NovelToon NovelToon
Sistem Misi Polisi

Sistem Misi Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.

Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Musim salju

Asap tipis mengepul dari cangkir keramik yang dipegang erat oleh Nathan.

Di dalam ruang tamu panti asuhan yang hangat, aroma cokelat panas bercampur dengan wangi kayu pinus dan cat baru yang melapisi dinding-dindingnya.

​"Nathan, bagaimana hari-harimu, Nak? Beberapa hari ini kamu jarang datang. Apa ada tugas berat di kantor polisi?" tanya Ibu Panti lembut, menyandarkan tubuhnya di kursi kayu dengan raut wajah penuh perhatian.

​Nathan yang duduk di kursi mengukir senyum percaya diri, lalu menyesap cokelat panasnya pelan untuk membasahi kerongkongan. "Iya, Bu. Pekerjaan di kantor cukup banyak belakangan ini. Maaf ya, aku baru sempat main ke mari hari ini."

​Ibu Panti tertawa kecil, suara khasnya terdengar begitu menenangkan dan hangat. "Tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya khawatir kamu terlalu lelah saja."

​Nathan tersenyum tulus.

Pandangannya perlahan beralih ke arah jendela kaca tebal di samping ruangan.

Di luar sana, musim salju sedang berlangsung.

Kepingan-kepingan salju putih turun dengan lembut dari langit mendung, melapisi pekarangan panti dengan hamparan warna putih yang bersih.

​Di luar, terdengar suara nyaring anak-anak panti yang sedang berkumpul gembira bermain salju dengan jaket tebal mereka.

​"Ayo buat boneka salju yang besar!" seru salah seorang anak.

"Aku juga mau buat!" sahut anak yang lain tak mau kalah.

​Mendengar riuhnya keceriaan dari luar, dada Nathan terasa dipenuhi kehangatan. Senyum senang mengembang lurus di wajahnya.

​Ibu Panti yang ikut memperhatikan ke luar jendela merasakan hal yang sama.

Matanya berkaca-kaca haru. "Mereka jauh lebih ceria dan penuh semangat semenjak panti asuhan ini direnovasi olehmu, Nak."

​Nathan meletakkan cangkirnya di atas meja. "Itu hal yang sangat perlu untuk pertumbuhan mereka, Bu. Aku hanya berharap mereka bisa hidup lebih baik dan memiliki masa depan yang bagus."

​Ibu Panti menatap Nathan lama. Rasa bangga yang begitu mendalam membuncah di hatinya.

Anak yang dulu ia rawat kini telah tumbuh menjadi sosok pria dewasa yang begitu bertanggung jawab dan peduli.

​Setelah perbincangan hangat itu, mereka berdua melangkah keluar menuju teras panti.

Hawa dingin musim salju menyapa kulit, namun pemandangan anak-anak yang berlarian membuat suasana terasa semarak.

​Di tengah pekarangan, seorang anak laki-laki bernama Aris yang dikenal paling jahil di antara anak-anak lainnya, tersenyum jahil saat melihat kedatangan Nathan.

Ia dengan cepat membulatkan segumpal salju padat di kedua tangannya.

​"Rasakan ini, Kak Nathan!" seru Aris nyaring.

​Baru saja Nathan menoleh ke arah sumber suara, bola salju tersebut meluncur cepat dan...

​PLAK!

​Bola salju itu mendarat tepat di tengah-tengah wajah Nathan.

Serpihan salju dingin seketika menempel di pipi, hidung, dan dahinya.

​Anak-anak lain yang tadinya sedang sibuk membuat boneka salju mendadak terdiam kaku seketika.

Namun, begitu melihat raut terpana di wajah Nathan yang penuh salju, ledakan tawa langsung pecah di pekarangan.

​"Hahaha! Wajah Kakak ada saljunya!"

"Ayo lempar lagi!"

"Serang Kak Nathan!"

​Nathan mengusap wajahnya, membersihkan sisa-sisa salju yang dingin.

Ibu Panti yang berdiri di sampingnya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Dasar anak-anak ini ya..."

​Nathan menatap anak-anak itu dengan pandangan tajam yang dipaksakan, diselingi senyum tipis di bibirnya. "Baiklah... kalau kalian memprovokasi kakak kalian ini!"

​Melihat Nathan mulai melangkah cepat sembari meraup salju dengan tangannya, anak-anak seketika berhamburan lari sambil berteriak penuh antusias.

​"Lariii! Ada monster!"

"Serang monsternya!"

​Aris dan teman-temannya berbalik sembari melemparkan bola-bola salju ke arah Nathan.

Beberapa lemparan mengenai jaket Nathan, namun pria itu justru tertawa lepas.

Rasa lelah akibat tumpukan berkas kantor polisi seolah melayang terbang begitu saja.

​Nathan menyelinap dengan lihai di balik pohon, membentuk sebuah bola salju yang padat. Tepat saat Aris berbalik hendak melemparkan saljunya kembali...

​BOOM!

​Bola salju buatan Nathan melesat akurat dan menghantam telak bagian dada hingga wajah Aris.

​Anak itu terdiam kaku di tempatnya. Bola salju di tangannya terlepas jatuh ke tanah.

​Nathan berdiri tegak sambil tertawa penuh kemenangan. "Rasakan itu! Kamu terlalu lengah, Aris!"

​Namun, tawa Nathan tidak bertahan lama. Bibir mungil Aris mulai melengkung ke bawah, matanya berkaca-kaca, dan dalam hitungan detik...

​"HUAAAAAAA! KAK NATHAN JAHAT! HUAAAA!"

​Aris menangis histeris, suaranya menggema di seluruh pekarangan.

​Nathan seketika terkejut setengah mati. Senyum kemenangannya runtuh berganti raut panik. "Eh? Hei, hei! Jangan menangis dong! Maafkan Kakak, maaf!"

​Nathan berlari menghampiri Aris, langsung berlutut di tanah ber salju tanpa peduli celananya menjadi basah.

Ia mengusap sisa salju di baju Aris dan merangkul bahu anak itu dengan canggung.

​"Jangan menangis ya... Ayo, kamu boleh lempar Kak Nathan lagi. Ayo lempar lagi," bujuk Nathan panik sembari menyodorkan gumpalan salju ke tangan Aris.

​Anak-anak lain ikut berkumpul mengelilingi mereka, menatap Nathan dengan pandangan menuduh yang kocak.

Setelah beberapa saat ditenangkan dan dihibur dengan raut wajah lucu buatan Nathan, tangisan Aris perlahan mereda menjadi sesenggukan kecil.

​Nathan menggelengkan kepala, menghela napas lega. "Aduh... jangan menangis lagi, ya? Ayo ikut Kakak. Aku akan membelikan kalian semua jajanan!"

​Seketika itu juga, mata Aris dan anak-anak panti lainnya membelalak lebar. Tangisan Aris mendadak hilang tanpa bekas.

​"Horee! Aku mau beli permen yang banyak!" seru salah satu anak gembira.

"Aku ingin makan ke restoran hari ini, Kakak!" sahut anak yang lain tak kalah heboh.

​Nathan tersenyum tulus, mengelus lembut kepala Aris dan anak-anak itu satu per satu. "Baiklah, baiklah. Ayo ikuti Kakak."

​Nathan melangkah mendekati Ibu Panti untuk berpamitan membawa anak-anak pergi ke area kota.

Ibu Panti tersenyum mengerti, lalu melambaikan tangannya penuh rasa hangat.

​"Hati-hati di jalan ya, Anak-anak. Ingat, nurut dengan apa yang dikatakan Kak Nathan!" pesan Ibu Panti dari teras.

​Anak-anak melambaikan tangan balik sembari berbaris rapi mengiringi Nathan.

​"Dadah Ibu! Kami mengerti!" seru mereka serentak.

​Nathan memimpin barisan anak-anak itu berjalan melewati gerbang panti asuhan.

1
Kaisar surgawi
sorry ini gw skip , karna apa ? sistemnya cuman memberikan uang, tidak kemampuan
Maul: gapapa kak. terima kasih sudah baca /Pray/
total 1 replies
Dragonovic
up👍👍👍
Dragonovic
up👍
Jonatan Revan
novel yang sangat baguss
Maul: terima kasih banyak atas ulasannya. yuhuh🍜/Determined/
total 1 replies
Jonatan Revan
saran yah thor bab nya bisa di kasih panjang lagi gak terlalu pendek
Maul: di usahakan ya hehe/Smile/
total 1 replies
Maul
🍝
Maul
🍜
Maul
/Coffee//Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
🍜/Coffee/
Maul
🍝🥘
Maul
🍔🍹
Maul
/Rice/🍜
Maul
/Coffee//Watermalon/
Maul
/Cake/
Maul
/Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖. 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖
Maul
...
Maul
𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!