NovelToon NovelToon
100 Days

100 Days

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:429.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rusmini Prihatin

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Isabel bahwa kisah cintanya akan berakhir dengan cara menyakitkan. Dua orang yang saling mencintai, harus terpisah oleh takdir yang membuatnya tidak berdaya.

Kala ia mulai merelakan takdirnya, sebuah asa baru muncul. Seolah memberinya nafas baru yang membawa kehidupan padanya. Dalam waktu 100 hari, ia diajarkan tentang rasa cinta dan kecewa. Bagaimana 100 hari itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Perubahan yang menyeretnya pada takdir yang kembali mengharuskannya untuk berkorban.

Sacrifice is a part of unconditional love.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rusmini Prihatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 10

Please Like, comment and vote dears !

_________________

Mata biru Isabel dan mata kelabu Eric beradu, saling menatap dengan tajam. Seolah mereka sama-sama mengacungkan pedang dan siap untuk bertarung.

Meskipun sempat terkejut dengan kata-kata Eric yang menyebutkan bahwa cafe ini adalah miliknya, keberanian Isabel sama sekali tidak surut. Tidak sedikit pun Isabel mencabut pandangannya dari mata Eric.

"Cukup, Eric!"

Aiden menarik lengan Eric agar menjauh dari Isabel. Dia tahu Isabel bisa berbuat lebih 'gila' disaat dirinya merasa terdesak. Dan Aiden sama sekali tidak ingin membuat keributan dengan Eric. Karena saat ini posisinya sangat tidak memungkinkan untuk melawan.

Eric mundur satu langkah akibat tarikan tangan Aiden, tapi kedua mata tajamnya belum terlepas dari mata Isabel.

"5 minutes, Eric. Just give me 5 minutes." Rasanaya itu cukup untuk mencegah keributan yang bisa saja terjadi. Apalagi beberapa pasang mata yang ada disana sudah mulai memerhatikan adegan itu. Bisik-bisik juga samar terdengar dari beberapa pengunjung cafe.

Mendengar ucapan Aiden, Eric memberi respons dengan satu lirikan singkat yang tajam pada Aiden lalu kembali memberikan tatapan perang pada Isabel.

"Hanya 5 menit," ucapnya penuh penekanan pada Aiden, tapi ucapan itu seperti ditujukan pada Isabel yang juga masih menatapnya tak kalah tajam.

Setelah selesai dengan 3 katanya, Eric berbalik dan berjalan ke arah ruangannya meninggalkan Aiden dan Isabel.

"Siapa dia? Apa masalahnya denganmu?" selidik Isabel sepeninggal Eric. Dari suaranya, Isabel masih diliputi rasa kesal karena Eric.

Isabel kembali duduk di kursinya. Sesekali dia masih melayangkan pandangan pada ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca hitam di bagian belakang cafe.

Aiden juga kembali duduk di tempatnya. Dia menghela napas. Dia hanya punya waktu 5 menit sebelum Eric kembali membuat masalah untuknya.

"He's Chloe's brother," jawab Aiden sambil menunduk lesu.

Terdengar helaan napas kasar dari mulut Isabel. Senyum kecut pun tampak di bibirnya.

Dalam posisi seperti ini, kesedihan yang dia rasakan tadi berubah menjadi kekesalan. Isabel tidak lagi merasakan kesedihan yang menyiksanya dari kemarin. Bahkan perasaan yang mendominasi hatinya saat ini adalah rasa kesal terhadap Chloe dan Eric. Benci, itu yang lebih tepat.

"Maaf, Bells. Sebaiknya kau pulang dulu. Aku tidak ingin membuatmu dalam masalah." Meskipun berat, Aiden mengatakannya juga.

Isabel menegakkan posisi duduknya. Matanya menatap Aiden dengan penuh keyakinan. " Aku tidak takut, Aiden. Aku bisa menghajar pria brengsek itu," katanya tegas.

"Bukan masalah itu, Sayang." Aiden bingung. Matanya terlihat bergerak tak tentu. Bibirnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu. "Pulanglah dulu. Lain kali akan kujelaskan," pupusnya kemudian.

Isabel menangkap kegelisahan Aiden. Dia berpikir sejenak, sebelum akhirnya membuka suara.

"Baiklah. Aku akan pulang." Isabel berdiri. Aiden ikut berdiri.

Aiden memutar langkah mendekati Isabel. Dia menggenggam kedua tangan Isabel. Ditatapnya lekat manik biru gadis itu. "Aku mencintaimu, Sayang. Hatiku tidak pernah berubah sedikit pun. Semoga kau bisa memaafkanku." Mata Aiden tampak redup. Dibalik kata cintanya, ada kesedihan yang begitu dalam.

