Sebuah cerita hidup mengisahkan tentang sebuah pernikahan yang tidak diinginkan sama sekali. pernikahan yang dilakukan disebabkan sebuah tragedi kecelakaan yang tanpa disengaja oleh Zahra. menewaskan seorang wanita. hal tersebutlah membuat seorang Rey murka dan ingin membalalaskan dendamnya atas kematian kekasihnya tersebut dengan cara menikahi Zahra
Bagaimanakah selanjutnya? Zahra akan berpisah atau sebaliknya?
ig@olan_tari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olan tari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang menelpon
Siapa yang menelpon
Keesokanya. siang itu, Zahra terlihat sibuk memasak didapur untuk Rey. karena Rey diperbolehkan pulang oleh dokter, Rey dengan tidak sabar meminta agar dirinya cepat kembali kerumah pada Zahra dan Papa Tio.itu lah mengapa pagi-pagi sekali Rey telah sampai dirumah, karena setelah subuh, Rey keluar dari rumah sakit untuk pulang.sesampainya dirumah, Rey beristirahat dan tidur. setelah bangun, siang itu, Rey tiba-tiba meminta Zahra membuatkannya bubur untuk makan. entah apa yang merasukinya saat itu, tiba-tiba saja meminta Zahea memasak untuk dirinya.Zahra pun dengan senang hati membuatkan untuk Rey bubur. setelah selesai memasak, Zahra mengantarkan semangkuk bubur dan segelas air kekamar Rey.
"Ini makanlah, aku akan menyiapkan obatnya,"tutur Zahra. ia mengulurkan bubur tersebut ke Rey yang saat itu sedang duduk menghadap jendela. Rey malah tak mengambil bubur tersebut dan malah memperhatikan Zahra dengan sinis.
"Apa kau tidak memasukan racun kedalam bubur ini?"tanya Rey. ia begitu tak mempercayai Zahra sedikitpun.kedua matanya menantap Zahra dengan tatapan yang penuh selidik.
"Bagaimana bisa aku memasukan racun? jika tidak percaya, aku akan memakanya lebih dulu."Zahra menyuapi sesendok bubur tersebut kedalam mulutnya dan menelanya.
"Lihat, aku tidak matikan?. makan lah, aku akan menyiapkan obat,"ucap Zahra. ia kembali mengulurkan bubur tersebut. Zahra berusaha bersabar menghadapi segala tingkah Rey baik itu saat sakit atau pun sehat. Rey mulai menyuapi bubur itu ragu-ragu, saat dirasa begitu cocok dengan lidahnya, Rey pun kembali menyuapi hingga tak tersisa lagi.sementara Zahra hanya memperhatikan Rey menghabiskan bubur buatanya tersebut dengan tersenyum.ada rasa bahagia ketika Rey bisa menerima masakan dari dirinya.
"Apa yang kau lihat? jangan salah paham, aku menghabiskan buburmu karena aku lapar bukan berarti masakanmu enak,"tutur Rey.ia memasang wajah datarnya kembali pada Zahra.
"Aku tidak mengatakan apapun"balas Zahra.
"Jujur saja jika memang enak"ucap Zahra dalam hati.
"Aku hanya ingin memberitahukanmu saja, agar kau tau,"ujar Rey.
"Baiklah, apa yang benar menurut bang Rey saja. mau enak atau tidak terserah saja."balas Zahra.
"Mana obatnya?"tanya Rey.ia mengulurkan tangan pada Zahra agar Zahra memberikan obatnya.
"Ini minum lah"Zahra membuka sirup dan obat-obat yang diberikan dokter untuk Rey. Rey mengambil obat-obat tersebut ditangan Zahra dan langsung meminumnya.
"Tumben sekali pagi ini dia tidak memakiku. apa dia kerasukan atau jiwa iblisnya sedang cuti pulang kampung?"batin Zahra. ia sejenak memperhatikan Rey didepanya. hari ini Rey terlihat sangat berbeda dari biasanya, ia tidak begitu kejam dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti biasanya.
"Sampai kapan aku akan mengkonsumsi obat pahit ini? merepokan tenggorokanku saja"kesal Rey. ia meminum air untuk mendorong agar obat tersebut tidak kembali keluar dari mulutnya.
"Sampai sembuh, bang Rey."saut Zahra.sementara Rey hanya terdiam dan tak begitu peduli ucapan Zahra padanya.
"Bang Rey, istirahatlah. aku ingin mencuci piring didapur, jika bang Rey butuh sesuatu beritahu saja aku.aku akan membantu." tutur Zahra. pun Rey hanya terdiam dan tak membalasnya. Zahra pun keluar dari kamar menuju dapur.
