Tias tidak pernah menyangka kalau ternyata pilihannya untuk tinggal bersama neneknya malah membuatnya bertemu dengan orang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya.
Tias kira dengan jabatan yang cukup disegani di kampung membuat orang itu punya rasa malu untuk sekedar menggodanya di depan umum. Tapi bukannya merasa malu orang itu malah terang terangan berkata ingin menikahinya meskipun banyak warga yang melihatnya.
" Dek Tias mau nggak jadi calon ibu Kades di sini ? Enggak perlu daftar langsung saya terima."
" Nggak."
" Kalau nggak mau daftar langsung saya nikahi aja ya. Gimana ?"
" Ih ! Aku nggak mau punya suami Kepala Desa."
" Jadi dek Tias maunya dapat suami yang kayak mana ?"
" Kayak pemulung."
" Kalau gitu besok saya turun jabatan jadi pemulung. Biar bisa nikahi dek Tias terus kita mungut sampah bareng bareng. Bagus juga keinginannya dek Tias."
" Astaga !" Tias berteriak kencang merasa frustasi menghadapi sikap Kades muda yang sangat menyebalkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maysar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekurangan Tias
Tias menggeliat malas di atas ranjang. Matanya berkedip pelan saat merasakan sinar matahari tertangkap di retina matanya. Sepertinya sudah terang, pikirnya. Tapi untuk beberapa saat Tias terdiam seperti memikirkan sesuatu dengan kata sudah terang itu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat detik.
" Astaga mak! Gue nggak sholat subuh tadi !" Tias langsung terduduk di atas ranjangnya dengan mata mencari panik keberadaan jam dinding di kamarnya.
" Mampus udah jam tujuh juga tuh. Alamat diomelin nenek ini." gumamnya.
Tias melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Tanpa mandi ia berjalan cepat keluar kamar dengan tangan sibuk menyisir rambut panjangnya. Semoga saja kalau diginikan rambutnya masih bisa rapih.
" Kok udah bangun, nggak kurang tidurnya ? Masih jam tujuh ini, masih banyak waktu buat tidur." ucap nenek Ruwi.
Tias meringis di dalam hati meruntuki kesalahannya. Lagian ini bukan salahnya juga karena tadi malam Tias pulang hampir jam dua belas malam. Seharusnya neneknya juga menyalahkan si Kades muda yang tidak memberitahunya kalau kumpulan itu bisa memakan waktu yang sangat lama bukannya sebentar.
" Biasakan aja bangun jam segini sampai malaikat yang bangunin kamu sendiri." nenek Ruwi meletakkan kasar piring dan segelas susu di depan Tias.
" Anak gadis kok bangunnya nunggu terang dulu." lanjutnya dengan mata yang memandang sinis.
Tias mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa canggungnya. Sudah beberapa hari ia tinggal di sini tapi tetap saja kebiasaannya dulu tidak bisa Tias hindari.
" Maaf nek, besok besok nggak Tias ulangi lagi." ucapnya.
Nenek Ruwi menghela napas dan duduk di seberang meja makan yang berhadapan dengan Tias. " Nenek ngomel kayak gini karena kamu salah."
" Tias tahu." Tias menundukkan kepalanya.
" Ya udah untuk sekarang nggak apa apa asal besok jangan diulangi lagi."
Tias mengangguk dan tersenyum lega. Dulu waktu di Jakarta yang Tias tahu hanyalah sekolah dan terkurung di dalam rumah dengan berbagai berkas kantor. Interaksi adalah hal yang sangat jarang dilakukannya karena waktu Tias yang terbatas. Selain adiknya yang sering mencari masalah dengannya Tias tidak memiliki hiburan lain apapun lagi.
Jadi saat ia diajak pak Kades keperkumpulan tadi malam. Tias merasa sangat senang sekali karena untuk pertama kalinya ia bisa berinteraksi dengan banyak orang. Tapi karena itu juga ia jadi lupa waktu dan berakhir bangun telat tanpa sholat subuh dulu.
" Heh, makan jangan dipelototi itu makanannya." ucap nenek Ruwi.
Tias tersentak dan langsung memakan makanannya. " Nek." ia memanggil pelan.
" Hm ?"
" Menurut nenek, Tias bisa nggak ya berteman sama orang orang di Kampung ini ?"
Nenek Ruwi memandang cucunya bingung. " Maksud kamu ?"
" Tias kan selama ini cuma tahu sekolah sama rumah aja. Kalau pun sibuk itu pasti ngurusin berkas kantor papa. Tias nggak pernah punya teman atau berinteraksi bebas sama banyak kenalan. Tias takut sikap Tias terlalu aneh dilihat orang. Masa iya orang kota tapi kok nggak ada keren kerennya sedikit." ucap Tias.
