Najma gadis belia sebatang kara, bertemu dengan seorang Dokter tampan idola gadis di rumah sakit, bagaimana kehidupan mereka? Apakah sanggup Najma menghadapi kenyataan bahwa suaminya diinginkan banyak wanita lain...
.. Ini hanya fiksi, happy reading dear 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villa Keluarga Rahman
Pukul delapan pagi, Najma membuka tokonya setelah bersih-bersih, Risma juga sudah datang, dan Qumil yang diminta membantu juga sudah siap.
"Nanti tenang aja di sana Ama, gak usah mikirin toko, yang penting kamu senang-senang," tutur Qumil.
"Iya Qumil sayang, tapi bentar lagi kamu uda mulai masuk kuliah ya, pasti sepi, terus ga ada yang temenin tidur sini," ucap Najma yang teringat kalau Qumil akan ke luar kota untuk kuliah.
"Ya, bukannya kamu juga segera menikah dengan salah satu dokter itu," goda Qumil.
"Sampai sekarang, aku masih belum berani berharap banyak Mil, belum tentu juga mereka setelah ini masih menyukaiku," gumam Najma.
"Yee, pede aja lagi, pokoknya nanti jadi diri kamu sendiri, kamu itu orang baik, tulus, jadi in syaa Allah mereka akan suka," ucap Qumil menyemangati Najma.
"Assalamualaikum,"
Najma dan Qumil menoleh ke arah pintu, ternyata Ardi datang menjemput Najma.
"Waalaikumusalam," jawab Najma dan Qumil.
"Kamu sudah siap?" tanya Ardi.
"Iya, tante mana?" Najma balik tanya.
"Di mobil sama papa, itu apa?" tanya Ardi sambil menunjuk paper bag di tangan Najma.
"Ini hadiah buat Salma," sahut Najma.
"Salma?" tanya Ardi.
"I..iya, kenapa?" Najma balik bertanya.
"Ga papa, buat aku ga ada ya," gumam Ardi.
"Ah... iya maaf, sebentar," Najma menuju rak gabungan kunci dan mengambil beberapa.
"Ini Kak pilih sendiri," ucap Najma lalu menaruhnya di atas meja.
"Eh, aku cuma bercanda, maaf jangan repot-repot," ucap Ardi.
"Nggak kok, sebenarnya sudah lama pengen kasih, tapi belum ada kesempatan," ucap Najma.
"Oh, baiklah...aku pilih yang ini ya," ucap Ardi seraya mengambil satu buah gantungan berbentuk bintang.
"Iya, silakan, kita berangkat sekarang?" tanya Najma.
"Oh iya, mama tadi pesan kamu disuruh bawa baju ganti," tutur Ardi.
"Ah sebentar kalau begitu, saya ambil dulu," sahut Najma sambil berlari ke atas di susul Qumil.
"Cieee, diajak nginap, hmm pasti huuu," goda Qumil.
"Apasih kamu Qumil," ucap Najma sembari melipat gamis dan jilbabnya lalu memasukkannya ke dalam tote bag.
"Udah yuk turun, jangan banyak omong, titip toko, kunci yang bener," pesan Najma, sambil menuruni tangga diikuti Qumil.
"Baik Bos," sahut Qumil.
"Sudah?" tanya Ardi.
"Sudah Kak," sahut Najma.
"Yuk," ucap Ardi.
"Kami pergi dulu ya," Najma pamit.
"Mari Mba Qumil," ucap Ardi seraya membuka pintu kaca dan menunggu Najma keluar, kemudian ia mengikuti Najma dari belakang.
"Kamu duduk di belakang sama mama ya, aku gak enak kalau kita di depan, nanti takut ada rasa-rasa yang harusnya belum saatnya kita rasakan," ucap Ardi kemudian membuka pintu tengah mobil range roper hitamnya itu. Di dalam sudah ada Hamida bersama Rahman.
"Assalamualaikum," sapa Najma.
"Waalaikumusalam," jawab Hamida dan Rahman, Ardi juga ikut menjawab, karena memang wajib menjawab salam.
"Papa di depan ya temani aku," pinta Ardi.
"Kalian aja di depan," sahut Rahman.
"Pa, plis," Rahman sudah tau maksud Ardi hingga dia pindah ke bangku depan.
"Kamu masuk, eh mana tas bajumu, aku taruh belakang," tutur Ardi.
"Ini kak," ucap Najma sambil menyerahkan tas nya. Kemudian dia naik ke mobil dan duduk di samping Hamida.
"Maaf ya Om, Tante, tadi nunggu agak lama, masih nyiapkan baju tadi, Kak Ardi bilangnya dadakan pas datang," kata Najma.
