Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Lim Richard tiba di UI dua puluh delapan menit setelah pesan itu masuk.
Keira tahu karena ia menghitung.
Selama dua puluh delapan menit itu, namanya sudah naik dari grup fakultas ke beberapa akun gosip kampus. Foto dirinya berdiri di depan ruang dosen tersebar. Ada yang menulis, "Cantik-cantik plagiat." Ada yang membalas, "Namanya juga cucu konglomerat."
Mira sudah datang lebih dulu, napasnya terengah karena berlari dari kantin.
"Kei, gue bawa laptop. Gue juga bawa charger. Lo butuh apa? File? Saksi? Gue bisa bacot ke semua orang sekarang."
Keira menahan tangan Mira. "Belum."
"Belum apaan? Nama lo digoreng hidup-hidup."
"Tunggu."
Mira mengikuti arah pandang Keira ke gerbang fakultas.
Sebuah Mercedes hitam berhenti di depan gedung rektorat, lalu mobil lain menyusul. Jason turun lebih dulu. Setelah itu Richard keluar dari kursi belakang dengan jas gelap dan wajah yang membuat halaman kampus mendadak seperti ruang rapat.
Beberapa dosen yang mengenalinya langsung berdiri lebih tegak. Wakil dekan yang kebetulan ada di dekat pintu hampir menjatuhkan map.
"Pak Lim?" suaranya terdengar kaget. "Selamat siang. Kami tidak tahu Bapak akan datang."
Richard hanya mengangguk. "Saya mendengar ada masalah akademik yang menyangkut Tan Keira."
Nama Keira diucapkan penuh. Bukan "anak itu", bukan "cucu Tan", bukan "gadis yang digosipkan".
Keira menunduk sedikit ketika Richard mendekat. "Om."
Tatapan Richard berhenti di wajahnya. "Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan itu pelan, tetapi cukup untuk membuat beberapa mahasiswa saling pandang.
Keira menjawab sesuai peran. "Saya baik-baik saja."
Mira berbisik, "Om yang ini? Ya Allah, Kei."
Keira hampir tersenyum.
Richard menoleh pada wakil dekan. "Saya tidak datang untuk menekan keputusan kampus. Saya datang untuk memastikan prosesnya adil dan lengkap."
Kalimat itu membuat ruangan rapat fakultas berubah arah.
Bu Ratri, dosen komite, wakil dekan, Keira, Vanya, Richard, Jason, dan dua staf akademik duduk mengelilingi meja. Di luar kaca buram, bayangan mahasiswa menumpuk. Gosip sudah punya saksi. Sekarang pembuktiannya juga punya saksi.
Bu Ratri membuka rapat. "Kami menerima laporan kemiripan skripsi dari saudari Vanya. Kedua naskah memiliki kesamaan tinggi."
Richard tidak melihat Vanya. Ia menatap dokumen. "Siapa yang lebih dulu mendaftarkan judul?"
"Keira," jawab Bu Ratri.
Vanya cepat berkata, "Tapi topiknya umum, Pak. Banyak yang bisa meneliti hal serupa."
Jason mengetik sesuatu.
Richard bertanya lagi, "Siapa yang punya riwayat draft lebih lengkap?"
Bu Ratri menatap Keira.
Keira membuka laptopnya. "Saya sudah siapkan."
Ia menunjukkan folder satu per satu. Outline pertama bertanggal delapan bulan lalu. File revisi dengan komentar Bu Ratri. Email ke diri sendiri setiap selesai bimbingan. Catatan manual yang difoto dan diunggah ke cloud. Metadata file yang menunjukkan tanggal pembuatan jauh sebelum Vanya mengaku menulis bagian yang sama.
Setiap bukti muncul, wajah Vanya semakin pucat.
"Vanya," kata dosen komite, "kamu punya riwayat draft seperti ini?"
Vanya meremas ujung roknya. "Laptop saya sempat rusak."
"Backup?"
"Hilang."
"Email bimbingan?"
"Saya banyak bimbingan lisan."
Bu Ratri menghela napas. "Saya belum pernah membimbing kamu untuk topik sedetail ini."
Vanya menatap Bu Ratri dengan mata basah. "Bu, saya takut. Saya cuma merasa tulisan saya diambil."
Keira tidak bicara.
Ia membiarkan bukti bekerja.
