Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: DIPLOMASI KACAMATA TEBAL
Devan mengangguk mantap, napasnya memburu. Saat ia meneguk air dari botol minumnya, matanya secara refleks melirik ke arah tribun paling depan—tempat Raina duduk di jajaran panitia dan pendukung utama. Raina yang menyadari tatapan itu mengepalkan tangannya di udara, memberikan anggukan tegas sebagai bentuk dorongan moral. Devan tersenyum kecil, energinya seolah terisi kembali.
Namun, di sudut lapangan lain, Kapten SMA Rajawali yang bernama Arya terus memperhatikan interaksi tersebut dengan pandangan dingin. Arya tahu betul bahwa Devan adalah mesin pencetak angka sekaligus penggerak tempo permainan SMA Garuda.
Peluit kuarter keempat berbunyi.
Permainan berlangsung jauh lebih keras dan memanas. Kontak fisik antar pemain tak terhindarkan. Devan berkali-kali mencoba menembus pertahanan lawan, namun penjagaan ganda (double-team) dari SMA Rajawali membuatnya kesulitan.
Memasuki tiga menit terakhir, Devan berhasil merebut bola rebound di area pertahanan sendiri. Dengan kecepatan tinggi, ia melakukan fast break seorang diri melintasi garis tengah.
"Hentikan Devan!" teriak pelatih SMA Rajawali dari bangku cadangan.
Devan memotong jalur ke kiri, melompati satu pemain bertahan, lalu mengangkat bola untuk melakukan lay-up. Tepat di saat Devan berada di udara, Arya melompat tinggi dan sengaja menyenggol bahu Devan dengan keras dari samping.
Brak!
Suara benturan tubuh terdengar nyaring. Devan kehilangan keseimbangan secara drastis di udara dan jatuh terhempas sangat keras ke lantai lapangan kayu. Siku dan bahu kanannya menghantam lantai terlebih dahulu sebelum tubuhnya terseret beberapa meter.
Preeeet!
Peluit wasit melengking panjang membahana. "Foul! Intentional foul nomor punggung 10!"
Seluruh tribun SMA Garuda mendadak histeris. Raina meloncat berdiri dari kursinya, tangannya menutupi mulutnya karena syok luar biasa. Wajahnya seketika pucat pasi saat melihat Devan tidak langsung bangkit, melainkan meringis kesakitan sambil memegang bahu kanannya yang tampak gemetar.
"Devan!" jerit Rio panik sambil berlari mendekati Devan bersama tim medis sekolah.
Raina tidak bisa lagi menahan posisinya di tribun. Mengabaikan pembatas penonton dan aturan panitia, ia berlari turun menembus kerumunan menuju tepi lapangan dengan jantung yang berdegup kencang dipenuhi ketakutan.
BAB 24: PERJUANGAN DENGAN SIKU TERLUKA
Tim medis bergerak cepat mengerumuni Devan. Suasana GOR Tri Dharma makin bising oleh sorakan kemarahan suporter SMA Garuda. Raina menembus barisan pemain cadangan, matanya berkaca-kaca menatap Devan yang terduduk di lantai sambil meringis menahan nyeri hebat di bahu dan siku kanannya.
"Devan!" panggil Raina, suaranya bergetar panik.
Devan mendongak perlahan. Wajahnya dipenuhi keringat dingin dan otot rahangnya mengetat kaku. Namun begitu melihat Raina berdiri tepat di depannya dengan wajah pucat, Devan berusaha memaksakan senyum tipis—walau keningnya berkerut menahan sakit.
"Tenang, Na... cuma senggol kenceng dikit," bisik Devan serak, mencoba menenangkan Raina.
Jangan bohong! Bahu kamu kelihatan kaku banget!" omel Raina menahan tangis.
Coach Farhan bersama tim medis memeriksa pergerakan lengan Devan. "Otot bahunya tertarik keras dan ada memar hebat di siku. Kamu gak bisa lanjut, Dev. Bahaya kalau dipaksakan," tegas Coach Farhan sambil memberi isyarat minta pergantian pemain.
"Gak, Coach! Jangan ganti gua!" potong Devan cepat, menolak bantuan petugas yang hendak memapahnya ke bangku cadangan. "Sisa dua menit lagi! Ini semifinal Kejurnas!"
Devan, dengar kata Coach!" seru Raina tegas, memegang bahu kiri Devan yang tidak sakit. "Kesehatan kamu lebih penting daripada pertandingan ini!"
Devan menatap Raina lekat-lekat dari balik kacamata baru gadis itu. Matanya memancarkan tekad yang teramat kuat—tekad yang tak pernah Raina lihat sebelumnya.
"Raina," panggil Devan pelan namun mantap. "Gua udah janji sama kamu di bawah bintang malam itu. Gua bakal bawa SMA Garuda ke final dan bikin kamu bangga. Gua gak bakal nyerah cuma gara-gara luka kayak gini."
Raina membeku. Kata-kata Devan menghantam dadanya begitu telak. Ia sadar, tidak ada yang bisa menghentikan Devan jika cowok itu sudah membulatkan tekadnya.