"ISTIKHARAH pada hakikatnya bukan untuk memilih diantara dua pilihan, tapi untuk menetapkan hati disatu pilihan." Anisa Rahman.
"CINTA adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati, dan terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh." Rahmat Hidayatullah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOA DALAM ISTIKHARAH
"Jika kita sudah meyakini bahwa semua takdir sudah tertulis di Lauh Mahfudz, maka kita tidak akan serumit itu menghadapi hidup. Apa lagi perkara soal jodoh. Bukankah doa dalam shalat Istikharah sudah sangat jelas pemaknaannya" jawab Anisa pada salah satu santri putri yang bertanya pada nya.
"Jika dia baik untukku, untuk agamaku, untuk masa depanku, untuk keluargaku, untuk dunia dan akhiratku, maka dekatkanlah. Jika tidak, maka jauhkanlah." sambungnya.
"Untuk itu, tenanglah. Allah sesungguhnya lebih tahu segala perkara. Cukuplah meminta yang terbaik menurut-Nya, bukan menurut hawa nafsu kita. Berseralah pada-Nya, pada apapun keputusan-Nya." ucap nya lagi menjelaskan.
"Bagaimana, apa bisa di pahami?" tanya nya kemudian.
Para santri putri saling menatap, kemudian serentak menjawab. "Paham Kak Anisa."
"Alhamdulillah kalau semua nya sudah paham." ucap Hanifah yang entah sejak kapan berada di belakang Anisa. Membuat Anisa sedikit terkejut dan dengan gerakan cepat menoleh ke belakang.
"Mbak Hanifah... " ucap Anisa kemudian menggeserkan duduknya sejajar dengan Hanifah.
"Siapa tadi yang bertanya soal jodoh pada Kak Anisa?" tanya Hanifah pada para santri putri.
"Sa-ya..." jawab salah satu santri putri dengan gugup sambil mengangkat tangannya.
Hanifah tersenyum pada santri itu.
"Jodoh itu tidak ada yang tahu, maka yang perlu kita lakukan adalah berbenah dan mempersiapkan diri, agar kita tidak di pertemukan dengan jodoh kita dalam keadaan yang berantakan." ujar Hanifah.
Para santri putri serentak mengangguk mengerti.
"Suatu hari nanti kamu akan dipertemukan seseorang yang memang sudah ditakdirkan untukmu. Dimana kamu tak perlu memaksakan hatimu untuk mencintainya, dan kamu pun tak perlu memaksakan dirinya untuk mencintaimu. Karena tanpa diminta, kalian akan merasa selalu ingin terus bersama. Dan nanti apa yang membuatmu menutup segala rasa, kamu akan memahaminya. Bahwa Allah sengaja mengunci pintu hatimu agar dibuka oleh dia yang tak mengerti caranya pergi." sambungnya.
Salah satu santri putri mengangkat tangannya hendak bertanya.
"Yah silahkan bertanya, In Sya Allah Mbak akan jawab sebisa Mbak." ucap Hanifah sambil tersenyum.
"Kakak perempuan saya punya pacar, dan mereka sudah berpacaran selama tiga tahun. Tapi pacar kakak saya itu seperti gak punya keseriusan atas hubungan yang dia jalin bersama kakak saya, padahal kakak saya sangat berharap pada pacar nya itu. Dan minggu lalu kakak saya datang memberitahu saya, kalau dia di lamar oleh laki-laki yang dia gak suka. Jadi bagaimana menurut Mbak Hanifah tentang kisah kakak saya ini?" tanya salah satu santri putri itu setelah menceritakan tentang kakak nya.
"Nah ini dia. Sering kali yang didamba, justru Allah jauhkan, namun yang diabaikan justru semakin Allah dekatkan. Begitulah takdir. Kita tidak bisa mengatur agar ketetapan Allah sesuai dengan apa yang kita inginkan. Yang bisa dilakukan hanyalah berserah, merunduk dengan penuh kepasrahan, lalu bertanya dengan nada yang merendah. 'Ya Rabb, apa maksud-Mu dari semua ini? Berilah Petunjuk. Jika memang yang kuinginkan itu buruk bagiku, maka tolong hilangkan setitik rasa di hatiku ini untuknya. Dan jika seseorang yang Engkau dekatkan ini baik untukku, maka mudahkan dan yakinkan diriku. Serta izinkan aku bisa mencintainya suatu saat nanti." jawab Hanifah.
"Jadi nanti kalau kakakmu datang lagi menemui mu, katakan seperti itu pada nya ya." ucap nya pada santri yang bertanya itu. Namun tatapannya justru tertuju pada Anisa.
