NovelToon NovelToon
Possessive Husband

Possessive Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:863.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji Rahayu Ningsih

"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.

"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.

Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.

"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.

"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.

"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 Dicintai mu adalah keinginan ku

Suara magrib berkumandang, Tapi Rehan masih bergelut dengan berkas-berkas kerjanya. Bahkan lelaki itu sampai melupakan bahwa dirinya belum makan.

Nadia yang baru sholat langsung menghampiri suaminya, dia mencium tangan Rehan.

"Gak sholat, Rey?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Rehan malah menatap wajah istrinya dengan tatapan memuja.

Nadia tersenyum kepada Rehan, kepalanya menggeleng pelan. "Kamu sholat dulu, mengagumi aku nya nanti aja.''

Rehan mendengus, istrinya memang senang sekali membuatnya mati kutu di depannya.

"Ini juga mau ambil wudhu." Rehan berjalan kedalam kamar mandi, sedangkan Nadia membuatkan Rehan Kopi di dapur.

"Dia suka kopi manis apa pahit ya?" Otak cantik Nadia berfikir keras.

Perempuan cantik yang memiliki paras memukau itu menuangkan satu sendok makan kopi hitam kedalam gelas kecil. Menurutnya orang seperti Rehan tidak suka kopi manis, dia butuh kopi hitam agar matanya tidak mengantuk.

"Emang aku tuh istri idaman, baik, Sholeha lagi." Nadia terkikik geli, dia kembali kedalam kamarnya sambil membawa gelas kecil yang bersisi kopi hitam pahit.

***

"Tuh anak lupa atau gimana? Masa sudah hampir 2 Minggu menikah, dia sama sekali tidak datang ke rumah kita, Pah." Meli mengunyah makanannya dengan kesal. Sepertinya anak tirinya itu sudah melupakan dirinya.

"Mentang-mentang sudah punya suami kaya, dia lupa sama kita." Suara keras milik Meli membuat Aldi malas mendengarnya.

"Mungkin mereka sibuk. Namanya juga pengantin baru." Aldi menanggapi ocehan istrinya dengan santai. Wajar saja jika Nadia tidak pulang ke rumah, mungkin rumahnya disana lebih baik dan nyaman.

"Tetap saja dia tega melupakan kita." Meli meremas sendoknya.

***

Ketahuilah, Sekarang Nadia sedang terbahak melihat ekspresi wajah Rehan ketika meminum kopinya.

Rehan menjulurkan lidahnya, dia menatap kopi yang dia pegang dengan tatapan bingung.

"Kopi hitam tanpa gula?" Tebak Rehan, Nadia mengangguk. Dia membenarkan tebakan Rehan.

"Aku suka yang manis, yank." Rehan meletakkan gelas kopi yang dia pegang di atas meja.

"Kata orang, minum pahit sambil ngelihatin orang yang kita sayang itu rasanya bisa berubah manis." Nadia menatap suaminya sambil tersenyum geli. Rehan memutar kedua bola matanya malas.

"Itu gombalan lelaki alay. Mana bisa kopi pahit bisa berubah manis ketika ngelihat orang yang kita sayang. Emang orang yang kita sayang itu gula?" Lagi-lagi Nadia di buat ketawa oleh ucapan Rehan.

"Lah, walaupun pahit kamu harusnya bilang manis. Gak Switt banget sih kamu." Nadia memukul pelan pundak Rehan.

"Alah yank, pakai acara swit-swittan, gak Switt juga kamu cinta." Nadia yang tadinya ketawa langsung berhenti.

"Ngaco aja kalau ngomong." Cibir Nadia, sekarang ganti Rehan yang ketawa.

"Tinggal bilang iya apa susahnya sih, Yank?" Rehan mengacak-acak rambut Nadia. Tidak hanya itu, Rehan juga mencubit pipi chaby Nadia.

"Ih..., rambut aku jadi berantakan." Nadia beranjak dari duduknya dengan wajah di tekuk.

***

Pagi ini Nadia sedang menyirami tanaman bunga di taman samping rumahnya. Dirumah keluarga Mahendra, taman dan kolam renang di jadikan satu.

Harum bunga mawar membuat senyum Nadia merekah. Dia sangat senang merawat tanaman.

"Rey, nanti kalau kita sudah punya rumah sendiri, buat taman ya disamping rumah?" Nadia menghampiri suaminya yang sedang berenang di kolam renang. Nadia berjongkok di pinggir kolam.

"Emang mau serius sama aku? Gak mau ninggalin aku?" Rehan mendekati istrinya, dia menatap wajah cantik istrinya dengan bibir tersenyum.

Entah mengapa pertanyaan Rehan mengusik hati Nadia. Dia meremas tangannya, gugup.

Dia tidak munafik, dia terpesona dengan paras tampan Rehan, tapi dia juga tidak menampik bahwa hatinya kadang masih bercabang kepada Danil.

Byur.....

"Rehan....!!" Teriak Nadia, kesal. Bagaimana tidak? Dia sudah mandi tadi, masa sekarang mandi lagi?

Rehan sengaja menarik tangan Nadia hingga istrinya jatuh ke kolam renang.

"Salah sendiri ngalamun diatas." Kekeh Rehan, dia membelai wajah istrinya. Rehan tersenyum getir, dia tahu hati istrinya tidak hanya untuknya, tapi juga untuk lelaki lain. Dia ingin marah, protes, mengekang. Tapi semua itu sudah dia lakukan, tapi hasilnya nihil. Tidak mudah memaksa hati Nadia untuk di berikan kepadanya saja.

