Ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami yang kaya membuat Karina harus rela dimusuhi oleh ibu mertuanya.
Karena harta kekayaan sang suaminya jatuh ke tangannya hampir tujuh puluh lima persen karena kekayaan suaminya dirintisnya dari nol dengan Karina yang mendampinginya sebagai kekasihnya dan sekarang menjadi istrinya. Gelar istri yang baru disandangnya seminggu itu harus rela menjadi janda karena sang suami meninggal dalam kecelakaan karena perjalanan bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Tin tin
Suara klakson mobil mengejutkan Karina sontak mendongak. Hari ini dia pulang agak sore karena harus menemui suppliernya di daerah jalan YY. Sehingga dia pamit pada pegawainya untuk pulang setelah itu akan menemui suppliernya setelah magrib.
"Mbak mau pulang?" Tanya Johan berhenti di pinggir jalan tepat di depan butik Karina.
"Kamu dek?" Jawab Karina menghampiri Johan.
"Mau ketemu supplier nanti, pulang dulu ganti baju." Jawab Karina tersenyum ramah.
"Ayo masuk!" Ajak Johan membuka pintu mobil.
"Gak usah dek, mbak naik taksi aja. Mbak gak mau ngrepotin kamu." Tolak Karina halus.
"Gak apa mbak, aku yang akan merasa bersalah membiarkan mbak kemana-mana naik taksi sendiri. Mas Ken akan menyalahkan aku nanti." Bujuk Johan dengan wajah sedihnya membuat Karina tak mampu menolak.
"Ya udah antar mbak ke kost an aja ya?" Pinta Karina akhirnya.
"Iya deh iya." Jawab Johan tersenyum sumringah.
Keduanya kini dalam perjalanan pulang ke rumah kost Karina. Tak ada percakapan berarti yang terjadi. Karina merasa tak enak dan bersalah berkali-kali merepotkan calon adik iparnya ini. Bukan Karina tak mau, dia hanya tidak ingin timbul fitnah karena selalu berdua saja dengan calon adik iparnya. Meski semua itu diketahui oleh Ken, namun mata siapa yang tidak akan salah paham jika melihat kedekatan mereka.
"Makasih ya dek." Karina langsung turun begitu sampai di depan kostnya.
"Iya mbak, nanti aku jemput ya?" Johan melambaikan tangannya meninggalkan rumah kost Karina. Hingga Karina tak sempat menolak saat Johan menawarkan untuk menjemputnya nanti.
***
Ken membuka dasinya dan merasakan kelelahan. Dia pun masuk ke dalam rumah dengan menenteng jas dan tas kerjanya.
"Kau sudah pulang nak?" Sapa Ambar melihat putra sulungnya terlihat kelelahan.
"Assalamualaikum Bu." Ken menyalami ibunya seperti biasa. Dia langsung masuk ke dalam setelah mengganti sepatunya dengan sandal rumah.
"Wa'alaikum salam, ya sudah istirahatlah! Mau ibu siapkan makan malam?" Tawar Ambar mengikuti langkah putranya.
"Gak usah Bu, Ken sudah makan malam dengan klien tadi." Jawab Ken naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Assalamualaikum." Seru Johan masuk ke dalam rumah dengan senyum manis terus mengembang di bibirnya.
"Wa'alaikum salam." Jawab Ambar tanpa menoleh ke arah suara menatap Ken yang terlihat tak bersemangat.
"Ada apa Bu?" Tanya Johan melihat ibunya terus menerus menatap kamar kakaknya.
"Masmu, dia terlihat capek sekali. Kasihan sekali." Jawab Ambar berlalu ke dapur menyiapkan makan malam.
"Mas Ken sudah pulang?" Tanya Johan entah kenapa dia merasa sedikit kecewa.
"Iya, baru saja." Jawab Ambar acuh. Johan terdiam, dia pun masuk ke dalam kamarnya yang juga ada di lantai atas, berada tepat di depan kamar kakaknya.
Johan melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi berniat untuk membersihkan tubuhnya. Entah kenapa dia jadi tidak bersemangat. Niat hati ingin cepat-cepat mandi dan pergi lagi menjemput sang calon kakak iparnya mengantarkannya menemui supplier. Namun sekarang kakaknya sudah pulang, dia mengurungkan niatnya untuk mengantar calon kakak iparnya.
