Bagaimana jadinya seorang Nenek menjelajah waktu ke zaman kuno?
Would you believe that?
Yaa ... Dia adalah seorang Nenek berusia 50 tahun bernama Chan Lya, yang harus menjelajah waktu ke Zaman kuno.
Nenek Chan terbunuh di saat ia menyelamatkan cucu kesayanganya dari pria yang ingin menangkap mereka, dan di saat-saat terakhirnya ... Nenek Chan berdo'a kepada sang dewa jika dia ingin mempunyai kehidupan ke dua, di mana dia adalah wanita kuat dan berkuasa agar semua orang tidak semena mena terhadapnya.
Akan ‘kah Nenek Chan bisa hidup di zaman kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani_aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Mendisiplinkan.
A Grandmother's Time Trevel•
...🐉🐉🐉...
Tidak butuh waktu yang lama, kabar mengenai wajah dan badan selir Song yang membusuk seperti bangkai hidup sudah menyebar di dalam istana.
Dan kabar itu juga sudah terdengar ketelinga Kaisar dan Permaisuri, yang mana membuat Kaisar langsung menyuruh kasim setianya untuk memanggil tabib.
"Pangilkan tabib untuk mengobati selir Song! Kurung dia di kediaman nya, jangan sampai dia berkeliaran di dalam istana." Titah sang Kaisar.
"Baik yang Mulia.." ucap sang kasim membungkuk mundur lalu pergi.
Permaisuri menyodorkan cangkir teh kehadapan Kaisar Zhang dan berkata, "Suamiku, mengapa Ananda tidak ingin menemui Selir mu yang sedang sakit?"
"Yang aku dengar tubuh Selir Song berbau busuk, aku tidak mau menemuinya! Ih mengerikan! Bagaimana jika bau nya menempel di jubahku."
"Jangan seperti itu ... Tidak baik mengabaikan istrimu yang lainnya hanya karna dia sedang sakit."
Kaisar Zhang mengerutkan keningnya dengan bingung. "Heii ... seharusnya kau senang tidak memiliki saingan di dalam cintamu, terbuat dari apa hatimu ini."
Permaisuri Mei terkekeh, "Apa selama ini aku kekurangan cinta dari mu wahai Ananda ku? Aku tau cinta dan kasih sayangmu hanya untukku dan kedua anak mu."
Cup.
Kaisar Zhang mencium kening Permaisuri Mei, "Kau adalah cinta pertama dan terakhirku, jika ada yang ke dua dan ketiga ... dia tidak mungkin memiliki cinta yang besar dariku."
Othor : Gombal.
"Aku mencintaimu."
"Aku pun mencintaimu, lebih besar di bandingkan dengan nyawaku."
Kaisar dan Permaisuri saling berpelukan, mengidahkan seseorang yang sedang menangis dan meraung di kediamannya ... siapa lagi kalau bukan Selir Song yang tengah mengamuk saat tubuh dan wajah nya yang cantik kini raib entah ke mana.
"Siapa ... siapa yang sudah melakukan ini semua padaku!"
"Aahhhh ..."
PRAANG ...
...BRAAAK!...
Selir Song terus melemparkan semua barang yang ada di kediamannya, ia tidak terima jika kecantikan nya hilang begitu saja, semua orang menjauhinya karna bau dan buruk rupa, bahkan dayang setianya pergi entah kemana.
''Pengawaaaaa ...lll mana tabibku!'' teriak selir Song.
~
~
Sedangkan di kediaman Mawar, Nenek Chan tengah terbaring di atas peraduan karna lelah.
Bagaimana tidak! Semalam sewaktu Boa mengobatinya di dalam hutan, ia memuntahkan darah hitam yang cukup banyak, membuat seluruh tubuhnya lemas tak karuan.
"Putri apa anda tidak ingin bangun, ini sudah siang ..." Dayang Niyu membangunkan sang Junjungan.
"Hummm ... aku masih mengantuk! Jangan mengganggu."
"Tidak bisa Putri, anda harus menghadiri perayaan ulang tahun Nona Muda dari kediaman mentri Mu."
"Ah, malas sekali."
Dayang Niyu duduk di bawah peraduan dan berbisik. "Putri, Putri, apa kau tidak mendengar kabar dari kediaman selir Song? Ada seseorang yang sudah meracuni nya hingga tubuh Selir song membusuk."
Sang dayang mengajak Junjungan nya untuk menggibah, sedangkan Nenek Chan menyunggingkan bibirnya namun mata masih setia terpenjam.
"Kabar yang sangat baik di pagi hari." Lirih Nenek Chan dengan pelan.
~
~
~
~
~
Siang hari ... Nenek Chan baru selesai dengan tidurnya dan merasa lebih baik setelah meminum obat. Nenek Chan turun dari peraduan dan melangkah ke arah pemandian untuk membersihkan tubuhnya dari keringat.
