Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Aroma Daging Panggang
'Dia bilang... Raja Jacob? Apa jangan-jangan tempat ini adalah Kastil Salvatore? Milik penguasa bangsa Vampir yang terkenal kejam dan tak tertandingi itu?'
Rahang Elara seketika mengeras. Kilat kemarahan berkobar di sepasang mata biru samudera miliknya. "Ternyata rumor itu benar. Dia sama sekali tidak memiliki belas kasihan. Dasar raja kejam."
Namun, di tengah rasa frustrasinya, sebuah ingatan mendadak melintas di kepala Elara. Ia teringat akan sebuah kabar dari lautan luas yang sempat menggemparkan seluruh klan air.
Anak perempuan semata wayang dari Raja Mermaid—Moana Nixie—telah memutus tradisi dengan menikahi putra mahkota dari Jacob Salvatore.
Seketika, sebuah seringai licik dan berbahaya terukir di sudut bibir pucat Elara. Sebuah rencana gelap mulai tersusun rapi di benaknya.
"Mungkin ini adalah jalan dari takdir untukku membalaskan dendam kepadamu, Helios," desis Elara penuh racun.
Ia tahu betul bahwa Moana Nixie adalah sepupu kandung dari Helios—pria mermen bajingan yang telah menipunya, memberinya harapan palsu tentang cinta, padahal kenyataannya pria itu sudah memiliki istri. Helios telah menghancurkan reputasinya hingga Elara berakhir diasingkan dari lautan.
"Aku mungkin belum bisa menyentuhmu secara langsung di lautan, Helios. Tapi perlahan dan pasti, aku akan memulai kehancuranmu dari daratan ini. Aku akan menghancurkan rumah tangga sepupu kesayanganmu terlebih dahulu," gumam Elara dengan tawa lirih yang terdengar mengerikan di bawah sunyinya malam.
"Aku ingin melihat seluruh keluargamu hancur dan merasakan sakit hati yang sama persis dengan apa yang kurasakan!"
Elara membulatkan tekadnya sekeras baja. Begitu sepasang kaki barunya ini sudah bisa dikendalikan dengan sempurna, ia bersumpah akan kembali ke kastil ini, bagaimanapun caranya.
Rencana pertamanya sudah matang: ia akan menggoda dan merebut Justin Salvatore—suami dari Moana, sekaligus putra kandung dari Raja Vampir yang baru saja mengusirnya.
Elara perlahan bangkit berdiri. Sepasang tangannya yang gemetar bertumpu erat pada jeruji pagar besi yang dingin. "Aku harus segera pergi dari tempat terkutuk ini," desisnya rendah.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia mulai menyeret kedua kakinya yang kaku, melangkah menjauh dari bayang-bayang Kastil Salvatore yang menyeramkan.
Langkahnya tertatih, menembus kegelapan Hutan Luminara yang sunyi. Namun, di tengah keputusasaannya, Siren tangguh itu sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata tajam tengah mengawasinya dari balik rimbunnya pepohonan.
Sesosok pemuda tampan berambut biru safir bergerak mengendap-endap di belakangnya. Ia kini telah mengenakan jaket pinjaman milik Josiah—anak dari Justin Salvatore yang berusia sebaya dengannya. Siapa lagi pemuda itu kalau bukan Edgard Blue.
Langkah kaki sang Werewolf jantan bergerak seringan bulu, nyaris tanpa suara. Ia menjaga jarak aman agar keberadaannya tidak terendus oleh Elara.
Sejak awal pertemuan mereka di tepi danau, ucapan Edgard yang mengejek bau tubuh Elara mirip amis ikan hanyalah sebuah kebohongan besar untuk menutupi rasa gugupnya.
Bagi Gustav atau bangsa Vampir lainnya, aroma Elara mungkin memang berbau anyir khas makhluk laut. Namun, bagi indra penciuman serigala Edgard yang teramat tajam, aroma itu justru sangat berbeda.
Itu adalah perpaduan magis antara kesegaran ombak lautan dan kepekatan bunga sedap malam yang manis sekaligus memabukkan.
Sebuah wangi adiktif yang menguar kuat dari balik kulit mulus sang Siren—aroma dari seorang mate mutlak yang telah ditakdirkan oleh semesta untuknya.
****
Elara terus menyeret kakinya. Jarak yang ia tempuh sudah cukup jauh, meninggalkan siluet Kastil Salvatore di kejauhan. Telapak kaki barunya yang sensitif kini telah lecet dan berdarah karena tergores ranting kering serta bebatuan tajam Hutan Luminara.
Tanpa alas kaki dan penerangan, ia hanya bisa mengandalkan insting immortal-nya untuk menembus kegelapan hutan yang kian pekat.