"Dengarkan aku Aiden." Isabel mengambil napas. "Aku tidak akan menyerah," katanya tegas.

Gadis itu menegaskan ucapannya lagi dengan berjinjit lalu mencium bibir Aiden, tanpa memberi kesempatan pada Aiden untuk menanggapi ucapannya. Rindu, Isabel merindukan ciuman itu.

Sepertinya Aiden juga merasakan hal yang sama. Aiden membalas ciuman Isabel tanpa memedulikan beberapa pasang mata yang memerhatikan.

Isabel melepaskan bibirnya dari bibir Aiden, lantas dia memeluk tubuh Aiden dengan erat. Pelukan erat Aiden semakin memperjelas perasaan diantara mereka.

Dalam pelukan Aiden, kedua mata Isabel menatap tajam ke arah ruangan berdinding kaca hitam. Dia yakin dalam ruangan itu sepasang mata kelabu sedang memperhatikan adegan mereka dengan geram. Bibir Isabel tertarik membentuk sebuah seringai.

Sementara itu di dalam ruangan yang di dominasi warna hitam dan putih, Eric berdiri di dekat kaca satu arah dan melihat adegan yang memancing emosinya.

Dia menggertakkan giginya dengan rahang yang mengeras. Saat dia melihat gadis pirang dalam pelukan laki-laki sedang menatap tajam kearahnya dengan sebuah seringai di bibirnya, kilatan amarah terlihat jelas dalam mata Eric. Dia mengepalkan kedua tangannya hingga urat-uratnya tergambar jelas di permukaan kulit.

Sebelum kembali ke apartemen Alice, Isabel menyempatkan diri mampir ke kediaman keluarga Bennings untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan yang dia butuhkan. Dia tidak mungkin meminjam pakaian Alice terus menerus.

Isabel kembali ke apartemen Alice pukul 3 sore. Pintu apartemen Alice menggunakan kunci manual, dan Isabel memegang satu kuncinya. Saat Isabel hendak memasukkan anak kunci ke lubangnya, Isabel mendapat sedikit kesulitan. Anak kunci itu tidak bisa masuk ke dalam lubang. Tak berselang lama pintu terbuka. Alice muncul dari balik pintu dengan wajah panik. Setelah menghela napas lega, Alice memeluk sahabatnya itu.

"Syukurlah kau kembali," kata Alice setelah melepaskan pelukannya. "Kau membuatku khawatir." Wajahnya menunjukkan kelegaan setelah mengetahui bahwa Isabel baik-baik saja.

"Aku dari rumah mengambil pakaian," jawab Isabel dengan senyum tipis di bibirnya. Dia langsung berjalan melewati Alice yang masih berdiri di depan pintu sambil menyeret koper berukuran sedang miliknya.

Alice menutup pintu lalu menyusul Isabel yang masuk ke dalam kamar.

"Kenapa ponselmu tidak aktif?" Alice duduk di tepi ranjang memerhatikan Isabel yang mulai membuka kopernya dan mengeluarkan peralatan mandi serta alat make up.

"Oh, mungkin aku tidak sengaja mematikan ponselku," jawab Isabel santai.

Alice mengerutkan keningnya, masih terus memerhatikan Isabel yang mulai mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper dan memindahkannya ke lemari Alice yang masih kosong.

"Ada yang aneh," gumam Alice nyaris tanpa suara.

"Bells," panggil Alice.

"Ya?" Sekilas Isabel menoleh pada Alice, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Suaranya terdengar ringan. Dan itu semakin menambah kecurigaan Alice.

"Kau baik-baik saja?" tanya Alice. Dia ingin memastikan sahabatnya itu masih waras karena melihat kondisi Isabel semalam dan saat ini sungguh kontras. Isabel tidak lagi terlihat muram atau sedih seperti semalam. Alice memang senang kalau Isabel sudah tidak bersedih lagi. Tapi, mengingat betapa buruknya kondisi Isabel semalam, rasanya aneh melihat Isabel sesantai ini.

"I'm fine," jawab Isabel sambil terus menata pakaiannya dalam lemari.

Alice mengernyit, merasa ini semakin aneh.

"Aku khawatir padamu. Saat aku pulang, kau sudah tidak ada. Bahkan kau tidak makan sarapan yang kubuat."