"Ga papa sayang, kita ga buru-buru kok," ucap Hamida.
Setelah itu mereka berangkat menuju villa di luar kota, mobil mereka beriringan dengan mobil Arya kakak Ardi.
Setelah dua jam perjalanan mereka sampai di villa milik Rahman. Pak Amin dan bu Sri yang membersihkan villa itu menyambut mereka.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumusalam,"
"Ini siapa?" tanya Pak Amin yang melihat gadis bercadar.
"Calonnya Ardi," sahut Hamida setengah berbisik namun masih terdengar.
"Oh, ma syaa Allah, ya ya, sudah waktunya ya Mas Ardi," bu Sri ikut senang.
Najma hanya tersenyum dibalik cadarnya.
"Baiklah, kami pamit dulu Pak Rahman, Bu Hamida, semua yang dipesan sudah kami sediakan, kalau perlu apa-apa lagi langsungkan telpon saja nanti," ucap Pak Amin berpamitan agar keluarga majikannya itu bisa leluasa beristirahat di villa mereka.
" Yuk masuk semuanya, eh iya kenalin dulu, ini Arya, kakaknya Ardi," ucap Hamida mengenalkan Najma pada Arya, Najma mengangkup kedua tangan, begitu pula Arya.
"Ini Sarah istrinya," lanjut Hamida. Najma menyalami Sarah.
"Hai Najma," sapa Sarah, Najma hanya tersenyum.
"Dan ini cucu cantikku Salma, ayo Salma salim tante," tutur Hamida. Salma dengan patuh menyalami Najma dan mencium punggung tangannya.
"Ma syaa Allah manis sekali," ucap Najma sambil mencemol pipi gembul Salma.
"Gendong, gendong," pinta Salma sambil mengarahkan kedua tangannya pada Najma.
"Ayo sama Om aja, tante capek, nanti main sama tante lagi, yuk yuk," Ardi meraih anak itu dan menggendongnya kemudian masuk ke dalam rumah.
"Yeeee!!!" seru Salma yang senang digendong siapapun.
"Di villa ini kamarnya ada tiga, satu kamar Om dan Tante, satu kamar Arya, satu kamar Ardi," tutur Hamida, Najma mendengarkan sambil berjalan di sisi Hamida dan Sarah.
"Kamu nanti tidur di kamar Ardi ya Ama," lanjut Hamida.
"Ha.. apa? Jangan, jangan tante saya tidur di luar kamar saja," Najma menolak.
"Jangan di luar, saya tau kamu gak boleh tidur sama Ardi, jadi saya yang akan nemenin kamu di kamar Ardi," sahut Hamida.
"Oh, kirain," Najma merasa malu.
Setelah meletakkan barang-barang mereka di kamar, dan berganti baju yang lebih santai, mereka berkumpul di ruang keluarga. Najma juga sudah berganti dengan gamis rayon yang nyaman untuk beraktifitas di rumah.
Arya sang pengusaha kuliner sedang sibuk di dapur sendirian. Dia sedang menyiapkan makan siang. Sementara yang lain bermain bersama Salma di ruang tengah.
"Kamu dari tadi nengok ke dapur, ada apa? Sudah laper ya?" tanya Ardi pada Najma yang ia perhatikan terus menoleh ke dapur.
"Pengen bantuin Mas Arya, tapi sungkan," sahut Najma.
"Biarin aja dia masak sendiri, kalau dibantuin malah nyusahin dia katanya," sahut Hamida.
"Oh iya Tante,"
"Makan siang sudah siap!!" teriak Arya sang chef dari dapur. Mereka semua kemudian menuju meja makan, di sana terlihat tiga mangkuk mie dengan saus berwarna hitam, dan tiga mangkuk mie kuah merah dengan seafood di atasnya, juga dua piring ayam asam manis yang terlihat menggoda.
"Ini aku coba jajangmyeon dan jjampong, juga tangsuyuk, sekarang lagi booming makanan korea, aku pengen buka satu resto makanan korea yang halal, cobain ya, terus kurangnya apa nanti kasih tau, sekarang silakan makan, Ama kenyangin makannya, jangan malu-malu," tutur putra sulung keluarga Abdurrahman Sholih itu.
meweeekkkkkkk
nyimak ya thor
drpd ntar kentut....khan repot
wkwkwk
Semoga. gajadi salah paham ya Najwa kan ga tau juga kalau yg diruangan Ardi ada orang lain
Jangan buat ulah ya Sabrina
ayooo dong kak semangat jarang" up date kok cuma 1 bab ga terasa. loh bacanya kalau cuma segitu. doang 😕
Meski bakal tambah sibuk, tetap harus perhatian ama keluarga ya..