Kehidupan sebelumnya mereka sudah membuatku dan orang-orang yang aku sayangi menderita dan mendapatkan akhir yang mengerikan, jangan harap kalian bisa bebas. Dendam ini akan aku balaskan ribuan kali lipat hingga titik darah penghabisan. Ingin kabur dariku? Mimpi saja sana! Akankah dendam ini terbalaskan? Ataukah dendam yang menghancurkanku?
Genre : Romansa Istana, Fantasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Slow Plot, Misteri, Action, Magic, Sword, Romantis, Pemeran Utama Tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penunggu Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan Asa
Seharian aku menjadi galau memikirkan bagaimana cara dan jalanku selanjutnya.
Akhirnya keputusan nekatpun aku ambil.
Cahaya bulan sangat terang menghiasi langit malam yang gelap bersama dengan bintang yang bersinar.
Seharusnya semuanya sudah terlelap saat ini, namun tidak denganku. Sekarang adalah waktu yang tepat untukku beraksi.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali mencoba memperjelas kan pandangan, aku sengaja tidur sedari siang tadi agar saat malam rasa kantuk tidak mengganggu.
"Benar-benar sepi malam ini. Syukurlah,"
"Aku harus secepatnya mengikat selimut ini dan turun, tidak bisa dibiarkan. Kalau sesuai dengan masa lalu seharusnya tidak lama lagi aku bertemu Charlotte kecil, tapi siapa yang bisa menebak masa depan. Bisa saja ia datang cepat atau lambat, pasti akan merepotkan jika aku tidak bergerak sekarang,"
Aku turun dari kasur besar ini dan menuju sebuah ruangan penyimpanan yang di dalamnya terdapat banyak sekali pakaian dan perlengkapan yang lainnya.
Dengan langkah sempoyongan aku membawa tumpukan selimut yang sudah tersusun rapih di atas tangan mungilku.
Cukup lama aku mengikat selimut menjadi sebuah tali yang cukup panjang bagiku untuk turun dari lantai 5 ini.
"Selesai," aku mengelap keringat yang sudah bercucuran.
"Oh iya, dimana aku menaruh uangnya kemarin?" Aku mencoba mengingat tempat terakhir kali menaruh beberapa emas batangan, walaupun dalam jumlah itu tidak akan cukup untuk meminta guild membawakan dia. Tapi setidaknya aku bisa mengetahui lokasinya.
"Semua persiapan selesai dan sekarang waktunya pergi,"
Di balkon
Wush...
Ketika pintu balkon terbuka angin malam yang dingin langsung menyambut, beruntung aku memakai pakaian sedikit tebal. Karena meskipun di tubuhku mengalir kekuatan es tapi tetap akan membuat tubuhku menggigil.
Entah kenapa sihir es atau sihir cahaya tidak bisa aku gunakan, tapi sebaiknya aku urus yang ini.
Tidak butuh waktu lama untukku bersiap-siap menuruni tali ini, namun.
Tap.. tap...
Suara langkah kaki menggema di ruangan luas ini.
"Kenapa pintu balkon Nona terbuka?"
Suara langkah kaki itu semakin mendekat dan beberapa saat kemudian.
"Nona!" pekik orang itu.
Teriakan itu berhasil memekakkan telingaku dan membuat ku melepaskan kedua tangan yang sedang menggenggam erat-erat selimut yang berperan sebagai tali.
"Gawat!"
Beruntung dua tangan datang di saat yang tepat, tangan itu menarik ku kembali naik ke balkon.
Aku bernapas lega ketika kaki mungilku sudah menyentuh sempurna di lantai balkon yang dingin.
"Fyuh~ tadi itu hampir saja,"
"Ehem!" Deheman seseorang membuatku sadar bahwa aku tidak sedang sendiri.
"Tamat sudah riwayatmu Reinya," batinku.
Aku mendongakkan kepalaku perlahan mencoba menatap siapa yang ada di depanku ini, tapi sepertinya otakku sedang buntu ketika mengingat bahwa rencanaku gagal total dan sepertinya aku akan terkena hukuman.
"Apa yang akan Nona lakukan tadi?" tanya orang itu ramah, namun dengan aura mengintimidasi.
Aku memberanikan diri menatapnya, dan ternyata seseorang yang ada di depanku adalah seorang wanita paruh baya yang sangat aku kenal. Tentu saja kalian tahu siapa dia, ya dia adalah Asa Alerrgga.
"Huhuhu, dari sekian banyak kenapa harus Asa? Keberuntungan tidak memihak kepadaku,"
"Ta, tadi," Aku terbata-bata berbicara karena gugup sekaligus takut, jika Asa marah mungkin dia lebih mengerikan dari monster-monster yang ada di perbatasan.
