Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENCARIAN
BRAM POV
Kalau aku tidak bisa memilikinya maka orang lain juga tidak berhak atas dirinya, dia hanya milikku! aku bersumpah atas itu. Betapa sakit dan panasnya hatiku ketika aku berhasil mendatangi rumah sinta di Bandung, siapa sangka jika sinta sudah tidak berada disana. Satu Kenyataan pahit lagi yang membuat jantungku serasa akan berhenti memompa., laki-laki yang pernah singgah di apartemen sinta waktu itu ternyata telah melayangkan sebuah lamaran, sungguh aku hancur sekarang. Rasanya panas membakar dada, aku benar-benar menginginkan perempuan itu atas nama apapun. Dia yang baru-baru ini mengisi kehampaan direlung hatiku, meski ku akui rasa ini terlalu dini, tetapi bukankah lebih baik jika aku ingin lebih jauh dan serius, sebagaimana laki-laki bertanggung jawab yang semestinya. Kemana lagi aku harus mencari sinta, Bandung sangatlah luas aku bahkan baru pertama kali ini menginjakkan kaki di Kota ini. Tidakkah kamu merindukanku sinta, aku yang hampir gila karena kepergianmu. Aku terus membawa mobil kebanggaanku itu untuk terus melaju membelah jalanan, mataku tak berhenti mencari-cari sosoknya. Sosok perempuan cantik itu , sungguh aku bisa gila sekarang.
BRAK
Aku pusing dan berhenti dipinggir jalan, turun dari mobil dan berjalan menjauh. Rasanya sangat panas, hatiku baru kali ini merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan, bukan karena aku yang belum bisa menemukan sinta, tetapi bagaimana jika perempuan itu sudah menerima pinangan orang lain. Aku rasa aku benar-benar tidak sanggup atas kenyataan itu.
"Sinta sudah dari kemarin meninggalkan rumah ini."
"Aduh bagaimana ya nak bram?"
"Tetapi anak saya sudah dilamar pria lain."
"Ya namanya Firman."
"sudah dilamar pria lain."
"sudah dilamar pria lain."
Ucapan dari mama sinta terus berdengung dikepalaku, menambah kesan sangat dramatis didalam otakku sekarang.
Apa aku sudah terlambat sinta, apa kamu sungguh tidak mencintaiku, lalu kedekatan kita selama ini apa hanya aku yang merasakan sesuatu yang hangat didalam dada, berdesir dengan indah setiap mata kita saling bertemu. Kenapa hanya karena aku yang pernah memiliki seseorang di masa lalu membuatmu tidak bisa menerimaku, sungguh kalau aku bisa ungkit kembali sinta, bahkan ku kira masa lalumu masih bisa kuterima.
Aku bahkan terus menahan rasa iri karena james bukanlah anakku, setiap kali aku menatap wajah lugunya ingin sekali rasanya kudekap terus tubuh mungil itu dan berharap bisa menjadi panutan yang baik untuknya kelak. Aku ingin mendengar Dia memanggilku ayah ketika dia sudah berbicara nanti, aku ingin menjadi kata pertama yang bisa james sebut, tidak kah kamu melihat keseriusanku selama ini.
Aaaaaarghhh
Rasanya batinku terus memberontak dan ingin berteriak dengan lantang, sesak seperti didalam sana ada sesuatu yang membuatnya penuh.
Dimana kamu sinta?.
***
"Kenapa rasanya sangat perih. Aku merindukannya, sungguh."
Sinta menatap langit-langit kamar dikontrakan barunya, james tidur bersama siti karena sedari tadi putranya itu terus menangis, mungkin karena masih dalam tahap pengenalan ditempat baru. Entah karena diluar udaranya sangat dingin atau apa namun rasanya sinta benar-benar kedinginan saat ini, sama pula dengan hatinya dingin dan tidak membiarkan orang lain untuk menyentuhnya.
Hampa kini benar menyelimuti hati janda anak satu itu, kenapa nasibnya begitu sial, tidak pernah terfikirkan sekalipun bahwa takdirnya akan seperti ini.
drtt drtt
Mama send 2 message
20.00 WIB
kamu dimana sayang? Maafkan mama karena telah memaksa kamu untuk terus menikah dengan firman, kamu pulang ya nak, bawa james kembali, mama rindu sekali dengan dia.
