kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Seorang pemuda berambut gondrong dengan baju biru berjalan menuruni gunung kemelut, tak ada yang mengenal pemuda itu, dia seperti seseorang yang baru turun gunung.
Sorot mata yang tajam berpadu dengan kulit yang sawo matang, otot lengan nya yang terlihat berisi membuat pemuda itu sangat gagah, apalagi di mata para perempuan.
Perbawa dari pemuda itu sangat kuat, dia seperti memiliki tekanan seperti seorang perbawa bangsawan. Sebuah kalung dari kain melingkar di lehernya, itu kalung berisi tulang belulang dari orang di sayangi nya.
Pemuda itu masih sangat muda, usianya di taksir antara tujuh belas sampai delapan belas tahunan, tapi dari sorot matanya tersimpan kesedihan yang mendalam, serta dendam yang begitu besar.
"Siapakah pemuda itu??"
Pemuda itu Jaka Srenggi, setelah menuntaskan latihan nya di gunung kemelut meskipun tak sempurna, Jaka Srenggi memutuskan untuk turun untuk memperkuat diri dan menambah pengalaman.
Jaka berjalan dengan pasti, tak ada sedikit pun keraguan terlihat di matanya, pemuda itu berjalan begitu santai, seperti menikmati alam yang sudah lama dia lihat.
Dua tahun mengurung diri tak membuat Jaka lupa akan dunia, tapi Jaka tak tahu perubahan yang terjadi di dunia persilatan, dia yang terkurung tak tahu jika golongan hitam sudah semakin berani membuat teror.
Golongan hitam dengan adanya lorong Lima telah semakin memperkuat keberadaan mereka di seluruh dunia persilatan, golongan putih semakin tenggelam seperti kehilangan arah.
Golongan hitam, terutama topeng hitam sudah menghancurkan perguruan terbesar di wilayah Utara, tepat nya di kota Bunga. setelah membunuh ketua dari perguruan itu, topeng hitam meneror semua murid dari perguruan itu. Perguruan itu ada tapi mati suri.
Hampir semua perguruan meskipun tunduk pada topeng hitam tapi menyusun rencana untuk lepas dari genggaman topeng hitam, meskipun topeng hitam tahu tapi dengan tak ada nya yang kuat dari golongan putih, itu tak menjadi sebuah ketakutan bagi topeng hitam atau pun organisasi rahasia lorong Lima.
"Aku akan ke kota Bangau terlebih dahulu, rasanya rindu dengan suasana kota ini. Sekalian untuk bertemu dengan juragan Husin"l. Apa dia masih mengenal ku? Meskipun begitu, orang pertama yang akan aku bunuh juragan keparat itu, dia harus mati di tanganku. Akan aku pastikan semua keluarganya tewas di tangan ku," gumam Jaka Srenggi yang telah memutuskan langkah awalnya di dunia persilatan.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang cukup tinggi Jaka Srenggi sampai di kota Bangau, dia sampai saat matahari hampir tenggelam.
"dimana aku harus bermalam? Sial!'
Jaka Srenggi memutuskan bermalam di tepi hutan, menyalakan api unggun bukan pilihan yang salah seperti nya.
Jaka Srenggi merebahkan tubuhnya bersandar di sebuah pohon besar.
"Di hutan ini pertama kali aku bertemu dengan guru, Saat itu guru pingsan karena kelaparan!' ucap anak muda itu.
Jaka Srenggi tersenyum karena mengingat pertemuan pertamanya dengan Petapa muka dua.
Tapi senyum itu hanya sebentar, setelah itu Jaka teringat kematian mengenaskan yang di alami oleh gurunya, tewas dengan kepala terpotong.
Jaka tak tahu siapa nama dari yang telah membunuh gurunya, tapi dia sangat mengingat jelas siapa saja yang ada di tempat itu.
"Ke empat orang itu pun tak akan lolos dari tangan ku. Topeng hitam! Cadar hitam, kalian akan tewas di tangan ku!"
Saat suara ayam berkokok Jaka Srenggi kembali berjalan dan tujuan nya sudah pasti, menuju kota Bangau yang sudah ada di depan mata nya.
