Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadilah wanita yang berkelas!
Rindu kembali melangkah menyusuri lobi, sudah berjam-jam dia menunggu tapi Arsen tak kunjung keluar dari lift.
Saat Rindu akan melangka keluar, hatinya begitu berat untuk pergi, dia urung menuju pintu keluar. Katup hatinya menolak untuk pulang begitu saja sebelum mendapatkan kepastian.
Di tengah kebingungan dan keputusasaan yang menggelayut, matanya menangkap pergerakan seseorang yang baru saja melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis lobi.
Langkah kaki wanita berbusana formal itu terdengar beriringan dengan ketukan high heels-nya di atas lantai marmer.
Rindu membelalakkan mata. Sosok itu, wanita yang tadi siang tak sengaja ia temui di supermarket.
"Mbak Fina..." panggil Rindu. Wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh memutar badan. Raut terkejut bercampur bingung seketika terpancar di wajahnya saat mendapati sosok Rindu berdiri mematung di dekat pilar.
"Rindu...?" gumam Fina, melangkah mendekat seraya menatap Rindu intens.
"Kamu... ngapain di sini malam-malam begini?"
Rindu menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Wajahnya yang pucat pasi dan matanya yang memerah tak sanggup menyembunyikan badai yang sedang meremukkan jiwanya.
"Saya... saya mau naik ke lantai atas, tapi..."
Kalimat Rindu terhenti di udara. Ia tak sanggup melanjutkan, kehabisan kata-kata untuk menjelaskan situasi memalukan yang tengah menimpanya.
Sebagai sesama wanita, Fina menangkap sinyal bahaya dari keheningan itu. Tatapannya menajam, memperhatikan gestur Rindu yang terlihat begitu lelah dan khawatir.
Fina seolah bisa menebak sesuatu yang besar dan kelam sedang terjadi di gedung ini.
"Kamu mau naik ke atas?" tanya Fina pelan namun tegas, mengunci pandangan Rindu.
Rindu terdiam sejenak, lalu perlahan menganggukkan kepalanya dengan kepasrahan yang mendalam.
"Iya."
Fina menghela napas panjang. Tanpa bertanya lebih jauh atau menghakimi kepedihan yang terpancar dari raut wajah Rindu, ia mengambil keputusan cepat.
"Bentar ya," ucapnya singkat.
Fina membalikkan badan dan melangkah pasti menuju meja resepsionis. Rindu memperhatikan dari kejauhan dengan jantung yang berdegup liar.
Di depan meja resepsionis, Fina menyapa petugas yang sama yang tadi menolak Rindu. Dengan gaya bicara yang tenang, percaya diri, dan penuh wibawa sebagai salah satu penghuni atau pemilik akses prioritas di gedung tersebut, Fina mulai berbicara.
"Mbak, wanita yang di sana itu tamu saya," ujar Fina tegas seraya menunjuk ke arah Rindu.
"Dia datang bersama saya malam ini. Tolong proses dan berikan dia kartu akses tamu untuk ke lift, sekarang."
Resepsionis itu sempat tertegun, melirik Rindu yang berdiri canggung di belakang, lalu kembali menatap Fina.
Mengetahui Fina memiliki otoritas penuh atas unitnya, petugas itu tidak berani membantah lagi. Jarinya dengan cepat memproses pendaftaran data tamu pada sistem komputer.
Tak sampai lima menit, sebuah access card tambahan berwarna perak diserahkan kepada Fina.
Fina mengambil kartu itu, mengucapkan terima kasih singkat, lalu berjalan kembali menghampiri Rindu.
Ia mengulurkan kartu plastik itu tepat di hadapan Rindu.
"Ini kartu aksesnya. Kamu bisa naik sekarang," kata Fina dengan nada suara lembut namun menyiratkan dukungan yang penuh.
Rindu menatap kartu di tangan Fina dengan jemari yang gemetar hebat.
Kartu kecil itu kini menjadi kunci terakhir yang akan membuka gerbang kebenaran, kebenaran pahit tentang apa yang sebenarnya dilakukan Arsen di lantai atas gedung mewah ini.
Dengan sisa keberanian yang ada, Rindu mengulurkan tangannya dan menerima kartu tersebut.
Rindu menerima kartu berjarak tipis dari jemari Fina. Dinginnya permukaan access card itu seketika merambat ke telapak tangannya yang gemetar.
Kelopak matanya membendung air mata yang siap tumpah kapan saja.
"Terima kasih, Mbak Fina..." bisik Rindu pelan, suaranya parau dan sarat akan kepedihan.
Namun, ketika langkahnya hendak berayun menuju deretan lift, Rindu mendadak menghentikan pijakannya. Sebuah kenyataan konyol namun menampar tiba-tiba menyergap pikirannya, ia memiliki kunci aksesnya, tetapi ia sama sekali tidak tahu ke mana kakinya harus melangkah.
Dengan perasaan tak enak hati dan rasa malu yang membakar dada, Rindu memutar kembali tubuhnya menghadapi Fina.
Ia menatap wajah Fina dengan tatapan sayu yang penuh harap, seolah Fina adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra kebohongan tempat ia tenggelam.
"Maaf, Mbak... tapi bisakah saya minta tolong satu hal lagi?" tanya Rindu ragu.
Fina mengerutkan keningnya halus, menatap Rindu dengan empati yang makin mendalam.
"Apa itu, Rindu? Katakan saja."