"Kamu pernah dengar bahwa sebrengsek-brengseknya lelaki, dia akan memilih perempuan baik untuk menemaninya menua?" Rehan seperti mengunci tatapan Nadia. Mata mereka berdua tidak terlepas, keduanya berdiri di dalam kolam renang dengan detak jantung menggila.

"Pernah, Entah itu nyata atau tidak. Karena kebanyakan lelaki lebih memilih wanita malam untuk menemaninya, sedangkan istrinya di rumah menunggunya." Nadia memalingkan wajahnya ketika berbicara seperti itu. Rehan mengangguk, dia membenarkan ucapan istrinya.

"Wanita itu hanya untuk di jadikan pemuasnya, sedangkan istrinya dia jadikan ratu dihatinya." Nadia mengerutkan keningnya, dia masih polos untuk mengerti itu.

"Maksutnya?" Rehan terkekeh, ini lah yang membuat dia jatuh cinta kepada Nadia. Perempuan itu terlihat sangat polos.

"Sebrengsek-brengseknya lelaki, tidak mungkin dia menikahi ******* untuk dia jadikan istrinya. Pasti dia akan mencari perempuan baik-baik untuk dia nikahi. Karena semua lelaki menginginkan menjadi orang pertama yang menjamah istrinya, bukan bekas orang lain. Jika dia sudah menikah, lalu dia main di luar, sedangkan istrinya menunggu di rumah, dia hanya mencari kebebasan. Mungkin istrinya tidak mau disentuh atau mungkin...." Rehan menggantungkan ucapannya.

"Dia tahu, hati istrinya tidak seutuhnya miliknya. Jadi percuma dia bercinta, sedangkan Fikiran istrinya memikirkan lelaki lain." Kali ini Nadia merasa tersindir dengan penjelasan Rehan.

"Kamu menyindir ku?" Nadia memicingkan matanya, kesal.

"Tidak, aku hanya menjelaskan pertanyaan mu tadi." Nadia memukul dada bidang Rehan. Dia ******* habis bibir Rehan.

"Sudah ku bilang, aku mencintai mu." Nadia melepas tautan bibir mereka. Dia ingin naik keatas, namun...

"Di cintai mu adalah keinginan ku, tapi untuk itu aku harus menunggu, menunggu seluruhnya hati mu untuk ku." Bisik Rehan, dia memeluk Nadia dari belakang.

***

Siang ini Rehan sedang berada di kantor bersama kedua sahabatnya. Club Malam Jeo berkembang pesat, dia juga sudah mempunyai orang kepercayaan, jadi dia bisa bermain di kantor sahabatnya.

"Cinta itu rumit ya, Je, Rey." Luwis memutar heandpone miliknya. Sepertinya lelaki itu sedang galau.

"Gaya kamu bilang cinta rumit, emang kamu udah punya pacar atau calon istri?" Jeo melempar kulit pisang hingga mengenai wajah Luwis.

"*****..., kemarin aku ketemu perempuan. Dia cantik, manis, tinggi, putih lagi." Rehan dan Jeo saling tatap, tidak biasanya Luwis segalau ini.

"Yaudah tinggal deketin, kalau udah cocok lamar, kalau perlu ajak nikah sekalian." Rehan menanggapi ucapan Luwis dengan santai.

"Jentel jadi laki-laki. Tembak, sebelum di ambil orang." Jeo terlihat bersemangat ketika memberi saran kepada Luwis.

"Emang udah di ambil orang." Luwis menyugar rambutnya kebelakang. Dia terlihat frustasi.

"Maksutnya?" Kali ini Rehan dan Jeo duduk di antara Luwis. Jeo di sebelah kanan Luwis, sedangkan Rehan duduk di sebelah kiri Luwis.

"Aku kirain waktu dia main ke rumah ku, dia single. Eh ternyata dia istri sepupu ku, kan kamvret. Mana bodynya bikin kepala desko geleng-geleng." Rehan langsung menoyor kepala Luwih ke kanan, Lalu kemudian Di toyor kembali oleh Jeo kekiri.

"Emang takdir kamu tuh jomblo Luwis, gak usah ngehayal punya istri dulu. Hutang di warung masih numpuk, kamu lunasi dulu." Ejek Jeo.

"Dasar sahabat laknat." Rehan dan Jeo tertawa lepas. Luwis-Luwis....

1
Muna Junaidi
Hadirrrr kembali thorrrr💃💃💃
Alyah Nasution
😂😂 lucu hahaha
Apih Nabila
lanjut kak
Teriyanti Yan
Musiknya terlalu brisik, sehinga suaranya kurang jelas
Rahayu
Kalau saya lanjut ceritanya masih ada yang baca?
Rita Erisha
visual + bio nya nadia donk thor
Rita Erisha
visual nadia nya donk thor
Andez Ajja
🤣🤣🤣😂😂😂😂resiko mas hhhhh
Andez Ajja
cerita xa sangat mnarik
Yana Saleh
next dong
Ulfa Sawani
asyik bacax
Ulfa Sawani
seru yaaa
Ulfa Sawani
ceritax seru yaaaa..pengen sepeti dlm cetita ini..
Reni Tri Cahyowati
lanjut thor
Onih Sumarni
.😁😁🤲
Wiwin Yustika Yustika
Lanjut dong
Öžôŕã
bunuh aja si rehan sebel aq
Öžôŕã
gedek gwe sma rehan,,,, cuma manis di mulut doang
Öžôŕã
knapa kagak keluar negri skalian thorr
Ni Made Partini
habis sampai sini Aja nih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!