20.01 WIB
Tadi sore juga ada yang datang kesini, dia mencarimu sinta. Namanya bram, kamu mengenalnya?.
Deg
Bibir sinta melongo dengan tangan kirinya yang menutupi bibir ranum itu, dia terkejut laki-laki yang baru saja difikirkannya mencari sinta sampai ke Bandung, darimana laki-laki itu mengetahui alamat rumah mamanya. Apa mungkin dari kelvin? entahlah , sinta tidak menyangka jika bram benar-benar belum menyerah akan dirinya. Meski tidak bisa ditampik ada sedikit rasa senang saat laki-laki itu benar memperjuangkannya, seandainya saja sinta tidak terlalu memperdulikan perasaan natasya, mungkin sekarang dia sedang bersama laki-laki itu sekarang.
"Mbak biarkan aku yang pergi berbelanja ya, mbak tolong jaga james."
"Apa tidak pergi bersama saja bu?"
"Tidak usah mbak aku saja."
James masih enggan untuk mengalihkan pandangannya dari layar televisi, sinta yang menyadari akan banyak perkembangan terhadap bayinya itu tersenyum, senang rasanya bisa menikmati momen-momen menjadi ibu.
Walaupun sinta sudah tidak lagi bekerja namun tabungannya masih cukup untuk membiayai kehidupannya, masih cukup untuk menggaji siti, meski demikian dia harus segera mencari pekerjaan. Berbelanja yang tidak terlalu banyak itu ternyata cukup menguras dompetnya, tapi tidak mengapa asal perut dia bisa dimanjakan dengan masakan sedap dari siti. Sebenarnya siti itu khusus untuk mengurus james, namun dengan baik hati dia juga mau membantu pekerjaan sinta yang lainnya, seperti membereskan rumah dan memasak, syukurlah sinta masih diberi orang baik yang mau bekerja bersamanya.
Sinta masuk kedalam toko mainan anak-anak , dia ingin membelikan mainan untuk putranya. Dari arah berlawanan Firman yang kebetulan juga ingin membelikan mainan untuk james, laki-laki itu hendak berangkat ke kantornya, dia tertarik untuk memberikan sesuatu kepada calon anak tirinya. Firman meluangkan waktu sejenak untuk melipir ke toko itu dan tidak disangka dia berada pada satu tempat dengan sinta, perempuan itu membalikkan badannya menuju kasir ditangan kanannya sudah dia bawa satu mobil-mobilan, berharap james menyukainya. Langkahnya terhenti ketika menyadari sepasang mata dingin yang begitu ia kenal sedang menatap datar kearahnya, sinta menghindar dia melangkahkan kakinya ke lain arah, firman yang merasa dihindari mengejar calon istrinya itu.
"Tunggu sinta!" lengan mulus itu berhasil dia cekal.
"Lepaskan aku!" dihempasnya tangan kasar firman, laki-laki itu tidak kaget. Dia sudah terbiasa dengan perlakuan ketus sinta terhadapnya, meski sedikit kesal laki-laki itu tetap memasang wajah tenangnya.
"Kamu sedang disini juga ternyata."
Sinta tidak menjawab, perempuan itu membuat ancang-ancang untuk menjauh. Dengan secepat kilat sinta itu sudah berada didepan kasir, firman sendiri yang sedikit kaget dengan gerakan tiba-tiba sinta langsung menengokkan kepalanya, menatap perempuan itu sudah berdiri memunggunginya. Meski dia bertemu dengan ibu dari james, firman akan memberikan sendiri mainan yang telah ia pilih untuk james, sedikit mencari nama mungkin.
Sinta sudah melesat dengan mobil merahnya, bahkan firman seperti baru saja beberapa kali mengedipkan matanya, perempuan itu seperti memiliki kekuatan sangat cepat.
