"Qay,, kenapa kamu melakukan ini semua padaku,, apa kamu telah melupakan kenangan indah kita selama ini?"
"Lalu,, apakah kamu tidak berfikir,,, apa yang membuatku seperti ini? bukankah setiap perubahan selalu ada sebabnya?"
Djani dan Qaynaya adalah sepasang kekasih yang telah berpacaran selama 5 tahun, karena kesibukan masing-masing, sepertinya mereka mulai bersikap cuek terhadap pasangan mereka sendiri.
Saat hubungan mereka kembali membaik, masalah baru muncul lagi karena Qaynaya dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Doni, yang merupakan sahabat Djani.
Setelah pernikahan Doni dan Qaynaya, apa yang akan dilakukan oleh Djani? apakah dia akan merebut Qaynaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A̳̿y̳̿y̳̿a̳̿ C̳̿a̳̿h̳̿y̳̿a̳̿, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Djani VS Doni
"Qay, kenapa kamu baru datang?" tanya rekan kerjanya.
"Tadi sedikit macet, maafkan aku" jawab Qaynaya lalu buru-buru duduk di kursinya.
Qaynaya bekerja seperti biasanya, Doni memang memberinya uang, tetapi tidak pernah dia pakai, Qaynaya tidak mau berhutang lebih banyak lagi pada Doni.
Uang tabungannya belum juga cukup untuk membayar uang Doni yang telah dikeluarkan nya saat melamar dirinya, Qaynaya berharap saat dia bisa membayar kembali uang Doni, dia bisa meminta cerai dari suaminya itu.
Rumah tangga Qaynaya dan Doni sangat hambar, karena tidak cinta sama sekali dihati Qaynaya untuk suaminya itu, bahkan selama ini Qaynaya lebih sering mengambil waktu lembur bekerja supaya bisa menghindari suaminya.
Terkadang Doni menjemput ke tempat kerja, tetapi Qaynaya selalu membuat alasan supaya tidak pulang bersama dengan suaminya itu.
"Qay, kamu terlalu kejam pada suamimu sendiri, dia pasti sangat kesepian karena kamu sering mengambil lembur ketimbang bersamanya dirumah" ucap rekan kerjanya, Qaynaya tidak menjawab apapun karena dirinya sendiri juga merasa sangat kesepian.
Qaynaya hari ini berencana makan siang bersama Rani dan Serli di sebuah cafe didekat kantor tempatnya bekerja, saat Qaynaya sampai ditempat ketemuan mereka, makanan sudah siap semua.
"Nyonya kita baru datang, kita sudah kelaparan dari tadi" ucap Serli.
"Maaf, tadi pekerjaanku sangat banyak, lagipula tadi aku dapat surat peringatan karena aku terlambat"
"Lalu apa yang membuatmu terlambat, bukankah kamu adalah karyawan teladan" tanya Rani.
Qaynaya tidak menjawab, dia belum mau menceritakan tentang kembalinya Djani, karena kembalinya pria itu sudah tidak seperti yang dia harapkan lagi, karena pria itu sekarang sangat membencinya.
"Sekarang karena kita tinggal bertiga sementara sahabat kita yang satu lagi sudah ikut suaminya menetap di luar negeri, bagaimana kalau sekarang kita mengganti nama grup kita menjadi trio kucing" ucap Rani.
"Tidak mau, kenapa kamu selalu tidak jelas, dari dulu juga tidak ada nama grup di persahabatan kita" jawab Serli sewot yang di benarkan oleh Qaynaya sambil memakan kentang goreng yang berada didepannya.
"Sehat ya ponakan aunty" Qaynaya lalu mengelus perut Rani yang belum membuncit karena baru hamil dua bulan.
"Kamu kapan menyusul?" tanya Serli.
"Kapan-kapan" jawab Qaynaya asal
"Jangan bilang kalau kamu belum malam pertama, apa kamu takut sakit?, kamu tenang saja karena hanya sakit diawal nya, tahan saja sebentar, setelah nya itu akan nikmat sekali Qay" ujar Rani yang disambut sorakan dari Serli.
"Tidak mungkin dia belum pernah melakukan nya, dia sudah hampir setahun menikah, bisa kering lahannya kalau tidak disirami suaminya, lagipula suaminya tidak akan tahan, aku saja yang belum menikah, selalu memberi jatah itu pada pacarku" ujar Serli tanpa malu.
"Dasar gila!" teriak Qaynaya dan Rani bersamaan.
Mereka mengobrol santai bersama sambil menghabiskan makanan, kedua sahabatnya itu tidak bekerja di kantoran seperti dirinya, dulu mereka bersahabat berempat, tetapi yang satu telah tinggal di luar negeri, Rani yang sudah hami besar dilarang bekerja oleh suaminya, sementara Serli bekerja sebagai model.
"Qay, apa kamu tidak lelah terus bekerja? bukankah sekarang suamimu sudah menjadi CEO ditempat nya bekerja? kenapa kamu masih saja bekerja keras, apa uang bulanan mu kurang?" tanya Rani.
