Aiden ingin mengatakan pada kedua orang tuanya mengenai Tristan, putranya bersama seorang wanita yang ia temui saat acara pernikahan Adeline. (Novel : Red Hair Woman and MR. MAFIA)
Namun, ia memutuskan untuk tak mengatakan kebenaran tersebut mengingat mereka sedang mendapat musibah.
🧡 🧡 🧡