Seaaon 1 tentang Jill dan Jeff (couple J).
Season 2 tentang Shanum dan Salman (couple S).
Jill kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan dan justru bertemu cowok tampan, mapan, dan menawan yang ternyata adalah bosnya.
Shanum terpaksa menggantikan kakaknya menikahi Salman, pria cacat yang tiba-tiba menjelma menjadi pria paling kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala Garang
Dengan segera Jill meletakkan kertas yang ia bawa ke meja. Pelan ia duduk di kursi depan Jeff.
Jeff membuka lembaran demi lembaran kertas laporan milik Jill. Sampai di lembaran terakhir, tepat dimana ia harus membubuhkan tanda tangan, kepalanya langsung mendongak.
Jill mengikuti arah pandang Jeff ke kertas yang sekarang dipegangi pria itu. Kertas itu terlihat menjijikkan dengan adanya cap sendal butut.
Mampus! Apakah ini saatnya ia mendapat dampratan?
Plis, bos gila, jangan ngomel dong!
Jill berharap ada keajaiban turun dari langit saat itu juga. Hujan emas, pesawat jatuh di depan kantor, atau alien kecebur parit. Yang penting situasi saat itu langsung berubah.
“Ini apa?” Jeff menunjuk cap sendal yang menempel di kertas dengan suara tidak bersahabat.
Jill merasa seperti berada di ujung tanduk. Malang sekali nasibnya.
“I It Itu… Yang tadi kepijak sendal.”
Ah, Jill belum sempat memikirkan kata-kata menarik untuk menjawab. Kalimatnya jadi belepotan.
“Perbaiki pekerjaanmu, setelah itu baru kau minta tanda tanganku.” Jeff menunjuk-nunjuk kertas bercap sendal itu dengan telunjuknya. Nada suaranya yang tegas ditambah sorot mata yang tajam membuat Jill terbungkam.
Jill mengambil tumpukan kertas di depan Jeff. Namun gerakan tangannya terhenti ketika Jeff menyambar kertas-kertas itu dengan gerakan sewot, peris seperti sedang merampas barang.
“Ini nggak sopan!” Jeff mengangkat kertas itu lalu menunjuk cap sendal yang terpampang.
Masih membahas itu lagi? Bukankah Jeff mengetahui kejadian tadi sampai akhirnya laporan Jill jadi rusak? Kenapa Jeff tidak bisa memberi toleransi? Haruskah seorang atasan bersikap demikian demi menunjukkan kewibawaannya? Jill ingin menjerit dan menangis ketika setumpuk kertas itu dilempar ke depannya.
“Baru kali ini aku menerima laporan ber-cap sendal begini. Kau pikir aku tukang sapu yang harus mengepel dan menyapu laporanmu terlebih dulu sebelum membacanya? Benar-benar keterlaluan! Kenapa kau bekerja seperti anak SD? Oh ya, wajar saja kau seteledor ini, kau melamar kerja di sini hanya mengandalkan ijazah SMA.”
Jill ingin mencakar muka Jeff di akhir kalimat yang Jeff ucapkan. Jeff tidak mengucapkan kalimat itu dengan bentakan atau hardikan keras layaknya orang marah, pria itu menandaskan kalimat dengan nada datar dan senyum lebar namun dibumbui sorot mata tajam menghunus.
“Lain kali, pakai ini!” Jeff menjentik pelipisnya sendiri dengan jari telunjuk, dengan kata lain ‘otak’.
Jadi menurut Jeff sekarang ini Jill bekerja tanpa memakai otak, begitu? Jill meremas ujung bajunya. Membayangkan muka dan bibir Jeff yang sedang diremas.
“Kau diterima di sini sebagai sekretaris IC yang bertugas mengumpulkan data, bekerjalah dengan pintar. Jangan bodoh. Harus bagaimana aku mengajarimu?”
Dasar serigala garang. Sombong. Angkuh. Congkak. Beraninya mengatai bodoh. Jill merutuk dalam hati. Jeff benar-benar telah menghinanya.
“Sudah? Apa lagi? Kenapa masih di sini?” tegas Jeff.
Jill cepat-cepat mengambil kertas-kertasnya. Kalau boleh jujur, ia juga sudah tidak betah berada di ruangan yang berbau singa kelaparan. Tidak perlu diusir, sudah sejak tadi ia ingin kabur.
Jill memutar badan dan berjalan menuju pintu. Hampir saja ia bertabrakan dengan seseorang yang berdiri di ambang pintu menunggu giliran untuk bertemu Jeff. Tak lain Edo. Entah sudah sejak kapan Edo berada di sana. Jill tidak perduli. Ia melengos berjalan ke luar tanpa memperdulikan Edo yang memutar kepala mengikuti gerak langkahnya.
TBC