Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 22_SANDIWARA DUA SISI
BERMAIN API DENGAN CINTA
BAB 22_SANDIWARA DUA SISI
Klik.
Suara pintu kayu mahoni yang menutup rapat di belakang mereka seolah memutus seluruh kegemparan dan bisik-bisik panik para staf yang terjadi di lobi eksekutif. Atmosfer di dalam ruangan luas itu seketika berubah menjadi sangat hening, tegang, dan penuh tekanan yang tak kasat mata. Tuan Maxim berjalan dengan langkah tenang dan berwibawa menuju meja kebesarannya. Pria berusia dua puluh enam tahun itu melepaskan kancing jas biru dongker premiumnya dengan gerakan elegan yang sangat terkendali, lalu mendudukkan diri di kursi eksekutif pualamnya yang megah. Wajah tampannya tampak begitu bersih dari emosi, sekaku batu, seolah-olah dia tidak baru saja membatalkan kesepakatan bisnis bernilai triliunan rupiah dengan jajaran investor Jepang seharian kemarin.
Cinta melangkah perlahan menuju meja oak barunya yang terletak hanya berjarak beberapa meter di sudut ruangan. Meskipun dia berusaha menampilkan raut wajah yang santai dan acuh tak acuh di permukaan, batinnya tidak bisa menahan rasa penasaran yang mendadak membuncah hebat di kepalanya.
Pria ini benar-benar menyimpan banyak misteri, pikir Cinta sembari meletakkan tas Chanel dan beberapa dokumen harian ke atas mejanya. Dia bolos kerja seharian kemarin, membiarkan seluruh jajaran direksi kelabakan dan panik setengah mati, tapi hari ini dia masuk kantor dengan wajah tenang tanpa dosa seolah tidak terjadi apa-apa. Gila kendali macam apa yang rela mengabaikan tanggung jawab bisnis raksasanya hanya demi sebuah urusan pribadi?
Cinta menyunggingkan senyum miring yang penuh intrik di bibir merah menyalanya. Dia merasa ini adalah kesempatan bagus untuk menguji kembali pertahanan mental sang bos setelah insiden ciuman nekat di koridor dua hari lalu. Cinta mengambil map laporan harian, melangkah anggun dengan ayunan pinggul yang sensual di atas stiletto Christian Louboutin sebelas sentimeternya, mendekati meja marmer hitam milik Maxim.
"Selamat pagi, Tuan Maxim," ucap Cinta dengan nada suara yang sengaja diturunkan satu oktav, terdengar begitu lembut, mendayu, dan penuh perhatian yang memikat. Dia meletakkan map itu di atas meja, lalu mencondongkan tubuh rampingnya sedikit ke depan, membiarkan kerah kemeja sutranya melonggar halus mengeksploitasi leher jenjangnya. "Senang melihat Anda sudah kembali bekerja hari ini. Seluruh staf di luar sempat panik karena mengira terjadi sesuatu yang buruk pada Anda kemarin."
Maxim tidak langsung menyentuh map tersebut. Dia menegakkan punggung tegapnya, bersandar santai pada kursi kebesaran-nya, lalu mendongak menatap langsung ke dalam sepasang manik mata jeli milik sekretaris pribadinya. Tatapan mata hitam Maxim begitu pekat, dalam, dan dipenuhi oleh kilat kegelapan yang menuntut kepemilikan mutlak.
Di dalam dadanya, Maxim sedang menahan gejolak gairah dan kepuasan yang luar biasa besar. Mengingat bagaimana wanita di hadapannya ini begitu posesif memeluk tubuhnya sebagai Ethan di ranjang hotel kemarin, bahkan dengan manja melarangnya pergi bekerja demi menemeninya tidur, membuat Maxim ingin tertawa rendah menikmati sandiwara rumit ini. Cinta begitu bangga dan jemawa merasa telah menjinakkan "mainannya" yang bernama Ethan, tanpa menyadari seujung kuku pun bahwa pria yang dia sandera di ranjang seharian kemarin kini sedang menatapnya dari balik meja CEO dengan setelan jas mewah.
