Caitlin Magnolia, seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada Aaron Smith, vampire cerdas dan tampan pemilik perusahaan mebel tempat Caitlin bekerja. Aaron berusaha menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang vampire, namun seiring berjalannya waktu akhirnya Caitlin mengetahui bahwa Aaron merupakan sesosok vampire.
Perbedaan ras tak menyurutkan cinta di antara mereka, bahkan Aaron memberanikan diri untuk memperkenalkan Caitlin ke keluarga vampir-nya. Hal ini tentu saja menimbulkan goncangan pada hubungan mereka.
Keluarga besar vampir dari orangtua Aaron, dengan keras menentang hubungan mereka, bahkan Frank Smith, paman dari Aaron mengancam nyawa Caitlin jika Aaron tak memutuskan hubungan kisah asmaranya.
Lantas bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini?
Kelanjutan kisahnya dapat kalian baca di novel The Hunter Bloods.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 14
Jangan begitu, Manis,” seru cowok itu, terdengar sangat liar.
Caitlin memasang kuda-kuda, kaki terbuka, dengan panik ia mengingat-ingat jurus bela diri yang pernah ia pelajari. Kepalan tangan siap Caitlin layangkan, ia berharap bisa mematahkan hidungnya atau menghantam para pria itu.
Atau paling tidak jurus standar yang ia keluarkan, yaitu tendangan lutut ke daerah vitalnya. Suara pesimis dalam benak Caitlin berbisik, mengingatkannya bahwa dirinya tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka, apalagi mereka berempat.
'Diam!' gumam Caitlin dalam hati. 'Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka.' Caitlin menelan air liurnya supaya bisa berteriak lantang.
Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak pria-pria itu, memaksa mereka melompat ke trotoar. Caitlin terdiam memandangi mobil itu sembari berpikir apakah mobil itu akan akan berhenti, atau justru menabraknya.
Namun mobil silver itu tak disangka-sangka menukik, lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dari Caitlin. “Ayo cepat masuk!!!” terdengar suara gusar memerintahku.
Sungguh mengagumkan betapa cepatnya rasa takut itu lenyap, di gantikan dengan perasaan aman yang tiba-tiba menyelimuti hatinya padahal hanya sedetik setelah Caitlin mendengar suaranya.
Caitlin melompat masuk, dan membanting pintu hingga tertutup. Suasana di dalam mobil tampak sangat gelap, tak ada cahaya dan Caitlin nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor.
Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara, melaju terlalu cepat, berbelok menuju pria-pria yang terlihat marah itu. Sekilas Caitlin melihat mereka melompat ke trotoar saat mobil yang di tumpanginya melaju.
“Pakai sabuk pengamanmu,” perintahnya, dan Caitlin langsung mematuhinya.
Suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. Ia membelok tajam ke kiri, terus melesat cepat, melewati beberapa lampu merah tanpa menghentikan laju mobil. Tapi entah mengapa Caitlin merasa sangat aman, dan sejenak ia sama sekali tak peduli kemana mobil itu melaju.
Caitlin duduk diam, memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan, sampai tiba-tiba Aaron menginjak rem dan mobil berhenti.
“Caitlin?” ujarnya, suaranya tegang namun terkendali.
“Ya?” suara Caitlin masih terdengar parau.
“Kau baik-baik saja?” tanya Aaron, masih tidak memandang ke arah Caitlin.
“Ya, aku baik-baik saja.” jawab Caitlin lembut.
"Bagus," Aaron kembali melajukan kendaraannya menuju sebuah restoran yang tak jauh dari sana. "Sudah malam, kau harus makan," ucapnya sembari memarkirkan kendaraannya di parkiran restoran.
"Tapi eyangku...." tolak Caitlin, ia takut jika neneknya sudah pulang dan menunggunya makan malam bersamanya.
"Tenanglah, eyangmu belum pulang," ucap Aaron.
Entah mengapa Caitlin percaya ucapan Aaron, sehingga ia menuruti permintaan Aaron untuk makan bersamanya. Ia mengikuti Aaron yang berjalan menuju sebuah tempat duduk kosong, setelah mereka duduk dengan tenang, sang pelayan datang untuk mencatat menu yang di pesan Caitlin dan Aaron.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Aaron.
Caitlin memilih makanan yang pertama kali ia lihat di daftar menu. “Mmm.. aku mau mushroom, dan minumnya soda," jawab Caitlin. " Pak Aaron?” Caitlin bertanya sambil tersenyum.
“Aku tidak pesan,” ucap Aaron singkat, ia meminta sang pelayan untuk segera pergi dan membuatkan makanan yang di pesan oleh Caitlin.
