Sama-sama memiliki kekasih saat dijodohkan, Danar dan Wulan membuat kesepakatan agar tetap pada kehidupan mereka masing-masing meski terikat dalam hubungan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14. SATU TUJUAN
Menjelang jam makan siang, Danar pun bergegas menghampiri Wulan. Ia meletakkan kembali amplop yang dititipkan Erick di atas mejanya. Tadinya ia ingin memberikan itu pada Wulan, namun setelah di pikir sebaiknya nanti malam saja saat dirumah agar tak merusak suasana hati Wulan yang sedang bekerja.
Sesampainya di butik, Danar melangkah masuk kedalam butik sembari mengedarkan pandangannya mencari istrinya.
Seseorang menepuk pundaknya dari belakang yang membuat Danar sedikit tersentak kaget. Danar pun menoleh melihat orang tersebut.
"Cari Wulan ya?" Tanya seorang wanita yang menepuk pundak Danar.
"Iya, saya kesini ingin mengajak Istri saya makan siang bersama. Apa Kamu tahu Wulan di mana?"
Wanita itu melongo, ia memiringkan kepalanya mengira ia salah mendengar.
"Istri? Maksudnya Wulan itu Istri Kamu?"
"Iya, Wulan itu Istri saya. Kami sudah janjian untuk makan siang bareng." Jawab Danar yang membuat wanita itu menganga dan dengan gerakan tangannya ia menunjukkan ke arah dimana Wulan berada.
"Terima kasih." Ucap Danar lalu melangkah ke arah dimana wanita itu menunjukkan keberadaan Wulan.
"Gila! Ternyata Laki-laki itu adalah Suaminya Wulan. Terus yang kemarin-kemarin selalu nganterin Wulan pakai ciuman pipi itu siapa dong? Selingkuhan Wulan gitu? Wah parah juga sih Wulan. Bisa heboh nih satu butik kalau tahu ternyata Wulan itu sudah nikah dan juga punya selingkuhan."
.
.
.
Saat berada di rumah makan yang tak jauh dari butik, sembari menunggu pesanan makanan datang Wulan sedang berbalas chat dengan salah satu pelanggan setia di butik tempat bekerja. Sementara Danar tampak melamun, pikirannya tertuju pada isi pesan Erick. Danar berharap apa yang di ungkapkan Erick dalam selembar kertas itu adalah tulus.
Sementara Erick sekarang sudah berada di sebuah stasiun menunggu keberangkatan kereta yang akan membawanya ke sebuah kota yang terkenal dengan sebutan kota gudeg.
Hanya berbekal beberapa helai pakaian dan uang secukupnya untuk mengisi perut dan membayar sewa rumah sampai ia mendapat pekerjaan di sana.
Erick mengedarkan pandangannya ke keramaian orang-orang yang berlalu lalang. Lalu tatapan tertuju pada seorang wanita yang dikenalnya terlihat setengah berlari kearah dimana dirinya duduk.
"Syukurlah, Aku tidak terlambat. Aku pikir kereta nya sudah berangkat." Dengan nafas yang tersengal-sengal, wanita itu duduk di samping seorang laki-laki yang sedari tadi terus menatapnya tanpa ia sadari.
"Mau mencari peruntungan juga di luar kota, atau hanya ingin lari dari masa lalu?"
Wanita itu langsung menoleh begitu mendengar suara laki-laki yang cukup familiar ditelinga nya.
"Erick?
Erick mengulas senyum tipis di bibirnya. "Aku tidak salah tebak kan? Tujuan kita sama, beralasan mencari peruntungan di luar kota padahal ingin lari dari kenyataan." Ucap Erick kemudian terkekeh pelan.
Wanita yang adalah Dinda itu, juga ikut terkekeh sembari mengusap peluh di keningnya.
"Yah sepertinya begitu." Ucap Dinda di sela tawanya. "Tapi sebenarnya memang sudah lama Pamanku memanggil kesana, tapi Aku selalu menolak karena terlalu berharap pada Danar."
"Dan pada akhirnya harus di paksa menerima kenyataan jika dia tidak ditakdirkan untuk kita." Sambung Erick.
Baik Erick maupun Dinda kembali terkekeh, menertawai nasib mereka yang sama.
Beberapa saat keduanya bening, hingga Dinda kembali membuka suara.
"Oh ya Erick, apa tujuanmu setelah sampai di sana nanti?" Tanya Dinda.
"Entahlah, Aku juga belum tahu." Jawab Erick sembari melempar pandangan pada penumpang yang satu persatu mulai masuk kedalam kereta.
"Kamu tidak punya keluarga disana?" Tanya Dinda lagi.
"Tidak ada."
"Kalau Kamu mau, cobalah melamar pekerjaan di tempat Pamanku. Beliau memiliki usaha batik yang cukup berkembang pesat. Siapa tahu Kamu diterima bekerja di sana." Saran Dinda.
"Jangan bercanda, Dinda. Mana bisa Aku membuat batik."
"Yah kan setidaknya menjadi bagian pengiriman lah, kurir gitu." Ujar Dinda.
"Ya apalagi itu, Kamu tahu sendiri Aku baru akan menginjakkan kaki di sana dan belum paham tempat-tempat di sana."
"Iya juga sih, tapi kan Kamu bisa menggunakan Google Maps."
Erick tampak berpikir kemudian ia menoleh menatap Dinda.
"Berikan saja alamat Pamanmu, jika Aku kesulitan mendapatkan pekerjaan Aku akan mencoba datang kesana."
Dinda pun lekas membuka tasnya, mengambil sebuah kartu yang tertera nama dan alamat usaha batik milik paman nya kemudian memberikannya pada Erick.
Erick pun mengambil kartu itu lalu memasukkan kedalam dompetnya.
Tak lama kemudian, tibalah keberangkatan kereta. Didalam kereta, Erick dan Dinda duduk bersama dan sepanjang perjalanan mereka bercerita banyak hal tentang kisah percintaan mereka berdua yang telah dipatahkan oleh dua orang yang kini telah menjadi suami istri.
Dinda bahkan sudah membahas rencana pernikahan bersama Danar. Namun, sayangnya Danar kembali menemuinya bukan untuk melamar dirinya melainkan untuk menyampaikan kabar pernikahannya dengan wanita lain.
Dan Erick, bahkan ia sudah menabung bersama Wulan. Setelah tabungan mereka cukup, akan menggelar pernikahan impian mereka. Namun, belum tercapai angannya itu dirinya dihempaskan oleh kenyataan jika wanita yang berjuang bersamanya itu akan diperistri oleh laki-laki lain.
"Miris!" Ucap Dinda dan Erick bersamaan, lalu keduanya kembali tertawa.
Kini tujuan mereka sama. Satu tujuan untuk melupakan masa lalu dengan meninggalkan kota yang penuh kenangan itu.