PART DUA Novel KETIKA KEHORMATAN KU DI PERTANYAKAN.
"BISMILLAH CINTA" seru Khadijah sebelum ia bersujud di sepertiga malam nya. Setelah pagi tadi ia merasakan gugup dan jantung nya berdetak kencang untuk pertama kali nya saat dekat dengan seorang laki-laki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumtazah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Adzan subuh sudah berkumandang, tapi cakra masih enggan bangun dari tempat tidur nya. Kepala Asrama yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian rapi, wangi dan bersih tersebut terus berteriak, Tetapi kenyataan nya Cakra tidak ada tanda-tanda untuk bangun.
"Cakra!" dia menggoyang kan tubuh cakra
"Bangun!" Teriak nya lagi, setelah itu ia menarik selimut Cakra dengan kasar.
Tubuh meringkuk, bibir pucat dan badan bergetar.
Segera ia menempelkan punggung tangan nya ke kening cakra.
Deman!
"Cakra Sakit, ayo beberapa orang ikut aku membawa ke UKS!"
Dua orang menuntun Cakra, sedangkan Cakra sendiri saat ini sedang sangat lemah tidak bertenaga. Ia sebenarnya sangat capek setelah perjalanan, tubuh yang tidak fit tersebut malah harus melihat sesuatu yang membuat nya semakin sakit.
"Ini gak bisa, harus di bawa ke klinik!" Ucap Bilal yang kebetulan dia adalah pengawas Asrama Laki-laki.
"Inggih, gus."
"Ya sudah, ambil mobil. kenapa masih di sini" Ya begitulah Bilal, mudah sekali marah. hehe..
Cakra sudah ada di sebuah klinik, tangan nya sudah di pasang infus. Dodit yang tak lain teman Cakra itu juga duduk di sana, ia satu-satunya yang paling dekat dengan Cakra, untuk itu Bilal meminta nya untuk menjaga sampai Cakra benar-benar membaik.
"Dia kecapean saja, biar satu hari berada di sini." seru dokter yang memeriksa Cakra
"Tadi dia gemetar, mengigil gitu, dok" Dodit masih saja khawatir
"Iya, itu karena kecapekan saja. Sudah tak kasih obat"
Walau Dodit sering sekali marah kepada Cakra masalah Khadijah, nyatanya ia begitu sangat khawatir dengan keadaan Cakra. Bagaimana pun juga Cakra adalah teman nya sejak SMA, mereka berdua sudah berjuang untuk masuk ke asrama ini, dengan tes ketat siapapun bisa tereliminasi waktu itu.
"Dit, Tolong telepon Mama sama Papa"
"Udah tak telepon, kemungkinan nanti sore mereka datang"
"Kamu gak kuliah ya, dit"
"Sama Gus Bilal suruh jagain kamu, udah di izinkan otomatis nanti"
"Makasih ya"
"Huekkk!" Adit sungguh ingin muntah mendengar kata Terima kasih dari Cakra "Kalau sakit saja ingat sama kata itu, coba kalau segar bugar. Beribu kata-kata ku tidak akan kau dengar, kampret!"
Setidaknya Cakra tersenyum.
Di sisi lain, Khadijah sedang bersiap pergi bersama Rafa. Rafa sudah duduk di teras bersama Usman, ia masih menunggu Khadijah dan Karin yang kata nya hari ini mau ikut Syefeeya membeli oleh-oleh.
"Maaf, telat" Ucap Karin yang tiba-tiba datang dengan nafas ngos-ngosan.
"Enggak, mama Karin. Umi sama Khadijah masih ada di dalam" Jawab Rafa.
Karin pun langsung nyelonong masuk begitu saja, ya tingkah nya masih belum berubah. Biarkan sajalah, toh Hamish juga sangat mencintai nya.
Dua jam kemudian, Karin dan Safeeya sudah berkeliling mencari oleh-oleh. sedangkan Rafa dan Khadijah duduk di restoran cepat saji. Itu memang di sengaja, Safeeya meminta agar memiliki quality time.
Drrrrtttt..
Handphone Rafa bergetar, ternyata ada pesan yang masuk ke handphone nya.
Assalamu'alaikum, Gus. Besok jadi pulang?
Ana tunggu di sini ☺
Setelah membaca, Rafa menatap Khadijah yang tengah menyedot Es Milo.
"Kenapa gak di balas?" Ucap Khadijah saat melihat Rafa hendak memasukkan handphone nya ke dalam saku jas.
"Gak penting, dek."
"Balas saja dulu, bang. Siapa tau dia menunggu jawaban abang"
deg
deg
deg
Perkataan Khadijah yang sederhana itu membuat jantung Rafa berdetak kencang.
"Dek, boleh mas tanya sesuatu?"
"Boleh, bang. silahkan"
"Kita sudah hampir menikah, tinggal beberapa bulan lagi kan? Sebenarnya Abi udah nyuruh mas jelasin ini sebelum kita tunangan. Tapi Abang saja yang masih enggan berbicara"
"Jelasin apa, bang?"
"Jadi gini, dek" Rafa mulai membenarkan posisi duduk nya agar lebih tegak. "Tapi Abang ingin mengatakan dan menekan kan, bahwa Abang sangat cinta dan sayang kepada Dek Dijah. Tidak ada yang mampu mengganti kan posisi dek dijah, di hati abang, di hati Umi pokoknya Dek dijah ada tempat tersendiri buat kami"
Khadijah mengkerut kan dahi nya, sebenarnya apa yang sedang di bicarakan oleh Rafa.
"Iya, Khadijah percaya hal itu, bang. Jujur saja Khadijah juga sudah mulai jatuh cinta sama Abang" Khadijah mengatakan nya dengan pipi bersemu merah.
"Alhamdulillah kalau seperti itu, jadi Adek harus percaya kalau adek segalanya bagi Abang"
Khadijah menunduk sambil menganggukan kepala nya.
"Sebelumnya Abang mau tanya dulu, Apa pendapat Adek tentang Poligami?"
Khadijah mendongak menatap Rafa.
BERSAMBUNG..
Penasaran ......
ko gak up
lama lohh nunggu nya...