MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI
Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Ayah Basith dan Bunda Ayu menatap lekat ke arah kedua mata Syakir yang juga sedang menatap kedua orang tuanya.
Pagi ini acara sarapan pagi sedikit ada ketegangan seperti malam tadi. Nenek Sugondo berusaha menjadi penengah antara Ayah Basith dan Bunda Ayu dengan Syakir.
Syakir yang bersikukuh untuk tetap menikahi Kirana dengan berbagai alasan syakir, satu diantaranya adalah karena jodoh, cinta dan takdir, semua itu bukan hanya keinginan Syakir sebagai laki-laki nirmal, namun memang Allah SWT sudah meridhoi jalan mereka agar lancar.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran seperti ini, Basith?" tanya Nenek Sugondo dengan suara pelan dan menghabiskan sarapan paginya hingga tak bersisa.
Ayah Basith menatap kedua mata Nenek Sugondo, ada perasaan kecewa saat Ayah Basith seperti ragu dan kurang ikhlas memberikan restu dan ridho untuk permintaan Syakir.
"Bukan Basith tidak ikhlas dan tidak ridho, tapi Basith hanya melihat dari kaca mata Basith sebagai orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, terlebih Syakir adalah putra semata wayang Basith, tentu Basith akan lebih posesif dalam memilihkan jodoh, sehingga tidak ada salah jodoh di kemudian hari," ucap Basit pelan menjelaskan.
Nenek Sugondo hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan Basith.
"Memberikan yang terbaik itu, yang seperti apa, Basith?" tanya Nenek Sugondo kemudian.
"Segala sesuatu yang bisa membuat Syakir bahagia dan bangga atas pilihan orang tuanya, karena setiap orang tua tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk anaknya," jawab Badut pelan menjelaskan.
Basith adalah anak sulung Nenek Sugondo, sedangkan anak bungsunya sudah lama meninggal karena sakit parah yang di deritanya.
Nenek Sugondo hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu meneguk air teh manis panas di dalam gelas yang sudah tersedia di meja makan.
Napasnya ditarik dalam hingga merasakan jantungnya ikut tertarik ke atas, dan dihembuskan secara perlahan.
Syakir menatap Nenek Sugondo dengan wajah sendu, selama ini hanya Nenek Sugondo yang selalu mendukung apapun yang diinginkan oleh Syakir.
"Bunda mohon, pikirkan kembali Syakir, tentang pernikahan kamu dengan Kirana, jangan sampai Kirana memanfaatkan kondisi dan keadaannya sebagai anak piatu," ucap Bunda Ayu pelan.
Nenek Sugondo menatap tajam ke arah Bunda Ayu dan mengebrak meja makan dengan keras.
"Ayu!! Seharusnya kamu lebih bisa memakai batinmu, rasakan ketulusan Syakir keoada Kirana, semua itu pakai hati bukan nafsu. Beberapa bulan Syakir berada di rumah ini, tidak pernah melakukan hal-hal tidak baik dan negatif. Lalu apa alasan kamu sebagai Ibu tidak memberikan apa yang anaknya inginkan?" tegas Nenek Sugondo kepada Ayu, istri Basith.
"Ibu, Ayu pasti tahu, apa yang harus Ayu lakukan untuk Syakir. Syakir itu anak kandung Ayu, tidak mungkin Ayu menjerumuskan Syakir ke dalam lubang dosa," ucap Basith dengan nada tinggi.
Nenek Sugondo menatap tajam kepada Syakir dan tersenyum kecut. Syakir menatap kedua orang tuanya dan Nenek Sugondo yang sedang beradu mulut.
"Syakir, bawa Kirana kemari. Nenek ingin mengenalnya lebih baik lagi, jika orang tuamu tidak mau menikahkan kamu, pernikahan kamu menjadi tanggung jawab Nenek," ucap Nenek Sugondo dengan tegas.
"Baik Nek, Syakir permisi dulu untuk menjemput Kirana," jawab Syakir dengan suara pelan dan beranjak dari kursi makannya lalu pergi menuju rumah Kirana.
Syakir sudah pergi ke rumah Kirana untuk mengajak Kirana memenuhi undangan dari Nenek Sugondo dan bertemu dengan Ayah Basith dan Bunda Ayu, keduanya merupakan orang tua kandung Syakir.
"Ada apa sebenarnya, kenapa kalian bersikukuh dengan alasan kasihan, itu apa?" tanya Nenek Sugondo.
