NovelToon NovelToon
SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:172.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Chyntia R

Medeline Arcela Forza, dijual oleh Kakak tirinya di sebuah tempat judi. Karena hal itu pula, semesta kembali mempertemukannya dengan Javier Antonie Gladwin.

Javier langsung mengenali Elin saat pertemuan mereka yang tak disengaja, tapi Elin tidak mengingat bahwa dia pernah mengenal Javier sebelumnya.

Hidup Elin berubah, termasuk perasaannya pada Javier yang telah membebaskannya dari tempat perjudian.

Elin sadar bahwa lambat laun dia mulai menyukai Javier, tapi Javier tidak mau perasaan Elin berlarut-larut kepadanya meski kebersamaan mereka adalah suatu hal yang sengaja diciptakan oleh Javier, karena bagi Javier, Elin hanya sebatas teman tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Tidak gratis

"Aku tidak bisa, Elin."

Jawaban dari Kak Javier membuat bahuku meluruh. Apa dia setidak tertarik itu padaku?

"Why, Kak?"

Alih-alih menjawab alasan penolakannya, Kak Javier justru memberiku pertanyaan.

"Kau butuh uang untuk apa?"

Aku memilinn ujung baju yang ku kenakan. "Untuk biaya pengobatan ibuku," tuturku terus terang.

"Bukankah kau bilang kakakmu yang membiayainya? Sebab itu pula dia memaksamu bekerja di Kasino milik Aro yang pada akhirnya kau baru tau jika sebenarnya kau dijualnya disana?"

Wajah dingin itu tampak memerah, ia seperti sangat marah dengan kenyataan ini. Aku tidak tau kenapa dia harus ikut emosi atas ulah yang diperbuat Liam padaku, tapi ini membuktikan jika dibalik sikap kaku Kak Javier, dia mempunyai kepedulian padaku.

Ah, apa yang ku pikirkan? Kami bahkan baru mengenal beberapa saat, untuk apa dia peduli padaku?

"Aku tidak tau, Kak. Yang jelas deposit untuk pengobatan ibu di Rumah Sakit sudah habis dan aku harus segera membayar biaya administrasinya jika mau peralatan yang menyokong hidup ibuku tetap terpasang."

Kak Javier terdiam, aku hanya mendengar dia menghela nafas panjang. Sampai akhirnya aku kembali mendengar suaranya.

"Baik, biar ini menjadi urusanku," katanya tenang.

Aku mengadahkan wajah pada pria itu. Raut kak Javier tampak sangat serius saat mengatakannya dan aku melihat kesungguhan disana.

"Sudah, kan. Sekarang aku mau mandi." Pria itu berderap menuju kamar, sementara aku menatap punggung lebarnya yang perlahan berlalu dari hadapanku.

Aku masih tidak percaya jika dia mau membantuku begitu saja, dan menolak penawaranku. Kenapa dia begitu baik? Aku takut berhutang terlalu banyak padanya.

Malam itu, aku menemani Kak Javier makan malam. Masakan yang ku buat dilahapnya sampai tandas. Tidak sekalipun mulutnya protes mengenai rasa makanan itu.

"Kak?"

"Hmm?" Dia tak menatapku, justru menuang air ke dalam gelas dengan gelagatnya yang selalu tenang.

"Kenapa Kakak baik padaku?"

Sekarang matanya menyorot tepat dimataku, membuatku gugup namun tak urung membuang pandangan. Aku membalas tatapannya tanpa gentar seolah menantangnya untuk menjawab pertanyaanku kali ini. Dia tak boleh menghindar atau mengalihkan pembicaraan ini. Aku menuntut jawaban dari mulutnya.

"Kau bilang apa? Aku, baik?" Dia malah tertawa sumbang, membuyarkan keseriusan yang terpancar dalam sorot mataku.

"Aku serius, kak!" desakku.

"Kau menganggapku baik dalam hal apa? Karena aku menebusmu dari tempat Aro? Atau karena aku mau membantu biaya pengobatan ibumu?"

"Keduanya," jawabku mantap. "Kenapa kakak mau melakukan semua itu untukku?" cecarku.

Dia meminum airnya lebih dulu sebelum menjawab.

"Dengar, Elin. Jangan pernah mengira aku melakukan semua itu untukmu. Karena pemikiranmu itu terlalu jauh."

"Jadi?"

"Aku melakukan itu untuk diriku sendiri, karena aku masih membutuhkanmu."

"Membutuhkanku sebagai teman tidur?"

"Ya, kau benar!"

"Hanya itu? Bahkan kau tidak menyentuhku!" ketusku.

"Jangan berucap seolah-olah kau menginginkan untuk ku sentuh, Elin!" desisnya.