"Aku hanya suntuk saja kalau terus dirumah, lagipula Doni mengizinkan diriku untuk bekerja" jawab Qaynaya ragu, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dari ucapannya tersebut.
Qaynaya mengingat bahwa sebenarnya dia dilarang bekerja oleh Doni, tetapi dia tidak memperdulikan nya, karena Qaynaya dari awal tidak pernah menganggap Doni sebagai suaminya, jadi bagi Qaynaya sudah tentu tidak perlu menurut pada Doni.
"Aku duluan ya, waktu istirahat makan siangku hampir habis" pamit Qaynaya pada kedua sahabatnya, dia lalu meletakkan uang untuk membayar makanannya.
"Tidak perlu Qay, hari ini biar aku yang mentraktir kalian, aku mendapatkan job besar" ujar Serli, tetapi Qaynaya tidak mendengarkan karena sudah berlari menuju mobilnya untuk segera kembali ke kantornya.
"Dasar anak itu, Qay terlihat aneh hari ini, dia sepertinya menyembunyikan sesuatu" ujar Serli yang dibenarkan oleh Rani.
"Kita hanya harus selalu mensupport dirinya, kita tau kalau dia harus menikah dengan orang yang tidak dia cintai, pasti kehidupannya sangat berat" jawab Rani, mereka terus memandang ke arah Qaynaya yang terlihat terburu-buru masuk kedalam mobilnya.
Qaynaya sampai kembali ke kantornya, dan betapa kagetnya dia saat melihat suaminya mendatangi nya.
"Sayang, kamu selesai makan siang ya? tadinya aku mau mengajakmu makan siang, tapi tadi saat aku datang, kamu sudah pergi" sapa Doni pada istrinya.
"Maaf" hanya jawaban singkat yang terlontar dari mulut Qaynaya.
"Mari kita kembali lagi tuan Doni" ucap sebuah suara mengagetkan Qaynaya.
Djani ternyata ada dikantor nya juga, dan memanggil Doni yang sebelumnya adalah sahabatnya seolah seperti orang asing, hati Qaynaya kembali merasakan kesedihan, karena Djani yang sekarang, sudah bukan lagi Djani yang dulu dikenalnya.
"Djani ini, eh maaf, maksudku adalah, tuan Djani adalah pemilik perusahaan yang baru di perusahaan dimana aku bekerja" Doni terlihat sangat canggung mengatakan hal itu pada Qaynaya, karena istrinya itu pasti bingung, bagaimana bisa Djani berada disini bersamanya, Qaynaya hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Saat aku pergi, Doni kembali berpamitan pada istrinya, sementara Djani langsung pergi tanpa melihat kearah Qaynaya sedikitpun, sepertinya Djani sudah memiliki suatu rencana untuk Doni dan Qaynaya hingga dia datang ketempat itu.
Djani dan Doni berada dalam satu mobil, Doni sepertinya juga masih terkejut dengan kedatangan Djani kembali ke perusahaan tempatnya bekerja, apalagi yang lebih mengagetkan nya adalah, ternyata Djani adalah pemilik dari perusahaan tempatnya bekerja.
Dalam setahun ini, sangat mudah bagi Doni untuk terus mendapatkan promosi kenaikan jabatan, bahkan hanya dalam satu tahun terakhir, dia sudah menjabat sebagai CEO, hanya saja dia tidak mengetahui bahwa pemiliknya adalah sahabatnya sendiri yang telah dia khianati.
"Apa kamu begitu kaget dengan kedatanganku?" tanya Djani pada Doni tanpa memandang wajah pria yang sangat dia benci karena telah merebut kekasihnya.
Sebelum datang kembali ke Indonesia, Djani sudah bertekad untuk menghancurkan Doni dan Qaynaya.
"Tentu saja aku kaget, pergi kemana saja dirimu selama ini?" tanya Doni yang juga berbicara santai karena Djani juga melakukan hal yang sama.
"Tetapi aku yakin kekagetan mu tidak sebesar rasa kaget ku setahun yang lalu saat kamu duduk di pelaminan bersama dengan kekasihku" ujar Djani lalu melihat ke arah Doni, tentu saja Doni tidak bisa menjawab apapun.
Doni menyadari ada sesuatu yang lain dari pandangan mata mantan sahabatnya itu, di lubuk hati Doni, terdapat sedikit rasa ketakutan kalau Djani akan kembali merebut semua yang dia miliki termasuk Qaynaya, Djani meminta dirinya untuk menemaninya datang ke kantor dimana Qaynaya bekerja, karena pasti ingin mengancam dirinya, dan menunjukkan betapa berkuasanya dia sekarang.
"Benar dengan apa yang kamu pikirkan, aku akan merebut kembali semuanya, karena memang pada awalnya, semua itu adalah milikku" ucap Djani tegas, Doni kembali kaget karena Djani bisa menebak apa yang dia pikirkan.