Jason kemudian mengangkat wajah dari tablet. "Maaf, boleh saya tambahkan satu hal? Dengan izin pihak kampus, kami menemukan bahwa file Vanya baru dibuat tiga hari setelah Nona Tan mengirim draft revisi ke email pribadinya. Struktur foldernya juga menunjukkan beberapa dokumen disalin dalam satu waktu, bukan tumbuh bertahap."
Dosen komite menatap Vanya lebih tajam. "Dari mana kamu mendapat draft Keira?"
Vanya menangis.
Tangisnya bagus, tetapi kali ini terlambat.
"Saya... saya panik. Pak Kevin bilang Kak Keira mungkin mau bantu. Saya melihat file di meja kantor dan..."
Keira mengangkat wajah.
Jadi Kevin ikut terbawa.
Bagus.
Richard akhirnya menatap Vanya. Wajahnya tanpa amarah, tetapi justru itu yang membuat Vanya gemetar.
"Kamu melaporkan korban setelah mencuri pekerjaannya."
Vanya menangis semakin keras. "Saya tidak bermaksud..."
"Tidak perlu menjelaskan pada saya. Jelaskan pada komite."
Bu Ratri menutup map. "Keputusan sementara, administrasi Keira dipulihkan. Kasus Vanya akan masuk sidang etik fakultas. Bila ada unsur pidana atau pemalsuan dokumen, kampus akan menindaklanjuti sesuai prosedur."
Richard menoleh pada Jason. "Kirimkan salinan temuan teknis kepada komite melalui jalur resmi. Jangan ada satu pun data yang keluar tanpa izin kampus."
"Baik, Pak Lim."
Wakil dekan yang sejak tadi kaku akhirnya berkata, "Terima kasih atas kerja samanya, Pak Lim."
"Jangan berterima kasih pada saya. Berterima kasihlah karena mahasiswa Anda masih menyimpan bukti dengan rapi."
Bu Ratri menatap Keira dengan campuran lega dan bersalah. "Keira, Ibu minta maaf karena proses wisudamu sempat ditahan."
"Ibu menjalankan prosedur," jawab Keira. "Saya menghargai itu."
Jawaban itu membuat beberapa orang di ruangan menunduk. Gadis yang baru difitnah justru lebih paham prosedur daripada orang-orang yang tadi sibuk menghakimi.
Vanya duduk di kursinya dengan bahu bergetar. Kali ini tidak ada yang buru-buru memeluknya. Dua staf akademik bahkan menggeser dokumen mereka menjauh, seolah kertas Vanya bisa menulari meja.
Di luar ruangan, kabar itu menyebar lebih cepat daripada fitnahnya.
Ketika Keira keluar, mahasiswa yang tadi memotret kini menurunkan ponsel. Beberapa wajah tampak malu. Mira berdiri paling depan, tangan terlipat.
"Nah!" katanya keras. "Yang tadi paling kenceng bilang plagiat, mana suaranya?"
Keira menyentuh lengan Mira. "Mir."
"Biarin. Gue pemanasan doang."
Untuk pertama kalinya hari itu, Keira tertawa kecil.
Richard berdiri di sampingnya sampai semua proses selesai. Tidak menggenggam tangannya. Tidak menyentuh bahunya. Namun keberadaannya cukup untuk membuat semua orang memberi jalan.
Di parkiran, setelah Mira pergi dengan janji akan mengirim daftar akun gosip kampus yang harus meminta maaf, Richard berhenti di samping mobil.
"Keira."
Keira menoleh. "Iya, Om?"
Richard menatapnya lama. Kali ini dingin di matanya retak oleh sesuatu yang lebih berat.
"Maafkan saya."
Keira menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul.
Rencana B berhasil.
Namun ketika ia masuk ke mobil Richard dan pria itu bertanya, "Apa ada hal lain yang tidak kamu ceritakan padaku?", tangannya tanpa sadar mencengkeram tas.
Di dalam tas itu, amplop DNA masih tersimpan rapi.
Keira menggeleng pelan. "Tidak ada, Om."
Richard tidak langsung percaya. Keira tahu dari cara pria itu menatap tangannya yang masih mencengkeram tas. Namun ia juga tidak memaksa.
"Kalau suatu hari ada," katanya, "ceritakan sebelum kamu kehabisan jalan."
Keira tersenyum lemah. "Baik."
Di dalam tasnya, amplop itu terasa seperti batu.