Siapa yang menyangka akan berjodoh dengan seseorang dari masa kecil.
Rendra Adipramana seorang Presiden Direktur dari Perusahaan Adipramana Group. Perusahaan yang dikenal besar dan ternama mampu membuat orang iri dengan yang berhasil bekerja disana.
Berusaha memperbaiki masa depan dan memiliki pendamping hidup yang tepat itulah yang menjadi tujuan hidupnya. Melewati rintangan hidup tidak membuatnya menyerah walaupun di satu waktu Rendra berhenti berjalan karena sahabat yang selalu bersamanya meninggal dengan cara tragis.
Sampai Rendra akhirnya bertemu dengan seorang wanita dari masa kecilnya. Amelia Hanindayana yang ternyata adalah seorang bawahannya sendiri.
Bagaimanakah perjalanan kisah cinta Rendra dan Amelia?
Ikutin aku di Instagram ya, follow @amandyapasha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Pasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-Gara Baking Powder
“Amel, ayo ikut ibu ke supermarket.” Teriak ibunya Amelia dari luar pintu kamar Amel.
“Iya bu sebentar, aku siap-siap dulu.” Sahut Amelia dari dalam kamar yang sedang bersiap-siap dengan terburu-buru.
“Ibu tunggu di mobil ya. Cepat ya Amel.” Teriak ibunya lagi sambil meninggalkan pintu kamar Amel dan pergi keluar rumah untuk masuk kedalam mobil yang sudah siap bersama sopirnya.
“Iya bu.” Sahut Amelia dari dalam kamar yang tidak tahu kalau ibunya sudah tidak ada di depan kamarnya lagi.
Amelia setelah sepuluh menit bersiap-siap dengan sedikit dandan. Ia memakai baju warna putih dengan lengan pendek dan memakai celana berwarna hitam. Ia hanya memakai pakaian simple saja karena hanya pergi ke supermarket.
Ia pun mengambil hp dan juga tasnya. Lalu, menyusul ibunya yang sudah berada di dalam mobil yang sedang menunggunya siap. Ia pun masuk ke dalam mobil dan mobil itu pun langsung melaju tanpa berlama-lama lagi.
“Kita mau ke supermarket mana bu?” Tanya Amelia kepada ibunya.
“Supermarket yang di jalan merpati putih itu. Itu supermarketnya besar kan?” Tanya ibunya balik yang lupa-lupa ingat.
“Iya yang disana besar. Memangnya ibu mau belanja apa?” Tanya Amelia lagi.
“Ibu mau belanja bahan-bahan untuk buat kue. Kamu mau bantu ibu bikin kue juga tidak?” Ajak Ibunya.
“Oh, terima kasih bu. Aku makannya saja nanti, Hehe…” Jawab Amelia malu.
“Hemm…, terserah kamu saja.” Sahut ibunya.
Sekitar tiga puluh menit mereka membutuhkan waktu untuk sampai di supermarket itu. Sekarang mobil yang dipakai Amelia sudah sampai dan sudah parkir dengan rapi di parkiran supermarket yang besar itu. Kini saatnya Amelia dengan ibunya masuk ke dalam supermarket itu.
“Amel, kita pisah disini saja ya. Ini uang belanja kamu dan ini kertasnya. Kamu beli semua yang ada di kertas itu. Kita bagi dua saja ya karena ibu tidak kuat kalau jalan lama-lama.” Ungkap ibunya sambil merobek kertas daftar belanjaan yang dipegangnya.
“Baiklah bu, tidak apa.” Ucap Amelia menurutinya.
“Nanti kalau sudah selesai langsung ke mobil saja ya.” Ucap ibunya lagi.
“Iya bu.” Jawab Amel.
Amelia dan ibunya pun berpisah di pintu masuk dan mulai barang belanjaan mereka masing-masing. Amelia mulai mengambil setiap bahan yang ada di kertas itu. Satu persatu ia menemukannya. Berjalan dari rak satu ke rak yang lainnya. Berpindah tempat dari ujung ke ujung. Sampai pada akhirnya ia menemukan satu bahan yang ia tidak tahu seperti apa bentuknya.
Baking Powder? Apa ini. Batin Amelia yang belum pernah melihat rupa dari bahan itu.
Dengan akal pintarnya, ia mengambil hp yang ada di dalam tasnya dan mulai mengetik nama baking powder di kolom pencarian di internet. Karena, ia yakin pasti akan terjawab seperti apa bentuknya dengan bantuan foto yang akan muncul di internet.
