NovelToon NovelToon
THE OTHER SIDE

THE OTHER SIDE

Status: tamat
Genre:Misteri / Petualangan / Barat / Tamat
Popularitas:188.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Mira Akira

Cerita ini sangat panjang dan menakutkan bagiku. Jika ditanya apa penyesalan terbesarku, maka aku akan menjawab tanpa ragu. Aku menyesal meninggalkan Negeri Bintang untuk belajar ilmu kebatinan.

Buruknya, giliran itu semakin mendekat padaku. Aku tak bisa menghindar darinya, karena dia selalu bersamaku. Begitu juga kalian. Dia selalu mengikuti kalian.

Jika cerita ini sampai pada kalian, berarti giliranku telah sampai. Setidaknya, aku bisa memberitahu kepada orang-orang Negeri Bintang, ada seseorang bernama Algol Perseus.

Cover by Pinterest

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISI KEEMPAT BELAS: ORANG TAMBAHAN

Tangan Algol menyusuri lengannya takut-takut. Pikirannya mulai mengembara dengan tak pasti.

Mengapa ada jejak memar di lengannya?

Jika di pergelangan tangannya, ia tak akan heran, karena Hamal pernah mencengkeram tangannya dengan kuat. Namun jejak memar ini nyaris memenuhi kedua lengannya. Bahkan, samar-samar ia melihat bekas darah yang mengering di bekas cakaran itu.

Algol mengira, sakit di lengannya itu hanya sebatas karena dia tak terbiasa tidur di luar. Ia yang biasanya tidur di kasur, harus tidur di alam luar. Itulah mengapa rasa sakit yang ia rasakan tak digubrisnya.

Dengan tergesa-gesa, Algol menenggelamkan dirinya pada bak mandi kayu besar. Tangannya dengan kasar menggosok jejak kebiruan yang ada di lengannya, berharap bahwa itu hanyalah noda kotor.

Namun bukannya menghilang, Algol malah membuat setitik darah keluar dari bekas cakaran. Jejak biru di kedua lengannya juga tak menghilang.

“Akhh…”

Tangan kanan Algol yang masih mengusap lengan kirinya dengan kasar, tiba-tiba berhenti saat rasa sakit yang baru muncul. Algol mengangkat lengan kirinya untuk melihat lebih dekat.

“Ha..ha…”

Mendadak Algol tertawa aneh. Tangan kanannya meraih benda yang terselip di antara luka pada lengan kirinya.

Mengapa ada benda ini di sini?

Jika yang ia temukan itu kerikil, maka ia tak akan bingung. Jika yang ia temukan itu duri, maka ia tak akan setakut ini. Namun benda yang ia temukan ialah patahan kuku. Masih lengkap dengan darah yang menempel.

Ting..Ting..

Dengan kalap, Algol melempar patahan kuku itu ke lantai. Matanya menatap ke sekelilingnya dengan ketakutan. Jangan bilang makhluk itu masih mengikutinya?

Tiba-tiba telinga Algol berdenging. Kemudian, terdengar suara teriakan yang sangat nyaring. Sangat nyaring, sampai membuat telinganya semakin berdenging. Itu seperti melumpuhkan seluruh inderanya.

“AKHHH…”

BRAKK….

Algol masih menutup telinganya, karena teriakan itu masih sangat panjang. Matanya menatap dengan waspada pada sekelilingnya. Siapa yang berteriak?

TOK… TOK

Suara ketukan konstan terdengar dari arah pintu masuk. Mata Algol kini beralih dengan waspada.

Algol menyadari bahwa air dalam bak mandi kayu terus surut. Ia yakin bahwa ia telah membuat retakan di pinggir bak mandi kayu. Rupanya saat ketakutan, ia tanpa sadar memukul bak mandi kayu itu.

TOK…TOK…

Suara ketukan lagi-lagi terdengar. Kali ini dengan suara yang lebih kencang dari sebelumnya. Pintu kayu reyot itu terlihat menakutkan. Ini seperti pertahanannya seperti akan hancur kapan saja.

“Siapa?” tanya Algol cepat.

Tidak ada suara lagi dari arah pintu.

Keheningan itu membuat jantung Algol berdebar dengan kencang. Dengan cepat ia menyambar jubahnya kembali, dan memakainya dengan tergesa-gesa.

BRAK…

Kali ini pintu reyot itu didobrak. Algol memundurkan tubuhnya sendiri tanpa sadar, “Siapa?”

“Jasa pemanggilan orang.”

S*alan!

