Raja Manusia adalah seseorang pendekar terhebat di benua tengah, Namun Raja dari dataran lain tidak bisa membiarkan Raja manusia bertambah kuat. Raja benua lain bekerja sama untuk membunuh Raja Manusia. Namun tidak menyangka Raja Manusia Bereinkarnasi kembali di sebuah keluarga sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EON, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.14 - Putri Bangsawan.
Paginya Aura dan Aira pergi kesebuah pasar untuk membeli sesuatu.
“Mari kita masuk.” Aura masuk ke sebuah toko, tidak lain toko tersebut merupakan milik Assosiasi pil cahaya.
“Tuan ada yang bisa saya bantu.” Suara tersebut berasal dari penjaga meja pembelian.
“Pergi bawa ini kepada kepala manager disini.” Aura mengeluarkan sebuah giok dari cincin penyimpanan.
“Baik tuan, silahkan menunggu di ruang tunggu.” Penjaga meja pembelian pergi menuju kesebuah ruang.
“Manager, ada seseorang yang menyuruh saya memberikan ini kepada mu.” Penjaga meja tersebut menunjukkan giok yang di berikan Aura.
“Siapa yang memberikan ini.” Manager tersebut sangat terkejut karena mengenali giok tersebut.
“Dia berada di ruangan tunggu.” Penjaga tersebut heran melihat sikap Manager tersebut.
Manager tersebut langsung berlari ke sebuah ruangan yang di sebutkan oleh penjaga meja pembelian.
“Tuan muda.” Manager tersebut berbicara setelah membuka pintu ruangan.
“Apa kamu manager disini.” Aura menatap manager tersebut.
“Tuan muda benar, Apa gerangan yang membuat tuan muda datang kemari.” Manager menjawab dengan sopan.
Manager tentu sudah tahu identitas Aura, yang merupakan pemilik saham sebesar dua puluh persen.
“Aku kemari untuk mencari bahan-bahan untuk membuat pil.” Aura memberikan kertas yang bahan-bahan tersebut.
“Baiklah tuan muda, tunggu sepuluh menit.” Manager tersebut pergi untuk mengambil bahan-bahan yang di inginkan Aura.
Sepuluh menit kemudian manager tersebut sudah selesai mengumpulkan bahan-bahan yang di ingin kan Aura dan memberikan bahan-bahan tersebut kepada Aura.
“Oh iya, berapa jumlah uang yang ku peroleh dari saham ini.” Aura ingin mengetahui jumlah uang yang di miliki nya sekarang.
“Sebentar Tuan muda, Saya akan memeriksa terlebih dahulu.” Manager tersebut melihat sebuah buku catatan yang berisi jumlah pendapatan yang di dapatkan dari saham Aura.
“Tuan Muda, Semuanya berjumlah dua juta lima ratus koin emas.” Manager tersebut sangat terkejut dengan jumlah tersebut.
“jika Tuan muda ingin mengambil semua uang tersebut kurasa harus membutuhkan waktu tiga hari.” Manager berfikir Aura ingin mengambil semua uang tersebut.
“Ah tidak perlu, Aku hanya membutuhkan lima ratus ribu saja.” Aura takut keseimbangan Assosiasi terjadi masalah akibat mengambil uang yang sangat besar.
“Baik tuan muda, ini uangnya.” Manager tersebut memberikan lima ribu uang kertas.
Satu uang kertas sebanding dengan seratus koin emas.
Aura mengambil empat ribu dan mengembalikan seribu. “Aku ingin ini di tukar dengan koin emas.
Setelah selesai Aura dan Aira berjalan keluar dan di ikuti Manager tersebut.
“Ah, beri ini kepada pak tua itu.” Aura melempar sebuah kertas yang merupakan bahan-bahan yang di ambilnya tadi.
“Baik tuan muda.” Manager tersebut tidak tau isi kertas tersebut merupakan resep Pil bintang enam.