Rindu menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kaku dan perih, membuat tiap kata yang keluar dari bibirnya bagai beban seberat ton.
"Saya... Saya tidak tahu nomor unitnya," aku Rindu jujur, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena tak sanggup menahan rasa hampa yang membuncah.
"Bisakah... bisakah Mbak Fina membantu menanyakannya untuk saya?"
Fina tertegun sejenak. Kata-kata Rindu menggantung di udara lobi yang dingin. Sebagai wanita cerdas, Fina kini sepenuhnya paham teka-teki kelam yang sedang berlangsung.
Arsen, kini pasti berada di salah satu unit apartemen ini, dan istrinya sendiri bahkan tidak diberi tahu di mana letak unit tersebut.
Melihat keputusasaan yang begitu telanjang di mata Rindu, hati Fina luluh. Ia tidak lagi mengajukan pertanyaan yang hanya akan menambah luka di dada wanita di hadapannya itu.
"Tentu," jawab Fina mantap tanpa keraguan.
"Tunggu di sini sebentar."
Fina membalikkan badan, kembali melangkah anggun menuju meja resepsionis yang tadi disinggahinya.
Rindu memperhatikan punggung Fina dari jauh, menyandarkan tubuhnya yang kian lemas pada pilar beton berornamen kayu.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan gema ngilu di rongga dadanya.
Di meja resepsionis, Fina membisikkan sesuatu kepada petugas yang bertugas. Senyum ramah resepsionis itu perlahan memudar, berganti raut ragu ketika mendengar permintaan Fina.
Sebagai penghuni VIP, Fina menggunakan otoritas dan pengaruhnya, mendesak petugas itu untuk melihat data pendaftaran unit atas nama Arsenio tanpa harus melakukan panggilan konfirmasi ulang.
Setelah perdebatan singkat yang menegangkan, petugas resepsionis itu akhirnya mengangguk pelan dan mengetikkan sesuatu di layar komputernya, lalu membisikkan sebuah nomor unit serta lantai tempatnya berada kepada Fina.
Fina mencatat angka tersebut di pikirannya, lalu kembali menghampiri Rindu. Langkah Fina terasa amat berat, menyadari bahwa informasi yang dibawanya akan menjadi palu pemungkas yang meremukkan pernikahan Rindu.
Ia berhenti tepat di depan Rindu, menatap mata wanita muda yang kini dipenuhi kecemasan luar biasa itu.
"Lantai 14, Unit 1404," ucap Fina pelan namun sangat jelas.
Angka itu terpatri tajam di benak Rindu. Lantai 14, Unit 1404, sebuah alamat rahasia yang kini siap menguak seluruh kebohongan Arsen sampai ke akar-akarnya.
"Terima kasih banyak, Mbak," ucap Rindu dengan suara yang sangat lirih, hampir tenggelam oleh desis pendingin udara lobi.
Rindu membalikkan badan, mengepalkan jemarinya yang dingin di sekitar kartu akses perak itu.
Ia siap mengayunkan langkahnya menuju deretan lift stainless steel yang berdiri membisu di ujung ruangan. Namun, baru dua langkah ia berayun, suara lembut namun tegas memecah keheningan lobi.
"Rindu," panggil Fina.
Rindu kembali menoleh. Di bawah pendar cahaya lampu kristal yang megah, Fina berjalan mendekat.
Langkah kakinya begitu tenang dan anggun. Ia berhenti tepat di hadapan Rindu, menatap lurus ke dalam netra wanita muda itu dengan pendar simpati serta ketegasan yang luar biasa dari seorang wanita senior.
"Rindu... apa pun yang kamu lihat dan kamu temui di atas sana nanti, jangan pernah menurunkan harga dirimu sebagai wanita berkelas. Jangan berteriak, jangan menjerit, atau bahkan menghabiskan tenagamu untuk meluapkan amarah yang sia-sia." Fina jeda sejenak, menajamkan tatapannya.
"Jika memang sesuatu yang melukai hatimu benar-benar terjadi, keluarlah dari tempat ini dengan standarmu sebagai perempuan yang tinggi. Tetap berdiri tegak."
Nasihat itu meresap menghantam ulu hati Rindu bagaikan sebuah cermin yang menyadarkannya. Kata-kata Fina bukan sekadar pesan penenang, melainkan sebuah pelindung agar jiwanya tak hancur berkeping-keping.
Rindu menganggukkan kepalanya perlahan, membuat genangan air mata yang sejak tadi membendung di pelupuk matanya akhirnya meluncur hangat menelusuri pipinya yang pucat. Ia tak mampu bersuara, tetapi anggukan itu adalah bentuk kepasrahan sekaligus janji.
Di dalam hatinya, Rindu seolah sudah bisa menebak takdir pahit apa yang sedang menunggunya di lantai 14 nanti. Logikanya yang dingin tak bisa lagi dibodohi.
Arsen tidak mungkin merancang kebohongan sedemikian rapi, menyisihkan aset secara sembunyi-sembunyi untuk sebuah apartemen mewah, jika bukan karena sedang menyembunyikan kebenaran busuk yang sanggup meremukkan pernikahan mereka.
"Saya mengerti, Mbak. Terima kasih," bisik Rindu seraya menyapu air matanya dengan punggung tangan. Ia menegakkan dagunya, mencoba merapikan sisa-sisa martabat yang masih ia miliki.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