Langkah kaki Elara mendadak terhenti. Napasnya terengah-engah memburu. Paru-parunya terasa panas, dan ia sudah tidak sanggup lagi walau hanya untuk sekadar menegakkan tubuh.
"Hah... hah... demi penguasa samudra, aku... aku tidak kuat lagi," rintihnya dengan sisa tenaga yang ada.
Elara menjatuhkan tubuh lemasnya begitu saja, bersandar pada sebatang pohon pinus raksasa di belakangnya. Ia menatap nanar sekeliling yang dipenuhi kegelapan.
"Di mana lagi aku sekarang? Aku benar-benar tidak punya tempat tujuan."
Jemari Elara meraba pinggangnya, menggenggam erat sebuah kantung koin kecil. Itu adalah satu-satunya harta berharga dan benda tersisa yang berhasil ia bawa dari lautan.
"Sial! Kukira hidup di daratan akan seindah kisah-kisah di negeri dongeng. Ternyata sama saja buruknya dengan saat aku membusuk di penjara bawah tanah Abyssal Trench," umpatnya penuh dendam.
Kruuuk.
Elara seketika memegangi perutnya yang terus berbunyi nyaring. Rasa lapar yang melilit ini begitu menyiksa. Ia memang menolak menyentuh kepala ikan beku yang dilemparkan oleh sipir penjara sebelum ia berhasil kabur dari wilayah Kerajaan Mermaid waktu itu. Harga dirinya terlalu tinggi untuk memakan makanan sekotor itu, namun kini daratan sedang menghukum keangkuhannya.
"Berhentilah berbunyi, perut sialan!" makinya kesal sembari memukul-mukul pelan perutnya sendiri. "Jika aku terus diam di sini tanpa arah, bisa-bisa aku mati konyol jadi santapan ras immortal predator lainnya."
Sementara itu, di atas dahan pohon yang tinggi, Edgard mengawasi setiap gerak-gerik sang Siren dengan dahi berkerut penasaran. Ia tetap bergeming di kegelapan, menjaga egonya untuk tidak mendekat, apalagi menawarkan pertolongan.
'Dari semua betina Werewolf di dunia ini, atau dari ras immortal lain yang ada, kenapa takdir harus memilihkan seorang Siren untukku?' batin Edgard frustrasi.
Pikiran Edgard mendadak melayang pada masa lalunya. Sebelumnya, ia sempat patah hati dan terpaksa merelakan gadis yang dicintainya—seorang Dewi Mnemosyne—untuk ketiga sepupu kembar vampirnya; Jonas, Jonah, dan Josiah. Edgard sama sekali tidak menduga jika gadis pujaannya kala itu ternyata memiliki takdir khusus yang memungkinkannya mempunyai lebih dari satu belahan jiwa, hingga akhirnya menggaet tiga pangeran vampir sekaligus sebagai mate-nya.
Kini, saat ia mengira hatinya telah mati, takdir justru melempar seorang gadis Siren yang angkuh dan merepotkan tepat ke hadapannya.
Namun, tiba-tiba indra penciuman Elara mengendus aroma yang sangat menggoda. Bau harum dari daging panggang tercium samar, terbawa oleh embusan angin malam dari kejauhan.
Elara yang sudah benar-benar kelaparan seketika menegakkan tubuhnya. Ia terus mengendus udara, mencoba memastikan arah datangnya bau tersebut.
"Aromanya sangat menggugah selera. Siapa yang memanggang daging di tengah hutan pada malam selarut ini?" ucapnya dengan mata berbinar antusias.
Rasa lapar yang melilit rupanya berhasil mengalahkan rasa sakit di telapak kakinya. Mengabaikan denyut nyeri yang menyiksa, Elara memaksakan diri untuk berlari kecil, meski gerakannya masih tampak terseok-seok karena belum terbiasa mengendalikan sepasang kaki manusianya.
"Mau ke mana lagi dia?" gumam Edgard di atas pohon. Ia hanya bersedekap dada, mengernyitkan dahi sembari terus mengamati pergerakan sang Siren dengan saksama.
Aroma daging panggang itu terasa semakin dekat dan pekat. Elara terus memacu langkahnya yang tertatih. Di depannya, semak-semak belukar menjulang tinggi menghalangi pandangan.
Dengan gerakan cepat, ia menyibak dedaunan rimbun tersebut dan seketika sepasang matanya berbinar riang.
Ia tiba di sebuah tepi sungai yang jernih. Di seberang sana, tampak sekumpulan orang sedang berkumpul, duduk mengelilingi api unggun yang berkobar hangat.
"Ramai sekali. Sedang apa mereka?"