Algol menatap bak mandi kayu yang sekarang sudah tak memiliki air. Ia mungkin harus memikirkan alasan yang tepat untuk menjelaskan kekacauan ini pada Mizar. Jika tidak, mungkin Mizar akan melayangkan pedang panjang miliknya ke leher Algol.

“Hey, ini jasa pemanggilan orang. Kau mau keluar sendiri, atau mau diseret?” suara menyebalkan Alphard kembali terdengar.

Algol berdecak kesal. Sebelum meminta maaf pada Mizar, ia harus menenggelamkan kepala busuk Alphard ke dalam air terlebih dahulu.

***

Saat Algol memasuki ruangan besar lainnya, ia sudah disambut oleh meja-meja kecil berisi makanan sederhana.

Hanya ada semangkuk bubur dengan lauk yang diolah dari bambu muda, serta secangkir teh herbal.

Tanpa mengatakan apa-apa, Algol langsung duduk di sisi yang masih kosong. Namun sialnya, di sisi itu ia harus berhadapan dengan Alphard yang sedang mengaduk bubur miliknya dengan malas.

“Aku mendengar bunyi keras di dari arah ruang pemandian,” suara dingin Mizar terdengar.

Algol tanpa sadar menghela napasnya, “Aku akan memperbaiki bak mandinya besok.”

Mizar mendelik, tetapi tak mengatakan apa-apa lagi. Mungkin gadis ini sudah sangat kelelahan dengan tingkah ajaib orang-orang ini.

Algol mengedarkan pandangannya, dan menyadari bahwa ada wajah-wajah baru yang baru dilihatnya.

Ia mengalihkan pandangannya pada Alni yang sedang meminum tehnya dengan anggun. Alni meletakkan cangkir tehnya pelan. Ia menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa ia juga tidak mengenal orang-orang baru itu.

Begitu pun, dengan Sadir yang terlihat lebih tertarik dengan makanan yang ada di hadapannya, sedangkan Alphard masih mengaduk-aduk makanannya tak jelas.

“Dimana Hamal?” tanya Algol pada Mizar.

“Atria akan mengawasinya,” jawab Mizar seadanya.

Tanpa bertanya lagi, Algol sudah tahu bahwa Atria yang dimaksud ialah nona muda yang tadi. Algol mengambil sendok kayu miliknya, dan mengaduk bubur di mangkuk miliknya.

Sudah dingin.

“Kau tak suka makanannya?” tiba-tiba terdengar bisikan lirih di telinga kirinya.

BRAK… PRANG….

Algol memundurkan tubuhnya lagi karena terkejut. Ia tak sengaja menyenggol meja kecil di hadapannya, dan menjatuhkan mangkuk bubur miliknya.

Ia menoleh cepat ke arah kirinya, dan mendapati seorang pria kecil menatapnya dengan senyum yang ganjil. Algol mengerutkan keningnya ketika melihat senyum ganjil itu.

“Sekarang kau memecahkan mangkuk. Apalagi yang akan kau pecahkan?” tanya Mizar dengan kesal.

“Aku hanya terkejut karena anak ini berbisik di telingaku,” ucap Algol tak terima.

Alphard yang sejak tadi masih mengaduk-aduk buburnya, mendadak berhenti. Ia menatap Algol dengan pandangan datarnya.

“Mengapa jika dia berbisik?” tanya Alphard tak mengerti.

Algol berdecak, “Aku sedang tak ingin bicara denganmu, brengs*k!”

Mendengar itu, Alphard mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti. Sebab pada sejatinya, Alphard hanya ingin mengganggu Algol saja.

“Gemma!”

Pria kecil itu kembali ke tempat duduknya, tepat di samping seorang gadis kecil yang halus seperti lotus. Melihat gadis kecil itu, Algol teringat pada penampilan Alni saat pertama kali Algol melihatnya. Polos, dan naif. Namun entah mengapa sekarang ia tak bisa melihat Alni dengan cara yang sama.

Sadir menatap Mizar dengan penasaran, “Bisakah kami mengetahui siapa mereka?” tanyanya pelan.

“Murid tetap di sini.”

Pria kecil itu tersenyum pada Sadir. Senyum itu berbeda dari senyum yang diberikan pria kecil itu pada Algol. Algol hanya bisa mendesah pasrah, sekaligus meratapi buburnya yang sudah tak bisa kembali ke dalam mangkuk.

“Aku Gemma.”

Algol tertarik pada titik hitam yang ada di kelopak mata kiri pria kecil itu. Kemudian. ia mengalihkan pandangannya pada gadis kecil yang masih fokus dengan makanannya. Gadis itu memiliki titik hitam di kelopak mata kanannya.

