NovelToon NovelToon
Déjà Visible

Déjà Visible

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horor / Tamat
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

Maraknya berita rampok akhir-akhir ini mengakibatkan semua orang waswas. Sekarang ayah Alice menyimpan pistol yang telah diisi peluru di dalam kamarnya, dan... itu malah membuat keadaan semakin mengerikan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

"Spencer? Kau di sini, Spencer?" Alice tak dapat menyembunyikan keputusasaannya dalam suaranya. Spencer harus menampakan diri sekarang. Harus, katanya dalam hati. Atau Aaron akan semakin yakin bahwa ia benar-benar sudah sinting.

Alice akhirnya duduk di tepi ranjang di dekat Aaron dengan lemas.

Aaron melingkarkan lengannya dengan lembut di bahu Alice. "Hei... Kau membeku."

"Kau tak merasa dingin?" tanya Alice. "Kau tak merasakannya?"

"Tidak," jawab Aaron sambil menarik kepala gadis itu ke bahunya. "Ini malam bulan Agustus yang hangat," tuturnya menenangkan.

Nyaman rasanya berada di dalam pelukan Aaron, pikir Alice. Lalu gadis itu memejamkan matanya.

Aaron merangkulkan kedua lengannya di seputar leher Alice. "Aku terus-menerus mengira ini lelucon," bisiknya. "Permainan konyol yang kau buat untuk menggodaku. Tapi itu bukan kebiasaanmu."

"Ini bukan lelucon!" Amarah Alice mulai timbul lagi. Apakah Aaron sungguh-sungguh mengira semua ini cuma lelucon konyol untuk mempermainkan dirinya? Alice tak habis pikir. "Spencer, ayolah! Di mana kau?" panggil Alice sedikit emosi.

Aaron mendekatkan wajah Alice ke wajahnya sendiri dan mulai membelai-belai.

"Jangan, Aaron." Alice menarik dirinya menjauh dari Aaron. "Aku sungguh-sungguh tidak sedang menggodamu."

"Sssttt... Ayolah," bujuk Aaron. Dipeluknya gadis itu sekali lagi dengan lebih erat.

Untuk sesaat Alice akhirnya terhanyut dalam pelukan cowok itu. Ia begitu hangat, batinnya. Begitu nyaman.

Begitu Alice membuka mata, di sana sudah ada Spencer. Berdiri di atas mereka, menonton mereka sedang bermesraan. Matanya berkilat-kilat tajam dan mulutnya mengerut marah. Dan ketika Alice berusaha melepaskan diri dari pelukan Aaron, Spencer mengeluarkan teriakan yang memekakkan dan melesat ke arah Aaron dengan tangan terjulur. Alice menjerit dan jatuh terlentang di atas tempat tidurnya, mencoba menghindarinya.

Aaron terkejut dan melompat berdiri seraya menatap Alice. "Alice, kau kenapa?" serunya panik.

Alice terpana menatap Spencer yang berada tepat di samping Aaron, ia tampak marah sekali.

"Kenapa kau menjerit seperti itu?" Aaron mendesaknya. "Kau benar-benar sudah tidak waras, ya?"

"Aaron, dia di situ!" teriak Alice histeris. Ia masih terkapar di tempat tidur sambil menunjuk-nunjuk ke arah Spencer.

"Hah?" Aaron menoleh ke samping dan bertatapan dengan Spencer. Tapi raut bingungnya tidak berubah.

"Kau tak melihat dia?" pekik Alice. "Kau tak mendengar dia menjerit padamu?"

Pandangan Aaron beralih kembali pada Alice. Ia kelihatan cemas sekali. "Jangan bangun," katanya cepat. "Tetaplah berbaring. Aku akan menelepon orang tuamu."

"Aaron, kupikir..."

"Payah betul cowokmu," cemooh Spencer dengan wajah geli. "Aku tak mungkin memperlakukanmu seperti itu."

"Spencer, buat dia melihatmu," Alice memohon seraya menarik duduk tubuhnya.

"Jangan, tetaplah berbaring." Aaron melarangnya. "Kau tidak akan apa-apa. Sungguh"

"Kukira, dia tak bisa melihat aku," kata Spencer. Ia menaruh tangannya di pundak Aaron. Tapi cowok itu sama sekali tidak bereaksi. "Dia bahkan tak bisa merasakan keberadaanku." Spencer kemudian meninju punggung Aaron.

"Aaron, awas!" jerit Alice terlambat.

Tapi Aaron kelihatannya tidak merasakan apa-apa.

Spencer terlihat kecewa sekali.

"Spencer, jangan ganggu dia!" teriak Alice.

"A-aku akan memanggil Martha." Aaron kelihatan sangat panik. "Jangan bangun. Kami akan memanggil orang tuamu. Kami akan menenangkanmu."

"Aaron, dengarkan aku. Berhentilah bertindak konyol!"

"Itu tidak mungkin." Spencer menyeringai. "Pacarmu memang sudah konyol."

Tiba-tiba Spencer mulai menghilang. Mula-mula ia menjadi tembus cahaya. Bahkan pandangan Alice bisa menembus tubuhnya. Lalu ia hanya berupa siluet, kemudian menghilang, meninggalkan hawa dinginnya yang khas.

"Kau juga tidak merasakannya?" Alice kembali menanyai Aaron.

"Merasakan apa?" Aaron semakin kebingungan.

"Hawa dingin itu," sahut Alice.

Aaron menoleh. "Malam ini di luar agak berangin. Lihat gorden itu!" Aaron menunjuk ke arah jendela.

"Aaron, aku tidak gila." Alice beranjak dan mulai mondar-mandir di sepanjang tepi tempat tidurnya.

"Tidak, tentu saja tidak." Aaron cepat-cepat menanggapinya. "Tapi, barangkali sarafmu terganggu atau apalah."