Tak sampai satu jam, Johan turun lagi ke lantai bawah untuk makan malam. Dilihatnya hanya ada ibunya yang sudah bersiap untuk makan malam menunggunya dan kakaknya.
"Mas Ken mana Bu?" Tanya Johan melihat kursi makan Ken kosong.
"Dia sudah makan malam jadi tidak ikut makan malam. Katanya capek mau langsung istirahat saja." Jawab Ambar sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk putra bungsunya.
Johan terdiam, dia tidak mengatakan apapun hanya fokus pada makanannya.
***
Tok tok tok
"Mas, aku masuk ya?" Pinta Johan setelah mengetuk pintu tak mendapat jawaban dari dalam kamar.
Cklek
Johan nekat membuka pintu dan melongok menatap ke dalam kamar. Terlihat Ken yang tertidur pulas tanpa belum mandi dan juga mengganti pakaiannya kerja tadi.
"Sepertinya sangat lelah." Guman Johan melihat Ken terlelap.
"Apa mbak Karin gak menghubungi mas Ken untuk diantar menemui suppliernya?" Guman Johan lagi. Johan melirik ponsel kakaknya yang mati. Dengan inisiatif sendiri, Johan menghubungkan pengisi daya pada ponsel Ken dan menyalakannya. Dia berharap Karina menghubungi Ken.
Namun baru saja ponselnya dinyalakan, notifikasi beruntun chat pesan Karina masuk ke dalam ponsel Ken. Dan Johan tak sengaja melihat room chat kakaknya dan calon kakak iparnya. Terdapat hampir seratus pesan masuk yang belum dibuka bahkan dibaca oleh kakaknya yang kebanyakan menanyakan kabar Ken. Dan hal itu entah kenapa membuat Johan sangat marah.
"Tega banget mas, kamu acuh pada mbak Karin." Guman Johan menatap Ken kesal. Dan dia pun mematikan lagi ponsel itu dan pergi meninggalkan kamar Ken.
Johan melajukan mobilnya dengan cepat berharap dia tidak terlambat untuk menjemput calon kakak iparnya. Dia tak segera menjemputnya karena mengira Ken akan menjemput Karina karena sudah pulang ke rumah setelah perjalanan bisnis ke luar kota seminggu yang lalu.
"Assalamualaikum..." Seru Johan berdiri di pintu pagar kost Karina.
"Wa'alaikum salam." Jawab seorang perempuan keluar dari rumah menghampirinya masih tetap di dalam pagar tanpa berniat membuka pintu pagar.
"Mbak Karina ada?" Tanya Johan pada perempuan yang bertampang galak itu.
"Siapa kamu?" Tanya perempuan itu galak.
Johan terkejut digalaki perempuan tak dikenalnya itu.
"Saya adiknya." Jawab Johan asal.
"Gak mungkin. Karina itu anak tunggal. Jangan ngaku-ngaku ya!" Seru perempuan itu. Setahunya hanya Ken yang selalu menjemputnya. Karena Karina pernah mengenalkan dirinya dengan Ken saat berkunjung.
Lah, siapa sih perempuan ini. Galak amat. Batin Johan.
"Bener mbak saya adiknya." Jawab Johan meyakinkannya.
"Jangan mentang-mentang ganteng Lo terus ngaku-ngaku jadi adiknya Karina ya!" Ucap perempuan itu masih galak.
"Ya Allah, saya adik iparnya mbak, calon. Saya adiknya mas Ken, calon suaminya mbak Karina. Puas!" Jawab Johan kesal.
"Jawab yang jelas kek dari tadi. Karina? Dia baru pergi naik taksi online. Sepuluh menit yang lalu mungkin?" Jawab perempuan tetangga kamar kost Karina.
"Jawab gitu aja lama banget, pakai emosi segala. Ya udah deh mbak, makasih." Johan langsung nyelonong meninggalkan rumah kost itu tanpa basa-basi pada perempuan galak tadi.
.
.
TBC