Chen Mo terlahir kembali di dunia kultivasi dengan sebuah sistem yang awalnya dianggap rusak dan tak berguna. Namun, seiring perjalanannya, ia menemukan bahwa sistem itu sebenarnya adalah Sistem Pemurnian Langit—warisan kuno yang bertujuan menjaga keseimbangan energi dunia.
Dengan fondasi yang disempurnakan secara unik, Chen Mo melewati berbagai tantangan: memenangkan kompetisi, masuk sekte terkuat, mengungkap rencana jahat organisasi kegelapan, hingga akhirnya memahami misi sejatinya. Ia tidak hanya berjuang untuk menjadi kuat, tapi juga mempelajari bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan, bukan penaklukan.
Cerita ini mengikuti perjalanannya dari pendatang tak dikenal hingga menjadi penjaga keseimbangan yang dihormati, melintasi alam yang lebih luas dan memegang tanggung jawab menjaga harmoni seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DARK SISTEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERTEMUAN TAK TERDUGA
BAB 3: PERTEMUAN TAK TERDUGA
Kabut di sekitar tanaman ungu semakin pekat.
Chen Mo masih berjongkok di depannya.
Layar sistem terus bergetar tanpa henti.
Tidak ada pesan kesalahan.
Tidak ada tulisan.
Hanya getaran yang semakin kuat dari detik ke detik.
Jantung Chen Mo ikut berdetak semakin cepat.
Selama tiga tahun terakhir, sistem itu hampir tidak pernah melakukan apa pun selain menampilkan pesan error dan membuatnya kesal.
Namun sekarang...
Sistem itu bereaksi.
Dan reaksinya jauh lebih aneh daripada biasanya.
"Jangan bilang kau mau meledak."
Layar kembali bergetar.
Lebih kuat daripada sebelumnya.
Chen Mo langsung mengangkat alis.
"Kau tidak sedang mempertimbangkannya, kan?"
Tetap tidak ada jawaban.
"Hah..."
Ia mengembuskan napas pelan.
Lama-kelamaan, berbicara dengan benda aneh seperti ini terasa semakin biasa.
Saat tangannya kembali mendekati tanaman ungu itu...
Bulu kuduknya tiba-tiba meremang.
Ada sesuatu.
Instingnya berteriak memperingatkan bahaya.
Sesuatu bergerak di balik kabut.
Cepat.
Sangat cepat.
Belum sempat Chen Mo bereaksi, bayangan hitam melesat keluar dari semak-semak.
Seekor ular sepanjang hampir tiga meter langsung menerjang ke arahnya.
Sisiknya berwarna abu-abu gelap.
Kabut tipis terus mengepul dari sela-sela mulutnya.
Sepasang mata hijau itu menatap Chen Mo tanpa sedikit pun emosi.
Ular Kabut Beracun.
Wajah Chen Mo langsung memucat.
Ia memang tidak mengenali banyak binatang iblis.
Namun melihat taring sepanjang itu...
Ia tidak perlu menjadi ahli untuk tahu bahwa makhluk itu sama sekali bukan teman yang ramah.
Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar.
Chen Mo langsung melompat mundur.
Buk!
Taring beracunnya menghantam tanah tepat di tempat Chen Mo berdiri sesaat sebelumnya.
Dalam beberapa tarikan napas, tanah di titik itu berubah hitam pekat.
Sudut mata Chen Mo berkedut.
"...Keterlaluan."
"Itu racun atau cairan pembersih lantai?"
Ular itu mendesis keras.
Lidah bercabangnya menjulur keluar masuk.
Jelas sekali makhluk itu tidak menghargai lelucon.
Chen Mo terus mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Di dalam hati, ia panik setengah mati.
Namun wajahnya tetap berusaha terlihat tenang.
Kalau memang harus mati...
Setidaknya jangan mati sambil berteriak.
Meski kemungkinan besar itu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.
Ular Kabut Beracun kembali menerjang.
Kali ini jauh lebih cepat.
Chen Mo bahkan tidak sempat menangkap bayangan gerakannya.
Refleks, ia langsung memejamkan mata.
Satu pikiran terakhir melintas di kepalanya.
Sial...
Aku bahkan belum sempat memperbaiki sistem ini...
Tepat saat itu...
Suara desir tajam membelah udara.
Sreet!
Cahaya dingin melintas secepat kilat.
Seketika kepala ular terlempar beberapa meter.
Tubuh besarnya menghantam tanah, menggeliat beberapa kali, lalu benar-benar diam.
Suasana kembali sunyi.
Chen Mo membuka mata perlahan.
Ia masih hidup.
Fakta itu sendiri sudah cukup mengejutkan.
Beberapa meter di depannya berdiri seorang gadis berpakaian putih.
Rambut panjangnya berkibar pelan tertiup angin.
Di tangan kanannya tergenggam pedang tipis berwarna perak kebiruan yang masih memancarkan hawa dingin.
Aura tenang namun tajam menyelimuti tubuhnya.
Lin Qingyue.
Salah satu murid paling berbakat di generasi muda Sekte Awan Hijau.
Chen Mo langsung mengenalinya.
Bagaimanapun, cukup sulit melupakan murid cantik yang hampir selalu menjadi pusat perhatian di sekte.
Lin Qingyue melirik bangkai ular di tanah.
Lalu pandangannya beralih kepada Chen Mo.
Tatapannya dipenuhi kebingungan.
"...Kau masih hidup."
Chen Mo mengangguk.
"Sampai saat ini, ya."
Lin Qingyue terdiam sejenak.
"Aku sudah melihat ular itu sejak tadi."
"Kenapa kau tidak lari?"
Chen Mo ikut terdiam.
Jawaban yang sebenarnya cukup sederhana.
Karena ia memang tidak sempat.
Namun demi menjaga harga dirinya yang tersisa, ia sedikit mengangkat dagu.
"Aku sedang mengamati pola serangannya."
Lin Qingyue menatapnya tanpa berkedip.
Chen Mo membalas tatapan itu setenang mungkin.
Beberapa detik berlalu.
"Benarkah?"
"Tentu saja."
Dalam hati, Chen Mo hanya bisa berdoa semoga wajahnya tidak terlihat terlalu pucat.
Sayangnya...
Tatapan Lin Qingyue justru turun ke kedua tangan Chen Mo yang masih gemetar.
Chen Mo segera menyembunyikan tangannya di balik punggung.
Gerakannya begitu cepat hingga terasa sangat mencurigakan.
Lin Qingyue memandangnya beberapa saat.
Namun akhirnya memilih tidak bertanya lebih jauh.
Sebagai gantinya, ia mengalihkan perhatian ke tanaman ungu di dekat mereka.
Begitu melihatnya, ekspresinya langsung berubah.
"Kau menemukan ini?"
Chen Mo mengikuti arah pandangannya.
"Memangnya tanaman ini istimewa?"
Lin Qingyue segera berjongkok di depan tanaman itu.
Tatapannya menjadi jauh lebih serius.
"Rumput Penyempurna Dasar."
Chen Mo berkedip.
Namanya terdengar cukup mengesankan.
Sayangnya, ia sama sekali tidak tahu kegunaannya.
"Tanaman ini mampu membantu murid Tingkat Pemula memperkuat fondasi kultivasi."
Lin Qingyue mengusap perlahan salah satu daunnya.
"Efeknya memang tidak terlalu berarti bagi para jenius."
"Tetapi bagi murid luar..."
"Tanaman ini sangat berharga."
Mata Chen Mo langsung berbinar.
Berharga.
Ia sangat menyukai kata itu.
"Banyak murid mencarinya selama bertahun-tahun."
Lin Qingyue melanjutkan.
"Namun hanya sedikit yang benar-benar berhasil menemukannya."
Tanpa sadar, Chen Mo melirik layar sistem yang masih terus bergetar.
Untuk pertama kalinya...
Ia merasa sistem rusaknya benar-benar melakukan sesuatu yang berguna.
Lin Qingyue berdiri kembali.
Tatapannya perlahan beralih ke Chen Mo.
"Bagaimana kau menemukannya?"
Pertanyaan itu membuat Chen Mo membeku.
Tentu saja ia tidak mungkin mengatakan bahwa sistem rusaknya tiba-tiba bereaksi begitu melihat tanaman ini.
Kalau ia benar-benar menjawab seperti itu, kemungkinan besar yang akan didapat bukan kepercayaan, melainkan tatapan aneh.
Ia berpikir cepat.
"Lucky."
Alis Lin Qingyue sedikit terangkat.
"Hanya itu?"
Chen Mo mengangguk mantap.
"Aku tersesat."
"Lalu?"
"Aku hampir keracunan."
"Lalu?"
"Aku dihina seekor tupai."
"Lalu?"
"Aku menemukan tanaman ini."
Lin Qingyue terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu pemuda itu, ia benar-benar kehabisan kata-kata.
Penjelasan Chen Mo terdengar sangat tidak masuk akal.
Namun...
Ekspresinya juga tidak terlihat seperti sedang berbohong.
Chen Mo menggaruk pipinya.
"Kalau dipikir-pikir lagi... hari ini memang agak aneh."
Lin Qingyue hanya menghela napas pelan.
Entah keberuntungan Chen Mo memang luar biasa...
Atau pemuda di depannya benar-benar memiliki cara berpikir yang sulit dipahami.
Kabut di sekitar mereka kembali bergerak perlahan.
Suasana hutan kembali sunyi.
Sementara itu, layar sistem yang hanya bisa dilihat Chen Mo masih terus bergetar.
Tidak ada tulisan.
Tidak ada informasi.
Namun entah mengapa, Chen Mo merasa sistem itu sedang... bersemangat.
Seolah-olah tanaman di depannya memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang diketahui Lin Qingyue.
Tatapannya kembali jatuh pada Rumput Penyempurna Dasar.
Lalu beralih ke layar sistem.
Sebuah pertanyaan perlahan muncul di benaknya.
Jika tanaman ini benar-benar sangat langka...
Jika bahkan murid berbakat seperti Lin Qingyue menganggapnya sebagai harta...
Lalu...
Kenapa sistem rusaknya bisa menemukannya dengan begitu mudah?
Apakah itu hanya kebetulan?
Atau...
Selama ini ia memang belum memahami cara kerja sistem tersebut?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun...
Rasa penasarannya terhadap sistem mulai mengalahkan rasa kesalnya.
Mungkin...
Sistem itu memang tidak benar-benar rusak.
Atau mungkin...
Ia hanya belum menemukan cara untuk menggunakannya.
,kayak nya gw GK kebaca atau lupa deh