"Aku tak mengerti." Alice berhenti di depan Aaron. "Kenapa kau tak mau mempercayaiku? Spencer ada di sini tadi, tepat di sampingmu. Dia meneriakimu. Dia juga meninju punggungmu. Aku tidak berhalusinasi. Tapi hanya aku yang bisa melihatnya."

"Alice, tenanglah." Aaron bersikeras. "Ini kehidupan nyata, oke? Ini bukan komedi situasi TV!"

"Oh, begitu." Alice memelotinya dengan marah. "Jadi sekarang aku gila dan juga tolol?"

"Aku tidak bilang begitu." Aaron meletakkan tangannya di bahu Alice. "Apa kau tak melihat, betapa aku mencemaskanmu?"

Alice mengedikkan bahunya, menyingkirkan tangan Aaron dari bahunya dan melangkah mundur menjauhi cowok itu. "Oke, kalau begitu silahkan mencemaskan aku di rumah," katanya dengan marah.

"Apa?" Aaron tampak tersinggung.

"Kau sudah dengar. Pulanglah. Aku sadar aku harus memecahkan masalah hantu ini tanpa bantuanmu." Alice menandaskan.

"Tapi aku ingin kau mendapat bantuan." Aaron tak menyerah. "Pertama-tama kita harus memberitahu orang tuamu tentang hal ini. Dan..."

"Pulanglah, Aaron." Alice mulai terlihat lelah.

"Aku tak ingin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini." Aaron tetap bersikeras.

"Seperti ini?" Alice kembali meradang.

"Di mana hantu itu? Di mana kau melihatnya sekarang? Tunjukkan padaku." Aaron kembali meletakkan tangannya di bahu Alice.

"Dia sudah pergi," sergah Alice, kembali mengedikkan bahunya melepaskan diri. "Sekarang pulanglah. Cepat. Kumohon!"

Aaron berdiri lemas seraya memandangi Alice, mencoba membaca ekspresi gadis itu, berusaha memutuskan apa yang akan dilakukannya. "Oke," katanya menyerah. "Aku akan pergi. Setelah aku yakin bahwa kau baik-baik saja."

"Yah, tentu." Alice menurunkan nada bicaranya dan mendesah. "Aku akan segera tidur, oke?"

"Telepon aku besok pagi-pagi, ya?" bujuk Aaron.

"Oke!" Alice tersenyum lemah.

Tak lama kemudian, terdengar pintu depan terbanting menutup.

Alice terduduk dengan sedih di ranjangnya, pandangannya menerawang jauh ke luar jendela.

Awan baru saja menyingkir, membiarkan bulan purnama memancarkan cahaya keemasannya.

"Terimakasih, Spencer," ucap Alice keras-keras. "Kau baru saja menyebabkan aku kehilangan teman cowok."

Spencer muncul di samping tempat tidurnya. Kepuasan tergambar jelas di wajahnya. "Jadi apa ruginya buatmu? Kau bisa membeli yang baru lagi, kan?"

"Kenapa kau tetap mempermasalahkan betapa kayanya aku?" Alice mengumpat ke arah cowok itu.

"Aku tahu persis cewek-cewek kaya. Kalian semua sama saja," dengus Spencer sedih. "Kalau aku masih hidup, kau takkan melirikku sama sekali."

"Bagaimana kau tahu itu?" tanya Alice.

"Pokoknya aku tahu. Kalian orang-orang yang suka bergerombol, sehingga dapat dengan mudah menghina orang-orang seperti aku." Spencer berbalik dan melangkah ke jendela.

Alice bisa melihat bulan purnama menembus punggungnya.

"Aaron tidak kaya," Alice berkata. Ia sendiri heran, kenapa ia harus membela diri di depan hantu. "Ayahnya bekerja di kantor pos."

"Lalu apa yang kaulihat dalam dirinya?" tanya Spencer sambil menoleh ke arah Alice. "Pasti bukan kepribadiannya yang hebat, kan?" Ia tertawa sinis.

"Oh, shut up!" Alice berteriak lelah. "Kenapa kau tak menghilang saja dan biarkan aku sendirian?"

1
Handoko
biar bagaimanapun, kita tidak akan bisa mencurangi kematian.
Handoko
karya yang singkat tapi menegangkan.

terima kasih banyak, author.
Handoko
ternyata rampok goshtroses adalah spencer. mungkin dia terbunuuh oleh alice saat sedang merampok rumah mr. morgan.
Handoko
spencer jatuh cinta pada alice morgan. mungkin disinilah awal bencananya.
Handoko
shannon ? 🤔
Handoko
sorotan lampu disko atau lampu merah ?
Handoko
hantu spencer
Handoko
mungkin alice mengalami depresi. atau cowok itu adalah hantu korban dari ketidakadilan mr. morgan dalam penegakan hukum.
Handoko
wah apakah pacarnya marie tidak marah kalau billy bercanda keterlaluan begitu ?
Handoko
kangen versi cowok itu berbeda, alice ... 😅😅
Handoko
sebaiknya cabang pohon itu dipangkas saja.
Handoko
faktanya memang begitu. lelah fisik dan pikiran.
Sty9
Seru!
Esther Nelwan
aduuuh k tamat😥
Esther Nelwan
ooooh aku br ngerti...
Esther Nelwan
,nah alice kgk inget ngebunuh...
Esther Nelwan
masih misteri tp aku kasih vote bwt author biar sll semangat...
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: terima kasih
total 1 replies
Esther Nelwan
aku msih nyimak ni...apakah mbilnya ada hantunya y
Esther Nelwan
aduuuh...
Esther Nelwan
aku suka klw genrenya d luar negri ni semangat thor
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Terima kasih atas apresiasinya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!