"Suruh kakak mu ber Istikharah, minta petunjuk sama Allah, yang mana yang terbaik untuknya. Seperti yang sudah di jelaskan sama Kak Anisa tadi." ujar Hanifah lagi, masih dengan menatap Anisa.
"Iya, Mbak." jawab santri itu. "Terima kasih arahannya, nanti akan saya sampaikan pada kakak saya." ucap nya.
"Sama-sama." jawab Hanifah sambil tersenyum, namun beberapa saat kemudian senyumnya seketika berubah jadi raut terkejut saat mengingat tujuan utamanya datang ke asrama.
"Astaghfirulah, Mbak lupa, Nis." ucap Hanifah sembari menatap Anisa.
"Lupa apa ya Mbak?" tanya Anisa.
"Sebenarnya Mbak kesini tuh disuruh sama Abi buat panggil kamu." jawab Hanifah.
"Di panggil Abi, ada apa ya Mbak?" tanya Anisa lagi.
"Kamu ikut aja ya, nanti kamu bakal tau sendiri." ujar Hanifah, kemudian berdiri dari tempat duduknya, begitupun dengan Anisa.
Setelah berpamitan pada para santri putri, Anisa dan Hanifah beriringan keluar dari asrama kemudian menuju di mana abi Ridwan dan yang lainnya sudah menunggu mereka.
Tak lama kemudian, Anisa dan Hanifah telah sampai di ruangan yang entah kenapa suasana nya begitu menegangkan menurut Anisa. Bagaimana tidak, di ruangan itu abi Ridwan dan umi Kalsum menatapnya tanpa ekpresi apapun, tak seperti biasanya dua paruh baya itu akan tersenyum bila melihatnya. Belum lagi Rahmat yang tak melepaskan pandangannya sedikit pun saat ia tiba di ruangan itu, membuat Anisa serasa ingin lari dari sana.
"Maaf Abi, ada apa ya memanggil ku? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Anisa yang masih berdiri di sisi sofa.
Abi Ridwan menggelengkan kepalanya. "Tidak, kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun." jawab abi Ridwan kemudian meraih ponselnya yang berada di atas meja. "Justru kamilah yang melakukan kesalahan." ucap nya yang membuat Anisa menatapnya dengan bingung.
Abi Ridwan pun menelpon seseorang yang turut berperan atas pengakuan yang akan ia katakan pada Anisa.
"Maaf Abi, maksud Abi apa ya?" aku tidak mengerti." tanya Anisa lagi.
"Duduklah dulu, sebelum kami mengutarakan yang sebenarnya padamu, ada baik nya kamu berbicara terlebih dulu dengan seseorang yang sedang Abi telelepon." ucap Abi Ridwan.
Anisa pun duduk di antara umi Kalsum dan Hanifah.
"Assalamualaikum, hari ini kami memutuskan untuk memberitahu nya yang sebenarnya. Bicaralah dengannya dulu, baru setelah itu kami yang akan berbicara pada nya." ucap Abi Ridwan pada seseorang di ujung telephone.
Setelah mendapat persetujuan dari seseorang yang di telephone nya, abi Ridwan menyerahkan ponselnya pada Anisa.
"Ini bicaralah dengannya." ujar abi Ridwan sambil mengulurkan ponselnya pada Anisa.
Meski bingung dan tidak mengerti apapun, Anisa menurut saja mengambil ponsel itu kemudian menempelkan di telinganya.
"Ha-lo Assalamualaikum...
"Waalaikum salam, bagaimana kabar mu, Nak?"
Anisa terhenyak mendengar suara yang sangat familiar di ujung telephone, suara yang sangat dirindukannya selama dua bulan ini. Namun ia tak berani menemui nya.
"A-yah...
"Iya Nak, ini Ayah." di sana, pak Usman menitihkan air matanya. Karena selama dua bulan akhirnya hari ini ia bisa mendengarkan suara putri nya yang sudah dua bulan ini tidak pernah ia lihat.
Begitupun dengan Anisa, ia tak bisa menahan air matanya lagi agar tak jatuh. Ia tak perduli terhadap orang-orang yang ada di ruangan itu. Rasa rindu yang begitu menggebu kini sedikit terobati setelah mendengar suara ayah nya meski hanya lewat sambungan telephone.
seandainya dia crt ke rahmat atau abi ridwan soal mimpinya
jazakillah khairan thor, sukses selalu dlm karya2 nya
🥰🥰🥰🥰
thot terima kasih, jazakillah khairon 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰 🤗🤗🤗🤗🤗🤗
.
bukan rambut kepala di sambung dgn rambut saja.
.
beda daerah beda panggil an kali yahh..