Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan
Danish mengetuk pelan pintu kamarnya dengan Aneska, berharap sang istri akan membukakan pintu dan menyambutnya.
Tapi Danish bukanlah laki-laki tak tahu diri yang mengira kalau Aneska akan melakukan itu, setelah semua kejadian hari ini.
Dengan pelan, Danish membuka pintu kamar, dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Matanya memandang isi kamar, dan melihat Aneska yang duduk menyandar disisi ranjang.
Perlahan mendekat kepada sang istri, Danish meletakkan jasnya diatas sofa kamar. Sebelum masuk, ia juga sudah menghapus jejak bibir Zoya di lehernya. Dan mungkin akan sedikit susah menghapus jejak yang ada di kerah kemejanya.
"Nes ...." Danish memanggil dengan suara pelan. Istrinya itu menoleh sekilas, dan kemudian melayangkan senyuman manisnya. Melihat itu, bukannya lega, Danish malah merasa takut.
Danish kemudian duduk di samping Aneska. Ia menatap manik mata Aneska yang kosong. Tak terlihat ia marah atau kecewa. Yang ada hanya sisa-sisa bekas air mata yang tadi mengaliri pipi tirus tersebut.
"Maafkan, Mas, Anes. Mas bisa jelaskan semua sama kamu," ucap Danish dengan suara pelan. Manik matanya memancarkan keseriusan, dan tatapan dalamnya mencoba untuk mencari tahu isi hati sang istri.
"Gak apa-apa, Mas," jawab Aneska singkat. Ia kembali tersenyum, dan malah dengan senyumannya itu, ia kembali membuat Danish ketar-ketir.
"Tadi Zoya datang tiba-tiba ke kantor, Mas, Anes. Sebelumnya ada Liam bersama kami didalam ruangan itu. Dan dia terus mendesak Mas agar tidak memutuskan hubungan dengannya ..
.. tapi Mas tidak menerima permintaan itu, karena Mas sudah memiliki istri, yaitu kamu. Lagipula, Mas tidak ingin berbuat curang dibelakang kamu, Nes, jadi Mas terus menolak sampai akhirnya dia marah besar. Dan setelah itu, Mas mendengar kalau Liam menerima panggilan telepon dan tidak kembali kedalam ruangan Mas setelah itu."
Danish menjelaskan dengan panjang lebar pada wanita didepannya, dan Aneska hanya diam mendengarkan.
"Dan soal tanda itu ...." Danish menggigit bibir bawahnya. Ia berpikir, bahwa tidak mungkin Aneska tidak tahu tentang tanda di lehernya, karena mamanya saja mengetahui itu.
"Itu tidak sengaja saat Zoya mengamuk, dia tersandung, dan jatuh mengenai Mas. Mungkin saat itu, tanda tersebut ada di leher Mas," sambung Danish lagi.
Danish menatap mata Aneska dengan sendu. "Maafkan Mas, ya, karena tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Bahkan Mas tidak bisa melindungi kamu dari Zoya," ucap Danish. Tangannya perlahan meraih jemari lentik Aneska, dan menggenggamnya.
"Mas minta maaf karena dia menarik rambut kamu tadi, Nes. Mas juga sudah melaporkan dia ke polisi, karena menganiaya istri, Mas. Dan jika kamu siap, Mas akan mengenalkan kamu kepada semua karyawan Mas, dan mengatakan pada mereka, kalau kamu adalah istri, Mas. Agar kamu tidak lagi menerima perlakuan seperti ini."
Kalimat panjang lebar itu terus terucap, namun tak ada jawaban dari sang lawan bicara. Namun, saat mendengar kalimat terakhir Danish tadi, Aneska tersentak. Hatinya menghangat, saat Danish berencana untuk memperkenalkan dirinya kepada semua karyawan kantornya.
"Nes ... Kamu mau, kan, maafin, Mas?" tanya Danish pelan. "Mas sudah menceritakan semuanya sama kamu, tanpa ada yang Mas tutupi atau membohongi kamu," sambung Danish.
Aneska kini menatap mata Danish. Dirinya menjadi serba salah. Salah karena melihat Danish yang begitu tulus meminta maaf padanya, sedangkan dia bukanlah wanita suci yang tidak memiliki kebohongan.
Dan sebenarnya, saat tadi Aneska dan juga Liam berada didalam mobil, Liam sudah menjelaskan situasinya kepada Aneska. Dan itu sesuai dengan apa yang Danish katakan. Kecuali tentang tanda itu, karena Liam tidak melihat kejadiannya.
Manik mata Danish menatap Aneska dengan penuh rasa bersalah. Dan ditatap balik oleh Aneska dengan tatapan yang sama.