"Loh kenapa pak Aaron tidak makan?" tanyanya bingung bercampur tidak enak, ia tak terbiasa makan sendirian sementara teman yang berada di hadapannya tak memesan makanan maupun minuman.
"Aku tidak haus dan lapar, jadi untuk apa aku makan?" jawabnya. "Apa kau kedinginan?" Tanya Aaron kembali, sebelum Caitlin menjawabnya Aaron membuka jaket yang membalut tubuhnya, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan membatu Caitlin mengenaoan jaketnya. "Pakailah."
"Eh?" Caitlin terkejut dengan perhatian manis yang Aaron berikan berikan padanya. "Terima kasih pak Aaron," ia menatap Aaron kembali dudul di tempatnya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa pak Aaron berada di tempat tadi?" tanya Caitlin penasaran, ia masih bingung menga Aaron selalu tiba-tiba muncul di saat dirinya membutuhkan pertolongan.
"Hanya kebetulan," terlihat dari raut wajahnya jika Aaron enggan untuk membahas, namun Caitlin ingin sekali mengetahuinya. "Apa yang kebetulan, hampir setiap kali ada bahaya pak Aaron selalu datang menolongku, ini pasti bukan hal yang kebetulan, desak Caitlin.
Caitlin dan Aaron ketika sang pelayang datang membawakan pesanan Caitlin. "Lebih baik kau berhenti mengoceh, dan makan makananmu!!" ucap Aaron dengan tegas.
Caitlin menyesap sodanya dengan patuh, lalu minum lagi lebih banyak. ia terkejut menyadari betapa hausnya dirinya. Caitlin baru sadar telah menegak habis minumannya.
Aaron menganggat tanyanya, ia kembali memanggil pelayan dan meminta untuk di bawakan kembali minum yang sama sebanyak 3 gelas.
"Maaf pak Aaron, aku bukan sapi. Caitlin merasa tersinggung karena Aaron memesan 3 gelas sekaligus untuk dirinya.
Aaron tersenyum hampir tertawa mendengarnya. "Tapi aku tahu kau sangat haus," ucapnya. "Sambil menunggu minumanmu lebih baik kau cepat habiskan makananmu."
Caitlin pun kembali tak menyadari jika dirinya sangat lapar sehingga makanan dan tiga gelas minuman yang di pesan oleh Aaron habis hanya dalam hitungan menit. Ya sekarng Caitlin benar-benar merasa seperti sapi.
"Jadi bagaimana bisa pak Aaron ada di mana-mana dan selalu datang menolongku? Dari mana pak Aaron tahu jika aku dalam bahaya?" Caitlin membrondongi Aaron dengan banyak pertanyaan.
Aaron hanya bersandar santai di kursinya sembari melipat tangannya, "Aku rasa sepertinya aku harus melindungimu?"
Caitlin menyitkan matanya bersiap bertanya lebih jauh, namun dering handphone di tasnya membuatnya berhenti mendesak Aaron. "Sebentar pak," ucap Caitlin pada Aaron. Ia beralih ke handphonenya. "Iya Eyang, ada apa? Tanyanya.
Hening sejenak kemudian Caitlin mengeluarkan ekpresi keterkejutannya. "Tidak mungkin eyang, tdai pagi aku masih melihatnya di kantor."
Caitlin terkejut karena Lauren mengabarkan jika Bernard, kerabat dekat Lauren yang membatu Caitlin masuk ke perusahaan milik Aaron, Bernard meninggal dunia malam ini dan sekarang eyang ya sedang bertakziah di rumah duka, ia juga meminta untuk segera menyusulnya bertakziah bersamanya.
"Baik eyang, aku akan segera ke sana," Caitlin mematikan sambungan teleponnya, dan beralih ke Aaron. "Apa pak Aaron tahu, jika pak Bernard meninggal dunia?"
Aaron mengangguk, "Aku seudah tahu. Ayahku dan Sean sudah datang ke sana, aku pun rencananya mau memberitahu dan ke sana setelah kau makan, tapi ternyata eyangmu sudah terlebih dahulu. Jadi ya sudah, apa kita bisa ke sana?"
Caitlin mengangguk, ia dan Aaron bergegas keluar dari restoran ke udian menuju rumah duka.
YESS i Will😄😄😄
Catlin maksudnya 😄😄😄
akhirnya kebahagiaan itu menyertaimu cat pikir keri yak gimana nanti akhirnya pokoknya kawin dulu eh nikah🏃🏃🏃
hmmmm masuk perangkap Frank kan go Aaron selamatkan Catlin
harta, tahta dan rupa