Firman bukan pria tipikal yang banyak bicara dia hanya sesekali menyapa sinta, bahkan ketika laki-laki itu melamar sinta pun dia hanya diam, yang memang obrolan sudah diwakili ayahnya. Sinta menganggap laki-laki itu sombong dan tidak tahu diri, sudah ditolak masih saja berani melamar dengan orang tuanya. Bibir laki-laki itu seperti tidak pernah dia pakai untuk menyapa orang-orang, Sungguh tidak ramah.
***
BRAM POV
tutt tutt
kenapa sinta tidak pernah mau mengangkat telfonku, kalaupun dia takut aku mengetahui keberadaannya paling tidak aku bisa mendengar suaranya walaupun satu kata sekalipun. Atau mungkin kalimat pedas yang pernah terlontar dari bibir manis itu, tidak mengapa asal aku bisa mendengar lagi suara halusnya. Aku masih berada di Bandung, sedari tadi malam aku terus berkelana, mata ini tidak terlelap barang sedetik saja hanya ketika berkedip. Pedas pasti yang terasa di mataku, tetapi biarlah aku lanjutkan lagi nanti mencari sinta sekarang aku butuh tidur mungkin lima menit, itu sudah lebih dari cukup.
"Aku tidak tahu kalau kamu berkunjung."
"aku sudah hampir gila mencarimu kemana-mana sinta, ternyata kamu kembali lagi kesini."
perempuan itu tersenyum sangat manis kearahku, Kami berdiri diambang pintu . Disana james tengah merangkak, bayi itu sudah tumbuh lebih aktif sekarang, dia merangkak terus kearah kakiku tidak ku sia-siakan kesempatan untuk menggendong tubuh kecilnya itu.
"Masuk bram!" perempuan itu menuntun tangan kananku yang bebas tidak menopang tubuh james, dia pergi kedapur lalu datang kembali dengan segelas kopi ditangannya. Aku suka ini, dia tidak berhenti tersenyum kearahku.
"Biarkan aku yang menggendong james jika kamu ingin menikmati kopinya," tubuhnya mendekatiku untuk mengambil james, dia duduk disana disampingku, masih setia dengan senyum manis itu, ah ini sangat indah.
tok tok tok tok
Ku buka mata besarku ini dan ada banyak sekali orang diluar mobilku, mereka seperti kebingungan dengan cepat aku turun dari mobil.
"Maaf kang kalau mau tidur jangan disini, kami sebagai warga yang akan melintas jadi tidak bisa," ucapan salah satu warga seolah mengingatkanku bahwa mobilku tidak terparkir ditempat yang semestinya, karena rasa ngantuk dan gelisah tadi aku sampai lupa mobil ini masih menepi hampir di tengah-tengah jalan yang sempit.
"Maaf maaf, saya akan menepikan mobilnya sekarang."
brak
Dengan sedikit rasa malu dan bersalah aku keluar dari gang kecil itu, kembali mencari sosok yang tadi sempat datang kedalam mimpiku. Entah itu mimpi atau ilusi tapi itu nampak sangat nyata, senyumnya masih sangat membekas didalam ingatanku. Meski tidak nyata, tetapi itu sedikit mengobati rasa rinduku, sedikit.
Benar-benar pusing, mungkin karena dari kemarin sore aku tidak makan sama sekali, rehat sejenak untuk makan mungkin akan sedikit membuatku lebih kuat, pilihanku sampai pada warung bakso sederhana.
kalau dibilang enak bakso yang sedang aku santap ini enak, tetapi entah mengapa lebih nendang ketika aku makan ditempat soto sapi langganan natasya. Meski sama-sama terbuat dari sapi tapi mungkin aku lebih menyukai semangkuk soto, setelah kenyang dan kerongkonganku kembali basah, aku melanjutkan kembali perjalanan. Rasanya lebih baik ketika perutku dalam keadaan kenyang menjadi lebih bersemangat untuk mengelilingi kota sebesar ini, menghampiri orang-orang disini dan menanyakan sinta dengan foto mungkin akan lebih memudahkan ku mencari perempuan itu. Ku hampiri mereka satu persatu , semuanya masih nihil mungkin karena sinta baru saja pergi dari rumah jadi langkah janda itu belum banyak disini, belum banyak yang perempuan itu temui.
