Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Bab 32
Hari kelima, Bima memutuskan untuk mengambil hari libur. Tubuhnya butuh istirahat, dan wadah energinya perlu melakukan regenerasi alami setelah dipakai tanpa henti. Beruntung, Mbak Rasti sedang pergi menghadiri acara arisan keluarga besar di kota kabupaten terdekat sejak pagi buta, memberikan Bima waktu luang yang sangat berharga untuk menyendiri.
Suasana rumah begitu sepi dan tenang. Bima duduk bersandar di sofa ruang tamu yang empuk, menikmati angin sepoi-sepoi yang masuk dari pintu depan.
Tangan kanannya perlahan bergerak ke arah leher, menarik seutas tali hitam yang tersembunyi di balik kaus oblongnya. Di ujung tali itu, menggantung sebuah bola batu aneh.
Ya, itu adalah bola batu misterius yang tempo hari tidak sengaja dia dapatkan dari dalam perut ikan.
Bima sengaja mengikat batu itu sesuai saran dari bapak tua di pelelangan itu.
Bima mengangkat kalung bola batu itu sejajar dengan matanya.
“Sebenarnya ini apa? Kemarin, aku terbantu saat menyembuhkan bapak di pelelangan itu … tapi setelah itu, aku jarang menggunakannya. Oh, ya fisikku terasa lebih kuat setelah pakai ini.”
Seolah menjawab pertanyaan bima. Kakek di dalam tubuhnya menjawab : “itu adalah batu yang menjadi pendampin pemegang kekuatan mustika kehidupan … itu batu guna buat bantu Kulitivasi tubuhmu.”
“Hi!! Anjing dari mana suaramu bisa datang kakek!?”
Suara kekek itu tertawa. : haha aku sekarang bisa mengajak bicara denganmu saat aku mau .. itu dikarenakan kamu yang sudah makin jago dan memijat banyak cewek, membuat mereka mulai tergila-gila, tak lama lagi mereka akan meminta cairan manimu.”
“edan mesum banget jadi kakek kakek … jadi maksudnya kultivasi apaan? Ini bukan novel fantim, woi! Jangan asal nambahin plot.”
Kakek : santai dengerin baik-baik omongan sesepuh … Kultivasi di sini bukan berarti kamu harus bertapa ratusan tahun di dalam gua sambil makan angin, Anak Muda," lanjut suara berat Ki Ageng Raga Samudra, terdengar menggema langsung di dalam tempurung kepala Bima. "Jangan kebanyakan membaca cerita khayalan zaman sekarang!”
Bima mendengus, meski bulu kuduknya sempat meremang karena kaget mendengar suara gaib yang tiba-tiba muncul tanpa permisi di siang bolong begini. Dia kembali menyandarkan punggungnya di sofa, mencoba beradaptasi dengan situasi gila ini.
"Terus kalau bukan bertapa, maksudnya mengumpulkan tenaga herbal tanaman itu gimana, Kek? Saya harus jadi tukang kebun?" tanya Bima ketus, sambil tetap memandangi bola batu yang menggantung di jarinya.
Kakek tua itu kembali terkekeh, suara tawanya terdengar puas melihat respons ketus dari wadah barunya.
"Mustika Hijau di tubuhmu adalah esensi dari Mustika Kehidupan. Sumber kekuatannya adalah alam, tanaman, dan segala hal yang tumbuh dari bumi. Selama empat hari ini, kamu hanya menggunakan isi wadah energimu tanpa mengisinya dari sumber yang tepat. Regenerasi dari tidur itu lambat, Bima! Jika wadahmu kosong di saat musuh gaib datang menyerang, kamu bisa mati konyol karena kehabisan hawa murni."
Gambar gaib dari bola batu di tangan Bima mendadak memancarkan pendaran hijau tipis yang menyelimuti telapak tangannya.
"Batu pengikat di lehermu itu bekerja seperti magnet spiritual," jelas Ki Ageng. "Tugasmu sekarang di hari libur ini adalah mencari tanaman obat kuno atau tanaman liar yang memiliki usia tua dan hidup di tempat yang masih murni, seperti di sekitar hulu sungai atau lereng gunung dekat desamu. Kalung itu akan jadi magnet dan memberikan info lokasi. Tanaman-tanaman seperti jahe merah liar, akar pasak bumi, atau daun sirih hitam terlarang memiliki simpanan energi bumi yang pekat."
Bima mengernyitkan dahi, mulai menangkap arah pembicaraan sang leluhur. "Maksud Kakek, kalau saya menyentuh tanaman-tanaman itu sambil pakai kalung ini, energinya bakal tersedot?"
"Benar! Kalung itu akan menyerap sari energi herbal dari tanaman tersebut, lalu menyalurkannya ke dalam tubuhmu lewat batu konduktor itu. Proses itulah yang disebut kultivasi tubuh. Fisikmu akan menjadi sekeras baja, staminamu tidak akan ada habisnya, dan yang paling penting... kualitas cairan inti di dalam tubuhmu akan menjadi semakin murni dan pekat!" sindir Ki Ageng lagi dengan nada jenaka yang kental.
“Saat kamu entap-entup sama cewek … dijamin rahim mereka bakal kenyal habis sama cairanmu!
"Ujung-ujungnya balik ke cairan inti lagi! Dasar kakek-kakek mesum!" umpat Bima setengah berbisik, wajahnya mendadak memanas teringat antrean cewek-cewek desa dan tatapan sayu Wulan kemarin sore.
"Haha! Itu adalah hukum alam, Bima. Kejantanan dan kesuburan adalah puncak dari energi kehidupan. Semakin kuat fisik dan kultivasimu, semakin siap kamu menampung luapan energi murni tingkat tinggi saat segel ketiga terbuka nanti," sahut sang kakek. "Sekarang tunggu apa lagi? Mumpung janda kembangmu sedang pergi ke kota kabupaten, cepat bergerak ke arah hutan di hulu sungai sebelum matahari tepat di atas kepala!"
Suara Ki Ageng perlahan menyusut dan menghilang, menyisakan keheningan di ruang tamu.
Bima mengembuskan napas panjang, lalu memasukkan kembali kalung bola batu itu ke balik kaus oblongnya. Rasa hangat yang menjalar di dadanya seolah memompa semangat baru. Berdiri dari sofa, Bima meregangkan otot-otot tubuhnya yang proporsional hingga terdengar bunyi bergemeletuk yang memuaskan.
"Mumpung Mbak Rasti belum pulang, mending aku coba beneran atau gak omongan si Kakek. Kalau fisikku bisa sekeras baja, jangankan mijet seharian, buat bikin Mbak Rasti ampun-ampunan di kasur juga makin gampang," seringai nakal Bima.
Oke mumpung dia gabut. Dia lakukan saja, kultivasi bejad apapun itu, toh itu bakal berguna untuknya.
Mengisi energi mustika lagi, pantas saja dia bisa merasa capek padahal dia manusia abonormal. Ternyata butuh bensin.
Ia pergi menuju area perbukitan Sukamaju. Mengikuti arah lokasi dari kalung yang memberikan informasi
"SALAM SATU NYALI, WANI"
LOSS GAK REWEL BOSSKU, PREI WONG RUWET...🦾💪💪🏼💪🏾💪🏿