Setelah ia menemukan fotonya ia langsung mencari bahan itu ke setiap bagian dan menelusuri setiap rak. Ia juga sampai naik ke lantai dua. Melihat lagi dengan seksama karena bendanya bukanlah benda yang berukuran besar.
Penglihatannya selalu bolak-balik dari hp dan juga setiap barang yang ada di rak itu.
Bruuk!
Tanpa melihat ke arah depan Amelia tidak sengaja menabrak orang lain. Amelia yang melihat ada sebuah tangan di hadapannya langsung diraihnya begitu saja dan bangun.
“Maaf.” Ucap Amelia yang meminta maaf terlebih dahulu.
“Tidak, saya yang salah. Saya tidak melihat kamu tadi.” Ucap orang yang menabrak Amelia tadi.
Ya tuhan, siapa dia? Tampan sekali. Batin Amelia yang terpanah dengan aura ketampanan seorang pria yang ada di hadapannya.
“Halo.” Orang itu melambaikan tangannya di hadapan wajah Amelia.
“Eh, iya maaf.” Amelia pun menundukkan kepalanya malu dan segera pergi sambil membawa keranjang belanjaannya.
Duh, kenapa harus melamun begitu si. Kan jadi malu. Batin Amelia yang menutupi wajahnya karena ia tahu pasti wajahnya akan berubah berwarna merah.
Amelia yang tiba-tiba langsung menghentikan langkahnya karena melihat sesuatu yang sedang dicarinya tadi.
Ini dia baking powder. Akhirnya, sudah lengkap belanjaanku. Batin Amelia yang tersenyum senang dan langsung turun ke lantai satu lagi dan mulai berjalan ke arah kasir untuk membayar semua belanjaannya.
Tunggu, sepertinya ada yang aneh. Batin Amelia sambil merogoh saku celananya satu-satu dan mengecek tasnya.
Aaa..., Hpku hilang! Batin Amelia panik.
Amelia pun bingung harus bagaimana. Ia langsung membayar belanjaan itu dengan uang yang ibunya berikan tadi. Ia langsung berjalan sambil membawa paper bag belanjaannya dan membawanya ke mobil. Saat sudah sampai mobil ia langsung memberikan kepada sopirnya yang sedari tadi sudah menunggunya.
“Pak, ibu saya sudah selesai belum?” Tanya Amelia sambil mengatur nafasnya yang tersenggal.
“Belum nona.” Jawabnya sopan.
“Kalau begitu saya mau kembali ke dalam lagi dulu sebentar ya. Jangan ditinggal ya kalau ibu sudah selesai.” Jawab Amelia dan langsung berjalan meninggalkan sopir itu yang masih terdiam mematung mencoba mencerna situasi yang ada.
Amelia kembali masuk ke dalam dan naik ke lantai dua tepat dimana letak tadi dimana ia jatuh. Ia pikir mungkin hpnya tertinggal disana karena ia langsung pergi begitu saja.
Tapi saat ia tiba di tempat itu sama sekali tidak ada tanda keberadaan hpnya. Ia juga mencari di bawah rak itu yang juga tidak terdapat hpnya. Ia juga memberanikan diri untuk bertanya kepada orang-orang sekitar namun tidak ada juga yang melihatnya.
Karena takut ibunya sudah menunggu akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke mobil. Ternyata saat di mobil memang benar ibunya sudah kembali dan juga sudah selesai belanja. Mobil pun langsung melesat jauh dari supermarket kembali ke kediamannya.
Sesampainya dirumah ia langsung masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi meja rias sambil menatap dirinya di depan cermin dengan perasaan yang sudah campur aduk seperti es campur. Ia bingung harus melakukan apa karena semua nomor telepon serta beberapa catatan penting pribadinya ada di hp itu.
Seketika ia merasa aneh karena ia mulai merasa menyesal sudah terpesona dengan ketampanan pria yang menabrak sekaligus yang membantunya tadi. Ia pikir jika saja tidak terpengaruh dengan ketampanannya pasti ia tidak akan merasa malu dan pergi begitu saja dengan meninggalkan hpnya disana yang mungkin sekarang sudah diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Karena ia lelah berpikir dan juga merasa kesal. Ia juga merasa banyak pikiran yang sangat membuat dirinya merasa ngantuk dan ingin tidur. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan mengganti baju di ruang pakaian.
Setelah itu ia menjatuhkan tubuhnya kasar dan mengambil guling untuk dipeluknya. Tanpa waktu lama ia langsung terlelap karena sangat lelahnya.
Bersambung.
ah ...sudahlah nikmati aja baca ceritax ...hihihi