Ponselku seperti berbunyi, suaranya tidak jelas karena ramainya jalanan.
Ternyata satu panggilan tidak terjawab dari kelvin, siapa tahu penting.
tuuutt
"Hallo bram."
"Iya ada apa?"
"Bagaimana dengan sinta apa kamu sudah bertemu dengannya?"
"kamu selalu menelfon ku disaat-saat yang tepat, aku sedang kalang kabut sekarang dia sudah pergi dari rumah mamanya."
"Pergi kemana?"
"Aku tidak tahu mamanya juga tidak memberitahuku."
"Pulanglah dulu nanti kita bicarakan masalah ini."
"Aku tidak akan pulang sebelum menemuinya."
"Santai sedikit kawan nanti juga kalian bertemu."
"Apa kamu bisa menjamin itu?"
"Maka dari itu pulanglah."
klik
Aku menimbang-nimbang ucapan kelvin, mungkin pria itu bisa membantuku menemukan sinta. Kelvin adalah mantan suaminya, pasti ada banyak hal yang sudah diketahui oleh pria itu, entah keberadaan saudara sinta atau petunjuk lainnya.
Dengan berat hati aku meninggalkan kota itu kembali lagi ke asalku, Yogyakarta. Setelah sampai nanti aku akan langsung menemui kelvin, tidak basa-basi aku sangat membutuhkan bantuan orang itu, tidak apalah bekerja sama dengan kelvin untuk menemukan sinta, toh pria itu sepertinya sudah tidak lagi melibatkan perasaan masa lalunya. Aku tidak perlu khawatir akan menumbuhkan kembali perasaan diantara mereka berdua, sinta juga seperti masih membenci kelvin sekarang tidak ada yang perlu dicemaskan.
***
"Permisi mbak."
"Iya pak?"
"Bu dewi dan sintanya ada?"
"Bu dewi sedang arisan diluar pak, kalau mbak sinta sudah beberapa hari yang lalu pergi dari rumah."
"Pergi?"
Firman mendatangi rumah sinta yang hanya bertemu dengan asisten rumah tangga dirumah itu, dia kaget ketika mendengar bahwa sinta meninggalkan rumah, perasaan baru saja dia bertemunya tadi pagi di toko mainan.
"Ah kalau begitu saya permisi saja mbak."
Laki-laki itu akan mencari tahu sendiri kemana dan mengapa sinta pergi dari rumah, dia pastikan sinta masih ada di Bandung. Buktinya saja tadi pagi, mungkin tempat tinggal sinta sekarang tidak jauh dari toko itu. Besok firman akan lewat lagi kesana, siapa tahu masih mendapati perempuan itu ditempat yang sama.
***
Sinta tidak percaya dia bisa bertemu dengan firman, bagaimana jika laki-laki itu mengadu kepada mamanya. Usaha sembunyi nya itu pasti akan segera terbongkar, sinta bingung harus bagaimana sekarang. Letak toko mainan itu tidak jauh dari kontrakannya, akan sangat mudah laki-laki itu untuk mengetahui keberadaan sinta, perempuan itu bingung apakah dia harus pindah lagi. Rasanya sinta sudah merasa nyaman berada disana biayanya juga tidak mahal, uangnya masih cukup kalau untuk membayar biaya bulanan.
"James sekarang kita harus bagaimana?" bayi itu mengulum sendiri jari-jari mungilnya, sinta memangku james di pelataran kontrakannya. Sinta memikirkan akan tinggal dimana setelah ini, meski firman belum memergoki kediamannya tetapi entah mengapa dia takut laki-laki itu akan menemukan sinta dan james.
"Makanannya sudah matang bu sinta."
"Sebentar lagi mbak aku mau cerita sedikit bisa?"
"Iya bu sinta ada apa?"
"Cepat atau lambat pasti akan ada yang mengetahui keberadaan kita."
"Maksut bu sinta?"
"Tadi aku bertemu dengan firman ketika sedang mencarikan james mainan, aku kaget mbak ternyata laki-laki itu juga ada disana."
"Apa sebaiknya kita kembali lagi ke Jogja bu?"
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih