Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Winda bergegas ke kantin untuk membeli makan siang. Hari ini Septi, Winda dan juga Sony berniat untuk makan siang di pantry. Kantin kantor terletak di lantai dasar. Baru saja Winda keluar dari lift, tiba-tiba ada yang menabraknya.
"Eeehh... maaf..."
Terdengar suara seorang laki-laki meminta maaf. Ketika Winda menatap ke arah sumber suara, dia terkejut.
"Mas Adi...."
Adi pun tak kalah kagetnya.
"Win...Winda..."
Wajah Adi mendadak pias. Dia mulai terlhat gelisah. Winda memperhatikan Adi dari atas sampai bawah. Adi berpenampilan berbeda dari biasanya. Setelan jas hitam yang membungkus tubuhnya menambah ketampanan Adi.
"Ehem..."
Salah satu teman Adi mendehem. Winda terkejut.
"Maaf pak, saya permisi..."
Winda meninggalkan Adi dan kawan-kawan nya dengan banyak pertanyaan di dalam hatinya. Setelah membeli makan siangnya, Winda kembali ke pantry.
"Winda kenapa? Kok wajah kamu pucat begitu?" tanya Sony.
"Habis ketemu hantu ya?" timpal Septi.
"Ah, mbak Septi bisa aja. Udah ah makan dulu."
Winda menyerahkan menu makanan pesanan Septi dan Sony. Mereka makan sambil sesekali bercanda. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu pantry. Septi segera membuka pintu. Septi terkejut begitu tau siapa yang mengetuk pintu.
"Winda ada?" tanya Adi.
"Ada, pak. Silahkan masuk."
Adi masuk ke dalam pantry. Dilihatnya Winda berdiri sambil menunduk, tak jauh dari Sony.
"Bisakah kalian keluar sebentar? Saya ingin berbicara empat mata dengan Winda."
"Baik, pak."
Septi dan Sony keluar dari pantry. Tinggal Winda dan Adi yang ada di dalam ruangan. Adi duduk di kursi yang ada di situ
"Winda..."
"I...iya pak. A... ada yang bisa saya bantu.?"
Winda menjawab dengan gugup.
"Sini duduk."
Winda duduk di kursi depan Adi.
"Ada apa, pak? Pak Adi ingin berbicara dengan saya?"
"Kamu jangan terlalu formal begitu. Seperti biasanya saja."
"Tapi ini di kantor, pak. Jadi saya harus memposisikan diri, bahwa saya adalah bawahan pak Adi.."
"Itu kalau di depan karyawan yang lain boleh kamu bersikap seperti itu. Tapi kalau hanya kita berdua biasa saja."
"Baik, pak... eh, maaf. Mas Adi."
Adi tersenyum.
"Gak sangka ya kita bertemu di sini. Aku gak tau jika kamu kerja di sini."
"Aku juga gak sangka mas Adi juga kerja di sini. Gak pernah ketemu."
"Mana mungkin ketemu. Ruanganku ada di lantai bawah."
Winda tertawa kecil mendengar perkataan Adi. Winda memang tidak pernah menginjak lantai mana pun, selain lantai satu dan lantai sepuluh tempat dia bekerja. Selain itu dia naik turun lantai menggunakan lift khusus karyawan jadi tak pernah bertemu dengan Adi.
"Oh iya mas, sudah dapat kabar tentang mas Gito?"
Adi menatap Winda.
"Apakah kamu sangat merindukan dia?"
Winda mengangguk.
"Bagaimana jika dia telah melupakan mu dan menikah dengan wanita lain?"
"Kok mas Adi ngomong begitu?"
"Ya aku cuma mau tau saja."
Winda menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya pelan.
"Seenggaknya aku tau jika dia baik-baik saja. Setelah itu, aku akan melupakan mas Gito."
Mendengar jawaban Winda, membuat Adi tersenyum.
"Kamu tenang saja. Gito baik-baik saja kok. Hanya saja dia mengalami hilang ingatan."
"Hilang ingatan? Maksud mas Adi apa?"
"Sudah beberapa bulan ini, Gito mengalami hilang ingatan. Tepatnya sejak dia pulang dari proyek waktu itu."
"Kenapa bisa, mas?"
"Waktu dia mau pulang, kendaraan yang dia tumpangi mengalami kecelakaan. Gito koma selama seminggu. Begitu sadar, di lupa akan masa lalunya. Termasuk lupa dengan kamu."
Winda terkejut mendengar penuturan Adi. Ternyata Gito bukan sengaja untuk melupakannya tetapi karena dia kehilangan ingatannya.
"Boleh aku bertemu dengan mas Gito, mas?"
Ari tersenyum mendengar permintaan Winda.
"Tanpa kamu sadari, sebenarnya setiap hari kamu telah bertemu dengan Gito."
"Maksud mas Adi apa? Aku gak ngerti."