Setelah beberapa menit berendam, Nenek Chan keluar dari pemandian dan memakai hanfu yang sudah di sediakan oleh para dayang nya.
Nenek Chan akan berkunjung ke kediaman Selir Song, untuk mengucapkan keprihatinan dirinya akan musibah yang tengah menimpa kepada selir Song. Atau mungkin Nenek Chan akan mengucapkan selamat karna sudah mendapatkan karma atas perbuatan nya.
''Putri, apa anda yakin ingin mengunjungi Selir Song?" tanya dayang Nienie.
''Benar Putri, apa anda tidak takut jika penyakit yang di derita selir Song menular.'' Ujar dayang Niyu.
Nenek Chan tersenyum lalu memakai cincin phonix di tanganya. ''Tidak ada hal yang perlu di takutkan, aku sudah tidak sabar ingin melihatnya.''
Nenek Chan pun sudah siap dengan penampilannya, tapi baru saja akan melangkah ke luar ... seorang wanita paruh baya dan beberapa orang di belakangnya datang dan masuk begitu saja.
Dayang Niyu dan dayang Nienie langsung berlutut saat kedatangan orang itu, sedangkan Nenek Chan mengerutkan keningnya saat netra matanya melihat sosok wanita tua di depannya.
''Ibu Nao, anda sudah kembali?'' tanya dayang Niyu, sama sekali tidak di idaman oleh Ibu Nao.
Ibu Nao adalah kepala pelayan istana, sekaligus Ibu Tata krama yang memiliki tugas penting untuk mendisiplinkan anggota istana. Tapi dia bersekongkol dengan selir Song untuk menindas Putri Guan Lien.
Nenek Chan dan Ibu Nao saling pandang, bahkan dagu mereka berdua terangkat dengan kedua mata mereka bersinar layaknya ada percikan listrik yang siap menggosongkan satu sama lain.
''Putri ... apa anda sudah lupa dengan tata krama yang sudah aku ajarkan?''
Nenek Chan menyunggingkan bibirnya lalu duduk di sofa dengan gaya tengil. ''Dayang Niyu ... siapa mereka yang tidak memiliki tata krama saat masuk kedalam kamarku?''
Ibu Nao berdecih, "Aku adalah Ibu Tata krama mu! Aku memiliki perintah dari Kaisar untuk mengajarimu! Lihat lah sekarang cara mu berbicara denganku sudah tidak memiliki kesopanan!'' Bentak Ibu Nao.
''Hooaaamm ... di mataku kau masih seorang pelayan.'' jawab Nenek Chan, membuat Ibu Nao mengepalkan tanganya.
''Lancang!''
''KAU YANG LANCANG! KAU SEBUT DIRIMU IBU TATA KRAMA? TAPI KAU TIDAK MEMILIKI ILMU YANG KAU AJARKAN!'' bentak Nenek Chan.
Nenek Chan berdiri dan melangkah mendekati Ibu Nao, ''Kau hanyalah seorang pelayan! Tidak pantas membentak seorang Putri Mahkota seperti diriku! Bagiku kau hanya seogok sampah yang bisa aku buang kapan pun!''
''PUTRI!''
PLAKK! Nenek Chan menampar Ibu Nao hingga terhiyung kebelakang, saking kencangnya tamparan yang di berikan oleh nenek Chan.
''Bukan aku yang harus di beri pelajaran tata krama, tapi kau! Kau sudah lancang masuk kedalam kediaman ku! Tidak memberi hormat padaku sebagai Putri Mahkota di kerajaan ini!''
''Aahkk .. ''
Ibu Nao meringis saat rahangnya di cengkram kuat oleh Nenek Chan.
''Kau harus tau di mana posisi mu! Dan posisi mu ada di bawah Kaki ku! Apa kau mengerti!''
Bruugh!
Nenek Chan mendorong Ibu Nao ke lantai, membuat semua orang terdiam sambil mematung tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Jika dulu mereka menyaksikan Putri Mahkota di tindas, tapi sekarang malah terbalik.
''Akan aku adukan pada Kaisar!''
Nenek Chan yang geram, langsung mengambil cambuk yang terpajang di dinding dan ...
Cetar!!
...Ceetaarr!...
''Ahhkk ...''
...Ceetaarrr!!...
''Sakit!''
''Kau harus aku disiplinkan! Dasar tidak tau diri! Sudah tua bau tanah!''
Nenek Chan terus mencambuk wanita yang mungkin sebaya dengan dirinya tanpa ampun. Pelayan sepertinya harus di beri pelajaran agar pelayan yang lainnya tidak menyepelekan dirinya.
Setelah puas mencambuk Ibu Nao, Nenek Chan melemparkan cambuk itu ke sembarang arah lalu keluar dari kediaman nya dengan hati yang sangat puas.
''Ck! Mau bermain-main denganku.''
•
...🐉🐉🐉...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...