Nenek Ruwi tersenyum mendengar ucapan itu. Meski dalam hati ia merasakan marah untuk anak dan menantunya yang tidak bisa membagi rata kasih sayang mereka untuk cucunya. " Kamu tadi malam gimana kenalan sama pemuda pemudi di sini ?"
" Yah gitu."
" Gitu gimana ?"
Tias melemaskan bahunya ke bawah. " Tias masih malu dipandangi banyak orang. Rasanya tuh kepercayaan diri Tias langsung hilang kalau diliatin kayak gitu. Ya walaupun Tias tahu mereka cuma mau kenalan aja sama Tias tapi tetap aja Tias nggak terbiasa."
" Tapi kamu bisa kan kenalan sama mereka ?" nenek Ruwi bertanya lagi.
Tias mengangguk lemah. " Bisa tapi malu maluin." ucapnya pelan.
Nenek Ruwi tertawa dan menepuk punggung tangan Tias untuk membuatnya tenang. " Kamu harus terbiasa, dan pelan pelan aja nggak usah langsung spontan. Nenek yakin kamu pasti bisa berubah di sini. Lagian kamu juga harus berani buat ngadepin masa depan kan ? Katanya mau jadi pembisnis muda tapi kok langsung down gini dihadapan banyak orang. Berani dong, dan tunjukkin kalau kamu Tias cucu nenek yang pemberani dan juga cerdas."
Perlahan kepercayaan diri Tias kembali lagi. Inilah kekurangannya yang tidak semua orang tahu. Tias mungkin memiliki otak yang jenius dengan berbagai macam bakat yang mampu dikuasainya. Tapi dari semua kelebihannya itu Tias kurang dalam rasa percaya dirinya. Kekurangannya ini ia dapatkan hasil dari cara mendidik kedua orang tuanya yang selalu pilih kasih.
Neneknya benar, di kota mungkin Tias tidak bisa melepaskan kekurangannya ini. Tapi di Kampung ini banyak orang yang ramah dan menerimanya dengan tangan terbuka. Tias harus bisa lebih percaya diri dan berhenti bersikap malu di depan orang lain.
" Iya Tias pasti belajar buat lebih berani lagi dan berusaha buat nggak malu di depan orang lain."
" Itu baru cucu nenek." nenek Ruwi berucap bangga.
" Tapi kalau Tias nggak bisa gimana nek ?" tanya Tias.
" Lah ! Baru juga kamu percaya diri sekarang malah langsung ragu. Kamu niat nggak sih buat berubah hah ?!" nenek Ruwi mengeluarkan suaranya omelannya.
Tias tertawa merasa berhasil mengerjai neneknya. " Tias cuma bercanda nek. Tias juga sadar kok kalau ke depannya nanti masalah yang Tias hadapi pasti lebih besar lagi. Semua itu nggak bisa Tias hadapi kalau Tias nggak bisa menutupi kekurangan Tias ini."
Nenek Ruwi menganggukkan kepalanya dan menatap Tias serius. " Jangan kecewakan harapan paman kamu. Meski kamu pernah jauh dari kami dan sudah berubah. Tapi nenek harap kamu masih bisa mengingat semua ucapan yang paman kamu ajarkan."
" Tias masih ingat kok." ucap Tias.
" Bagus, pertahanan kepercayaan diri kamu ini." balas nenek Ruwi.
Tias tersenyum dan memandang makanannya yang masih sisa setengah. " Nek makanannya asin kali. Nenek minta nikah lagi ya ?"
Mata nenek Ruwi langsung mendelik kesal. " Mulut kamu !"
Tias terkekeh menatap neneknya. " Habisnya makanannya asin kali nek."
" Ya terus apa hubungannya makanan asin sama nenek yang mau nikah lagi hah ?!" nenek Ruwi bertanya dengan nada tinggi.
" Kan kata orang kalau ada perempuan masak terus keasinan berarti dia udah kebelet nikah. Itu kata orang sih, Tias kan..., nggak tahu." suara Tias semakin mengecil seiring bertambah seram delikkan mata dari neneknya saat menatapnya.
" Kata orang kamu ikuti, sesat itu." nenek Ruwi berucap kesal.
" Tapi kan nenek juga perempuan. Kata orang orang itu berarti benerlah."
" Iya tapi nggak kebelet nikah juga Tias. Lama lama ngomong sama kamu ngeselin juga ya ?!"
Tias hanya tertawa mendengarnya. Padahal ia cuma bergurau saja untuk menambah suasana pagi ini.
Thanks dah up,Kak..☺️
Lanjuttttt and ttp semangat!!💪
penuh Teka teki....
Semangat,Thor...
Calon adik????🤔
Astaghfirullah
Aq mikirnya apaaaaaa gitu yah Roti sumbu... ternyata ubi kayu...
aaaa Author Somplak!!!
Thanks infonya.....