"Tadi apa?"
Nada bicara Asa benar-benar menakutkan.
"Hah... " Terdengar Asa menghela napas.
"Nona!" panggil asa lagi sambil merengkuh pundakku.
" Apakah Nona tahu? Hal yang Nona lakukan tadi sangat berbahaya," Aku hanya mengangguk pasrah sembari mempersiapkan jiwa dan raga.
"Bagaimana jika saya telat beberapa detik saja, mungkin... " Asa tidak melanjutkan ucapannya, aku tahu jelas apa yang akan diucapkan Asa namun tidak jadi.
Tadi itu memang sangat berbahaya, padahal aku sudah memperkirakan nya tapi karena teriakan Asa yang tiba-tiba membuatku kehilangan konsentrasi.
"Nona tidak boleh melakukan hal seperti tadi, ya. " bujuk Asa, terlihat banyak sekali buliran kristal bening yang berjatuhan membasahi pipi keriput Asa.
"Mari kita ke sana dulu, ya," ajak Asa sambil menuntunku kembali ke kasur.
•••
"Asa tenanglah, Reinya baik-baik aja kok." ujarku membuka suara.
Sedari tadi yang terdengar hanyalah suara tangis Asa.
"Kenapa Nona berbuat seperti tadi?" sahut Asa setelah mengelap buliran kristal bening yang mengalir di pipinya.
"Itu," aku memainkan kedua jari telunjuk ku.
"Jika Nona tidak memberitahu saya, maka saya akan memberitahukan masalah ini kepada Tuan dan Nyonya," ancam Asa.
"Jangan!"
"Jika hal ini terdengar sampai telinga Ayah dan Ibu akan sangat merepotkan," Panik? Tentu saja kepanikan itu mulai melanda ketika membayangkan bagaimana jadinya jika hal ini ketahuan.
"Tapi,"
"Baiklah, Reinya akan kasih tahu Asa. Tapi ada satu syarat," potongku sebelum Asa melanjutkan ucapannya.
"Apa syaratnya?"
"Syaratnya Asa jangan kasih tau Ayah Ibu," balas ku.
"Satu hal lagi,"
"Tapi kata Nona syaratnya cuma satu," protes Asa.
Aku menatap Asa dengan tatapan malas tapi tetap melanjutkan ucapan.
"Kalau Asa sampai kasih tahu Ayah Ibu maka Reinya akan loncat," ancamku yang seketika itu juga membuat Asa membeku.
"Maafkan aku, tapi tidak ada pilihan lain selain dengan ancaman." Aku merasa tidak tega mengancam orang tua ini yang sudah seperti orang tua kandungku, tapi mau bagaimana lagi.
"Jangan Nona!"
Aku tersenyum puas, ternyata rencana B yang baru saja dibuat berhasil.
"Baiklah sepakat, Asa nggak boleh kasih tahu Ayah Ibu,"
"Baiklah, Nona juga harus berjanji untuk tidak melakukan hal berbahaya lagi." tegas Asa.
Sepertinya untuk yang ini sulit, masih banyak lagi hal berbahaya yang akan aku lakukan. Beruntung ide brilian muncul di saat yang tepat.
"Oh iya, Reinya kan udah janji mau kasih tahu Asa."
"Tentang apa?" tanya Asa.
"Sebenarnya, Reinya mau keluar untuk mencari teman Reinya." jawabku dengan suara yang diperkecil.
"Teman? Benarkah?" Aku menganggukan kepala menjawab pertanyaan Asa. "Akhirnya, ya Dewa terima kasih. Akhirnya Nona-ku memiliki teman," ucap Asa.
Asa berlebihan, tapi sepertinya memang seperti ini responnya ketika aku pertama kali berteman dengan Charlotte.
"Lalu, kenapa Nona pergi keluar dengan cara seperti tadi." kata Asa curiga.
"Bukankah Nona bisa menggunakan kereta kuda atau meminta Tuan Grand Duke untuk membawakannya,"
"Karena teman Reinya sudah lama hilang," Aku menundukkan pandanganku.
"Kasihan sekali Nona, padahal ini teman pertamanya tapi ia sudah kehilangan temannya. Tidak bisa dibiarkan," batin Asa.
"Lalu?"
"Aku ingin pergi ke guild informasi untuk menanyakan lokasinya, jadi Reinya bisa bertemu lagi dengan teman Reiya."
"Bukankah kekuasaan Grand Duke lebih dari cukup untuk mencarinya?"
"Memang, tapi aku tidak mau merepotkan Ayah dan membuat Ayah repot," jawabku.
supaya ga aneh pas dibaca
Dia kan ga lagi ngebatin