“Dia Alphecca, saudara kembarku.”

Algol segera mengalihkan pandangannya pada Mizar lagi, “Apa pelatihan ini juga berlaku untuk anak-anak?”

Mizar meletakkan sendok kayu miliknya kembali. Setelah itu, ia meminum teh herbal dengan suara yang halus. Setelah itu, ia menatap Algol dengan pandangan angkuhnya.

“Tidak ada batasan usia untuk belajar.”

Alphard meletakkan mangkuk miliknya yang sudah sangat tak karuan ke hadapan Algol. Sampah terhormat ini tentu saja tak terbiasa dengan makanan yang sederhana. Alphard berniat untuk berbagi dengan Algol. Namun dengan keras, Algol mengembalikkan mangkuk milik Alphard ke hadapan pria gila itu lagi.

“Mereka anak bangsawan mana?” tanya Alphard yang masih mendorong mangkuk miliknya ke hadapan Algol.

Gemma menggigit lauk bambu muda, “Kami anak dari rumah cinta.”

Algol yang nyaris melempar mangkuk bubur ke wajah Alphard, mendadak berhenti. Ia menatap Mizar dengan pandangan tak mengerti.

Mengapa anak dari pelac*r di rumah cinta ada di sini? Bukankah ini tempat pengasingan untuk sampah terhormat?

Mizar menatap Algol dengan tajam, “Kau pikir tempat itu pantas untuk anak-anak?”

Tentu saja tak bisa. Tempat itu bukan tempat untuk anak-anak.

Algol memperhatikan Mizar yang sedang meminum teh herbal miliknya. Gadis Mizar ini selalu terlihat dengan aura misteriusnya.

Gerakannya sangat lincah, tetapi tanpa suara. Seperti Mizar terlatih untuk tak mengeluarkan keributan saat beraktivitas.

Apa Mizar juga berasal dari rumah cinta?

***

Selamat membaca :D

Terima kasih karena masih menunggu cerita ini untuk up. Jangan lupa tinggalkan jempol pada tempatnya.

Saya mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman sekalian. Jadi, mari berdiskusi.

Juga seperti biasa, jika ikhlas dan berlebih, silahkan tinggalkan vote kalian di sini. Jadikan fav jika tak ingin ketinggalan cerita absurd ini.

Mari bertemu di chapter selanjutnya.

Adhios~

1
Evan Dirga
cerita yang sangat kelam.

penggambaran setiap karakternya menunjukkan tingkat depresi yang sangat tinggi dalam kehidupan mereka sebagai bangsawan, dimana keidealisan hidup sejatinya memang sulit dicapai.
Evan Dirga
sayangnya algol lupa pada alphard aries.
Evan Dirga
sudah aku duga
Evan Dirga
bukankah dengan mengambil posisi kepala keluarga, alphard juga punya kesempatan untuk merubah kebusukan bisnis keluarganya ?
Evan Dirga
pada luka sadir
Evan Dirga
kumpulan orang gila yang sengaja dibuang.
Evan Dirga
jika ingin selamat, jangan pernah mengeluh atau menunjukkan penderitaan.
Evan Dirga
patahan kuku carina
Evan Dirga
sampai sejauh ini, aku masih mencurigai algol sebagai pelaku pembunuhan
Evan Dirga
algol yang selalu bersama sadir dan alni. sadir .. bukan hamal.
Evan Dirga
jangan jangan pelakunya adalah Algol dalam kepribadiannya yang lain ?
Evan Dirga
buah kelapa ? di hutan ?
Evan Dirga
sepertinya anak anak bangsawan ini dikirim bukan untuk pelatihan, tapi dikirim untuk dibuang.

mungkin akan diadu domba nantinya agar saling membunuh satu sama lain.
Nadira angraini
thor . ceritamu emang the best lah... rasa"na kyk bikn candu...pengen baca trus...
Fia Rahmi
sambil emak nungguin yi hua up mampir kesini dlu.. eh baru 2 episode udah seru😍😍
dyz_be
Hei Hoi...
Aku balik lagi..
Baca lagi, meski dengan akun baru karena akun lamaku gx bisa login
Cerita yg menarik, bikin penasaran, & seru
👍👍👍👍
😍😍😍😍😍
$uRa
diantara mereka semua ...mana yang ingin kalian bela
$uRa
suka tapi masih bingung.penuh teka teki dan misteri
$uRa
serem juga ceritanya
$uRa
salam..baru baca..keren...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!