Pradina Hartono seorang gadis sederhana. Yang berjuang untuk kehidupan keluarganya agar lebih baik. Bekerja paruh waktu sambil berkuliah di perguruan tinggi swasta di Kota Y. Dina begitu dia disapa selalu berpenampilan sederhana.
Dina hanya memiliki ibu dan seorang adik. Ibunya hanya seorang pedagang kecil-kecilan di rumahnya. Sementara Ayahnya telah berpulang ke pangkuan yang maha Pencipta saat Dina duduk di bangku SD kelas 5. Setelah itu Dina terus berjuang mencari beasiswa agar dirinya bisa bersekolah.
Rionaldo Wijaya seorang pengusaha muda sukses. Namun kesuksesannya tak semulus kisah cintanya. Aldo begitu dia disapa harus kehilangan istri dan calon anaknya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu Aldo selalu menghindari wanita dan bersikap dingin kepada setiap wanita yang ingin mendekatinya.
Seperti apa ceritanya??? Kita lanjut ya... Jangan lupa Like, komen dan kasih tips nya ya bagi yang punya. 🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
"Mas, kenapa Mas masih disini?"
"Kenapa?"
"Bukannya Mas mau ke luar kota?"
"Jangan mikirin itu dulu. Kamu sembuh aja dulu ya."
"Maaf ya Mas."
"Kenapa minta maaf?"
"Karena aku Mas ga jadi pergi."
"Sudahlah. Kamu tenang aja. Mas sudah minta Budi pergi."
Dina pun memejamkan matanya kembali. Aldo terus menatap paras Dina yang sedikit pucat. Dalam hatinya Aldo bertanya mengapa bisa gadis seperti Dina tidak membuat trauma itu datang. Dari awal pertemuannya dengan Dina tak sedikitpun rasa itu keluar.
Dina mampu mengalahkan rasa trauma itu. Sebuah pesan masuk pada ponsel Aldo. Tertera nama Mas Valdi di layar.
💌 Kamu ga pengen tau Al siapa pelaku tabrak lari Dina?"
💌 Bukannya Mas sedang mengurusnya?"
💌 Iya. Mas dan Kepala mini market sudah menemukan orangnya. Hari ini kita diminta datang ke kantor polisi.
💌 Jam berapa? Nanti Al titipkan Dina pada Anggit.
💌 Kamu benar-benar tidak ingin tau siapa?
💌 Besok kan tau Mas.
💌 Dan kamu akan sangat tidak menyangka.
Aldo terua berfikir siapa pelakunya kenapa Mas.Valdi mengatakan hal seperti itu. Pintu kamar perawatan terbuka membuyarkan lamunan Aldo.
"Selamat pagi."
"Pagi. Ko Lu Git?'
"Kemaren katanya Gw aja yang meriksa Dina jangan laki Gw. Gimana sih Lu."
"Owh! Ya udah periksa cepetan."
"Al...Al... Heran deh Din. Kamu kasih apa dia bisa kaya gitu."
"Maksudnya Mba?"
"Aku tuh udah sahabatan sama dia dari orok tapi trauma dia nyampe loh ke aku. Tapi ke kamu bisa nempel gitu."
"Mungkin karena saya ga tau Mba kalo Mas.Al punya trauma."
"Gitu Al?"
"Udah Lu periksa aja cepetan."
"Sabar."
Anggit pun memeriksa luka yang ada di tubuh Dina dengan seksama.
"Din, nanti perbannya di ganti ya. Jangan lupa di cuci dulu ya baru di tutup lagi."
"Iya Mba."
"Al, lu masih bisa ganti balutan gini kan?"
"Iya."
"Ampun deh Lu."
"Nanti biar Dina sendiri aja Mba."
"Dia sekolahnya sama Din sama saya. Jalur kerjanya aja dia yang belok."
"Maksudnya?"
"Dia dokter juga." Dina pun melirik ke arah Aldo dan mereka pun saling menatap.
"Udah ga usah lirik-lirikan gitu."
Dina pun tersipu. "Lu udah boleh bawa pulang nih pujaan hati Lu."
"Ngomong apa sih Lu?"
"Ngomong mending Lu cepet nikahin Dina sebelum Lu nyesel Dina di ambil orang."
"Udah sana Lu. Dina mau gw bawa balik. Ntar Gw transfer aja ya."
"Nah gini ni Din laki Lu. Ya udah sana di rumah aja Lu berduaannya."
"Bawel banget sih Lu. Eh, copotin dulu tuh infusannya."
"Ntar gw bawa suruh perawatnya."
Anggit pun keluar dari ruangan Dina. Tak lama perawat laki-laki masuk untuk membuka infusan Dina. Tapi saat perawat akan memegang lengan Dina Aldo langsung berteriak.
"Tunggu."
"Iya Mas."
"Biar saya yang lepas infusannya."
"Tapi Mas?"
"Ga ada tapi udah biar saya aja."
Aldo pun melakukannya dengan hati-hati. Si perawat yang tengah bertugas pun merasa heran siapa sebenarnya pasien ini. Dina hanya tersenyum di balik selimut yang dia pakai.
Setelah selesai Aldo membereskan semuanya. Dina diminta duduk di kursi roda oleh Aldo. Sempat terjadi beberapa kali penolakan namun akhirnya Dina luluh juga. Dina duduk di kursi roda dengan terpaksa.
Saat mereka keluar dari kamar perawatan. Seorang perawat menghampiri untuk memberitahukan tentang administrasi yang belum dibereskan.
"Maaf Pa. Silahkan bereskan dulu administrasinya."
Aldo tidak menjawabnya melainkan menelfon Anggit.
"Halo, Kamu belum membereskan administrasinya?" Aldo berbicara formal dengan Anggit dihadapan orang lain.
"Udah Lu balik aja."
"Silahkan kamu bilang sama petugasnya." Aldo pun membuka suara telfonnya.
"Halo."
"Halo Bu. Maaf adminstrasinya belum di bereskan."
"Saya dokter Anggit. Kamu keruangan saya sekarang." Titah Anggit.
"Sudah jelas?" Tanya Aldo.
"Maaf Pa. Silahkan." Dengan sangat gugup perawat itu pun segera meninggalkan Aldo dan Dina.
Aldo pun melanjutkan perjalanannya menuju parkiran mobilnya. Dina hanya duduk manis tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Kepalanya masih sedikit pusing. Beberapa kali Aldo mengelus kepalanya. Ada perasaan tenang tatkala Aldo mengelus kepalanya.
Tbc...