Penjaga gerbang kota menghentikan langkah kaki anak muda itu.
"Kau siapa anak muda? Aku merasa tak mengenal mu?" tanya penjaga gerbang yang merasa curiga pada Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi menatap penjaga gerbang itu. dia merasa mengenal penjaga itu.
"Paman Pandu? Paman pasti paman Pandu," ucap Jaka Srenggi.
Orang yang bernama Pandu itu menatap balik ke arah Jaka Srenggi, dia sangat tak mengenali anak muda di depan nya.
"Kau siapa anak muda? Dari mana kau mengetahui namaku??" tanya Pandu jelas curiga.
"Apa paman tak mengenal ku? Aku Srenggi paman, anak Bu Sarmi" jawab Jaka Srenggi dengan mata yang penuh harap.
"Jaka Srenggi? Kau masih hidup? Tak mungkin," ucap Pandu tak percaya, tapi Jaka Srenggi yang menyebutkan nama Bu Sarmi membuat Pandu tak bisa untuk tak mempercayai jika pemuda yang di depan nya Jaka Srenggi.
"Sebaiknya kau ke rumah, temui bibi mu. Paman sedang bertugas?'
"Baik, Srenggi segera ke sana paman," ucap Jaka Srenggi.
Pandu kembali ke pos jaga dan di sana menunggu kawan nya yang berjaga pos gerbang kota.
"Siapa pandu??"
"Bukan siapa-siapa, hanya pengembara yang ingin memasuki kota," jawab Pandu berbohong.
Pandu berbohong demi menjaga keselamatan Jaka Srenggi, dia tak ingin juragan Husin tahu dan itu akan membahayakan nyawa keponakan nya, itu lah menurut pandu, dia tak tahu jika tujuan Jaka Srenggi ingin membunuh juragan Husin.
"aku ke rumah sebenar ya,"
Pandu tak merasa tenang dan memutuskan kembali ke rumah nya.
"Kau kembali secepatnya ya, aku tak akan bisa menjawab jika anak buah topeng hitam menanyakan keberadaan mu!'
"Tunggu saja, aku hanya sebentar!"
Pandu berjalan cepat menuju rumah nya.
"Bu..., Bu!' ucap Pandu setengah berteriak.
"ada apa mas, kenapa berteriak??" tanya istri pandu.
"Jaka Srenggi mana??" langsung pandu menanyakan Jaka Srenggi.
"Jaka Srenggi? Dia sudah tewas mas, jangan lagi menyebut namanya, itu sudah lama tak kau sebut!"
"Dia baru saja sampai di kota ini, aku menyuruh nya menuju rumah kita.Itu lah mengapa aku pulang"
"Apa? Mas yakin jika itu Jaka Srenggi Berbahaya jika sampai juragan Husin tahu," kata istri Pandu gelisah.
"Sebaiknya mas mencari Jaka Srenggi, ibu tak mau terjadi sesuatu pada dia. Dia sudah sangat menderita dengan kematian ibu nya."
Pandu tak menjawab tapi keluar rumah setengah berlari, dia mencari keberadaan Jaka Srenggi.
Sementara itu Jaka Srenggi yang sudah memasuki kota, bukan nya menuju rumah seperti yang di suruh oleh Pandu, tapi dia mengawasi rumah juragan Husin, dia mengawasi rumah itu dari kejauhan
"Kau semakin makmur rupanya, tapi itu tak akan lama lagi, aku akan membuat mu tak lagi menikmati udara di dunia ini. Tunggu saja," ucap Jaka Srenggi dan mengepalkan tangannya ke atas.
Jaka Srenggi memutuskan ke rumah pandu dan bertemu dengan paman nya.
"Kau dari mana? Paman sudah mencari mu dari tadi." tanya pandu yang sudah gelisah.
"Jaka Srenggi salah arah paman, Jaka Srenggi ternyata sudah terlalu lama di luar kota ini, sehingga aku lupa arah"," jawab Jaka Srenggi berbohong.
"Lupa arah? Bagaimana bisa??" tanya Pandu tak percaya.
"Kenapa tak bisa paman? Pasti lah, aku lupa dan aku tersesat, untung aku bertemu dengan paman!"