"Ya, meski aku memang tidak berharap demikian, tapi semua yang kau lakukan padaku tidak sepadan dengan apa yang ku berikan padamu. Aku hanya menemanimu tidur dan tidak lebih. Bukankah itu sangat aneh!" jawabku nyolot.

Pria itu diam, dia seperti tak mau mendebatku yang sudah mengomel panjang kali lebar. Kak Javier bangkit dari duduknya setelah benar-benar selesai dengan sesi makan malamnya.

"Kak!" Aku merasa ada sesuatu yang dia tahan dan dia sembunyikan. Entah itu tentang dirinya sendiri, atau justru tentang diriku. Kenapa dia melakukan semua ini untukku, hanya karena membutuhkanku untuk menemaninya tidur. Kenapa rasanya tidak seimbang?

"Jika kau menuntut jawabanku, maka aku tidak mempunyai jawaban itu. Tapi, jika kau bersikeras menganggap semua ini tidak balance dan aneh, maka kau boleh membayar semua yang ku berikan padamu. Kau tidak mau menerima bantuan ku dengan cuma-cuma, kan?"

"Ya, itulah maksudku, Kak!"

Dia menipiskan bibir. "Tentu saja, semuanya memang tidak gratis, Elin. Suatu saat kau harus membayarnya. Tapi kau tau kan, jika aku tidak membutuhkan uang sebagai bayaran darimu?"

"Lalu, aku harus membayarnya dengan apa, Kak?"

"Suatu saat nanti, kau akan tau apa bayarannya."

Pria itu pergi setelah memberikan jawaban yang ambigu untuk ku tafsirkan. Entah kenapa aku sedikit merinding karena ucapannya.

Sebenarnya, dia mau aku membayarnya dengan apa? Dia tidak mau tubuhku, dia juga tidak butuh uangku. Lalu apa?

Dia seperti pria yang penuh misteri. Aku tidak bisa mengetahui apa yang terjadi padanya sebenarnya. Bahkan sejak awal, aku tidak paham kenapa dia menjadikanku teman tidur yang benar-benar hanya menemaninya saat terlelap.

...***...

Pagi ini, aku menerima telepon dari Pihak Rumah Sakit, mereka mengatakan bahwa aku sudah bisa mengambil nota pelunasan atas biaya pengobatan ibu. Ini membuktikan jika Kak Javier sudah membuktikan ucapannya, dia benar-benar membantuku membiayai ibu.

Jujur saja, aku bersyukur karena hal ini. Masalah tentang uang yang ku perlukan selesai begitu saja ditangan Kak Javier. Tapi, sesuatu dalam diriku seakan tidak puas sebelum aku mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan Kak Javier sebagai bayaran dariku atas semua yang dia beri padaku.

"Ehem ..."

Suara deheman itu, berhasil membuatku menoleh, Kak Javier sudah duduk di stool bar dan menyeruput teh hijau yang sudah ku sajikan disana.

"Kak, apa boleh jika hari ini aku ke Rumah Sakit lagi? Tadi pihak rumah sakit memintaku mengambil nota pelunasan. Terima kasih, kak. Kau benar-benar membiayai pengobatan ibuku."

"Hmm..."

"Jadi, boleh?"

"Pergilah dengan Jack."

"Thank you. Semoga segala urusanmu juga dipermudah, Kak."

Kak Javier tersenyum tipis tanpa menatapku.

"Ini sarapannya. Silahkan dimakan." Aku menyajikan sandwich isi daging ke hadapannya dan pria itu langsung meraihnya tanpa basa-basi.

"Kau tidak sarapan?" Kini dia menatapku yang berdiri didepannya. Hanya meja bar yang menjadi pembatas diantara kami.

"Nanti saja, aku akan sarapan setelah kakak."

Dia mengangguk samar tanpa memaksaku. Aku meraih cangkir untuk membuat cokelat panas untuk ku konsumsi sendiri. Sampai saat aku tengah mengaduk minumanku, suara kak Javier kembali terdengar.

"Mengenai Kakakmu, apa kau tidak berniat membalas semua perlakuannya padamu?" tanyanya tiba-tiba.

Aku menghentikan pergerakanku, menoleh padanya.

"Maksud Kakak?"

"Ku pikir dia sudah keterlaluan padamu. Apa kau tidak mau memberinya pelajaran?"

"Bisakah?" tanyaku yang langsung antusias. Tekad untuk membalas Liam, sejak awal sudah muncul dihatiku jadi mana mungkin aku mengatakan tidak atas pertanyaan Kak Javier.

"Tentu saja bisa, ada aku yang mendukungmu melakukan itu."

"Kenapa kakak mau mendukungku untuk membalasnya?" tanyaku penasaran.