Kini, Aneska balas menggenggam tangan Danish, dan mulai tersenyum. "Aku sudah tahu, Mas," ucap Aneska.
Mendengar jawaban istrinya, Danish membulatkan mata.
"Liam yang menjelaskan padaku," ucap Aneska seakan menjawab kebingungan Danish.
Mendengar perkataan Aneska, Danish kemudian mengangguk mengerti. Ia jadi mengurungkan niatnya untuk memukul sekretaris pribadinya itu, karena berpikir kalau Liam tahu tentang kedatangan Aneska ke kantornya. Tapi nyatanya pria itu membantunya.
"Tapi tetap saja Mas minta maaf, karena tadi tidak bisa membela kamu saat disakiti oleh Zoya," ucap Danish lagi.
Kecolongan sampai dua kali, membuat Danish benar-benar merasa bersalah. Baru kemarin ia meminta maaf pada Aneska karena Zoya yang berlaku kasar pada istrinya itu, dan hari ini kembali terjadi hal yang sama.
Dan kejadian itu bukan di tempat lain, melainkan di kantor Danish sendiri.
"Anes mengerti, Mas. Dan lagipula, tadi katanya, Mas sudah melaporkan dia ke polisi? Mas melakukan itu untuk aku. Anes benar-benar berterima kasih," ucap Aneska dengan mata yang berbinar.
Kini keadaan tak lagi sama seperti sebelumnya. Pegangan tangan itu bertukar dengan Aneska yang tiba-tiba saja memeluk sang suami. Dan tentunya itu membuat Danish sedikit terkejut.
Danish tersenyum dan membalas pelukan Aneska. Ia merasa sangat bahagia, karena memiliki Aneska sebagai istri. Aneska memiliki sifat dewasa yang tidak kekanak-kanakan. Ia juga mendengarkan penjelasannya dan juga Liam, dan mencoba untuk mengerti posisi Danish.
Sedangkan dalam sudut pandang Aneska, ia merasa sangat bahagia karena Danish yang memprioritaskan dirinya. Bahkan suaminya itu melaporkan mantan kekasihnya ke polisi karena sudah menganiaya dirinya.
Sedangkan Aneska sendiri hanya bisa berbohong dan terus berbohong. Terus berpura-pura sebagai Aresha, dan belum memiliki keberanian sebesar Danish, untuk mengakuinya. Mengakui kebenarannya, pada suaminya tersebut.
Pelukan itu terlepas. Manik mata yang memancarkan rasa kasih yang masih samar-samar tersebut, kemudian menyipit karena tersenyum. Hingga Danish, yang merupakan seorang laki-laki dewasa yang normal, dan juga seorang suami tak kuat lagi saat tubuhnya menyentuh Aneska.
Manik matanya berpindah menatap bibir tipis Aneska, sehingga secara tidak sadar kini bibirnya menyentuh bibir tipis sang istri. Dan dengan perlahan memainkan juga memasukkan perasaannya kedalam ciuman yang belum terbalas itu.
Sehingga dengan perlahan, tuntutan Danish akhirnya terbalas. Aneska membalas ciumannya itu dengan pelan dan juga amatir, hingga akhirnya, suhu ruangan ber AC itu menjadi terasa panas.
Manik mata dari laki-laki dewasa seperti Danish mulai berkabut. Dirinya diliputi gairah dan juga nafsu. Hingga dengan perlahan ia membaringkan Aneska yang tak menolak sedikitpun.
Karena walau bagaimanapun, Aneska juga seorang wanita, dan lebih pasnya, seorang istri.
"Tidak apa-apa, kalau Mas lanjutkan?" tanya Danish, saat tangannya mulai masuk kedalam pakaian Aneska. Telinganya mendengar Aneska melenguh hingga akhirnya ia sadar diri, namun tak kuasa menarik diri.
Yang bisa Danish lakukan saat ini, hanyalah meminta izin Aneska, sebagai seorang wanita, dan juga istri.
Dengan pelan dan juga raut wajah memerah karena malu, Aneska mengangguk pelan. Tanda dia menyetujui permintaan sang suami.
Senyuman secerah mentari terbit dikedua sudut bibir si lelaki perkasa. Hingga bibirnya kini turun ke leher, dengan tangan yang perlahan membuka kain yang membaluti tubuh sang istri.
Di tengah panasnya cahaya mentari yang tingginya tak lagi lurus tegak sejajar dengan puncak kepala, kedua insan yang sedang berusaha untuk saling mendekatkan diri itu, bermandikan peluh, meskipun ruangan itu disejukkan oleh AC.
***