"Maaf, Aku tadi terburu-buru," kata Isabel yang baru saja selesai menata pakaian terakhirnya. Dia menutup lemari lantas menutup kopernya dan mendorong koper itu ke samping lemari yang kosong.

Isabel berjalan ke arah ranjang, lalu duduk di tepi ranjang bersisian dengan Alice. Tiba-tiba dia memeluk Alice dan menyandarkan kepalanya di bahu Alice.

"Thank you, Alice. Kau adalah sahabat terbaikku. Aku sangat beruntung memilikimu," kata Isabel tulus.

Alice mengusap lengan Isabel yang melintang di dadanya. "Jangan membuatku khawatir lagi. Kau sudah kuanggap saudaraku sendiri. Kau bisa cerita apapun padaku, okay."

Isabel mengangguk masih dengan posisi memeluk Alice.

"Bells." Alice melirik sahabatnya. "Patah hati tidak membuatmu jadi penyuka sesama jenis, kan? Aku merasa ngeri kau memelukku seperti ini," ujar Alice dengan wajah ngeri yang dibuat-buat.

Ucapan Alice spontan membuat Isabel tergelak. Dan tawa itu menular pada Alice 

Sore itu mereka habiskan dengan obrolan dan canda tawa seperti biasa. Tidak sepenuhnya 'seperti biasa', tapi aura kesedihan sudah tidak terasa lagi.

Tanpa Alice sadari, perubahan sikap Isabel bukanlah tanpa alasan. Boleh saja Alice mengira Isabel sudah bisa move on dari Aiden. Meski hatinya berkata itu ... mustahil. Tapi Alice lebih memilih untuk mempercayainya daripada harus melihat Isabel terpuruk.

Sedih?

Masih. Tapi rasa sedih Isabel tidak seberapa dibandingkan kebencian yang mulai tumbuh dalam hatinya. Kebencian yang menggiring otak Isabel untuk mulai memainkan rencananya.

tbc.

*

*

*

*

*

Happy reading dears....!!!

Mau kasih bonus nih,

Visual Alice !

Untuk cast Alice aku pilih Lily Collins.

Karekter Alice yang ceria dan sedikit 'nakal' kurasa cocok dengan wajah gadis cantik ini.

So, enjoy the story !

See you next part.

1
Mayraffa
karya u bener2 the best thor
sumpah, q terharu bgtzzz
salah satu hal positif di crita nie ttg ikhlas dan memaafkan


smgtzzz thor .smoga karya2 u smakin memukau
😊
Mayraffa
dasar ulet bulu,,,,gak tau malu bgtz tuh si elena

btw...crita u bagus thor...sayang nya baru baca ... 2 hr nie q kejar tayang baca novel u
😁
Dra Hotmarisi uli
cerita nya bagus
Ross
Ah, bisa komen di tiap paragraf😍
KUNCORO'S Days
biasanya kalo ada cerita ttg seseorang yg amnesia aku paling maalleeessss baca. Tapi ini beda jln ceritanya, ga brenti2 nangis bacanya. Makin bikin penasaran😍
Nunuy Hertati
jordan i love u😘😘❤️❤️❤️😍😍😍
Nunuy Hertati
sakiiiiiiiiit thor
Nunuy Hertati
sakiiiiiiiiiiit thor
Nunuy Hertati
bavang jordan buat aku aja thor..gk bakalan nolak.. wkwkwk
Nunuy Hertati
❤️❤️❤️❤️❤️
Nunuy Hertati
nyesek bgt thor
Nunuy Hertati
jgn peenah main" dg obat perangsang.
Nunuy Hertati
meweeeeeeek thor
Nunuy Hertati
kity tuan mu kocak jg
Nunuy Hertati
aku suka banget semua visual nya.
KaiRA🎉PUCUK~SQUAD🌱🐛🌱🐛🥀🐛
suka suka bgt😍😍😍
KaiRA🎉PUCUK~SQUAD🌱🐛🌱🐛🥀🐛
aq mncintaimu kak rus😍😍😍😍
KaiRA🎉PUCUK~SQUAD🌱🐛🌱🐛🥀🐛
mewek Mulu BCA part ini
KaiRA🎉PUCUK~SQUAD🌱🐛🌱🐛🥀🐛
sungguh miris crta isabel ma Erik..bnyak sedihnya...ad aja rintangannya untuk mereka bersatu
KaiRA🎉PUCUK~SQUAD🌱🐛🌱🐛🥀🐛
benar juga c..prnikahan bukan hnya soal cinta😌ad tanggung jawab yg besar..krna saat cinta it terkikis maka tdk ada lagi yg bisa dhrapkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!