"Karena aku mau. Ku pikir, aku tidak harus memiliki alasan untuk mendukungmu membalas segala perbuatan Liam."

Aku diam, tapi entah kenapa aku melihat sorot penuh kebencian dimata Kak Javier saat menyebut nama Kakak tiriku itu. Tunggu dulu, darimana dia tau jika nama kakakku adalah Liam.

"Kau mengenalnya?" tebakku.

Kak Javier terkekeh sinis. "Tidak juga. Kau yang pernah memberitahuku mengenai kakakmu."

Harus ku akui jika aku memang sempat menceritakan sekilas pada Kak Javier mengenai nasibku yang dijual Liam ke Kasino, juga soal Liam yang tidak membiayai lagi biaya pengobatan ibu. Tapi, aku tidak pernah menyebut nama Liam secara terang-terangan pada pria itu. Apa dia mencari tau mengenai latar belakangku? Tapi, untuk apa?

...Bersambung ......

1
melting_harmony
Luar biasa
Masal Njeber
Biasa
S.Syahadah
menurut aku cerita nya ringan dan ga mau berhenti baca hehe
S.Syahadah
ini udh bab berapa ya aku kenyamanan baca hahaha
COOL_I4N
nice thor. suka endingnya. tp alangkah lebih klimaks kl gak ada adegan javier mengotori tangannya membunuh liam+irina hik hik. membalas nya gak perlu sadis2 thor ky di dunia mafia.
COOL_I4N: tp aku mau baca karya author yg lain. semoga lebih bagus dr novel ini. semangattttt thor
total 1 replies
COOL_I4N
jav+daddy nya sadis amat tho ky mafia aja yg udah biasa haus darah😭😭😭😭😭😭 agak so sad endingnya sadis gini.
COOL_I4N
wah harus nya liam dan irina di adu domba saja biar mereka saling menghabisi/menyiksa satu sama lain. sayang jav harus mengotori tangan nya sendiri
COOL_I4N: apalg irina kan punya keluarga yg notabene adalah keluarga orang kaya jg pasti punya kuasa apa gak resiko kl sampai mereka tau irina dibunuh
total 1 replies
COOL_I4N
wahhh kecewa thor kurang hot wkwkwkkw tp tetep romantis kok. mau thor untuk next ada detailnya. secara ini kan novel dewasa kok sopan amat ky novel teen aja xixixixixixi🤭🤭🤭🤭
COOL_I4N
yeayyyyu ada part extra tq thor. soalnya msh nunggu adegan malam pertama elin dan jav nih 🤭🤭🤭🤭
COOL_I4N
so sweeeeeettt 😍😍😍😍😍😍😍😍
COOL_I4N
thorr adegannya jangan sopan2. buat sampe elin dan javier skidipappappap🤣🤣🤣
COOL_I4N
aku suka detail2 kecil spt ini thor. author gambarkan jav melihat sekitar untuk memastikan ini dunia nyata atau mimpi setelah mendengar perkataan elin
COOL_I4N
huaaa sedihnya jd jav sampe gak bs bedain yg mana mimpi yg mana kenyataan😭😭😭😭 tolong endingnya yg klimaks ya thor. aku suka banget adegan dan dialog novel ini. sampe author bs buat adegan pertemuan elin dan jav dr jeruk nggelinding. surprise bgt pdhl pas baca awal elin udah nyiapin nata2 tempat buat piknik sampe ke dapur dan tau jav sdh datang kesan nya kok jd udah gak surprise. tp sekali lg author kasih surprise ke pembaca bs kasih adegan dan dialog yg bagus. suka suka suka
COOL_I4N
tp aku percaya pdmu thor mau dibawa kemana plot ceritanya
COOL_I4N
harusnya mama jav segera kabarin jav jangan ambil tindakan sendiri takutnya malah nglakuin kesalahan kehilangan kesempatan untuk nyelamatin elin dan bikin jav tambah marah. kan bs sampaikan pesan ke jack kl jav susah diajak omong
COOL_I4N
ya ampunt thor kasian jav 😭😭😭😭 aku bs bayangin kl jav depresi sampe pingin tidur trs. aku sendiri kl stres sedih bgt rs nya kepingin tdr gak bangun2. udah males ngapa2in, makan jg udah gak nafsu
COOL_I4N
ya ampun kasian jav sampe kepisah 2 th sm elin 😭😭😭
COOL_I4N
jahatnya nanggung thor. krn apa yg liam + irina lakukan dg rencana menjual elin bukannya berniat menghilangkan nyawa nya saja itu akan beresiko terbongkarnya kejahatan mereka
COOL_I4N
oh so sweet sekali pembicaraan javier & elin di gedung bioskop
COOL_I4N
so sweeeeeet jav😍😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!