"Ah, sudahlah. Jika sudah saatnya, kamu akan tau."
"Tapi mas..."
"Waktu istirahat sudah habis. Aku balik ke ruangan aku dulu. Assalamualaikum..."
'Waalaikumsalam..."
Adi segera keluar dari pantry. Sedangkan Winda duduk termenung sambil menopang dagu.
'Apa ya maksud mas Adi kalau aku tiap hari sudah ketemu dengan mas Gito? Di mana aku ketemu dengan mas Gito?' gumam Winda dalam hati. Sampai Septi dan Sony masuk ke pantry, Winda belum menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Sementara itu, di dalam ruangannya, Radit melihat dan mendengar apa yang tadi Winda dan Adi bicarakan, melalui cctv yang terkoneksi ke laptopnya
"Winda, ternyata kamu tidak pernah melupakan aku. Kamu masih terus menginggat ku. Maafkan aku yang sudah melupakan mu." kata Radit. Dia terus menatap ke arah laptop. Menatap wajah gadisnya yang tengah bercanda dengan kawan-kawan nya.
####
Di batu dengan Septi, Winda mengemasi pakaian dan sedikit barang yang dia punya. Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan tempat kost Winda.
"Assalamualaikum...."
Terdengar suara Adi. Septi membukakan pintu. Dia terkejut melihat siapa yang datang.
"Waalaikumssalam....eh, pak Adi."
"Septi, kamu ada di sini?"
"Iya, pak. "
"Winda ada?"
"Ada. Silahkan masuk."
Septi membuka lebar pintu kamar kost Winda. Adi terkejut melihat Winda sedang packing pakaian.
"Lho kamu mau ke mana, Win? Kok packing pakaian begitu?"
"Eh, mas Adi. Iya, mas. Aku mau pindah ke kontrakan mbak Septi.'
"Memangnya kenapa di sini? Apa kamu udah gak nyaman?"
"Bukan begitu. Tapi biar ada teman ngobrol aja."
"Aku anterin ya."
"Gak usah. naik taxi aja. Lagian barang aku gak banyak."
"Nah, karena barang kamu sedikit, aku mau anterin kamu. Kalau barang kamu banyak, aku gak mau anterin. Mau ya?"
Winda memandang ke arah Septi, meminta persetujuan. Septi hanya mengangkat bahunya.
"Ya udah gak apa-apa. Tapi maaf sebelumnya udah ngerepotin mas Adi."
"Gak apa-apa. Mana yang akan di bawa?"
"Hanya ini aja kok."
Winda menyerahkan sebuah koper dan beberapa barang lainnya. Adi memasukkan semua nya ke dalam bagasi mobil. Sementara itu, di temani Septi, berpamitan kepada ibu kost yang rumahnya tak jauh dari tempat kost. Setelah berbasa-basi, Winda pun berpamitan dan segera menuju ke mobil Adi. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Adi menjalankan mobilnya menuju tempat tinggal Septi. Selang satu jam kemudian mereka sampai di depan kontrakan Septi. Adi memarkirkan mobilnya di halaman. Dia membawakan koper dan barang Winda lainnya.
"Winda, aku gak mampir ya."
"Kok buru-buru sih mas?"
"Iya mau ke rumah saudara. Lama sudah gak ke sana."
"Iya. Sekali lagi terimakasih ya mas. Udah mau anterin aku."
"Sama-sama. Aku pamit ya, Septi, Winda. Assalamualaikum..."
"Waalaikumssalam..."
Adi segera masuk mobil dan berlalu. Winda dan Septi masih saling berdiam diri. Septi memandang ke arah Winda dengan rasa penasaran.
"Kenapa, mbak? Kok ngelihatnya begitu banget."
"Kamu punya hubungan spesial sama pak Adi?"
"Maksud mbak Septi?"
"Kamu pacaran sama pak Adi,?"
Winda terkejut mendengar pertanyaan Septi, lalu dia tertawa terbahak-bahak. Septi heran melihatnya.
"Kok malah ketawa, sih?"
Winda menghentikan tawanya.
"Maaf, mbak. Aku gak pacaran sama pak Adi."
"Tapi kamu kelihatan akrab banget begitu. Sampai-sampai kamu panggil dia dengan sebutan mas."
"Pak Adi itu temennya pacar aku. Jadi aku dekat sama dia."
"Memangnya kamu sudah punya pacar?"
Winda terdiam. Dia tidak tau. bagaimana status hubungan dirinya dengan Gito. Septi melihat hal itu segera mengalihkan pembicaraan.
"Udah yuk masuk. Ceritanya di lanjut nanti saja."
Winda tersenyum dan mengikuti langkah Septi masuk ke dalam rumah. Septi menunjukkan kamar untuk Winda. Setelah Septi berlalu, Winda menyimpan pakaiannya kedalam lemari yang ada di dalam kamar, lalu dia segera beristirahat.
meluncur ke cerita lainnya