Pil tersebut bernama Pil pikiran, Merupakan Pil yang manfaatnya meningkatkan konsentrasi selama satu hari.
Pil ini di gunakan Aura untuk meningkatkan efek dari kolam cairan giok.
Sebuah suara datang dari perut Aira.
“Ah kakak lupa, Kita belum serapan pagi.” Ujar Aura senyum lembut kepada Aira.
“Kalau begitu mari kita ke pasar untuk serapan pagi.”
“Baik kak.” Jawab Aira sambil tersipu malu karena suara dari perutnya.
Selesai makan Aura mengajak Aira berkeliling di pasar sekalian mencari makanan untuk Alden.
Aura melihat Aira sedang memandangi sebuah kalung di sebuah toko perhiasan.
“Aira apa kamu ingin gelang itu.” Ucap Aura dengan Antusias.
“Ah tidak kakak.” Aira tidak ingin terus menyusahkan Aura.
“Ah tidak apa-apa, Mari kita beli itu.” Aura dan Aira berjalan ke toko perhiasan tersebut.
“Pak berapa harga kalung ini.” Aura menunjuk ke arah kalung tersebut.
“Cuma sepuluh koin emas saja nak.” Ucap penjual itu dengan itu.
“Kakak Aura itu terlalu mahal, Ayo kita cari yang lebih murah.” Aira tidak ingin Aura mengeluarkan uang yang sangat banyak.
“Tidak apa-apa, Pak tolong bungkus kan kalung ini.” Aura mengeluarkan sepuluh koin emas.
“Ini nak kalungnya.” Penjual memberi sebuah kantong perak yang berisi kalung tersebut.
“Tunggu sebentar, aku ingin kalung ini.” Tiba-tiba ada suara perempuan yang berasal dari belakang Aura.
“Maaf Nak, Kalung ini sudah di beli oleh pemuda ini.” Penjual itu menunjuk ke arah Aura.
“Aku akan membelinya, dengan lima puluh koin emas.” Perempuan tersebut menaik kan harga awal.
“Ah ini.” Penjual tersebut menjadi antusias mendengar hal tersebut.
“Seratus koin emas.” Aura bermaksud melawan perempuan tersebut.
“Kamu!” Perempuan tersebut menjadi kesal.
“Lima ratus koin emas.” Perempuan tersebut membalas Aura.
“Kakak Aura, Aira tidak menginginkan kalung itu lagi.” Aira menjadi khawatir.
“Tidak apa-apa Aira, Kakak ingin memberi kan mu hadiah.” Aura mengelus kepala Aira.
“Seribu koin emas.” Jawab Aura dengan santai.
“Dua ri...” Pengawal putri tersebut menarik tangan perempuan tersebut.
“Tuan putri, jika ayah anda mendengar putri membeli kalung dengan harga tinggi, dia akan marah kepada mu.” Pengawal tersebut mengingatkan perempuan itu.
“Cih, rakyat jelata, kamu tidak tahu siapa diriku.” Perempuan tersebut menunjuk Aura.
“Aku tidak peduli dengan identitas yang kamu miliki, Pak ini seribu koin emasnya.” Aura menjawab sambil membayar kalung tersebut.
“Kamu, Aku seorang putri dari bangsawan nomor satu disini.” Putri tersebut menjadi kesal.
“Terus apa urusan dengan ku.” Jawab Aura dengan santai.
“Berikan kalung itu, Kalau tidak kamu akan menerima akibatnya.” Putri tersebut mengancam Aura.
“Silakan, majulah.” Aura menantang putri bangsawan tersebut.
“Apa yang kalian tunggu lagi, Hajar dia.” Putri tersebut menunjuk ke arah Pengawalnya.
“Tapi tuan putri.”
“Aku akan bilang kepada ayah ku, Bahwa kalian bertiga tidak bisa melindungi ku.” Ucap putri tersebut dengan marah.
