Gea keluar dari taksi dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar kosannya. Gea melihat ada sepatu Sarah sahabatnya sekaligus teman 1 kamarnya. Apa Rendy ada di dalam?, sepatunya ada di sini juga. Gea bicara di hatinya.
Gea mendorong sedikit pintunya yang tidak dikunci, mendengar desahan Sarah sedang berhubungan intim Gea menarik kembali pintunya dan berniat untuk pergi.
Sarah memang sudah biasa melakukan itu dengan pacarnya. Tiba-tiba langkah Gea terhenti ketika mendengar suara pria tersebut tidak asing baginya.
Tubuh Gea gemetaran terlintas di pikirannya takut kalau yang dia dengar barusan itu adalah pacarnya.
Gak mungkin Rendy dan Sarah memiliki hubungan di belakangnya.
Perlahan-lahan Gea membuka pintunya, dan matanya terbelalak terkejut melihat pacar dan sahabat sedang hubungan intim di sofa ruang tamu.
Dada Gea terasa sakit, dan napasnya merasa sesak, hatinya sangat hancur tidak sanggup menerima kenyataan yang di lihatnya langsung.
"Apa yang kalian lakukan hah!!" teriaknya sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delita Shira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertaruhan di atas papan Catur
Hari itu, Bara bekerja dengan efisiensi yang luar biasa. Beban pikiran tentang Karisa seolah menguap, digantikan oleh rasa penasaran yang aneh tentang apa yang sedang dilakukan Gea di rumah.
Apakah karena kehadiran gadis itu aku jadi lebih tenang? pikir Bara. Gadis itu memang unik; sudah diusir, diperlakukan kasar, tapi tetap saja "ngeyel" dengan ketulusannya. Tanpa disadari, waktu menunjukkan pukul 4 sore, dan Bara sudah mematikan komputernya.
"Saya pulang sendiri, Adam. Tidak perlu ikut," perintah Bara tegas. Adam hanya bisa melongo melihat tuannya pulang secepat ini.
Di saat bersamaan, Karisa baru saja tiba di kantor Bara. Ia berjalan dengan penuh harap, berharap Bara bisa menjadi tempatnya bersandar setelah Aksan mengabaikannya.
"Maaf, Nona, Tuan Bara sudah pulang," ujar Adam saat melihat Karisa di lobi.
"Tumben sekali? Ini kan baru jam 4?" tanya Karisa tak percaya.
"Anda lupa, Nona? Tuan Bara sekarang sudah punya istri. Wajar jika ia ingin segera pulang ke rumah," jawab Adam datar.
Jawaban itu seperti tamparan keras bagi Karisa. Ia merasa dunianya runtuh; orang yang selalu memujanya kini perlahan menjauh, sementara pria yang ia tolak perlahan mulai memiliki kehidupan baru. Dengan hati remuk, ia pergi meninggalkan kantor itu dengan air mata yang hampir tumpah.
Sementara itu, di rumah, Gea tengah sibuk di dapur. Ia membuat puding cokelat berbentuk karakter kartun yang lucu. Begitu mendengar suara mesin mobil, ia segera berlari ke depan dengan celemek bergambar kartun yang masih melekat di tubuhnya.
"Halo, Tuan! Selamat datang di rumah!" sambut Gea ceria.
Bara berhenti melangkah, menatap Gea dari ujung kaki ke kepala. "Sambutan apa itu? Norak sekali," gumamnya, meski sebenarnya ia menahan tawa melihat tingkah Gea yang seperti anak kecil.
"Ini sambutan dari saya, Tuan. Anda haus? Ingin makan? Atau—"
"Saya mau mandi dan istirahat. Minggir!" potong Bara dingin.
Gea sedikit terhuyung, namun ia ingat puding di tangannya. "Tuan, tunggu! Anda tidak boleh ke atas sebelum mencoba puding buatan saya!"
Bara menatap puding berbentuk kartun itu dengan jijik. "Memangnya saya anak kecil? Harus makan ginian?"
Gea tidak menjawab, ia justru mengambil sendok dan langsung menyuapkannya ke mulut Bara. "Aa... buka mulutnya, Tuan!"
Bara tak punya pilihan. Ia mengunyahnya, lalu berdeham. "Standar," ucapnya singkat sebelum berlalu pergi ke lantai atas. Gea hanya tersenyum tipis. Ia sudah bertekad, ia tidak akan membiarkan Bara terpuruk dalam kesedihan.
Beberapa jam kemudian, Bara merasa bosan di kamar. Ia memutuskan turun, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara gelak tawa dari arah teras. Matanya terbelalak melihat Gea sedang asyik bermain catur dengan satpam rumah—dan Gea menang!
Bara berjalan ke teras, berdiri di bayang-bayang. Gadis itu berteriak kegirangan saat memenangkan pertandingan. Melihat antusiasme Gea, Bara tanpa sadar tersenyum tipis.
Gea menoleh ke atas dan melihat sosok Bara. "Tuan! Turunlah, ayo main sama saya!"
Bara melambaikan tangan, tanda menolak.
"Anda payah ya? Takut kalah sama saya?" tantang Gea.
Harga diri Bara tersentil. Ia segera turun dan duduk di hadapan Gea. "Kamu meremehkan saya?"
"Tidak, Tuan. Apa Anda takut?"
"Ayo, siapa takut!"
Pertandingan pun dimulai. Bara bermain dengan serius, mengandalkan strategi bisnisnya yang tajam. Namun, ia terkejut; Gea bukan lawan sembarangan. Gadis itu bisa membaca gerakannya dengan cerdik. Dia memang jago, batin Bara kagum.
Tak butuh waktu lama, Gea menjatuhkan raja milik Bara. "Skakmat! Huh, saya menang lagi! Hore!" Gea melompat kegirangan.
Bara berdiri, menatap Gea dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kekaguman di sana. "Dia memang jago. Tapi jangan sombong, lihat saja besok, aku akan mengalahkanmu!" ucap Bara sambil berbalik masuk ke dalam rumah.
"Selamat tidur, Tuan! Semoga mimpi indah!" teriak Gea sambil tertawa.
Bara terus berjalan, namun di balik punggungnya, ia tidak bisa menahan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, Bara tidak lagi memikirkan Karisa sebelum tidur.
BERSAMBUNG.