🌸🌸🌸🌸
Rey terlihat duduk diatas sofa kamar, ia duduk dengan kedua tangan yang terlihat fokus mengontak-antik laptobnya. namun kedua matanya teralihkan disaat deringan ponsel yang terdengar berada dikamarnya saat itu berdering keras. dengan perasaan kesal dan geram, Rey mencari sumber suara tersebut dan mendapati yang ternyata deringan tersebut berasal dari ponsel milik Zahra yang terletak diatas meja riasnya. Rey mengambil ponsel tersebut. dan melihat kearah layar yang tardapat panggilan masuk bernama Zero yang tertulis dilayar panggilan tersebut.
"Zero? siapa"batin Rey. ia kemudian menerima panggilan tersebut tanpa memberitahu Zahra.
"Hallo, Zahra?."panggil seorang laki-laki didalam telpon tersebut.
"Bagaimana kabarmu? aku sudah kembali ke indonesia"ucap seorang laki-laki ditelpon tersebut yang tak lain Zero.
"Siaps kau?.ada perlu apa menelpon Zahra?"tanya Rey.
"Justru kau yang siapa?dimana Zahra?"tanya Zero.
"Jangan mengganggu Zahra!"ketus Rey. ia mematikan panghilan tersebut dan kembali meletakan ponsel Zahra keatas meja.
"Zahra!"panggil Rey dengan berteriak.terlihat jelas dikedua matanya yang menahan amarah. Zahra yang mendengar Rey memanggilnya, dengan cepat ia berlari menuju kamar.
"Ada apa bang Rey? apa kau butuh sesuatu?"tanya Zahra ketika sampai kekamar. namun, Rey bukanya menjawab pertanyaan Zahra ia malah memperhatikan Zahra dengan tajam dan menakutkan.
"Siapa Zero?"tanya Rey. ia memperhatikan Zahra dengan menajamkan kedua bola matanya.sampai-sampai udara dikamar itu pun serasa sangat tidak baik bagi Zahra.
"Zero? dari mana bang Rey tau Zero?"tanya Zahra heran.ia bertanya dengan penuh keraguan pada Rey.
"Cepat jawab siapa Zero?"Rey bertanya dengan mengeraskan suaranya.
"Zero teman ku dimasa SMA dulu"jelas Zahra. ia menundukan pandangannya karena saking takutnya meligat Rey yang menatapnya.
"Teman SMA kau dulu? atau kekasihmu?. berani sekali kau bermain dibelakang ku sekarang!"ketus Rey.
"Kekasih? tidak, dia hanya teman semasa SMA ku dulu"jelas Zahra menyakinkan Rey.
"Zero? bagaimana bang Rey tau Zero?"batin Zahra.
"Berhenti bermain-main Zahra. jika benar dia kekasihmu, kau akan meraskan akibatnya"ucap Rey. ia berlalu keluar meninggalkan Zahra dikamar.
"Ada apa denganya?, bukankah dia tidak peduli apa urusanku? tapi malah mencampuri urusanku"Zahra dibuat heran dengan tingkah Rey sekarang ini. ia tidak dapat mempridiksi sedikit pun dengan isi dipikiran Rey. Zahra memperhatikan Rey yang telah menghilang dibalik pintu.
"Kepalanya masih belum sembuh tapi nekat keluar kamar"ucap Zahra. ia tidak habis pikir dengan suaminya itu. suami? tentu saja, pernikahan yang sudah terlanjur sah tentu saja sudah menjadi suami. Zahra ingin mengejajar Rey untuk menjelaskan. namun, ia urungkan kembali karena Zahra lebih memilih untuk diam lebih dulu ketika emosi Rey kembali stabil. lagi pula apa gunanya menjelaskan apa-apa tentang dirinya ke Rey, pernikahan mereka terjadi pun disebabkan balas dendam Rey padanya saja bukan karena saling mencintai.
"Tidak perlu dijelaskan, bukankah pernikahan ini lantaran bencinya pada ku?. jadi apa gunanya aku harus menjelaskan apapun."pikir Zahra. ia memilih untuk diam dan tidak memikirkan lagi. Zahra kembali kedapur untuk kembali menyelesaikan pekerjaan cuci piringnya. ada pun Rey memilih duduk sendiri diruang pribadinya atau perpustakaan miliknya untuk meredakan emosinya sembari membaca buku-buku yang ada.
Readers🥰 setelah dibaca bantu vote serta tinggalkan like dan komentarnya juga ya🥰. karena vote dan like dari kalian membantu author menjadi semakin semangat untuk menulis dan menamatkan cerita nya. terimakasih.
saling menyemangati 💓💓💪💪
so sweet ceritanya kak...
tak tunggu ya kak up.nya 🥰