“Baik.” Tiga pengawal tersebut berjalan ke arah Aura.
“Nak maafkan kami.” Pengawal tersebut terpaksa melawan Aura.
“Aira, Kamu berlindung di belakang kakak.” Ucap Aura.
“Kemarilah.” Jawab Aura dengan tersebut.
Tiga puluh menit berlalu.
“Apa-apaan anak ini, kenapa begitu hebat.” Pengawal tersebut terkejut karena tidak bisa mendaratkan sebuah pukulan.
Pengawal yang menyerang Aura berjumlah tiga orang, satu pendekar tinggi dan dua pendekat menengah.
“Langkah bayangan.” Aura tiba di salah satu hadapan pendekar menengah.
“BAM!! Pendekar menengah tersebut terbang sejauh sepuluh meter akibat pukulan Aura.
“Dia, bukan seorang sembarangan, siapa dia.” Pendekar tinggi tersebut menjadi sangat takut melihat aksi Aura.
Bagaimana tidak, walaupun pendekar tinggi lebih kuat dari pendekar menengah, tapi mengalahkan pendekar menengah dengan satu pukulan bukan hal mudah.
“Siapa yang putri singgung.” Pendekar tinggi tersebut menjadi takut.
“Jurus pertama Pukulan Pemecah batu.” Aura tidak melihat sebuah celah. Aura berhasil menumbangkan pendekar menengah yang tersisa.
Aura tidak membunuh mereka karena lawannya tidak ingin membunuh Aura.
“Bocah ini keterlaluan.” Pendekar tersebut menjadi kesal karena Aura menyakiti dua temannya.
“Keterlaluan? Jika saja aku lebih lemah, apa kalian akan melepaskan ku “ Aura menatap dengan dingin.
“Cih, kemari majulah” Pendekar tinggi berlari ke arah Aura.
Pertempuran tersebut berlangsung selama sepuluh menit, tetapi Aura hanya menghindar saja tidak menyerang.
“Apa-apaan itu bocah, lawan aku dengan serius.” Pengawal tersebut menjadi kesal karena tidak bisa mendaratkan sebuah pukulan.
“Baiklah, Jurus terakhir Pukulan membelah sungai” Aura melepaskan sebuah pukulan ke arah perut pendekar tersebut.
“Akh.” Pendekar tinggi tersebut menyesal sudah membuat Aura menjadi serius.
“Sekarang giliran kamu.” Aura berjalan ke arah putri bangsawan tersebut.
“Anak muda jangan kelewatan.” Pendekar tersebut berbicara dengan langtang sambil menahan sakit.
“Berhenti, menjauh dariku.” Putri bangsawan menjadi takut.
“Kakak Aura, sudah cukup.” Aira menghentikan Aura yang ingin memukul Putri bangsawan tersebut.
“Aih, baiklah tapi kakak akan membuat sedikit pelajaran untuk nya.” Aura mengangkat tangan bermaksud untuk menjentikkan jarinya ke putri tersebut.
“Sakit!” Putri memegang keningnya yang kesakitan.
“ingat, jangan memandang orang dengan rendah walaupun kamu seorang bangsawan.” Ucap Aura kepada putri bangsawan.
“Baiklah, Siapa namamu?” Putri bangsawan tersebut menjadi penasaran dengan Aura.
“Aura.” Aura berjalan ke arah Aira dan pergi untuk pulang.
“Ingat namaku Youe.” Ucap putri tersebut dengan lantang kepada Aura yang sudah berjalan sangat kejauhan.
Aura membalas tersebut dengan mengangkat kan tangan nya ke atas.
“Aura, apa kita bisa bertemu kembali.” Youe sangat senang karena ada yang memperlakukan Youe seperti Perempuan pada umumnya.
BERSAMBUNG>>>
Jozzzzzzzzzzz jozzzzzzzzzzz jozzzzzzzzzzz Gandozzzzzzzzzz Author 👍