"Terima kasih atas perhatianmu, Nona Cinta," suara bariton Maxim keluar dalam getaran yang sangat berat, dalam, dan serak seksi yang menggetarkan udara ruangan. Pria itu mengetukkan jemarinya yang kokoh di atas meja dengan ritme lambat yang mengintimidasi. "Kemarin saya hanya sedang... menyelesaikan sebuah urusan pribadi yang sangat mendesak. Sebuah urusan tentang menjinakkan seekor kucing liar yang sangat nakal dan gila kendali. Sesuatu yang terlampau berharga untuk dilewatkan, bahkan jika harus mengorbankan proyek triliunan sekali pun."
Mendengar kalimat Maxim tentang 'menjinakkan kucing liar', sebuah spekulasi baru yang tidak menyenangkan mendadak muncul, menyergap logika dingin Cinta. Jantungnya mendadak berdesir aneh, bukan karena gairah, mirisnya karena alarm kewaspadaan di kepalanya berdenting kencang.
Tunggu dulu... urusan pribadi yang berharga sampai bolos seharian? Menjinakkan kucing liar? Pikiran Cinta mulai liar ke segala arah. Jangan-jangan... Tuan Maxim memiliki mainan lain di luar sana? Sama seperti diriku yang memelihara Ethan untuk pelampiasan nafsu?
Seketika itu juga, gumpalan kecurigaan yang pekat mulai merayap naik di dada Cinta. Jika dugaannya benar bahwa sang gurita bisnis memiliki wanita simpanan atau wanita pemuas nafsu rahasia di luar sana, maka misinya dari Nyonya Valen akan menjadi jauh lebih berat dan rumit dari perkiraan awal. Keberadaan wanita lain berarti fokus Maxim terbagi, dan perhatian yang seharusnya Cinta curi untuk membuat pria itu meminta cerai dari Valen akan terhambat. Sifat kompetitif dan ego Cinta seketika terusik hebat. Dia menolak keras jika harus berbagi panggung atau kalah saing dari wanita lain yang tidak dia ketahui identitasnya.
Kalau benar ada wanita lain yang menahannya seharian kemarin, aku harus menyelidikinya sampai tuntas, tekad Cinta bulat di dalam batinnya, matanya berkilat dingin. Aku harus mencari tahu siapa wanita itu, lalu menyingkirkannya agar hanya aku wanita satu-satunya yang memegang kendali atas gairah pria ini, demi sisa uang delapan miliar rupiah dari Valen.
Cinta memiringkan kepalanya sedikit, menatap langsung pada bibir tipis Maxim dengan tatapan sayu yang menggoda. Jemari lentiknya bergerak merapikan ujung map di meja marmer secara perlahan, sengaja menggesapkan ujung jarinya di dekat tangan kokoh Maxim untuk memicu reaksi fisik pria itu.
"Tuan Max... ternyata suka dengan kucing liar," bisik Cinta manja, nadanya sengaja dibuat mendayu dengan bumbu provokasi sensual yang berani. Dia menatap lekat-lekat pada sepasang mata hitam Maxim dari jarak dekat, lalu menyunggingkan senyuman manis yang paling memikat. "Padahal... ada kucing di kantor yang jauh lebih manis dan selalu siap sedia melayani semua kebutuhan Anda di sini."
Mendengar kalimat pancingan dari mulut Cinta, kilat geli sekaligus obsesi gelap yang pekat mendadak melintas di dalam manik mata hitam Maxim. Seringai kejam yang sangat samar terukir di wajah tampannya. Sungguh sebuah ironi yang luar biasa seksi dan indah. Cinta sedang merasa cemburu dan bersaing dengan dirinya sendiri. Wanita itu mengira suaminya Valen memiliki wanita lain di luar sana, tanpa tahu bahwa 'kucing liar nakal dan gila kendali' yang Maxim maksud sepanjang pembicaraan ini murni adalah kelakuan Cinta sendiri di bawah selimut hotel tadi subuh.
Maxim mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, memotong sisa jarak di antara mereka hingga embusan napas hangatnya yang beraroma mint menerpa langsung permukaan kulit wajah Cinta yang mulus. Aura dominasinya mendadak menguar pekat, mengunci mati seluruh pergerakan sekretarisnya dalam sekejap mata.
"Kucing di kantor yang lebih manis?" desis Maxim dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan sarat akan intimidasi yang mengikat. Dia menatap lekat pada bibir merah menyala milik Cinta. "Mari kita lihat, Nona Cinta... seberapa manis dan seberapa lama kucing kantor ini bisa terus bertahan menjerat perhatian saya."