Ayah Basith dan Bunda Ayu saling menoleh dan saling bertatapan saat pertanyaan itu meluncur dengan mudahnya dari bibir Nenek Sugondo.
Ayah Basith menarik napas dalam kakau mengeluarkan hembusan napas itu perlahan. Jantungnya terpompa Hinga detakanny begitu terasa sangat keras dan cepat. Ada rasa cemas dan rasa panik menyelimuti hati dan pikiran Ayah Basith. Ingin rasanya mengeluarkan rasa bingungnya sejak semalaman Ayah Basith pikirkan dan menjadi beban tersendiri dalam dirinya.
"Cerita sama Ibu, ada apa ini sebenarnya? Kalian berdua itu seperti menutupi sesuatu hal dari Ibu? Apa itu?" tanya Nenek Sugondo pelan sambil memajukan tubuhnya dan menatap anak dan menantunya secara bergantian.
Lagi-lagi Ayah Basith dan Bunda Ayu menoleh dan saling bertatapan seolah saling mengatakan, kamu saja yang cerita aku takut, kamu saja yang mengungkap tabir ini aku tidak sanggup.
"Sebenarnya memang ada Bu, dan ini yang membuat kami berdua bingung sejak malam," jawab Ayu pelan sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar jawaban dari Ayu, Nenek Sugondo menatap anak menantunya itu dengan lekat. Ayu tidak berbau membalas tatapan mata Nenek Sugondo, Ayu lebih memilih menundukkan kepalanya dan terdiam membisu setelah menjawab pertanyaan Nenek Sugondo.
"Ada apa ini, cepat katakan Basit, jangan bicara setengah-setengah dan berbelit seperti ini, membuat Ibubjadi semakin penasaran," ucap Nenek Sugondo dengan sedikit kesal. Nenek Sugondo adalah orang tia, tapi mengapa seperti sedang dipermainkan oleh anak dan menantunya sendiri.
Bunda Ayu melirik dan mencubit dengkul Ayah Basith dari bawah meja, agar mau bicara semua tentang rahasia belasan tahun lalu.
Ayah Basith hanya meringis kesakitan saat jari-jari mungil Bunda Ayu memutar kulit sekitar dengkul, rasanya sakit dan sedikit panas, hingga cubitan itu membekas warna kebiruan disana.
"Jadi begini Bu," ucap Ayah Basith pelan dan terbata-bata.
"Apa? Tolong yang jelas dan berurutan?" tegas Nenek Sugondo dengan suara keras.
Ayah Basith menarik napas dalam lagi, dan menghembuskan napas itu perlahan seolah menenangkan hati dan pikirannya agar tidak membuatnya terbebani sepanjang masa.
"Jadi begini Bu, tabir ini sudah terjadi belasan tahun lalu, saat Ayu akan melahirkan. Ibu ingat, Ibu dan Bapak tidak sedang berada di Indonesia, saat itu Basith masih dalam perjalan pulang dari luar kota, dan Ayu tinggal dirumah sendirian, kebetulan asisten rumah tangga yang seharusnya menjaga Ayu tiba-tiba orang tuanya meninggal dan harus pulang ke kampung halamannya. Perkiraan kelahiran Ayu masih dua Minggu lagi, tapi malam itu perutnya begitu mulas dan tidak tertahankan lagi untuk melahirkan saat itu juga. Ayu tidak punya pilihan lain, selain pergi sendiri mencari bidan untuk membantu proses persalinannya. Tubuhnya sudah lemas, wajahnya sudah pucat pasi seperti mayat hidup. Ayu berjalan menyusuri jalan gang dirumahnya menuju jalan besar untuk meminta pertolongan, perutnya yang besar dan terasa nyeri di bagian pinggang membuat jalannya pun tertatih-tatih dan begitu pelan, hingga hujan deras mengguyur jalanan yang dilalui Ayu, dan Ayu terus berjalan hingga tudaknsadarakan diri. Tubuhnya sudah lemas dan tidak berdaya, jatuh terkulai lemas di aspal jalanan, perut besarnya membentur sebuah batu besar yang mengakibatkan pendarahan hebat keluar dari jalan lahirnya," ucap Basith pelan menjelaskan. Kedua matanya basah mengingat kejadian belasan tahun lalu.
miris pola pikir mu thor
belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain
belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban
renungkan lah
kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana
mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana